Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Monday, 3 September 2012

Jaring Lelembut


Hari ini ada hajatan besar di kampung perbatasan. Para warga dengan ikhlas berbondong keluar rumah, yang lelaki tak lupa membawa lengkap peralatan kerja seperti sabit, kapak, dan lain sebagainya. Pun yang perempuan tak mau kalah. Didirikannya tenda di halaman salah satu warga, tentu saja dengan bantuan para lelaki. Disana, ditanaknya nasi, diiris-irisnya berbagai macam sayuran, dan ikan asin pun digoreng dengan minyak panas, menimbulkan bau yang terlampau lezat di hidung para lelaki yang kini sedang sibuk membabat rumput liar di pinggiran jalan, ataupun memotong pohon-pohon yang cabang rimbunnya menjadi sumber kekhawatiran warga, terutama ketika musim angin akan menghampiri seperti sekarang. Gotong royong memanglah menjadi akar utama kehidupan di kampung tersebut. Yang satu akan berebut menyokong yang lain yang sedang kesusahan, bukan malah berpura-pura buta pada kenyataan kehidupan. Mengaku prihatin, tapi enggan beranjak untuk meringankan. Atau bahkan ada yang lebih keterlaluan. Memasang tampang berduka atas bencana yang dialami sesama, tapi hatinya bersorak riang. Ah, manusia! Pandai sekali kalian bermuka dua.

Peringatan hari kemerdekaan di kampung perbatasan memang selalu seramai ini. Para gadis sudah sibuk berlenggak lenggok. Menggerakkan pinggul kesana kemari sembari berusaha mengingat gerakan-gerakan yang sudah diajarkan para seniornya. Sudah jauh hari lagu ditentukan, gerakan diciptakan, kini saatnya dipraktikkan. Bahkan, para bocah laki-laki pun tak kenal malu. Dirayunya para gadis tanggung itu, dimintanya untuk mengajari sepatah dua patah gerakan. Semua diselingi dengan canda, semua tertawa lepas tak terkira, lebur jadi satu dengan semangat kebebasan berkarya, tanpa benar-benar tahu untuk apa mereka harus bersuka cita demi yang terjadi di masa lampau. Sedahsyat apapun itu, segilang-gemilang apapun pencapaian di masa lalu, toh semua sudah lewat. Kalau tidak dirawat, tidak diperkuat, semua hanya akan menjelma menjadi pohon tak berakar, yang akan mudah tumbang terkena angin kencang. 

Di sebuah sudut yang tak begitu kentara, nampak ada sosok si pemuda sarjana, diam seribu kata. Sorot matanya menyudutkan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas dengan penuh kesinisan. Sungguh, begitu kontras wajah manusia yang satu ini dengan yang lain. Entah karena dia selalu makan berkecukupan, ditambah lagi vitamin yang belum tentu sebulan sekali dirasakan para bocah kampung itu, sehingga wajahnya selalu lebih bersih dari warga pada umumnya. Dan dulu, ketika dirinya masih bocah ingusan, selalu menjadi perhatian yang pertama dan utama karena ketampanannya. Si pemuda sarjana tampak khusyuk memaknai canda para bocah kampung. Betapa konyol mereka, batinnya. Begitulah Nak, nikmati masa-masa ini. Dimana berbuat bodoh masih dianggap lucu. Saat kau tidak harus memikirkan tentang nasib baik dan nasib buruk. Dulu saat kecil aku tidak pernah seperti kalian. Berjoget dengan tololnya hanya demi sebuah acara kemerdekaan. Untuk apa kalian peringati semua ini, kalau toh nanti ketika besar tetap tak ada nasi untuk dimakan?

Ya, Nak, lanjutkan kekonyolan kalian. Aku sudah tahu sejak mula kalian memang hanya generasi tumbal. Tumbal bagi mereka yang punya kekuasaan. Yang hidupnya ditujukan seolah-olah demi kemanusiaan, tapi berinti kemunafikan. Ya, dan sekarang, mari Nak, kalian jadi tumbalku. Ketika besar pun kalian tetap akan bernasib sama, sebagai tumbal. Jangan pernah bermimpi menjadi orang sepertiku. Terlalu tinggi nak, Mimpi ada batasnya.

Si pemuda sarjana melangkah menghampiri bocah-bocah kampung. Saat jarak semakin dekat, bocah-bocah itu berebut menyentuhkan pipinya pada tangan si pemuda sarjana. Salam tak lupa diucapkan, Senyuman yang paling manis dikembangkan. 

“Sudah siap tampil semuanya?”

“Sampun, Pak.”

“Iya, Bapak doakan semoga acaranya lancar.”

“Enggeh, Pak. Terima kasih”

Bagus, Nak. Aku akan menjadi Bapak kalian yang baik sekarang. Tidak akan ada yang meragukan ketulusan seseorang yang dekat dengan anak-anak. Orang tua kalian yang sebenarnya akan mendengar semua derma yang sudah aku lakukan. Dan pada akhirnya, hal itu akan membantu banyak. Kalian sudah menggali lubang tanpa kalian sadari. Lubang yang tidak hanya cukup untuk kalian diami sendiri, tapi juga bapak dan ibumu nanti. Dan suatu saat, akan kutagih semuanya. Hutang harus di bayar, Nak. Inilah ironi kehidupan. Yang kuat perlu yang lemah untuk dikorbankan. Suatu saat, mungkin akan kalian menyadari. Tapi saat itu semua sudah akan terlambat. Kalian sudah terjerat. 

Para bocah itu menari dan menyanyi. Di atas panggung yang teramat sederhana, hanya berhiaskan potongan-potongan kertas warna-warni. Riasan mereka belepotan di sana sini, tapi siapa yang mau peduli. Bocah-bocah merasa bak di negeri dongeng, menjadi putri dan pangeran di kampung sendiri. Orang tua mereka duduk di atas tikar. Mengulas senyum sarat dengan kebanggaan melihat anak yang di kandungnya menjadi bintang semalam. Tanpa mereka tahu, sebuah jaring raksasa sedang saling berpilin satu sama lain. Mengepung mereka dari berbagai sudut. Seringaian si empunya tak henti-henti tersungging. Selamat datang, jaring lelembut.

Friday, 31 August 2012

Batas Mimpi



Kampung itu sedari dulu memang sunyi senyap. Terlebih ketika matahari mulai beringsut dari jarak pandang manusia, bersembunyi di balik gagahnya Gunung Penanggungan. Konon, kampung yang namanya memiliki arti sebagai pemisah itu dahulu adalah salah satu garis paling luar kekuasaan Majapahit. Entah membatasinya dari apa, yang pasti orang-orang di kampung kecil itu menamakan diri sebagai warga perbatasan. Beberapa mengagungkan Majapahit, namun banyak juga yang tidak mampu menahan godaan untuk menduakan hati pada kekuasaan lain yang ada di seberang jalan. Mungkin kesetiaan bukan hal yang pantas dibicarakan. Pikiran yang selalu terombang-ambing dari satu sisi ke sisi lain, kehidupan yang selalu bercermin pada kehidupan lain di luar garis, menjadikan warga kampung tersebut tidak berpendirian. Mereka hanya mengikuti kemana naluri mereka mengalir. Naluri yang tidak didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kenyamanan semata. 

Bocah-bocah kampung dari generasi ke generasi mempunyai pikiran yang hampir seragam. Berangkat sekolah berjalan kaki, menempuh jarak ratusan meter dengan dimanjakan ketentraman sawah menghijau di sebelah kiri, dan kekokohan Gunung Penanggungan di sebelah kanan. Mereka berbarengan mengayuh langkah dengan riang demi selembar ijazah. Tidak tahu mereka pentingnya selembar kertas tersebut. Mereka hanya melihat para bocah-bocah tetangga yang sudah lebih tua dengan bangga mengenakan merah putih, membusungkan dada mengaku anak sekolahan. Bahkan arti anak sekolahan pun mereka tidak paham betul. Memang, terdengar keren di kupingnya, maka mengekorlah mereka. Penyakit latah yang namanya sekolah ini menjalari seluruh bocah. Dari yang paling miskin, sampai yang paling kaya.

Namun ada satu anak yang keadaan dan tindak tanduknya berbeda dari yang lain. Jikalau teman-temannya hanya mampu mengenakan sepatu murahan yang warna hitamnya memudar sebelum genap tiga bulan, dia memiliki dua dan bahkan tiga. Semuanya bisa bernilai dua kali lipat dari sepatu kebanyakan. Ketika para bocah kampung bersenda gurau sambil menangkap jangkrik di sawah warga, dia hanya duduk di depan rumah gedongnya dan terlihat tekun membaca. Atau ketika bocah yang lain bermain gundu di siang bolong, dan para gadis cilik bermain dakon, anak itu terpekur di depan televisi sambil menikmati segelas sirup dingin. Surga dunia nampaknya tempat dimana dia berlindung dari semburan panas mentari dan dekapan angin dingin itu. Ah, bocah yang sungguh bernasib baik terlahir di tengah keluarga serba berkecukupan. Kakak-kakaknya sudah tamat sekolah menengah atas dan beberapa diantaranya bahkan sudah berhasil menjadi pegawai pemerintahan, meskipun hanya setingkat desa. Dan kakak perempuannya, meskipun tidak berhasil tamat sekolah setinggi para kakak lelaki, kini sudah dilamar menjadi istri seorang aparat. Hidup nampaknya memang hanya berpihak pada mereka yang sudah kuat dari awal. Nasib baik yang satu, diturunkan pada yang lain. Begitu sederhana yang namanya keberuntungan.

