Monday, 3 September 2012

Jaring Lelembut


Hari ini ada hajatan besar di kampung perbatasan. Para warga dengan ikhlas berbondong keluar rumah, yang lelaki tak lupa membawa lengkap peralatan kerja seperti sabit, kapak, dan lain sebagainya. Pun yang perempuan tak mau kalah. Didirikannya tenda di halaman salah satu warga, tentu saja dengan bantuan para lelaki. Disana, ditanaknya nasi, diiris-irisnya berbagai macam sayuran, dan ikan asin pun digoreng dengan minyak panas, menimbulkan bau yang terlampau lezat di hidung para lelaki yang kini sedang sibuk membabat rumput liar di pinggiran jalan, ataupun memotong pohon-pohon yang cabang rimbunnya menjadi sumber kekhawatiran warga, terutama ketika musim angin akan menghampiri seperti sekarang. Gotong royong memanglah menjadi akar utama kehidupan di kampung tersebut. Yang satu akan berebut menyokong yang lain yang sedang kesusahan, bukan malah berpura-pura buta pada kenyataan kehidupan. Mengaku prihatin, tapi enggan beranjak untuk meringankan. Atau bahkan ada yang lebih keterlaluan. Memasang tampang berduka atas bencana yang dialami sesama, tapi hatinya bersorak riang. Ah, manusia! Pandai sekali kalian bermuka dua.

Peringatan hari kemerdekaan di kampung perbatasan memang selalu seramai ini. Para gadis sudah sibuk berlenggak lenggok. Menggerakkan pinggul kesana kemari sembari berusaha mengingat gerakan-gerakan yang sudah diajarkan para seniornya. Sudah jauh hari lagu ditentukan, gerakan diciptakan, kini saatnya dipraktikkan. Bahkan, para bocah laki-laki pun tak kenal malu. Dirayunya para gadis tanggung itu, dimintanya untuk mengajari sepatah dua patah gerakan. Semua diselingi dengan canda, semua tertawa lepas tak terkira, lebur jadi satu dengan semangat kebebasan berkarya, tanpa benar-benar tahu untuk apa mereka harus bersuka cita demi yang terjadi di masa lampau. Sedahsyat apapun itu, segilang-gemilang apapun pencapaian di masa lalu, toh semua sudah lewat. Kalau tidak dirawat, tidak diperkuat, semua hanya akan menjelma menjadi pohon tak berakar, yang akan mudah tumbang terkena angin kencang. 

Di sebuah sudut yang tak begitu kentara, nampak ada sosok si pemuda sarjana, diam seribu kata. Sorot matanya menyudutkan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas dengan penuh kesinisan. Sungguh, begitu kontras wajah manusia yang satu ini dengan yang lain. Entah karena dia selalu makan berkecukupan, ditambah lagi vitamin yang belum tentu sebulan sekali dirasakan para bocah kampung itu, sehingga wajahnya selalu lebih bersih dari warga pada umumnya. Dan dulu, ketika dirinya masih bocah ingusan, selalu menjadi perhatian yang pertama dan utama karena ketampanannya. Si pemuda sarjana tampak khusyuk memaknai canda para bocah kampung. Betapa konyol mereka, batinnya. Begitulah Nak, nikmati masa-masa ini. Dimana berbuat bodoh masih dianggap lucu. Saat kau tidak harus memikirkan tentang nasib baik dan nasib buruk. Dulu saat kecil aku tidak pernah seperti kalian. Berjoget dengan tololnya hanya demi sebuah acara kemerdekaan. Untuk apa kalian peringati semua ini, kalau toh nanti ketika besar tetap tak ada nasi untuk dimakan?

Ya, Nak, lanjutkan kekonyolan kalian. Aku sudah tahu sejak mula kalian memang hanya generasi tumbal. Tumbal bagi mereka yang punya kekuasaan. Yang hidupnya ditujukan seolah-olah demi kemanusiaan, tapi berinti kemunafikan. Ya, dan sekarang, mari Nak, kalian jadi tumbalku. Ketika besar pun kalian tetap akan bernasib sama, sebagai tumbal. Jangan pernah bermimpi menjadi orang sepertiku. Terlalu tinggi nak, Mimpi ada batasnya.

Si pemuda sarjana melangkah menghampiri bocah-bocah kampung. Saat jarak semakin dekat, bocah-bocah itu berebut menyentuhkan pipinya pada tangan si pemuda sarjana. Salam tak lupa diucapkan, Senyuman yang paling manis dikembangkan. 

“Sudah siap tampil semuanya?”

Sampun, Pak.”

“Iya, Bapak doakan semoga acaranya lancar.”

