Sunday, 21 October 2012

I Love You



He asked me to sing him a song, again. Just like the other night when I sang this Raisa’s “Could It Be Love” on the phone, with him listening at the other end of the line. It was a daunting task, not because I couldn’t, well I could sing and to be honest, I kind of thought I was actually pretty good, but I always found it extremely embarrassing to show the ability publicly. And although singing to him was not regarded as a public performance, since what we had here was only him as the audience, still that very idea of singing on the phone was simply freaking me out. I was neither a good entertainer nor a competent singer that way. It was always me being shy and unconfident. I somewhat had got butterflies in my stomach for no particular reason. 

Still and all, I managed to finish one refrain, of course with such a huge effort, not to mention that heart beat-skipping moment, only for the sake of this very person.

And on that dull and not very enchanting afternoon, he did it again, asked me to sing a song for him. I could have said no, a real no which meant that I was not singing no matter what, instead I found myself being cheap. He didn’t really need to try hard, at all. After a couple of Nos, Avril Lavigne’s “I Love You” was the best I could come up with. I didn’t even know why I picked the song, probably because I was so madly in love or merely because of the lyrics which best described how I felt. It was just there, came out of nowhere. As a matter of fact, my mind kept chanting it during that phone talk. So much for awkwardness. So I sang him, I Love You, Avril Lavigne. 

“You’re so beautiful
But that’s not why I love you
I’m not sure you know
That the reason I love you
Is you being you, just you
Yeah, the reason I love you
Is all that we’ve been through
And that’s why I love you”

To my surprise, it was bloody easy. It felt exactly like those hundreds regular bathroom singings of mine. Thus, it was something I’d like to call a huge accomplishment. Noble, even. Prob`bly that’s why a couple of seconds after we hung up, I was stunned at how extroverted I was turning. I was not the person I had always been. Never before I managed to deal with awkwardness this quick and easy. I had always been the introverted, the dignified, the complicated, the unalive, the inanimate, and after all, a prude. But when he was around, I was someone else. Then I tried to figure things out, he was indeed one of a kind. There was seriously something about him. Something that peculiarly kept me going, that made things ridiculously easier and even crazier.

If we have hard times working things out with someone, no matter how much we think we like him, it’s not love. Love is supposed to be easy.

This I swear is true- in my case, at the very least. And this also how he is making me feel all the time. When life offers us a simplicity far beyond any of our expectations, it's not reasonable to wind things. When there is someone, with all his sweetness and charm, knocking unremittingly on our doors, it is foolish to hide behind the curtain. Love has always been easy. It is never meant to be complicated or twisted. Love should not put someone in a difficult situation whatsoever. Love inevitably works things out. It just fits in conveniently. And love will handle things with ease.

So, how should I define this thing between me and him?

It’s those phone talks with him at the other end of the line, making fun and joking around. It’s those intimate conversations with me talking continuously and him constantly and patiently listening. It’s those silly short text messages ended with an “I Love You” sent from our phones. It’s that very romantic night when he played the guitar and sang out aloud for me. It’s that embarrassing moment when I nervously had to sing that Raisa’s song for him. Finally, love was that Avril Lavigne’s “I Love You” which I was listening to while writing this.

Love is easy. 

Monday, 3 September 2012

Jaring Lelembut


Hari ini ada hajatan besar di kampung perbatasan. Para warga dengan ikhlas berbondong keluar rumah, yang lelaki tak lupa membawa lengkap peralatan kerja seperti sabit, kapak, dan lain sebagainya. Pun yang perempuan tak mau kalah. Didirikannya tenda di halaman salah satu warga, tentu saja dengan bantuan para lelaki. Disana, ditanaknya nasi, diiris-irisnya berbagai macam sayuran, dan ikan asin pun digoreng dengan minyak panas, menimbulkan bau yang terlampau lezat di hidung para lelaki yang kini sedang sibuk membabat rumput liar di pinggiran jalan, ataupun memotong pohon-pohon yang cabang rimbunnya menjadi sumber kekhawatiran warga, terutama ketika musim angin akan menghampiri seperti sekarang. Gotong royong memanglah menjadi akar utama kehidupan di kampung tersebut. Yang satu akan berebut menyokong yang lain yang sedang kesusahan, bukan malah berpura-pura buta pada kenyataan kehidupan. Mengaku prihatin, tapi enggan beranjak untuk meringankan. Atau bahkan ada yang lebih keterlaluan. Memasang tampang berduka atas bencana yang dialami sesama, tapi hatinya bersorak riang. Ah, manusia! Pandai sekali kalian bermuka dua.