Bocah itu tumbuh besar di lingkungan yang jauh lebih bersahabat dibanding teman sebaya. Semua kebutuhan tercukupi, bahkan lebih. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sudah ditamatkan. Lembar-lembar ijazah menyusup ke tas si pelajar. Kini dijajalnya dunia perkuliahan. Di kampung tersebut, masih bisa dihitung dengan jari jumlah pemuda yang bisa memasuki dunia kemahasiswaan. Bahkan dihitung dengan lima jari saja belum genap. Lihatlah bocah emas yang dulu rajin mengaji dan belajar itu. Sungguh gagah dan tegap cara berjalannya kini. Langkahnya lebar-lebar, menunjukkan kepercayaan pada diri sendiri yang sudah mengakar dan berurat. Wajahnya yang rupawan sanggup mengembang-kempiskan hati para gadis-gadis tanggung. Semua berebut dan saling sikut demi bertemu pandang dan bersitatap dengan si pemuda kaya nan terpelajar. Wanita-wanita paruh baya pun tidak mau terlewat. Semua berharap semoga anak gadisnya dilirik oleh si pemuda berbakat dan diangkat menjadi pendamping. Aih, sebegitu dekat jarak antara mimpi dan ilusi. Mimpi yang tidak tahu aturan, karena memang tidak pernah orang disekolahkan hanya untuk bermimpi. 

Dan sekarang pemuda itu sudah jadi sarjana. Gelarnya tidak lupa dia sematkan dimana-mana. Ketika menulis surat ijin, menandatangani bon-bon, atau ketika dia manjadi panitia pengajian, tidak lupa dia sematkan gelarnya di undangan. Gelar itu memang mahal. Tidak sembarang orang di anugerahi gelar. Pada jaman dulu, hanya orang-orang yang berjasa bisa mendapat gelar dari Raja. Dan memang, terkadang orang berjasa itu berasal dari kasta yang sudah dipandang dari mula. Mereka yang berasal dari kasta rendahan, perlu berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, itupun terkadang gelar yang hanya sebatas gelar. Tidak pernah mendapat pengakuan lahir ataupun batin. Pandangan para pembesar tetap rendah dan menghinakan. Kalau sudah begitu, untuk apa mempunyai gelar? Hanya sekedar hiasan pada nama. Memang, gelar itu sejatinya cuma embel-embel belaka, tanpa makna bagi mereka yang tidak punya kekuasaan.

Monday, 30 April 2012

Perempuan Bergincu Merah



             Dipolesnya bibir ranum itu dengan gincu merah menyala. Aura menggoda berbaur keculasan, yang entah bagaimana terasa begitu memikat seketika menyelubungi raga mungil tersebut. Perempuan itu bukan seorang perayu. Namun, bibir merekah yang kini menyunggingkan seulas senyum sinis itu menjadikan si empunya bak Cleopatra. Ratu yang sanggup membuat lelaki manapun tertawan dan bertekuk lutut. Dan malam ini, yang akan ditundukkannya bukanlah lelaki manapun yang tidak diketahui asal-usulnya. Dia adalah lelaki terhormat yang sudah mumpuni dalam banyak hal. Lelaki yang akhirnya berhasil membuat si perempuan mengikhlaskan hasrat liarnya. Dan kembali menyembah pada tradisi, setelah beberapa lama.

Diluar angin malam terdengar begitu berisik. Gaduh yang ditimbulkan tak ubahnya seperti bunyi erangan mesin motor tua yang rusak, dipadukan dengan suara kertas yang teremat jemari manusia. Pun terdengar halilintar yang memekak, bagai teriakan penguasa langit yang sedang murka. Keduanya bercengkerama, kawin dengan sempurna. Suasana yang mematikan segala bentuk keriangan bocah kampung dan menggantinya dengan suasana pekuburan. 

Si perempuan berjalan ringan ke arah jendela. Tapaknya seolah tiada menyentuh lantai. Dengan kasar, didorongnya jati berwarna coklat tua itu. Deritan kusen yang mendecit nyaring begitu menyayat hati, bagai sebilah sembilu yang mengiris seonggok daging. Hanya saja perih yang ditimbulkan terdapat pada jiwa, bukan raga. Si perempuan meringis nyeri. Nampaknya keperihan pada jiwanya itu menjalar pula sampai ke raga. 

“Mbak, apa mereka sudah datang?” lirih pertanyaan itu terlontar dari bibir yang bergetar. Matanya tidak sejengkal pun beralih dari arak-arakan awan hitam yang perlahan menindih purnama.

“Iya, baru saja. Sekarang semuany` sedang menunggumu.” Ujar lawan bicaranya dengan nada yang sengaja dibuat acuh. Sayang, tetap tidak bisa menyamarkan kemelut di dalamnya.

“Jangan khawatir, Mbak. Semuanya pasti berjalan seperti yang Mbak, Bapak dan Ibu rencanakan. Kalian semua akan bahagia.” Sahut si perempuan, bahkan sebelum sang lawan bicara mengatupkan mulutnya.

Senyap seketika menyergap ruangan segi empat itu. Bahkan cicak pun tak luput dari kepungannya. Mereka tergopoh-gopoh mengtmpat di balik lemari kayu. Dan tenggorokan sang lawan bicara yang dipanggil Mbak oleh si perempuan, seketika tercekat oleh seutas tali tiada berwujud. Memaksanya menelan kembali semua kalimat yang sebelumnya ingin dia lontarkan. Kalimat yang memang sudah sering dia ulang ketika beradu mulut dengan saudarinya yang kini sedang berdiri termenung, menatap rembulan di langit hitam. 

Tiada satu pun anggota tubuh si perempuan berpindah dari posisinya, kecuali bulu mata lentik berbalur maskara yang rutin bergerak naik turun mengikuti irama hati sang pemilik. Entah apa yang berkecamuk di benaknya. Yang jelas sekarang rohnya sudah tidak lagi mendiami raga cantik nan ringkih tersebut. Dibiarkan roh itu berkelana menunggangi waktu. Kembali ke sepuluh tahun silam. 

***

“Aku takut, Mas. Bagaimana kalau nanti Bapak tidak setuju?” Gadis itu mengulang pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. Diusapnya peluh yang mengembun dari pori-pori di kening mulusnya dengan punggung tangan sebelah kanan.  Pun ditariknya ujung rok yang dia kenakan dengan gerak sembrono, seolah dengan begitu semua gundah gulana yang sedang menyelimuti hatinya bisa terobek sedikit demi sedikit. Melepaskan cengkramannya.

            “Tidak apa-apa, Sri. Yang penting kita coba dulu.” Ujar si pria berusaha menentramkan hati kekasihnya. Padahal jauh di lubuk sanubari, dia juga sedang menyimpan gelisah luar biasa. Apa yang akan dilakukannya hari ini jelas sebuah langkah mustahil yang tiba-tiba harus dia tempuh. Walaupun begitu, dia tahu dia harus bersikap sewajar yang dia bisa. Tidak mau dia menunda lagi kebahagiaan itu, meski sangat kecil harapannya, sekecil kutu yang mendiami rambut bocah-bocah di kampung kelahirannya.

            “Tapi aku tetap takut, Mas.” 

            “Percayalah, semua pasti berjalan lancar. Bapak dan Ibumu sudah lama tahu tentang hubungan kita. Mereka tidak akan menentang, apalagi sudah sejauh ini. Katakan, Sri, sudah berapa lama aku mencintaimu?”

            “Delapan tahun, Mas. Dan selama itu juga aku mencintaimu.”

            “Itulah, Sri. Aku semakin yakin nBapak dan Ibumu akan mengerti dan mau memberi restunya.”

            Matahari semakin ganas membakar bumi. Dedaunan dipaksa bercerai dengan tangkainya oleh angin yang bertiup kencang, namun tak tentu arah. Debu halus bergantian masuk melalui lubang hidung dan memenuhi ruangnya, sehingga sedikit sekali celah kosong tersisa yang bisa ditembus udara untuk menuju paru-paru. Sepasang muda-mudi itu secara bersamaan merasa sesak di dada. Si pria diam-diam berharap telah berhasil meyakinkan kekasihnya tentang apa yang sudah menjadi keputusan bersama bulan lalu. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa dia sendiri pun belum sepenuhnya yakin misi yang diembannya kali ini akan berhasil. 

            Si gadis mengunci mulut rapat-rapat. Gelora yang pasang surut di dadanya tak kunjung kembali normal. Sebentar-sebentar melepaskan tohokan ke ulu hati. Kalau sudah seperti itu, ingin rasanya memuntahkan isi perutnya. Namun dia tahu sang kekasih sekarang sedang mati-matian meyakinkan dirinya. Dan tiada mau si perempuan membuatnya kecewa dengan menunjukkan sikap kalut yang berlebih. Maka digigitlah bibir bawahnya yang polos tanpa polesan gincu itu kuat-kuat, berharap mual yang menyerbunya bisa terkurung saja di kerongkongan. Gigitan yang membuat ngilu.

            Di langit, awan gelap dengan sigap mengambil alih kekuasaan permadani biru cerah yang sedari tadi memayungi makhluk bumi. Si pria tampaknya menyadari perubahan cuaca yang tiba-tiba tersebut, lantas diraihnya tangan si gadis dan menariknya berdiri. Dengan langkah berat, keduanya berjalan beriringan menuju sebuah bangunan di belakang pohon mangga. 

***

Hening di tengah malam pun tidak seseram ini. Suara detik jam tiada  pernah sebegini memilukan. Dan hawa mencekat semakin mengental seiring mencondongnya matahari ke arah barat. Empat kepala di ruangan itu sama-sama menunduk. Masing-masing sedang bergelut dengan batinnya. Hanya sesekali terdengar suara isak seorang wanita tua yang tertahan. Yang selalu cepat-cepat diredam oleh tuannya dengan mencengkeram lengan kursi yang terbuat dari rotan.

Si lelaki tua yang terkenal bijak itu pun kini benar-benar kehilangan perbendaharaan kata. Kesengsaraan nampak jelas menggantung di kedua matanya. Beberapa kali ditengadahkan kepalanya yang sudah botak itu. Berharap akan ditemukannya jawaban di atas sana. Kadang, bergantian kepalanya menoleh, dari sang istri yang sedari tadi berjuang melawan luapan air mata, ke putri semata wayangnya yang terpekur di hadapannya. Beban berat sedang menggelayuti pundak lelaki tua tersebut. Dada yang biasanya terbusung gagah itu pun sekarang melunglai. Rasa sayang dan ketidak-ikhlasan saling berjejal memasuki rongganya.