Enggeh, Pak. Terima kasih”

Bagus, Nak. Aku akan menjadi Bapak kalian yang baik sekarang. Tidak akan ada yang meragukan ketulusan seseorang yang dekat dengan anak-anak. Orang tua kalian yang sebenarnya akan mendengar semua derma yang sudah aku lakukan. Dan pada akhirnya, hal itu akan membantu banyak. Kalian sudah menggali lubang tanpa kalian sadari. Lubang yang tidak hanya cukup untuk kalian diami sendiri, tapi juga bapak dan ibumu nanti. Dan suatu saat, akan kutagih semuanya. Hutang harus di bayar, Nak. Inilah ironi kehidupan. Yang kuat perlu yang lemah untuk dikorbankan. Suatu saat, mungkin akan kalian menyadari. Tapi saat itu semua sudah akan terlambat. Kalian sudah terjerat. 

Para bocah itu menari dan menyanyi. Di atas panggung yang teramat sederhana, hanya berhiaskan potongan-potongan kertas warna-warni. Riasan mereka belepotan di sana sini, tapi siapa yang mau peduli. Bocah-bocah merasa bak di negeri dongeng, menjadi putri dan pangeran di kampung sendiri. Orang tua mereka duduk di atas tikar. Mengulas senyum sarat dengan kebanggaan melihat anak yang di kandungnya menjadi bintang semalam. Tanpa mereka tahu, sebuah jaring raksasa sedang saling berpilin satu sama lain. Mengepung mereka dari berbagai sudut. Seringaian si empunya tak henti-henti tersungging. Selamat datang, jaring lelembut.

Friday, 31 August 2012

Batas Mimpi



Kampung itu sedari dulu memang sunyi senyap. Terlebih ketika matahari mulai beringsut dari jarak pandang manusia, bersembunyi di balik gagahnya Gunung Penanggungan. Konon, kampung yang namanya memiliki arti sebagai pemisah itu dahulu adalah salah satu garis paling luar kekuasaan Majapahit. Entah membatasinya dari apa, yang pasti orang-orang di kampung kecil itu menamakan diri sebagai warga perbatasan. Beberapa mengagungkan Majapahit, namun banyak juga yang tidak mampu menahan godaan untuk menduakan hati pada kekuasaan lain yang ada di seberang jalan. Mungkin kesetiaan bukan hal yang pantas dibicarakan. Pikiran yang selalu terombang-ambing dari satu sisi ke sisi lain, kehidupan yang selalu bercermin pada kehidupan lain di luar garis, menjadikan warga kampung tersebut tidak berpendirian. Mereka hanya mengikuti kemana naluri mereka mengalir. Naluri yang tidak didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kenyamanan semata. 

Bocah-bocah kampung dari generasi ke generasi mempunyai pikiran yang hampir seragam. Berangkat sekolah berjalan kaki, menempuh jarak ratusan meter dengan dimanjakan ketentraman sawah menghijau di sebelah kiri, dan kekokohan Gunung Penanggungan di sebelah kanan. Mereka berbarengan mengayuh langkah dengan riang demi selembar ijazah. Tidak tahu mereka pentingnya selembar kertas tersebut. Mereka hanya melihat para bocah-bocah tetangga yang sudah lebih tua dengan bangga mengenakan merah putih, membusungkan dada mengaku anak sekolahan. Bahkan arti anak sekolahan pun mereka tidak paham betul. Memang, terdengar keren di kupingnya, maka mengekorlah mereka. Penyakit latah yang namanya sekolah ini menjalari seluruh bocah. Dari yang paling miskin, sampai yang paling kaya.

Namun ada satu anak yang keadaan dan tindak tanduknya berbeda dari yang lain. Jikalau teman-temannya hanya mampu mengenakan sepatu murahan yang warna hitamnya memudar sebelum genap tiga bulan, dia memiliki dua dan bahkan tiga. Semuanya bisa bernilai dua kali lipat dari sepatu kebanyakan. Ketika para bocah kampung bersenda gurau sambil menangkap jangkrik di sawah warga, dia hanya duduk di depan rumah gedongnya dan terlihat tekun membaca. Atau ketika bocah yang lain bermain gundu di siang bolong, dan para gadis cilik bermain dakon, anak itu terpekur di depan televisi sambil menikmati segelas sirup dingin. Surga dunia nampaknya tempat dimana dia berlindung dari semburan panas mentari dan dekapan angin dingin itu. Ah, bocah yang sungguh bernasib baik terlahir di tengah keluarga serba berkecukupan. Kakak-kakaknya sudah tamat sekolah menengah atas dan beberapa diantaranya bahkan sudah berhasil menjadi pegawai pemerintahan, meskipun hanya setingkat desa. Dan kakak perempuannya, meskipun tidak berhasil tamat sekolah setinggi para kakak lelaki, kini sudah dilamar menjadi istri seorang aparat. Hidup nampaknya memang hanya berpihak pada mereka yang sudah kuat dari awal. Nasib baik yang satu, diturunkan pada yang lain. Begitu sederhana yang namanya keberuntungan.