Peringatan hari kemerdekaan di kampung perbatasan memang selalu seramai ini. Para gadis sudah sibuk berlenggak lenggok. Menggerakkan pinggul kesana kemari sembari berusaha mengingat gerakan-gerakan yang sudah diajarkan para seniornya. Sudah jauh hari lagu ditentukan, gerakan diciptakan, kini saatnya dipraktikkan. Bahkan, para bocah laki-laki pun tak kenal malu. Dirayunya para gadis tanggung itu, dimintanya untuk mengajari sepatah dua patah gerakan. Semua diselingi dengan canda, semua tertawa lepas tak terkira, lebur jadi satu dengan semangat kebebasan berkarya, tanpa benar-benar tahu untuk apa mereka harus bersuka cita demi yang terjadi di masa lampau. Sedahsyat apapun itu, segilang-gemilang apapun pencapaian di masa lalu, toh semua sudah lewat. Kalau tidak dirawat, tidak diperkuat, semua hanya akan menjelma menjadi pohon tak berakar, yang akan mudah tumbang terkena angin kencang. 

Di sebuah sudut yang tak begitu kentara, nampak ada sosok si pemuda sarjana, diam seribu kata. Sorot matanya menyudutkan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas dengan penuh kesinisan. Sungguh, begitu kontras wajah manusia yang satu ini dengan yang lain. Entah karena dia selalu makan berkecukupan, ditambah lagi vitamin yang belum tentu sebulan sekali dirasakan para bocah kampung itu, sehingga wajahnya selalu lebih bersih dari warga pada umumnya. Dan dulu, ketika dirinya masih bocah ingusan, selalu menjadi perhatian yang pertama dan utama karena ketampanannya. Si pemuda sarjana tampak khusyuk memaknai canda para bocah kampung. Betapa konyol mereka, batinnya. Begitulah Nak, nikmati masa-masa ini. Dimana berbuat bodoh masih dianggap lucu. Saat kau tidak harus memikirkan tentang nasib baik dan nasib buruk. Dulu saat kecil aku tidak pernah seperti kalian. Berjoget dengan tololnya hanya demi sebuah acara kemerdekaan. Untuk apa kalian peringati semua ini, kalau toh nanti ketika besar tetap tak ada nasi untuk dimakan?

Ya, Nak, lanjutkan kekonyolan kalian. Aku sudah tahu sejak mula kalian memang hanya generasi tumbal. Tumbal bagi mereka yang punya kekuasaan. Yang hidupnya ditujukan seolah-olah demi kemanusiaan, tapi berinti kemunafikan. Ya, dan sekarang, mari Nak, kalian jadi tumbalku. Ketika besar pun kalian tetap akan bernasib sama, sebagai tumbal. Jangan pernah bermimpi menjadi orang sepertiku. Terlalu tinggi nak, Mimpi ada batasnya.

Si pemuda sarjana melangkah menghampiri bocah-bocah kampung. Saat jarak semakin dekat, bocah-bocah itu berebut menyentuhkan pipinya pada tangan si pemuda sarjana. Salam tak lupa diucapkan, Senyuman yang paling manis dikembangkan. 

“Sudah siap tampil semuanya?”

Sampun, Pak.”

“Iya, Bapak doakan semoga acaranya lancar.”