“Maaf, tapi sepertinya Bapak perlu waktu untuk memikirkan semua ini. Sri itu anak Bapak satu-satunya, Nak. Kalau engkau bawa dia meninggalkan rumah ini, dan tinggal di pulau yang sebegitu jauhnya, bagaimana nasib kami nanti?” Ujarnya pada pria yang sedang duduk disamping putrinya itu.

“Tapi nanti kami akan sering-sering mengunjungh Bapak dan Ibu di sini. Tidak perlu khawatir, saya tidak bermaksud memisahkan Sri dari Bapak ataupun Ibu.” Sahut si pria memelas.

“Bukan hanya itu, Nak… Bagaimana nanti kami bisa menghadapi leluhur kami, kalau sampai Sri meninggalkan tradisi yang sudah melekat pada dirinya sejak lahir? Kami tidak bisa membiarkan Sri melanggar kepercayaan leluhur.”

Akhirnya meluncur juga kata-kata itu. Sebuah alasan yang memang sudah bisa ditebak oleh setiap pasang mata yang ada di ruang tersebut. Dari semula, kepercayaanlah yang menjadi inti sari-nya. Si pria muda mulai pasrah. Misinya kali ini sepertinya tidak akan membuahkan hasil, sama seperti sebulan sebelumnya. Seketika dadanya terasa terhimpit oleh sekarung beras. Semakin sempit dan menyesak. Tak tertahankan lagi sakit itu, meledaklah tangisnya. Tangis tanpa suara, h`nya lelehan air mata tiada henti.

Si gadis pun merasakan hal serupa. Hempasan bongkahan batu pada dadanya itu terlalu kuat. Tak dibendungnya lagi semua isakan. Pun dibiarkan air bening mencucur satu demi satu dari mata sipitnya. Terkoyak sudah harapan di depan mata. Melihat kekasih yang dia cintai merendah, kebencian seketika menyusup di celah-celah hatinya. Sumpah tak bersuara dia ikrarkan, selamanya tidak akan pernah menggantikan puj`an hatinya itu. Tidak peduli dia dengan tradisi dan adat-istiadat, dianggapnya semua sebagai palu peremuk kebahagiaan. Jaring perampas harapan.

Senja menapaki hari. Semburat warna keemasan berbaur dengan menggelapnya hari. Saatnya para pencari nafkah memasuki halaman rumah masing-masing. Perantau kembali ke kampung halaman. Sedangkan para tamu bergegas meninggalkan si tuan rumah yang harus bersiap menyambut maghrib. Si gadis tekun menatap punggung kekasihnya yang perlahan menjauh. Air matanya sudah kering. Firasatnya mengatakan, dia tidak akan lagi bertemu dengan pujaan hatinya tersebut. Firasatnya benar.

***

“Nduk, ayo cepetan to.” Suara serak dari luar kamar membuyarkan kenangan yang sedang di putar ulang oleh si perempuan, entah untuk keberapa kalinya. Meskipun sudah lama berselang, tidak sedikitpun kenangan itu memudar. Atau mungkin, memang tidak sudi untuk menghilang.

“Enggeh, Buk. Sebentar lagi.” Sahut si perempuan dari bilik kamarnya yang sempit. Diraihnya gincu merah di atas meja rias. Dipolesnya lagi bibir yang sudah merah merekah.

Angin semakin berisik. Mencumbui pepohonan yang sebagian daunnya kering terpanggang matahari sepanjang siang. Sebentar lagi, si perempuan akan menodai sumpah yang dibuatnya sepuluh tahun silam. Mengangguk pada tradisi yang selalu dijalankan setiap wanita di kampungnya dan kampung-kampung tetangga. Mengabdikan jiwa dan raganya pada laki-laki. Meskipun tiada cinta.

Langit menumpahkan air ke bumi. Manusia menyebutnya hujan. Tapi ada yang mengatakan bahwa hujan adalah tangisan dewi-dewi. Lambang kesakitan hati. Dan gemuruh halilintar sejatinya adalah isak yang tiada lagi bisa diredam. Pandaan, 9 April 2012

Saturday, 24 March 2012

Anak itu Jiwanya Besar


Sepasang mata itu membelalak, sorotnya diarahkan lekat ke bola mataku. Bahkan dengan sisa jarak yang berdasarkan hitungan kasar serta mengandalkan kemampuan matematika yang bisa dibilang sangat pas-pasan adalah berkisar 10 meter, aku bisa dengan jelas melihat perubahan binar didalamnya. Sepertinya gadis kecil ini sudah sedari tadi menanti kehadiranku. 

“Good morning, Ma’am.” Sapaan khas anak didik kepada guru perempuan di sekolah tempat aku mengajar ini pun diucapkannya dengan penuh unsur magis. Seolah ada lonceng tak terlihat yang seketika bergemerincing mengiringi ucapannya. Tersungging senyum yang teramat manis dibibirnya ketika aku mendekat.

“Morning.” Jawabku sembari mengulas senyum yang tidak kalah manisnya. Meskipun secara teknis aku enam belas tahun lebih tua dari anak didikku yang satu ini, dan akan kalah telak jika harus melawan kelincahan dan kespontanannya, aku merasa masih bisa berkompetisi dengannya, paling tidak dalam hal ‘senyuman manis’ tadi.

“Ini Ma’am buku-bukunya C. S. Lewis yang kemarin aku bilang ke Ma’am lewat SMS.” Terangnya sembari menyodorkan tiga bendel buku yang sebenarnya tidak asing lagi buatku. Setiap pergi ke toko buku, tidak pernah absen aku melihatnya terpampang di salah satu rak di dalam toko tersebut. 

“Wah terima kasih ya, Ras. Tapi mungkin Ma’am ngembalikannya agak lama. Tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa Ma’am. Santai saja. Besok aku bawakan lagi empat buku sisanya, semuanya kan ada tujuh buku, Ma’am.” Yang dimaksud olehnya disini adalah tujuh buku The Chronicles of Narnia yang luar biasa terkenal dan sudah diangkat ke layar lebar itu.

“WOW! Okay, thank you, Ras. Kamu memberi PR yang lumayan banyak nih ke Ma’am.” Ujarku dengan sedikit merasa terintimidasi oleh Bu Guru kecil yang sedang berdiri dengan PD di hadapanku ini. Merasa terintimidasi apakah aku akan bisa menyelesaikan PR dengan baik dan tepat waktu.

***

Namanya Raras. Sekarang dia masih duduk di bangku kelas enam SD. Tapi jangan samakan ‘enam SD’-nya dengan ‘enam SD’-ku. ‘Enam SD’-ku artinya berhaha-hihi dengan teman, bertengkar dan kemudian tidak saling sapa, juga malas berangkat sekolah karena takut pada Guru Matematika. Sedangkan ‘enam SD’-nya berarti ikut lomba pidato Bahasa Inggris dan baca puisi, bergabung dalam klub jurnalistik, serta mengembangkan hobi fotografi. Kalau dulu ketika seumurannya aku masih sibuk dengan dakon, bongkar pasang dan bekel, dia sudah berkutat dengan blog, powerpoint, dan buku. Dan khusus untuk yang terakhir tadi, gadis cilik ini benar-benar membuatku heran sekaligus lega karena akhirnya ada kesamaan diantara setumpuk perbedaan ‘enam SD’ antara kami berdua, yaitu kami sama-sama berangan membangun sebuah perpustakaan pribadi.

Tidak kusangka ada gadis berumur sebelas tahun yang sudah begitu cintanya pada dunia baca, terutama melihat sebagian besar anak bangsa yang bahkan tidak tahu pentingnya budaya literasi ini. Dan demi menggapai citanya tersebut, rupanya dia sudah banyak mengambil langkah pasti. Sudah banyak buku yang dikoleksinya. Tidak tanggung-tanggung, buku yang dibaca pun bukan lagi buku cerita bergambar seperti yang selalu laris manis dipinjam siswa-siswa dari perpustakaan sekolah kami, tapi buku-buku yang mungkin banyak kakak kelasnya di SMP ataupun SMA bahkan tidak mau membacanya.

Gadis ini sudah kenal dengan Tere Liye dan Hafalan Shalat Delisa ataupun Dahlan Iskan dan Ganti Hati. Dia juga akrab dengan penulis internasional macam C.S. Lewis, Enid Blyton ataupun Roald Dahl. Dan nampaknya, kini si gadis cilik akan segera melebarkan sayapnya ke dunia sastra dan filsafat. Hal ini aku simpulkan sesaat setelah aku menerima SMS darinya siang tadi.

“Ma’am jadi beli bukunya Dahlan Iskan?”

“Tidak jadi, Ras. Ma’am kemarin beli beberapa buku sastra dan filsafat.”

“Aku sudah beli buku Dahlan Iskan, Ma’am. Juga bukunya Dee yang Madre. Aku tahu buku itu setelah baca blog Ma’am, Go Grab Books.”

“Wah padahal Ma’am sudah lama tidak posting di blog yang itu, Ras.”

“Ma’am sudah dapat bukunya Pramoedya Ananta Toer belum? Aku boleh pinjam Ma’am?”

“Dapat, tapi belum lengkap. Boleh, besok Ma’am bawakan yang biografi Kartini. Ma’am juga punya buku filsafat nih. Ceritanya tentang buku-buku dan perpustakaan ajaib. Mau pinjam?”

“Okay, Ma’am. Pinjam ya??”

“Sip.”

Mau jadi apakah gadis cilik ini? Sesaat aku merasa kecil dan.. iri hati. Iri pada minat bacanya yang gendut dibalik badannya yang kurus. Iri pada segudang prestasi yang didapatkannya di usianya yang masih belia. Iri pada semangatnya dalam menghidupkan budaya literasi. Hal ini bukan sekedar tong kosong nyaring bunyinya, aku sudah berulang kali mendapatinya meminjamkan buku-bukunya pada teman dan bahkan menyumbangkannya pada perpustakaan sekolah. Bukankah itu perwujudan paling nyata?