Bocah itu tumbuh besar di lingkungan yang jauh lebih bersahabat dibanding teman sebaya. Semua kebutuhan tercukupi, bahkan lebih. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sudah ditamatkan. Lembar-lembar ijazah menyusup ke tas si pelajar. Kini dijajalnya dunia perkuliahan. Di kampung tersebut, masih bisa dihitung dengan jari jumlah pemuda yang bisa memasuki dunia kemahasiswaan. Bahkan dihitung dengan lima jari saja belum genap. Lihatlah bocah emas yang dulu rajin mengaji dan belajar itu. Sungguh gagah dan tegap cara berjalannya kini. Langkahnya lebar-lebar, menunjukkan kepercayaan pada diri sendiri yang sudah mengakar dan berurat. Wajahnya yang rupawan sanggup mengembang-kempiskan hati para gadis-gadis tanggung. Semua berebut dan saling sikut demi bertemu pandang dan bersitatap dengan si pemuda kaya nan terpelajar. Wanita-wanita paruh baya pun tidak mau terlewat. Semua berharap semoga anak gadisnya dilirik oleh si pemuda berbakat dan diangkat menjadi pendamping. Aih, sebegitu dekat jarak antara mimpi dan ilusi. Mimpi yang tidak tahu aturan, karena memang tidak pernah orang disekolahkan hanya untuk bermimpi. 

Dan sekarang pemuda itu sudah jadi sarjana. Gelarnya tidak lupa dia sematkan dimana-mana. Ketika menulis surat ijin, menandatangani bon-bon, atau ketika dia manjadi panitia pengajian, tidak lupa dia sematkan gelarnya di undangan. Gelar itu memang mahal. Tidak sembarang orang di anugerahi gelar. Pada jaman dulu, hanya orang-orang yang berjasa bisa mendapat gelar dari Raja. Dan memang, terkadang orang berjasa itu berasal dari kasta yang sudah dipandang dari mula. Mereka yang berasal dari kasta rendahan, perlu berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, itupun terkadang gelar yang hanya sebatas gelar. Tidak pernah mendapat pengakuan lahir ataupun batin. Pandangan para pembesar tetap rendah dan menghinakan. Kalau sudah begitu, untuk apa mempunyai gelar? Hanya sekedar hiasan pada nama. Memang, gelar itu sejatinya cuma embel-embel belaka, tanpa makna bagi mereka yang tidak punya kekuasaan.

Tuesday, 28 August 2012

This Balloon that Refuses to Pop




Maybe I am so helplessly drunk, or merely over sentimental. But this state of bliss is literally filling me in. Even when I think I’ve had enough, yet this happiness keeps penetrating me, again and again. Sometimes I tell myself, “you must have been dreaming, young lady; for feeling this beautiful, this serene, and simply complete.” As what has happened in my life this couple of months is seriously extraordinary. Then I will reply to my own inquiry, “indeed, you are right, my dear. I must have been dreaming. This state of happiness is only a delusion. It’s not real. It can’t be real by any chance.” And so I will close my eyes, cover my face with both hands, and try to let the illusion fade away. Yet, they stay. I can still feel the rush of those wonderful feelings inside of me. It’s bubbling. It makes my tiny body appears too small for its giant becoming.

I am about to explode. I am a rubber balloon which has reached the limit of its elasticity. It seems so much that I am going to pop. This quirky pleasant feeling is just like a gas that fills me, probably helium, hydrogen, oxygen, or plainly air, or probably even the combination of all. I don’t know for sure as it is invisible. It always is. Like the air that you breathe, you can never ever see it, but you know that it’s real. You can feel that something is going in and out. Something is being pushed to enter you that you can’t help billowing. And so how this wonderful feeling appears to me. Something fine that races to reach and save a place inside of me. 

Somehow, I feel strange lately. Despite its huge amount, this massive race of that different kind of gas doesn’t seem to put a stress on this tiny little balloon. I thought I was ready to explode, to pop. I reckoned this air inside my body just could not wait to escape, to get out fast and go back to where they belong. I was wrong. I was looking down to this very own rubber balloon of mine. It is more powerful than it used to be. It seems like it doesn’t have a limit to its elasticity. No matter how much it is filled, it stays invulnerable. It keeps getting bigger and bigger.

Maybe this is how love is supposed to work in the first place. It fills you with the feeling of happiness, excitement, captivation, and affection without necessarily forcing a tear on you. All it has to give is something pleasant, in the absence of any single inconvenience. It holds you in the arms of security so tightly, yet still have the will to set you free, sincerely. Love, once it comes to you, it plies you with its glory. And your body will inevitably turn into a giant balloon in this oh-appear-so-tiny universe.  Then this balloon will fly far, far away, and leave the gravity behind. It is gracefully floating, bouncing here and there. Guess what is even better? It can retain its buoyancy for good, for the rest of its life.

Love, once it fills you, it eventually puts you to the highest degree of being a human. God's creature that needs something to validate its existence. And I am now clearly at my best moment of being one, or should I say of being a rubber balloon? Yes, honey, I’m wonderfully bubbling. My world has ridiculously turned inside out, upside down, since that very day when you put the ring on my finger. And you are to me, is this perfect air to breath in, something that I greedily want more and more. Yet, it stays harmless. It can never hurt me, not even to leave a single scratch on my elastic skin. So no worries, honey, I will not explode. Thus I require you to keep me occupied every now and then. Cause the way I see myself now, is a rubber balloon that refuses to pop. 



*Dedicated to Jasa; "you're constantly filling me in, and I can't help greedily letting you in."

Monday, 30 July 2012

I Belong to the Moon



So tonight I’m gonna find a way to make it without you
Tonight I’m gonna find a way to make it without you
I’m gonna hold onto the times that we had
Tonight I’m gonna find a way to make it without you

(Alicia Keys - Try Sleeping With A Broken Heart)


When I came across this song on TV the other day, I couldn’t help dragging myself back to while ago when I, the long lost princess, was struggling with my heart, my dear own heart. Silly how far it all seems now, while in fact it was happening only a couple of months ago. I took my time trying to draw a pattern, a map, but I found nothing. Not until this short text message popping on my screen last night. A message from a very good friend of mine who has been a perfect figure of reflection of what I have been through. One who has been extra patient in dealing with the foolish version of me.

“God is hilarious, isn’t He? He’s got a freaking good sense of humour.” I was stunned by this statement. I know I have heard this so many times before, yet I couldn’t help laughing out aloud that night. Now that it all comes to me! I seem to just realize what a sublime director of life He can be. Indeed, God does know how to make people burst into laughter. To amuse them with the most unpredictable thing you can never imagine. He’s got the skill everyone. Now I won’t doubt that ever again. He squeezes and twists your heart, rips it apart, like you can never put the remaining pieces together, but in a matter of second he makes it all surprisingly mended, even without any single scar. Amazing isn’t it?

But I’m not here to talk about the misery. Not anymore. This brand new day is worth so much more than just the tears and the heartache. Oh yes, I’m actually awake, my dear friends. I eventually live in this tiny little planet I’d like to call “reality”. That gigantic foreign planet I used to think I had been living in all this time, has been long disappeared. It was merely a sham, a delusion. I would lie if I said I was not upset. Well, I was upset. Because something I used to think was tangible, now all of a sudden has turned into a fake. Imagine yourself as a three-year-old little girl, somebody shows you a picture of oh-so-tempting-and-colourful lollipop right before your eyes, then you try to grab it and when it finally reaches your tongue you feel nothing but some sort of tasteless quirky stuff. Then you know that it is only a picture. How disappointed you can be? Or upset maybe? I would cry. But then, life goes on everyone. I will throw that bloody piece of paper away, regardless of how beautiful the picture might be. As it gives me nothing, not even a slight feeling of being real. And the pain stops right there. So much for a delusion!

Now this planet I plan to settle down is so real. So close. It is definitely inside my solar system. My gravity. I can walk up and down so confidently, knowing that my feet will step on the same ground. And even though they don’t, I can always trace my own footprints. I will neither bounce nor rebound. I walk, run, jump, crawl, walk again, run again and so on in ease. Oh I love this planet of reality. The more I involve myself in its existence, the more I find it charming. It is so limpid that I can almost see what is inside the core. And how come I have never seen it coming before? I have missed its glorious ways to get beside me. Then a sweet little voice of something like an angel resounds in both my ears, “it’s been always there, darling. It’s been always beside you, so attached to your gravity, though without chain. It’s being faithful as it is meant for you in the first place. It’s for you, darling.”

That is the state of bliss I think I’m gleefully awaken from such a long daydreaming. This very planet I am currently studying is nothing new at all. It’s an old good friend. Just like the moon to the earth. It revolves around me so constantly and keeps my balance. Indeed, God has put me into a pretty good show, hasn’t He? It entertains everybody around me. Some of them are smiling sincerely, some are giggling in disbelief and some others are simply roaring with laughter. Yes, my dear friends. This earth that used to foolishly adore the sun now has become happier. The sun might be huge, but it burns me. The moon, with its dim light has managed to keep me warm, make me whole all over again. This earth has modestly fallen for the moon. Now let this earth finish her song, “And I could find a way to make it. Don’t hold on too tight. I’ll make it without you tonight”. Yes, I made it, honey. I made it.