Di sisi lain, aku merasa bangga. Melihat anak didik yang berkilau dengan begitu indahnya. Dan bahkan hanya dengan berbincang beberapa menit saja aku tahu dia bujan anak kelas enam SD biasa. Cita-citanya besar, sebesar jiwa sosialnya. Kini aku merasa dia adalah seorang perempuan dewasa, bukan lagi anak didik apalagi anak kecil. Seketika ada yang membuncah di dadaku. Ah.. Begini rupanya kebahagiaan sejati itu.

Sunday, 5 February 2012

Tentang Hobi dan Inspirasi


Kusendok cepat-cepat nasi goreng yang saling tumpang tindih di atas piring kaca lebar di hadapanku, sambil sesekali meneguk susu coklat hangat dari cangkir merah muda, pemberian dari seorang sahabat beberapa bulan yang lalu. Pagi ini aku bangun sedikit terlambat. Seperti biasa, aku memang melarang mama untuk menggedor pintu kamarku di pagi hari. Aku selalu menegaskan pada beliau bahwa aku ingin bangun atas kehendakku sendiri. Oleh karenanya aku memutuskan untuk membeli sebuah jam weker yang sejak satu tahun lalu terduduk manis di atas sebuah meja di samping kasur. Aku harus mandiri. Jam weker itu adalah salah satu perwujudan dari niat tersebut.

Tapi pagi ini aku merasakan kantuk luar biasa. Ketika weker itu berteriak tepat pada jam lima subuh tadi, aku malah memilih untuk membenamkan wajah ke dalam bantal. Tidak apa-apalah mengolor waktu barang sepuluh menit, pikirku. Tapi ternyata sepuluh menit berubah menjadi enam puluh menit. Dan beginilah kensekuensinya, aku harus melakukan kegiatan pagi tidak lebih dari tiga puluh menit saja. Karena tepat pada pukul setengah tujuh, aku harus sudah berada di atas boncengan mama menuju ke sebuah sekolah dasar dimana aku menimba ilmu selama hampir tiga tahun ini. 

Kantuk luar biasa yang aku rasakan tadi pagi bukannya tanpa alasan. Semalam, mata sipitku ini baru terpejam sekitar tengah malam. Bukan karena menonton film di televisi atau belajar, melainkan karena rasa gelisah yang mendadak menyerangku. Terdengar konyol memang, tapi itu benar-benar aku rasakan. Dan akan terdengar jauh lebih konyol saat aku katakan bahwa hal yang membuatku gelisah adalah kelas Bahasa Inggris. Kamu tahu mengapa? Karena pagi ini di kelas Bahasa Inggris aku akan menunjukkan kepada guru dan teman-temanku bahwa aku mempunyai hobi yang sangat menarik. Dan aku akan membuat mereka semua terbengong kagum melihat benda yang aku bawa ke kelas. 

Satu minggu yang lalu, Bu Kinan dengan jelas meminta kami untuk memilih satu jenis barang yang berhubungan erat dengan kegemaran kami, membawanya ke kelas di pertemuan selanjutnya dan menceritakan apa yang biasa kami lakukan dengan benda tersebut. Otakku sibuk mencari sesuatu yang bisa mengundang decak kagum. Berulang-ulang aku tanyakan kepada mama dan papa tentang apa yang seharusnya aku bawa, tapi jawaban mereka belum bisa memuaskan keinginanku untuk mencuri perhatian guru dan teman-teman sekelas. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, sebuah ide cemerlang seolah terketik secara otomatis di otakku. Iya, benda itu lah yang akan aku bawa ke kelas. Sudah lama memang aku tidak menekuni hobi yang satu ini, tapi bagaimanapun hal itu benar-benar pernah menjadi suatu kegemaran, bukan? Maka perasaan tidak sabar akan hari esok membuatku terjaga sampai hampir tengah malam. 

Kulirik tas ransel bergambarkan sepasang kupu-kupu cantik yang kini tergeletak di atas kursi di sampingku. Benda itu sudah aman berada di dalamnya. Dengan benda itu, aku akan membuat teman-teman merasa iri. Kulafalkan sekali lagi presentasi dalam Bahasa Inggris yang sudah aku buat dua hari sebelumnya dengan bantuan mama. Lancar. Seolah aku sudah benar-benar bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut. Aku merasa seperti orang ‘bule’ kalau sudah begini. Berbekal benda yang ada di dalam ransel unguku dan apa yang baru saja aku ucapkan, sudah pasti kelas Bahasa Inggris di hari Kamis ini sepenuhnya akan menjadi milikku. 

***

Kami mepunyai perjanjian lisan dengan Bu Kinan. Bahwa setiap pergantian pelajaran Bahasa Inggris, maka setiap siswa harus sudah pada posisi siap belajar. Dalam artian kita semua harus sudah duduk manis di atas tempat duduk masing-masing dan tidak membuat kebisingan tak berarti. Kalau perjanjian ini dilanggar, maka Bu Kinan tidak akan memasuki kelas kami. Sejauh ini, aku dan teman-teman cukup berhasil dalam melaksanakannya. 

Begitu juga pagi ini, teman-teman sudah siap di kursi masing-masing. Mata mereka tampak berbinar penuh gairah. Sepertinya, bukan cuma aku yang tidak sabar ingin membuka bungkus yang menyelimuti benda misterius yang sedari tadi kami bawa. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Beberapa teman tampak sedang sibuk menghafal baris-baris presentasinya, sama seperti yang aku lakukan pagi tadi di meja makan. Bahkan ada beberapa yang sudah dengan bangga menunjukkan benda-benda favoritnya. Diantaranya aku melihat kaos sepak bola bertuliskan “Messi”, sebuah kaca mata renang, sebuah boneka beruang dan beberapa benda lainnya. Sejauh ini aku belum melihat ada seorang temanpun membawa benda yang sama dengan apa yang kusimpan rapi di dalam ransel. Diam-diam aku mengembangkan senyum.

Akhirnya saat itu datang. Terdengar suara langkah cepat dan tegas. Sudah jelas itu langkah Bu Kinan. Ketua kelas kami pun sibuk menyiapkan anggotanya, menginstruksikan kepada mereka untuk segera meletakkan benda-benda misteriusnya ke dalam loker meja masing-masing. Dan..muncullah sosok itu. Bu Kinan yang kurus, terutama bila dibanding dengan kebanyakan guru kami yang lain. Namun jangan salah, dibalik tubuhnya yang kurus itu, kami sering sekali mendengar suaranya yang menggelegar. Tapi tunggu dulu, apa itu yang ada di gendongan tangannya? Sebuah benda yang dibungkus oleh plastik hitam. Melihat dari bentuknya yang kotak, sepertinya itu adalah sebuah buku. Tapi aku tidak pernah tahu ada buku sebesar itu. Rasa penasaran seketika membuyarkan konsentrasiku pada tugas presentasi. 

Setelah mengucap salam dalam Bahasa Inggris, Bu Kinan menyakan kesiapan kami akan presentasi kali ini. Semua anak menjawab serentak, “Yes, Ma’am.” kemudian dilangkahkan kakinya menuju meja dan dengan terampil jari-jemarinya mulai membuka bungkusan plastik hitam yang dibawanya tadi. Saat akhirnya bungkusan itu terbuka, aku dan teman-teman dibuat kaget. Ternyata benar, benda kotak itu tidak lain adalah sebuah buku. Namun buku itu tidak seperti buku-buku yang aku punya atau yang terdapat di perpustakaan sekolah. Buku itu bersampul merah tua dengan tulisan berwarna kuning keemasan di sampul depannya. Ada sebuah gambar pria tua dengan memegang sesuatu seperti rokok namun tidak tampak seperti rokok. Aku tidak  tahu benda itu harus disebut apa. Rasa penasaranku buncah.

Bu Kinan tanpa diminta lantas bercerita bahwa buku itu adalah benda favoritnya. Dia membelinya dengan harga sepuluh poundsterling, atau sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Dan kamu tahu ada berapa halaman di buku tersebut? Seribu empat ratus delapan. Tidak kurang tidak lebih. Bisa kamu bayangkan butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Buku itu dibelinya sewaktu dia berkunjung ke Inggris beberapa saat lalu. Yang membuat Bu Kinan tertarik untuk membelinya adalah karena Bu Kinan merupakan penggemar si penulis. Dia sangat mengagumi karakter utama dari cerita fiksi yang berkisah mengenai seorang detektif itu, yang belakangan aku tahu ternyata sangat terkenal, Sherlock Holmes. Dari situ aku menyimpulkan bahwa Bu Kinan benar-benar suka membaca.

Sungguh senang rasanya mendengar Bu Kinan bercerita tentang hobi dan benda favoritnya tersebut. Kami dibuat kagum dengan cerita tentang bagaimana hobinya itu akhirnya membawa dia terbang ke Inggris dan bahkan benar-benar mendatangi museum Sherlock Holmes di jantung kota London. “Mimpi yang menjadi kenyataan”, ujarnya. Aku juga ingin menjadi seperti Bu Kinan. Aku ingin menekuni hobiku dengan lebih serius. Seperti kata Bu Kinan, hobi itu adalah salah satu cara untuk mengasah bakat dan kemampuan setiap orang. Semakin kau tekuni, semakin terampil kau dibuatnya. Semangatku terbakar. Kupegang erat sebuah album yang memuat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan goresan tanganku. Iya, hobiku adalah menulis. Suatu hari aku ingin menjadi penulis terkenal. Penulis yang buku-bukunya digemari oleh orang seperti Bu Kinan. Bayangkan betapa kerennya jika melihat seseorang bercerita tentang penulis pujaannya dan ternyata penulis itu adalah aku?

Lamat-lamat aku mendengar Bu Kinan menawarkan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi. Tanpa ragu, aku angkat tangan kananku dan melangkahkan kaki ke depan kelas. Semoga ini adalah awal dari mimpi yang jadi kenyataan.

*Persembahan kecil bagi teman seprofesi. Remember, a great teacher inspires!
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Monday, 3 September 2012

Jaring Lelembut


Hari ini ada hajatan besar di kampung perbatasan. Para warga dengan ikhlas berbondong keluar rumah, yang lelaki tak lupa membawa lengkap peralatan kerja seperti sabit, kapak, dan lain sebagainya. Pun yang perempuan tak mau kalah. Didirikannya tenda di halaman salah satu warga, tentu saja dengan bantuan para lelaki. Disana, ditanaknya nasi, diiris-irisnya berbagai macam sayuran, dan ikan asin pun digoreng dengan minyak panas, menimbulkan bau yang terlampau lezat di hidung para lelaki yang kini sedang sibuk membabat rumput liar di pinggiran jalan, ataupun memotong pohon-pohon yang cabang rimbunnya menjadi sumber kekhawatiran warga, terutama ketika musim angin akan menghampiri seperti sekarang. Gotong royong memanglah menjadi akar utama kehidupan di kampung tersebut. Yang satu akan berebut menyokong yang lain yang sedang kesusahan, bukan malah berpura-pura buta pada kenyataan kehidupan. Mengaku prihatin, tapi enggan beranjak untuk meringankan. Atau bahkan ada yang lebih keterlaluan. Memasang tampang berduka atas bencana yang dialami sesama, tapi hatinya bersorak riang. Ah, manusia! Pandai sekali kalian bermuka dua.

Peringatan hari kemerdekaan di kampung perbatasan memang selalu seramai ini. Para gadis sudah sibuk berlenggak lenggok. Menggerakkan pinggul kesana kemari sembari berusaha mengingat gerakan-gerakan yang sudah diajarkan para seniornya. Sudah jauh hari lagu ditentukan, gerakan diciptakan, kini saatnya dipraktikkan. Bahkan, para bocah laki-laki pun tak kenal malu. Dirayunya para gadis tanggung itu, dimintanya untuk mengajari sepatah dua patah gerakan. Semua diselingi dengan canda, semua tertawa lepas tak terkira, lebur jadi satu dengan semangat kebebasan berkarya, tanpa benar-benar tahu untuk apa mereka harus bersuka cita demi yang terjadi di masa lampau. Sedahsyat apapun itu, segilang-gemilang apapun pencapaian di masa lalu, toh semua sudah lewat. Kalau tidak dirawat, tidak diperkuat, semua hanya akan menjelma menjadi pohon tak berakar, yang akan mudah tumbang terkena angin kencang. 

Di sebuah sudut yang tak begitu kentara, nampak ada sosok si pemuda sarjana, diam seribu kata. Sorot matanya menyudutkan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas dengan penuh kesinisan. Sungguh, begitu kontras wajah manusia yang satu ini dengan yang lain. Entah karena dia selalu makan berkecukupan, ditambah lagi vitamin yang belum tentu sebulan sekali dirasakan para bocah kampung itu, sehingga wajahnya selalu lebih bersih dari warga pada umumnya. Dan dulu, ketika dirinya masih bocah ingusan, selalu menjadi perhatian yang pertama dan utama karena ketampanannya. Si pemuda sarjana tampak khusyuk memaknai canda para bocah kampung. Betapa konyol mereka, batinnya. Begitulah Nak, nikmati masa-masa ini. Dimana berbuat bodoh masih dianggap lucu. Saat kau tidak harus memikirkan tentang nasib baik dan nasib buruk. Dulu saat kecil aku tidak pernah seperti kalian. Berjoget dengan tololnya hanya demi sebuah acara kemerdekaan. Untuk apa kalian peringati semua ini, kalau toh nanti ketika besar tetap tak ada nasi untuk dimakan?

Ya, Nak, lanjutkan kekonyolan kalian. Aku sudah tahu sejak mula kalian memang hanya generasi tumbal. Tumbal bagi mereka yang punya kekuasaan. Yang hidupnya ditujukan seolah-olah demi kemanusiaan, tapi berinti kemunafikan. Ya, dan sekarang, mari Nak, kalian jadi tumbalku. Ketika besar pun kalian tetap akan bernasib sama, sebagai tumbal. Jangan pernah bermimpi menjadi orang sepertiku. Terlalu tinggi nak, Mimpi ada batasnya.

Si pemuda sarjana melangkah menghampiri bocah-bocah kampung. Saat jarak semakin dekat, bocah-bocah itu berebut menyentuhkan pipinya pada tangan si pemuda sarjana. Salam tak lupa diucapkan, Senyuman yang paling manis dikembangkan. 

“Sudah siap tampil semuanya?”

“Sampun, Pak.”

“Iya, Bapak doakan semoga acaranya lancar.”

“Enggeh, Pak. Terima kasih”

Bagus, Nak. Aku akan menjadi Bapak kalian yang baik sekarang. Tidak akan ada yang meragukan ketulusan seseorang yang dekat dengan anak-anak. Orang tua kalian yang sebenarnya akan mendengar semua derma yang sudah aku lakukan. Dan pada akhirnya, hal itu akan membantu banyak. Kalian sudah menggali lubang tanpa kalian sadari. Lubang yang tidak hanya cukup untuk kalian diami sendiri, tapi juga bapak dan ibumu nanti. Dan suatu saat, akan kutagih semuanya. Hutang harus di bayar, Nak. Inilah ironi kehidupan. Yang kuat perlu yang lemah untuk dikorbankan. Suatu saat, mungkin akan kalian menyadari. Tapi saat itu semua sudah akan terlambat. Kalian sudah terjerat. 

Para bocah itu menari dan menyanyi. Di atas panggung yang teramat sederhana, hanya berhiaskan potongan-potongan kertas warna-warni. Riasan mereka belepotan di sana sini, tapi siapa yang mau peduli. Bocah-bocah merasa bak di negeri dongeng, menjadi putri dan pangeran di kampung sendiri. Orang tua mereka duduk di atas tikar. Mengulas senyum sarat dengan kebanggaan melihat anak yang di kandungnya menjadi bintang semalam. Tanpa mereka tahu, sebuah jaring raksasa sedang saling berpilin satu sama lain. Mengepung mereka dari berbagai sudut. Seringaian si empunya tak henti-henti tersungging. Selamat datang, jaring lelembut.

Friday, 31 August 2012

Batas Mimpi



Kampung itu sedari dulu memang sunyi senyap. Terlebih ketika matahari mulai beringsut dari jarak pandang manusia, bersembunyi di balik gagahnya Gunung Penanggungan. Konon, kampung yang namanya memiliki arti sebagai pemisah itu dahulu adalah salah satu garis paling luar kekuasaan Majapahit. Entah membatasinya dari apa, yang pasti orang-orang di kampung kecil itu menamakan diri sebagai warga perbatasan. Beberapa mengagungkan Majapahit, namun banyak juga yang tidak mampu menahan godaan untuk menduakan hati pada kekuasaan lain yang ada di seberang jalan. Mungkin kesetiaan bukan hal yang pantas dibicarakan. Pikiran yang selalu terombang-ambing dari satu sisi ke sisi lain, kehidupan yang selalu bercermin pada kehidupan lain di luar garis, menjadikan warga kampung tersebut tidak berpendirian. Mereka hanya mengikuti kemana naluri mereka mengalir. Naluri yang tidak didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kenyamanan semata. 

Bocah-bocah kampung dari generasi ke generasi mempunyai pikiran yang hampir seragam. Berangkat sekolah berjalan kaki, menempuh jarak ratusan meter dengan dimanjakan ketentraman sawah menghijau di sebelah kiri, dan kekokohan Gunung Penanggungan di sebelah kanan. Mereka berbarengan mengayuh langkah dengan riang demi selembar ijazah. Tidak tahu mereka pentingnya selembar kertas tersebut. Mereka hanya melihat para bocah-bocah tetangga yang sudah lebih tua dengan bangga mengenakan merah putih, membusungkan dada mengaku anak sekolahan. Bahkan arti anak sekolahan pun mereka tidak paham betul. Memang, terdengar keren di kupingnya, maka mengekorlah mereka. Penyakit latah yang namanya sekolah ini menjalari seluruh bocah. Dari yang paling miskin, sampai yang paling kaya.

Namun ada satu anak yang keadaan dan tindak tanduknya berbeda dari yang lain. Jikalau teman-temannya hanya mampu mengenakan sepatu murahan yang warna hitamnya memudar sebelum genap tiga bulan, dia memiliki dua dan bahkan tiga. Semuanya bisa bernilai dua kali lipat dari sepatu kebanyakan. Ketika para bocah kampung bersenda gurau sambil menangkap jangkrik di sawah warga, dia hanya duduk di depan rumah gedongnya dan terlihat tekun membaca. Atau ketika bocah yang lain bermain gundu di siang bolong, dan para gadis cilik bermain dakon, anak itu terpekur di depan televisi sambil menikmati segelas sirup dingin. Surga dunia nampaknya tempat dimana dia berlindung dari semburan panas mentari dan dekapan angin dingin itu. Ah, bocah yang sungguh bernasib baik terlahir di tengah keluarga serba berkecukupan. Kakak-kakaknya sudah tamat sekolah menengah atas dan beberapa diantaranya bahkan sudah berhasil menjadi pegawai pemerintahan, meskipun hanya setingkat desa. Dan kakak perempuannya, meskipun tidak berhasil tamat sekolah setinggi para kakak lelaki, kini sudah dilamar menjadi istri seorang aparat. Hidup nampaknya memang hanya berpihak pada mereka yang sudah kuat dari awal. Nasib baik yang satu, diturunkan pada yang lain. Begitu sederhana yang namanya keberuntungan.