Monday, 3 September 2012

Jaring Lelembut


Hari ini ada hajatan besar di kampung perbatasan. Para warga dengan ikhlas berbondong keluar rumah, yang lelaki tak lupa membawa lengkap peralatan kerja seperti sabit, kapak, dan lain sebagainya. Pun yang perempuan tak mau kalah. Didirikannya tenda di halaman salah satu warga, tentu saja dengan bantuan para lelaki. Disana, ditanaknya nasi, diiris-irisnya berbagai macam sayuran, dan ikan asin pun digoreng dengan minyak panas, menimbulkan bau yang terlampau lezat di hidung para lelaki yang kini sedang sibuk membabat rumput liar di pinggiran jalan, ataupun memotong pohon-pohon yang cabang rimbunnya menjadi sumber kekhawatiran warga, terutama ketika musim angin akan menghampiri seperti sekarang. Gotong royong memanglah menjadi akar utama kehidupan di kampung tersebut. Yang satu akan berebut menyokong yang lain yang sedang kesusahan, bukan malah berpura-pura buta pada kenyataan kehidupan. Mengaku prihatin, tapi enggan beranjak untuk meringankan. Atau bahkan ada yang lebih keterlaluan. Memasang tampang berduka atas bencana yang dialami sesama, tapi hatinya bersorak riang. Ah, manusia! Pandai sekali kalian bermuka dua.

Peringatan hari kemerdekaan di kampung perbatasan memang selalu seramai ini. Para gadis sudah sibuk berlenggak lenggok. Menggerakkan pinggul kesana kemari sembari berusaha mengingat gerakan-gerakan yang sudah diajarkan para seniornya. Sudah jauh hari lagu ditentukan, gerakan diciptakan, kini saatnya dipraktikkan. Bahkan, para bocah laki-laki pun tak kenal malu. Dirayunya para gadis tanggung itu, dimintanya untuk mengajari sepatah dua patah gerakan. Semua diselingi dengan canda, semua tertawa lepas tak terkira, lebur jadi satu dengan semangat kebebasan berkarya, tanpa benar-benar tahu untuk apa mereka harus bersuka cita demi yang terjadi di masa lampau. Sedahsyat apapun itu, segilang-gemilang apapun pencapaian di masa lalu, toh semua sudah lewat. Kalau tidak dirawat, tidak diperkuat, semua hanya akan menjelma menjadi pohon tak berakar, yang akan mudah tumbang terkena angin kencang. 

Di sebuah sudut yang tak begitu kentara, nampak ada sosok si pemuda sarjana, diam seribu kata. Sorot matanya menyudutkan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas dengan penuh kesinisan. Sungguh, begitu kontras wajah manusia yang satu ini dengan yang lain. Entah karena dia selalu makan berkecukupan, ditambah lagi vitamin yang belum tentu sebulan sekali dirasakan para bocah kampung itu, sehingga wajahnya selalu lebih bersih dari warga pada umumnya. Dan dulu, ketika dirinya masih bocah ingusan, selalu menjadi perhatian yang pertama dan utama karena ketampanannya. Si pemuda sarjana tampak khusyuk memaknai canda para bocah kampung. Betapa konyol mereka, batinnya. Begitulah Nak, nikmati masa-masa ini. Dimana berbuat bodoh masih dianggap lucu. Saat kau tidak harus memikirkan tentang nasib baik dan nasib buruk. Dulu saat kecil aku tidak pernah seperti kalian. Berjoget dengan tololnya hanya demi sebuah acara kemerdekaan. Untuk apa kalian peringati semua ini, kalau toh nanti ketika besar tetap tak ada nasi untuk dimakan?

Ya, Nak, lanjutkan kekonyolan kalian. Aku sudah tahu sejak mula kalian memang hanya generasi tumbal. Tumbal bagi mereka yang punya kekuasaan. Yang hidupnya ditujukan seolah-olah demi kemanusiaan, tapi berinti kemunafikan. Ya, dan sekarang, mari Nak, kalian jadi tumbalku. Ketika besar pun kalian tetap akan bernasib sama, sebagai tumbal. Jangan pernah bermimpi menjadi orang sepertiku. Terlalu tinggi nak, Mimpi ada batasnya.

Si pemuda sarjana melangkah menghampiri bocah-bocah kampung. Saat jarak semakin dekat, bocah-bocah itu berebut menyentuhkan pipinya pada tangan si pemuda sarjana. Salam tak lupa diucapkan, Senyuman yang paling manis dikembangkan. 

“Sudah siap tampil semuanya?”

Sampun, Pak.”

“Iya, Bapak doakan semoga acaranya lancar.”