Bocah itu tumbuh besar di lingkungan yang jauh lebih bersahabat dibanding teman sebaya. Semua kebutuhan tercukupi, bahkan lebih. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sudah ditamatkan. Lembar-lembar ijazah menyusup ke tas si pelajar. Kini dijajalnya dunia perkuliahan. Di kampung tersebut, masih bisa dihitung dengan jari jumlah pemuda yang bisa memasuki dunia kemahasiswaan. Bahkan dihitung dengan lima jari saja belum genap. Lihatlah bocah emas yang dulu rajin mengaji dan belajar itu. Sungguh gagah dan tegap cara berjalannya kini. Langkahnya lebar-lebar, menunjukkan kepercayaan pada diri sendiri yang sudah mengakar dan berurat. Wajahnya yang rupawan sanggup mengembang-kempiskan hati para gadis-gadis tanggung. Semua berebut dan saling sikut demi bertemu pandang dan bersitatap dengan si pemuda kaya nan terpelajar. Wanita-wanita paruh baya pun tidak mau terlewat. Semua berharap semoga anak gadisnya dilirik oleh si pemuda berbakat dan diangkat menjadi pendamping. Aih, sebegitu dekat jarak antara mimpi dan ilusi. Mimpi yang tidak tahu aturan, karena memang tidak pernah orang disekolahkan hanya untuk bermimpi. 

Dan sekarang pemuda itu sudah jadi sarjana. Gelarnya tidak lupa dia sematkan dimana-mana. Ketika menulis surat ijin, menandatangani bon-bon, atau ketika dia manjadi panitia pengajian, tidak lupa dia sematkan gelarnya di undangan. Gelar itu memang mahal. Tidak sembarang orang di anugerahi gelar. Pada jaman dulu, hanya orang-orang yang berjasa bisa mendapat gelar dari Raja. Dan memang, terkadang orang berjasa itu berasal dari kasta yang sudah dipandang dari mula. Mereka yang berasal dari kasta rendahan, perlu berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, itupun terkadang gelar yang hanya sebatas gelar. Tidak pernah mendapat pengakuan lahir ataupun batin. Pandangan para pembesar tetap rendah dan menghinakan. Kalau sudah begitu, untuk apa mempunyai gelar? Hanya sekedar hiasan pada nama. Memang, gelar itu sejatinya cuma embel-embel belaka, tanpa makna bagi mereka yang tidak punya kekuasaan.

Monday, 30 April 2012

Perempuan Bergincu Merah



             Dipolesnya bibir ranum itu dengan gincu merah menyala. Aura menggoda berbaur keculasan, yang entah bagaimana terasa begitu memikat seketika menyelubungi raga mungil tersebut. Perempuan itu bukan seorang perayu. Namun, bibir merekah yang kini menyunggingkan seulas senyum sinis itu menjadikan si empunya bak Cleopatra. Ratu yang sanggup membuat lelaki manapun tertawan dan bertekuk lutut. Dan malam ini, yang akan ditundukkannya bukanlah lelaki manapun yang tidak diketahui asal-usulnya. Dia adalah lelaki terhormat yang sudah mumpuni dalam banyak hal. Lelaki yang akhirnya berhasil membuat si perempuan mengikhlaskan hasrat liarnya. Dan kembali menyembah pada tradisi, setelah beberapa lama.

Diluar angin malam terdengar begitu berisik. Gaduh yang ditimbulkan tak ubahnya seperti bunyi erangan mesin motor tua yang rusak, dipadukan dengan suara kertas yang teremat jemari manusia. Pun terdengar halilintar yang memekak, bagai teriakan penguasa langit yang sedang murka. Keduanya bercengkerama, kawin dengan sempurna. Suasana yang mematikan segala bentuk keriangan bocah kampung dan menggantinya dengan suasana pekuburan. 

Si perempuan berjalan ringan ke arah jendela. Tapaknya seolah tiada menyentuh lantai. Dengan kasar, didorongnya jati berwarna coklat tua itu. Deritan kusen yang mendecit nyaring begitu menyayat hati, bagai sebilah sembilu yang mengiris seonggok daging. Hanya saja perih yang ditimbulkan terdapat pada jiwa, bukan raga. Si perempuan meringis nyeri. Nampaknya keperihan pada jiwanya itu menjalar pula sampai ke raga. 

“Mbak, apa mereka sudah datang?” lirih pertanyaan itu terlontar dari bibir yang bergetar. Matanya tidak sejengkal pun beralih dari arak-arakan awan hitam yang perlahan menindih purnama.

“Iya, baru saja. Sekarang semuany` sedang menunggumu.” Ujar lawan bicaranya dengan nada yang sengaja dibuat acuh. Sayang, tetap tidak bisa menyamarkan kemelut di dalamnya.

“Jangan khawatir, Mbak. Semuanya pasti berjalan seperti yang Mbak, Bapak dan Ibu rencanakan. Kalian semua akan bahagia.” Sahut si perempuan, bahkan sebelum sang lawan bicara mengatupkan mulutnya.

Senyap seketika menyergap ruangan segi empat itu. Bahkan cicak pun tak luput dari kepungannya. Mereka tergopoh-gopoh mengtmpat di balik lemari kayu. Dan tenggorokan sang lawan bicara yang dipanggil Mbak oleh si perempuan, seketika tercekat oleh seutas tali tiada berwujud. Memaksanya menelan kembali semua kalimat yang sebelumnya ingin dia lontarkan. Kalimat yang memang sudah sering dia ulang ketika beradu mulut dengan saudarinya yang kini sedang berdiri termenung, menatap rembulan di langit hitam. 

Tiada satu pun anggota tubuh si perempuan berpindah dari posisinya, kecuali bulu mata lentik berbalur maskara yang rutin bergerak naik turun mengikuti irama hati sang pemilik. Entah apa yang berkecamuk di benaknya. Yang jelas sekarang rohnya sudah tidak lagi mendiami raga cantik nan ringkih tersebut. Dibiarkan roh itu berkelana menunggangi waktu. Kembali ke sepuluh tahun silam. 

***

“Aku takut, Mas. Bagaimana kalau nanti Bapak tidak setuju?” Gadis itu mengulang pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. Diusapnya peluh yang mengembun dari pori-pori di kening mulusnya dengan punggung tangan sebelah kanan.  Pun ditariknya ujung rok yang dia kenakan dengan gerak sembrono, seolah dengan begitu semua gundah gulana yang sedang menyelimuti hatinya bisa terobek sedikit demi sedikit. Melepaskan cengkramannya.

            “Tidak apa-apa, Sri. Yang penting kita coba dulu.” Ujar si pria berusaha menentramkan hati kekasihnya. Padahal jauh di lubuk sanubari, dia juga sedang menyimpan gelisah luar biasa. Apa yang akan dilakukannya hari ini jelas sebuah langkah mustahil yang tiba-tiba harus dia tempuh. Walaupun begitu, dia tahu dia harus bersikap sewajar yang dia bisa. Tidak mau dia menunda lagi kebahagiaan itu, meski sangat kecil harapannya, sekecil kutu yang mendiami rambut bocah-bocah di kampung kelahirannya.

            “Tapi aku tetap takut, Mas.” 

            “Percayalah, semua pasti berjalan lancar. Bapak dan Ibumu sudah lama tahu tentang hubungan kita. Mereka tidak akan menentang, apalagi sudah sejauh ini. Katakan, Sri, sudah berapa lama aku mencintaimu?”

            “Delapan tahun, Mas. Dan selama itu juga aku mencintaimu.”

            “Itulah, Sri. Aku semakin yakin nBapak dan Ibumu akan mengerti dan mau memberi restunya.”

            Matahari semakin ganas membakar bumi. Dedaunan dipaksa bercerai dengan tangkainya oleh angin yang bertiup kencang, namun tak tentu arah. Debu halus bergantian masuk melalui lubang hidung dan memenuhi ruangnya, sehingga sedikit sekali celah kosong tersisa yang bisa ditembus udara untuk menuju paru-paru. Sepasang muda-mudi itu secara bersamaan merasa sesak di dada. Si pria diam-diam berharap telah berhasil meyakinkan kekasihnya tentang apa yang sudah menjadi keputusan bersama bulan lalu. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa dia sendiri pun belum sepenuhnya yakin misi yang diembannya kali ini akan berhasil. 

            Si gadis mengunci mulut rapat-rapat. Gelora yang pasang surut di dadanya tak kunjung kembali normal. Sebentar-sebentar melepaskan tohokan ke ulu hati. Kalau sudah seperti itu, ingin rasanya memuntahkan isi perutnya. Namun dia tahu sang kekasih sekarang sedang mati-matian meyakinkan dirinya. Dan tiada mau si perempuan membuatnya kecewa dengan menunjukkan sikap kalut yang berlebih. Maka digigitlah bibir bawahnya yang polos tanpa polesan gincu itu kuat-kuat, berharap mual yang menyerbunya bisa terkurung saja di kerongkongan. Gigitan yang membuat ngilu.

            Di langit, awan gelap dengan sigap mengambil alih kekuasaan permadani biru cerah yang sedari tadi memayungi makhluk bumi. Si pria tampaknya menyadari perubahan cuaca yang tiba-tiba tersebut, lantas diraihnya tangan si gadis dan menariknya berdiri. Dengan langkah berat, keduanya berjalan beriringan menuju sebuah bangunan di belakang pohon mangga. 

***

Hening di tengah malam pun tidak seseram ini. Suara detik jam tiada  pernah sebegini memilukan. Dan hawa mencekat semakin mengental seiring mencondongnya matahari ke arah barat. Empat kepala di ruangan itu sama-sama menunduk. Masing-masing sedang bergelut dengan batinnya. Hanya sesekali terdengar suara isak seorang wanita tua yang tertahan. Yang selalu cepat-cepat diredam oleh tuannya dengan mencengkeram lengan kursi yang terbuat dari rotan.

Si lelaki tua yang terkenal bijak itu pun kini benar-benar kehilangan perbendaharaan kata. Kesengsaraan nampak jelas menggantung di kedua matanya. Beberapa kali ditengadahkan kepalanya yang sudah botak itu. Berharap akan ditemukannya jawaban di atas sana. Kadang, bergantian kepalanya menoleh, dari sang istri yang sedari tadi berjuang melawan luapan air mata, ke putri semata wayangnya yang terpekur di hadapannya. Beban berat sedang menggelayuti pundak lelaki tua tersebut. Dada yang biasanya terbusung gagah itu pun sekarang melunglai. Rasa sayang dan ketidak-ikhlasan saling berjejal memasuki rongganya.

“Maaf, tapi sepertinya Bapak perlu waktu untuk memikirkan semua ini. Sri itu anak Bapak satu-satunya, Nak. Kalau engkau bawa dia meninggalkan rumah ini, dan tinggal di pulau yang sebegitu jauhnya, bagaimana nasib kami nanti?” Ujarnya pada pria yang sedang duduk disamping putrinya itu.

“Tapi nanti kami akan sering-sering mengunjungh Bapak dan Ibu di sini. Tidak perlu khawatir, saya tidak bermaksud memisahkan Sri dari Bapak ataupun Ibu.” Sahut si pria memelas.

“Bukan hanya itu, Nak… Bagaimana nanti kami bisa menghadapi leluhur kami, kalau sampai Sri meninggalkan tradisi yang sudah melekat pada dirinya sejak lahir? Kami tidak bisa membiarkan Sri melanggar kepercayaan leluhur.”

Akhirnya meluncur juga kata-kata itu. Sebuah alasan yang memang sudah bisa ditebak oleh setiap pasang mata yang ada di ruang tersebut. Dari semula, kepercayaanlah yang menjadi inti sari-nya. Si pria muda mulai pasrah. Misinya kali ini sepertinya tidak akan membuahkan hasil, sama seperti sebulan sebelumnya. Seketika dadanya terasa terhimpit oleh sekarung beras. Semakin sempit dan menyesak. Tak tertahankan lagi sakit itu, meledaklah tangisnya. Tangis tanpa suara, h`nya lelehan air mata tiada henti.

Si gadis pun merasakan hal serupa. Hempasan bongkahan batu pada dadanya itu terlalu kuat. Tak dibendungnya lagi semua isakan. Pun dibiarkan air bening mencucur satu demi satu dari mata sipitnya. Terkoyak sudah harapan di depan mata. Melihat kekasih yang dia cintai merendah, kebencian seketika menyusup di celah-celah hatinya. Sumpah tak bersuara dia ikrarkan, selamanya tidak akan pernah menggantikan puj`an hatinya itu. Tidak peduli dia dengan tradisi dan adat-istiadat, dianggapnya semua sebagai palu peremuk kebahagiaan. Jaring perampas harapan.

Senja menapaki hari. Semburat warna keemasan berbaur dengan menggelapnya hari. Saatnya para pencari nafkah memasuki halaman rumah masing-masing. Perantau kembali ke kampung halaman. Sedangkan para tamu bergegas meninggalkan si tuan rumah yang harus bersiap menyambut maghrib. Si gadis tekun menatap punggung kekasihnya yang perlahan menjauh. Air matanya sudah kering. Firasatnya mengatakan, dia tidak akan lagi bertemu dengan pujaan hatinya tersebut. Firasatnya benar.

***

“Nduk, ayo cepetan to.” Suara serak dari luar kamar membuyarkan kenangan yang sedang di putar ulang oleh si perempuan, entah untuk keberapa kalinya. Meskipun sudah lama berselang, tidak sedikitpun kenangan itu memudar. Atau mungkin, memang tidak sudi untuk menghilang.

“Enggeh, Buk. Sebentar lagi.” Sahut si perempuan dari bilik kamarnya yang sempit. Diraihnya gincu merah di atas meja rias. Dipolesnya lagi bibir yang sudah merah merekah.

Angin semakin berisik. Mencumbui pepohonan yang sebagian daunnya kering terpanggang matahari sepanjang siang. Sebentar lagi, si perempuan akan menodai sumpah yang dibuatnya sepuluh tahun silam. Mengangguk pada tradisi yang selalu dijalankan setiap wanita di kampungnya dan kampung-kampung tetangga. Mengabdikan jiwa dan raganya pada laki-laki. Meskipun tiada cinta.

Langit menumpahkan air ke bumi. Manusia menyebutnya hujan. Tapi ada yang mengatakan bahwa hujan adalah tangisan dewi-dewi. Lambang kesakitan hati. Dan gemuruh halilintar sejatinya adalah isak yang tiada lagi bisa diredam. Pandaan, 9 April 2012

Saturday, 24 March 2012

Anak itu Jiwanya Besar


Sepasang mata itu membelalak, sorotnya diarahkan lekat ke bola mataku. Bahkan dengan sisa jarak yang berdasarkan hitungan kasar serta mengandalkan kemampuan matematika yang bisa dibilang sangat pas-pasan adalah berkisar 10 meter, aku bisa dengan jelas melihat perubahan binar didalamnya. Sepertinya gadis kecil ini sudah sedari tadi menanti kehadiranku. 

“Good morning, Ma’am.” Sapaan khas anak didik kepada guru perempuan di sekolah tempat aku mengajar ini pun diucapkannya dengan penuh unsur magis. Seolah ada lonceng tak terlihat yang seketika bergemerincing mengiringi ucapannya. Tersungging senyum yang teramat manis dibibirnya ketika aku mendekat.

“Morning.” Jawabku sembari mengulas senyum yang tidak kalah manisnya. Meskipun secara teknis aku enam belas tahun lebih tua dari anak didikku yang satu ini, dan akan kalah telak jika harus melawan kelincahan dan kespontanannya, aku merasa masih bisa berkompetisi dengannya, paling tidak dalam hal ‘senyuman manis’ tadi.

“Ini Ma’am buku-bukunya C. S. Lewis yang kemarin aku bilang ke Ma’am lewat SMS.” Terangnya sembari menyodorkan tiga bendel buku yang sebenarnya tidak asing lagi buatku. Setiap pergi ke toko buku, tidak pernah absen aku melihatnya terpampang di salah satu rak di dalam toko tersebut. 

“Wah terima kasih ya, Ras. Tapi mungkin Ma’am ngembalikannya agak lama. Tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa Ma’am. Santai saja. Besok aku bawakan lagi empat buku sisanya, semuanya kan ada tujuh buku, Ma’am.” Yang dimaksud olehnya disini adalah tujuh buku The Chronicles of Narnia yang luar biasa terkenal dan sudah diangkat ke layar lebar itu.

“WOW! Okay, thank you, Ras. Kamu memberi PR yang lumayan banyak nih ke Ma’am.” Ujarku dengan sedikit merasa terintimidasi oleh Bu Guru kecil yang sedang berdiri dengan PD di hadapanku ini. Merasa terintimidasi apakah aku akan bisa menyelesaikan PR dengan baik dan tepat waktu.

***

Namanya Raras. Sekarang dia masih duduk di bangku kelas enam SD. Tapi jangan samakan ‘enam SD’-nya dengan ‘enam SD’-ku. ‘Enam SD’-ku artinya berhaha-hihi dengan teman, bertengkar dan kemudian tidak saling sapa, juga malas berangkat sekolah karena takut pada Guru Matematika. Sedangkan ‘enam SD’-nya berarti ikut lomba pidato Bahasa Inggris dan baca puisi, bergabung dalam klub jurnalistik, serta mengembangkan hobi fotografi. Kalau dulu ketika seumurannya aku masih sibuk dengan dakon, bongkar pasang dan bekel, dia sudah berkutat dengan blog, powerpoint, dan buku. Dan khusus untuk yang terakhir tadi, gadis cilik ini benar-benar membuatku heran sekaligus lega karena akhirnya ada kesamaan diantara setumpuk perbedaan ‘enam SD’ antara kami berdua, yaitu kami sama-sama berangan membangun sebuah perpustakaan pribadi.

Tidak kusangka ada gadis berumur sebelas tahun yang sudah begitu cintanya pada dunia baca, terutama melihat sebagian besar anak bangsa yang bahkan tidak tahu pentingnya budaya literasi ini. Dan demi menggapai citanya tersebut, rupanya dia sudah banyak mengambil langkah pasti. Sudah banyak buku yang dikoleksinya. Tidak tanggung-tanggung, buku yang dibaca pun bukan lagi buku cerita bergambar seperti yang selalu laris manis dipinjam siswa-siswa dari perpustakaan sekolah kami, tapi buku-buku yang mungkin banyak kakak kelasnya di SMP ataupun SMA bahkan tidak mau membacanya.

Gadis ini sudah kenal dengan Tere Liye dan Hafalan Shalat Delisa ataupun Dahlan Iskan dan Ganti Hati. Dia juga akrab dengan penulis internasional macam C.S. Lewis, Enid Blyton ataupun Roald Dahl. Dan nampaknya, kini si gadis cilik akan segera melebarkan sayapnya ke dunia sastra dan filsafat. Hal ini aku simpulkan sesaat setelah aku menerima SMS darinya siang tadi.

“Ma’am jadi beli bukunya Dahlan Iskan?”

“Tidak jadi, Ras. Ma’am kemarin beli beberapa buku sastra dan filsafat.”

“Aku sudah beli buku Dahlan Iskan, Ma’am. Juga bukunya Dee yang Madre. Aku tahu buku itu setelah baca blog Ma’am, Go Grab Books.”

“Wah padahal Ma’am sudah lama tidak posting di blog yang itu, Ras.”

“Ma’am sudah dapat bukunya Pramoedya Ananta Toer belum? Aku boleh pinjam Ma’am?”

“Dapat, tapi belum lengkap. Boleh, besok Ma’am bawakan yang biografi Kartini. Ma’am juga punya buku filsafat nih. Ceritanya tentang buku-buku dan perpustakaan ajaib. Mau pinjam?”

“Okay, Ma’am. Pinjam ya??”

“Sip.”

Mau jadi apakah gadis cilik ini? Sesaat aku merasa kecil dan.. iri hati. Iri pada minat bacanya yang gendut dibalik badannya yang kurus. Iri pada segudang prestasi yang didapatkannya di usianya yang masih belia. Iri pada semangatnya dalam menghidupkan budaya literasi. Hal ini bukan sekedar tong kosong nyaring bunyinya, aku sudah berulang kali mendapatinya meminjamkan buku-bukunya pada teman dan bahkan menyumbangkannya pada perpustakaan sekolah. Bukankah itu perwujudan paling nyata?