Enggeh, Pak. Terima kasih”

Bagus, Nak. Aku akan menjadi Bapak kalian yang baik sekarang. Tidak akan ada yang meragukan ketulusan seseorang yang dekat dengan anak-anak. Orang tua kalian yang sebenarnya akan mendengar semua derma yang sudah aku lakukan. Dan pada akhirnya, hal itu akan membantu banyak. Kalian sudah menggali lubang tanpa kalian sadari. Lubang yang tidak hanya cukup untuk kalian diami sendiri, tapi juga bapak dan ibumu nanti. Dan suatu saat, akan kutagih semuanya. Hutang harus di bayar, Nak. Inilah ironi kehidupan. Yang kuat perlu yang lemah untuk dikorbankan. Suatu saat, mungkin akan kalian menyadari. Tapi saat itu semua sudah akan terlambat. Kalian sudah terjerat. 

Para bocah itu menari dan menyanyi. Di atas panggung yang teramat sederhana, hanya berhiaskan potongan-potongan kertas warna-warni. Riasan mereka belepotan di sana sini, tapi siapa yang mau peduli. Bocah-bocah merasa bak di negeri dongeng, menjadi putri dan pangeran di kampung sendiri. Orang tua mereka duduk di atas tikar. Mengulas senyum sarat dengan kebanggaan melihat anak yang di kandungnya menjadi bintang semalam. Tanpa mereka tahu, sebuah jaring raksasa sedang saling berpilin satu sama lain. Mengepung mereka dari berbagai sudut. Seringaian si empunya tak henti-henti tersungging. Selamat datang, jaring lelembut.

Friday, 31 August 2012

Batas Mimpi



Kampung itu sedari dulu memang sunyi senyap. Terlebih ketika matahari mulai beringsut dari jarak pandang manusia, bersembunyi di balik gagahnya Gunung Penanggungan. Konon, kampung yang namanya memiliki arti sebagai pemisah itu dahulu adalah salah satu garis paling luar kekuasaan Majapahit. Entah membatasinya dari apa, yang pasti orang-orang di kampung kecil itu menamakan diri sebagai warga perbatasan. Beberapa mengagungkan Majapahit, namun banyak juga yang tidak mampu menahan godaan untuk menduakan hati pada kekuasaan lain yang ada di seberang jalan. Mungkin kesetiaan bukan hal yang pantas dibicarakan. Pikiran yang selalu terombang-ambing dari satu sisi ke sisi lain, kehidupan yang selalu bercermin pada kehidupan lain di luar garis, menjadikan warga kampung tersebut tidak berpendirian. Mereka hanya mengikuti kemana naluri mereka mengalir. Naluri yang tidak didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kenyamanan semata. 

Bocah-bocah kampung dari generasi ke generasi mempunyai pikiran yang hampir seragam. Berangkat sekolah berjalan kaki, menempuh jarak ratusan meter dengan dimanjakan ketentraman sawah menghijau di sebelah kiri, dan kekokohan Gunung Penanggungan di sebelah kanan. Mereka berbarengan mengayuh langkah dengan riang demi selembar ijazah. Tidak tahu mereka pentingnya selembar kertas tersebut. Mereka hanya melihat para bocah-bocah tetangga yang sudah lebih tua dengan bangga mengenakan merah putih, membusungkan dada mengaku anak sekolahan. Bahkan arti anak sekolahan pun mereka tidak paham betul. Memang, terdengar keren di kupingnya, maka mengekorlah mereka. Penyakit latah yang namanya sekolah ini menjalari seluruh bocah. Dari yang paling miskin, sampai yang paling kaya.

Namun ada satu anak yang keadaan dan tindak tanduknya berbeda dari yang lain. Jikalau teman-temannya hanya mampu mengenakan sepatu murahan yang warna hitamnya memudar sebelum genap tiga bulan, dia memiliki dua dan bahkan tiga. Semuanya bisa bernilai dua kali lipat dari sepatu kebanyakan. Ketika para bocah kampung bersenda gurau sambil menangkap jangkrik di sawah warga, dia hanya duduk di depan rumah gedongnya dan terlihat tekun membaca. Atau ketika bocah yang lain bermain gundu di siang bolong, dan para gadis cilik bermain dakon, anak itu terpekur di depan televisi sambil menikmati segelas sirup dingin. Surga dunia nampaknya tempat dimana dia berlindung dari semburan panas mentari dan dekapan angin dingin itu. Ah, bocah yang sungguh bernasib baik terlahir di tengah keluarga serba berkecukupan. Kakak-kakaknya sudah tamat sekolah menengah atas dan beberapa diantaranya bahkan sudah berhasil menjadi pegawai pemerintahan, meskipun hanya setingkat desa. Dan kakak perempuannya, meskipun tidak berhasil tamat sekolah setinggi para kakak lelaki, kini sudah dilamar menjadi istri seorang aparat. Hidup nampaknya memang hanya berpihak pada mereka yang sudah kuat dari awal. Nasib baik yang satu, diturunkan pada yang lain. Begitu sederhana yang namanya keberuntungan.

Bocah itu tumbuh besar di lingkungan yang jauh lebih bersahabat dibanding teman sebaya. Semua kebutuhan tercukupi, bahkan lebih. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sudah ditamatkan. Lembar-lembar ijazah menyusup ke tas si pelajar. Kini dijajalnya dunia perkuliahan. Di kampung tersebut, masih bisa dihitung dengan jari jumlah pemuda yang bisa memasuki dunia kemahasiswaan. Bahkan dihitung dengan lima jari saja belum genap. Lihatlah bocah emas yang dulu rajin mengaji dan belajar itu. Sungguh gagah dan tegap cara berjalannya kini. Langkahnya lebar-lebar, menunjukkan kepercayaan pada diri sendiri yang sudah mengakar dan berurat. Wajahnya yang rupawan sanggup mengembang-kempiskan hati para gadis-gadis tanggung. Semua berebut dan saling sikut demi bertemu pandang dan bersitatap dengan si pemuda kaya nan terpelajar. Wanita-wanita paruh baya pun tidak mau terlewat. Semua berharap semoga anak gadisnya dilirik oleh si pemuda berbakat dan diangkat menjadi pendamping. Aih, sebegitu dekat jarak antara mimpi dan ilusi. Mimpi yang tidak tahu aturan, karena memang tidak pernah orang disekolahkan hanya untuk bermimpi. 

Dan sekarang pemuda itu sudah jadi sarjana. Gelarnya tidak lupa dia sematkan dimana-mana. Ketika menulis surat ijin, menandatangani bon-bon, atau ketika dia manjadi panitia pengajian, tidak lupa dia sematkan gelarnya di undangan. Gelar itu memang mahal. Tidak sembarang orang di anugerahi gelar. Pada jaman dulu, hanya orang-orang yang berjasa bisa mendapat gelar dari Raja. Dan memang, terkadang orang berjasa itu berasal dari kasta yang sudah dipandang dari mula. Mereka yang berasal dari kasta rendahan, perlu berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, itupun terkadang gelar yang hanya sebatas gelar. Tidak pernah mendapat pengakuan lahir ataupun batin. Pandangan para pembesar tetap rendah dan menghinakan. Kalau sudah begitu, untuk apa mempunyai gelar? Hanya sekedar hiasan pada nama. Memang, gelar itu sejatinya cuma embel-embel belaka, tanpa makna bagi mereka yang tidak punya kekuasaan.

Tuesday, 28 August 2012

This Balloon that Refuses to Pop




Maybe I am so helplessly drunk, or merely over sentimental. But this state of bliss is literally filling me in. Even when I think I’ve had enough, yet this happiness keeps penetrating me, again and again. Sometimes I tell myself, “you must have been dreaming, young lady; for feeling this beautiful, this serene, and simply complete.” As what has happened in my life this couple of months is seriously extraordinary. Then I will reply to my own inquiry, “indeed, you are right, my dear. I must have been dreaming. This state of happiness is only a delusion. It’s not real. It can’t be real by any chance.” And so I will close my eyes, cover my face with both hands, and try to let the illusion fade away. Yet, they stay. I can still feel the rush of those wonderful feelings inside of me. It’s bubbling. It makes my tiny body appears too small for its giant becoming.

I am about to explode. I am a rubber balloon which has reached the limit of its elasticity. It seems so much that I am going to pop. This quirky pleasant feeling is just like a gas that fills me, probably helium, hydrogen, oxygen, or plainly air, or probably even the combination of all. I don’t know for sure as it is invisible. It always is. Like the air that you breathe, you can never ever see it, but you know that it’s real. You can feel that something is going in and out. Something is being pushed to enter you that you can’t help billowing. And so how this wonderful feeling appears to me. Something fine that races to reach and save a place inside of me. 

Somehow, I feel strange lately. Despite its huge amount, this massive race of that different kind of gas doesn’t seem to put a stress on this tiny little balloon. I thought I was ready to explode, to pop. I reckoned this air inside my body just could not wait to escape, to get out fast and go back to where they belong. I was wrong. I was looking down to this very own rubber balloon of mine. It is more powerful than it used to be. It seems like it doesn’t have a limit to its elasticity. No matter how much it is filled, it stays invulnerable. It keeps getting bigger and bigger.

Maybe this is how love is supposed to work in the first place. It fills you with the feeling of happiness, excitement, captivation, and affection without necessarily forcing a tear on you. All it has to give is something pleasant, in the absence of any single inconvenience. It holds you in the arms of security so tightly, yet still have the will to set you free, sincerely. Love, once it comes to you, it plies you with its glory. And your body will inevitably turn into a giant balloon in this oh-appear-so-tiny universe.  Then this balloon will fly far, far away, and leave the gravity behind. It is gracefully floating, bouncing here and there. Guess what is even better? It can retain its buoyancy for good, for the rest of its life.