Di sisi lain, aku merasa bangga. Melihat anak didik yang berkilau dengan begitu indahnya. Dan bahkan hanya dengan berbincang beberapa menit saja aku tahu dia bujan anak kelas enam SD biasa. Cita-citanya besar, sebesar jiwa sosialnya. Kini aku merasa dia adalah seorang perempuan dewasa, bukan lagi anak didik apalagi anak kecil. Seketika ada yang membuncah di dadaku. Ah.. Begini rupanya kebahagiaan sejati itu.

Sunday, 5 February 2012

Tentang Hobi dan Inspirasi


Kusendok cepat-cepat nasi goreng yang saling tumpang tindih di atas piring kaca lebar di hadapanku, sambil sesekali meneguk susu coklat hangat dari cangkir merah muda, pemberian dari seorang sahabat beberapa bulan yang lalu. Pagi ini aku bangun sedikit terlambat. Seperti biasa, aku memang melarang mama untuk menggedor pintu kamarku di pagi hari. Aku selalu menegaskan pada beliau bahwa aku ingin bangun atas kehendakku sendiri. Oleh karenanya aku memutuskan untuk membeli sebuah jam weker yang sejak satu tahun lalu terduduk manis di atas sebuah meja di samping kasur. Aku harus mandiri. Jam weker itu adalah salah satu perwujudan dari niat tersebut.

Tapi pagi ini aku merasakan kantuk luar biasa. Ketika weker itu berteriak tepat pada jam lima subuh tadi, aku malah memilih untuk membenamkan wajah ke dalam bantal. Tidak apa-apalah mengolor waktu barang sepuluh menit, pikirku. Tapi ternyata sepuluh menit berubah menjadi enam puluh menit. Dan beginilah kensekuensinya, aku harus melakukan kegiatan pagi tidak lebih dari tiga puluh menit saja. Karena tepat pada pukul setengah tujuh, aku harus sudah berada di atas boncengan mama menuju ke sebuah sekolah dasar dimana aku menimba ilmu selama hampir tiga tahun ini. 

Kantuk luar biasa yang aku rasakan tadi pagi bukannya tanpa alasan. Semalam, mata sipitku ini baru terpejam sekitar tengah malam. Bukan karena menonton film di televisi atau belajar, melainkan karena rasa gelisah yang mendadak menyerangku. Terdengar konyol memang, tapi itu benar-benar aku rasakan. Dan akan terdengar jauh lebih konyol saat aku katakan bahwa hal yang membuatku gelisah adalah kelas Bahasa Inggris. Kamu tahu mengapa? Karena pagi ini di kelas Bahasa Inggris aku akan menunjukkan kepada guru dan teman-temanku bahwa aku mempunyai hobi yang sangat menarik. Dan aku akan membuat mereka semua terbengong kagum melihat benda yang aku bawa ke kelas. 

Satu minggu yang lalu, Bu Kinan dengan jelas meminta kami untuk memilih satu jenis barang yang berhubungan erat dengan kegemaran kami, membawanya ke kelas di pertemuan selanjutnya dan menceritakan apa yang biasa kami lakukan dengan benda tersebut. Otakku sibuk mencari sesuatu yang bisa mengundang decak kagum. Berulang-ulang aku tanyakan kepada mama dan papa tentang apa yang seharusnya aku bawa, tapi jawaban mereka belum bisa memuaskan keinginanku untuk mencuri perhatian guru dan teman-teman sekelas. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, sebuah ide cemerlang seolah terketik secara otomatis di otakku. Iya, benda itu lah yang akan aku bawa ke kelas. Sudah lama memang aku tidak menekuni hobi yang satu ini, tapi bagaimanapun hal itu benar-benar pernah menjadi suatu kegemaran, bukan? Maka perasaan tidak sabar akan hari esok membuatku terjaga sampai hampir tengah malam. 

Kulirik tas ransel bergambarkan sepasang kupu-kupu cantik yang kini tergeletak di atas kursi di sampingku. Benda itu sudah aman berada di dalamnya. Dengan benda itu, aku akan membuat teman-teman merasa iri. Kulafalkan sekali lagi presentasi dalam Bahasa Inggris yang sudah aku buat dua hari sebelumnya dengan bantuan mama. Lancar. Seolah aku sudah benar-benar bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut. Aku merasa seperti orang ‘bule’ kalau sudah begini. Berbekal benda yang ada di dalam ransel unguku dan apa yang baru saja aku ucapkan, sudah pasti kelas Bahasa Inggris di hari Kamis ini sepenuhnya akan menjadi milikku. 

***

Kami mepunyai perjanjian lisan dengan Bu Kinan. Bahwa setiap pergantian pelajaran Bahasa Inggris, maka setiap siswa harus sudah pada posisi siap belajar. Dalam artian kita semua harus sudah duduk manis di atas tempat duduk masing-masing dan tidak membuat kebisingan tak berarti. Kalau perjanjian ini dilanggar, maka Bu Kinan tidak akan memasuki kelas kami. Sejauh ini, aku dan teman-teman cukup berhasil dalam melaksanakannya. 

Begitu juga pagi ini, teman-teman sudah siap di kursi masing-masing. Mata mereka tampak berbinar penuh gairah. Sepertinya, bukan cuma aku yang tidak sabar ingin membuka bungkus yang menyelimuti benda misterius yang sedari tadi kami bawa. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Beberapa teman tampak sedang sibuk menghafal baris-baris presentasinya, sama seperti yang aku lakukan pagi tadi di meja makan. Bahkan ada beberapa yang sudah dengan bangga menunjukkan benda-benda favoritnya. Diantaranya aku melihat kaos sepak bola bertuliskan “Messi”, sebuah kaca mata renang, sebuah boneka beruang dan beberapa benda lainnya. Sejauh ini aku belum melihat ada seorang temanpun membawa benda yang sama dengan apa yang kusimpan rapi di dalam ransel. Diam-diam aku mengembangkan senyum.

Akhirnya saat itu datang. Terdengar suara langkah cepat dan tegas. Sudah jelas itu langkah Bu Kinan. Ketua kelas kami pun sibuk menyiapkan anggotanya, menginstruksikan kepada mereka untuk segera meletakkan benda-benda misteriusnya ke dalam loker meja masing-masing. Dan..muncullah sosok itu. Bu Kinan yang kurus, terutama bila dibanding dengan kebanyakan guru kami yang lain. Namun jangan salah, dibalik tubuhnya yang kurus itu, kami sering sekali mendengar suaranya yang menggelegar. Tapi tunggu dulu, apa itu yang ada di gendongan tangannya? Sebuah benda yang dibungkus oleh plastik hitam. Melihat dari bentuknya yang kotak, sepertinya itu adalah sebuah buku. Tapi aku tidak pernah tahu ada buku sebesar itu. Rasa penasaran seketika membuyarkan konsentrasiku pada tugas presentasi. 

Setelah mengucap salam dalam Bahasa Inggris, Bu Kinan menyakan kesiapan kami akan presentasi kali ini. Semua anak menjawab serentak, “Yes, Ma’am.” kemudian dilangkahkan kakinya menuju meja dan dengan terampil jari-jemarinya mulai membuka bungkusan plastik hitam yang dibawanya tadi. Saat akhirnya bungkusan itu terbuka, aku dan teman-teman dibuat kaget. Ternyata benar, benda kotak itu tidak lain adalah sebuah buku. Namun buku itu tidak seperti buku-buku yang aku punya atau yang terdapat di perpustakaan sekolah. Buku itu bersampul merah tua dengan tulisan berwarna kuning keemasan di sampul depannya. Ada sebuah gambar pria tua dengan memegang sesuatu seperti rokok namun tidak tampak seperti rokok. Aku tidak  tahu benda itu harus disebut apa. Rasa penasaranku buncah.

Bu Kinan tanpa diminta lantas bercerita bahwa buku itu adalah benda favoritnya. Dia membelinya dengan harga sepuluh poundsterling, atau sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Dan kamu tahu ada berapa halaman di buku tersebut? Seribu empat ratus delapan. Tidak kurang tidak lebih. Bisa kamu bayangkan butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Buku itu dibelinya sewaktu dia berkunjung ke Inggris beberapa saat lalu. Yang membuat Bu Kinan tertarik untuk membelinya adalah karena Bu Kinan merupakan penggemar si penulis. Dia sangat mengagumi karakter utama dari cerita fiksi yang berkisah mengenai seorang detektif itu, yang belakangan aku tahu ternyata sangat terkenal, Sherlock Holmes. Dari situ aku menyimpulkan bahwa Bu Kinan benar-benar suka membaca.

Sungguh senang rasanya mendengar Bu Kinan bercerita tentang hobi dan benda favoritnya tersebut. Kami dibuat kagum dengan cerita tentang bagaimana hobinya itu akhirnya membawa dia terbang ke Inggris dan bahkan benar-benar mendatangi museum Sherlock Holmes di jantung kota London. “Mimpi yang menjadi kenyataan”, ujarnya. Aku juga ingin menjadi seperti Bu Kinan. Aku ingin menekuni hobiku dengan lebih serius. Seperti kata Bu Kinan, hobi itu adalah salah satu cara untuk mengasah bakat dan kemampuan setiap orang. Semakin kau tekuni, semakin terampil kau dibuatnya. Semangatku terbakar. Kupegang erat sebuah album yang memuat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan goresan tanganku. Iya, hobiku adalah menulis. Suatu hari aku ingin menjadi penulis terkenal. Penulis yang buku-bukunya digemari oleh orang seperti Bu Kinan. Bayangkan betapa kerennya jika melihat seseorang bercerita tentang penulis pujaannya dan ternyata penulis itu adalah aku?

Lamat-lamat aku mendengar Bu Kinan menawarkan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi. Tanpa ragu, aku angkat tangan kananku dan melangkahkan kaki ke depan kelas. Semoga ini adalah awal dari mimpi yang jadi kenyataan.

*Persembahan kecil bagi teman seprofesi. Remember, a great teacher inspires!