Love, once it fills you, it eventually puts you to the highest degree of being a human. God's creature that needs something to validate its existence. And I am now clearly at my best moment of being one, or should I say of being a rubber balloon? Yes, honey, I’m wonderfully bubbling. My world has ridiculously turned inside out, upside down, since that very day when you put the ring on my finger. And you are to me, is this perfect air to breath in, something that I greedily want more and more. Yet, it stays harmless. It can never hurt me, not even to leave a single scratch on my elastic skin. So no worries, honey, I will not explode. Thus I require you to keep me occupied every now and then. Cause the way I see myself now, is a rubber balloon that refuses to pop. 



*Dedicated to Jasa; "you're constantly filling me in, and I can't help greedily letting you in."

Monday, 30 July 2012

I Belong to the Moon



So tonight I’m gonna find a way to make it without you
Tonight I’m gonna find a way to make it without you
I’m gonna hold onto the times that we had
Tonight I’m gonna find a way to make it without you

(Alicia Keys - Try Sleeping With A Broken Heart)


When I came across this song on TV the other day, I couldn’t help dragging myself back to while ago when I, the long lost princess, was struggling with my heart, my dear own heart. Silly how far it all seems now, while in fact it was happening only a couple of months ago. I took my time trying to draw a pattern, a map, but I found nothing. Not until this short text message popping on my screen last night. A message from a very good friend of mine who has been a perfect figure of reflection of what I have been through. One who has been extra patient in dealing with the foolish version of me.

“God is hilarious, isn’t He? He’s got a freaking good sense of humour.” I was stunned by this statement. I know I have heard this so many times before, yet I couldn’t help laughing out aloud that night. Now that it all comes to me! I seem to just realize what a sublime director of life He can be. Indeed, God does know how to make people burst into laughter. To amuse them with the most unpredictable thing you can never imagine. He’s got the skill everyone. Now I won’t doubt that ever again. He squeezes and twists your heart, rips it apart, like you can never put the remaining pieces together, but in a matter of second he makes it all surprisingly mended, even without any single scar. Amazing isn’t it?

But I’m not here to talk about the misery. Not anymore. This brand new day is worth so much more than just the tears and the heartache. Oh yes, I’m actually awake, my dear friends. I eventually live in this tiny little planet I’d like to call “reality”. That gigantic foreign planet I used to think I had been living in all this time, has been long disappeared. It was merely a sham, a delusion. I would lie if I said I was not upset. Well, I was upset. Because something I used to think was tangible, now all of a sudden has turned into a fake. Imagine yourself as a three-year-old little girl, somebody shows you a picture of oh-so-tempting-and-colourful lollipop right before your eyes, then you try to grab it and when it finally reaches your tongue you feel nothing but some sort of tasteless quirky stuff. Then you know that it is only a picture. How disappointed you can be? Or upset maybe? I would cry. But then, life goes on everyone. I will throw that bloody piece of paper away, regardless of how beautiful the picture might be. As it gives me nothing, not even a slight feeling of being real. And the pain stops right there. So much for a delusion!

Now this planet I plan to settle down is so real. So close. It is definitely inside my solar system. My gravity. I can walk up and down so confidently, knowing that my feet will step on the same ground. And even though they don’t, I can always trace my own footprints. I will neither bounce nor rebound. I walk, run, jump, crawl, walk again, run again and so on in ease. Oh I love this planet of reality. The more I involve myself in its existence, the more I find it charming. It is so limpid that I can almost see what is inside the core. And how come I have never seen it coming before? I have missed its glorious ways to get beside me. Then a sweet little voice of something like an angel resounds in both my ears, “it’s been always there, darling. It’s been always beside you, so attached to your gravity, though without chain. It’s being faithful as it is meant for you in the first place. It’s for you, darling.”

That is the state of bliss I think I’m gleefully awaken from such a long daydreaming. This very planet I am currently studying is nothing new at all. It’s an old good friend. Just like the moon to the earth. It revolves around me so constantly and keeps my balance. Indeed, God has put me into a pretty good show, hasn’t He? It entertains everybody around me. Some of them are smiling sincerely, some are giggling in disbelief and some others are simply roaring with laughter. Yes, my dear friends. This earth that used to foolishly adore the sun now has become happier. The sun might be huge, but it burns me. The moon, with its dim light has managed to keep me warm, make me whole all over again. This earth has modestly fallen for the moon. Now let this earth finish her song, “And I could find a way to make it. Don’t hold on too tight. I’ll make it without you tonight”. Yes, I made it, honey. I made it.