Enggeh, Pak. Terima kasih”

Bagus, Nak. Aku akan menjadi Bapak kalian yang baik sekarang. Tidak akan ada yang meragukan ketulusan seseorang yang dekat dengan anak-anak. Orang tua kalian yang sebenarnya akan mendengar semua derma yang sudah aku lakukan. Dan pada akhirnya, hal itu akan membantu banyak. Kalian sudah menggali lubang tanpa kalian sadari. Lubang yang tidak hanya cukup untuk kalian diami sendiri, tapi juga bapak dan ibumu nanti. Dan suatu saat, akan kutagih semuanya. Hutang harus di bayar, Nak. Inilah ironi kehidupan. Yang kuat perlu yang lemah untuk dikorbankan. Suatu saat, mungkin akan kalian menyadari. Tapi saat itu semua sudah akan terlambat. Kalian sudah terjerat. 

Para bocah itu menari dan menyanyi. Di atas panggung yang teramat sederhana, hanya berhiaskan potongan-potongan kertas warna-warni. Riasan mereka belepotan di sana sini, tapi siapa yang mau peduli. Bocah-bocah merasa bak di negeri dongeng, menjadi putri dan pangeran di kampung sendiri. Orang tua mereka duduk di atas tikar. Mengulas senyum sarat dengan kebanggaan melihat anak yang di kandungnya menjadi bintang semalam. Tanpa mereka tahu, sebuah jaring raksasa sedang saling berpilin satu sama lain. Mengepung mereka dari berbagai sudut. Seringaian si empunya tak henti-henti tersungging. Selamat datang, jaring lelembut.

Friday, 31 August 2012

Batas Mimpi



Kampung itu sedari dulu memang sunyi senyap. Terlebih ketika matahari mulai beringsut dari jarak pandang manusia, bersembunyi di balik gagahnya Gunung Penanggungan. Konon, kampung yang namanya memiliki arti sebagai pemisah itu dahulu adalah salah satu garis paling luar kekuasaan Majapahit. Entah membatasinya dari apa, yang pasti orang-orang di kampung kecil itu menamakan diri sebagai warga perbatasan. Beberapa mengagungkan Majapahit, namun banyak juga yang tidak mampu menahan godaan untuk menduakan hati pada kekuasaan lain yang ada di seberang jalan. Mungkin kesetiaan bukan hal yang pantas dibicarakan. Pikiran yang selalu terombang-ambing dari satu sisi ke sisi lain, kehidupan yang selalu bercermin pada kehidupan lain di luar garis, menjadikan warga kampung tersebut tidak berpendirian. Mereka hanya mengikuti kemana naluri mereka mengalir. Naluri yang tidak didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kenyamanan semata. 

Bocah-bocah kampung dari generasi ke generasi mempunyai pikiran yang hampir seragam. Berangkat sekolah berjalan kaki, menempuh jarak ratusan meter dengan dimanjakan ketentraman sawah menghijau di sebelah kiri, dan kekokohan Gunung Penanggungan di sebelah kanan. Mereka berbarengan mengayuh langkah dengan riang demi selembar ijazah. Tidak tahu mereka pentingnya selembar kertas tersebut. Mereka hanya melihat para bocah-bocah tetangga yang sudah lebih tua dengan bangga mengenakan merah putih, membusungkan dada mengaku anak sekolahan. Bahkan arti anak sekolahan pun mereka tidak paham betul. Memang, terdengar keren di kupingnya, maka mengekorlah mereka. Penyakit latah yang namanya sekolah ini menjalari seluruh bocah. Dari yang paling miskin, sampai yang paling kaya.

Namun ada satu anak yang keadaan dan tindak tanduknya berbeda dari yang lain. Jikalau teman-temannya hanya mampu mengenakan sepatu murahan yang warna hitamnya memudar sebelum genap tiga bulan, dia memiliki dua dan bahkan tiga. Semuanya bisa bernilai dua kali lipat dari sepatu kebanyakan. Ketika para bocah kampung bersenda gurau sambil menangkap jangkrik di sawah warga, dia hanya duduk di depan rumah gedongnya dan terlihat tekun membaca. Atau ketika bocah yang lain bermain gundu di siang bolong, dan para gadis cilik bermain dakon, anak itu terpekur di depan televisi sambil menikmati segelas sirup dingin. Surga dunia nampaknya tempat dimana dia berlindung dari semburan panas mentari dan dekapan angin dingin itu. Ah, bocah yang sungguh bernasib baik terlahir di tengah keluarga serba berkecukupan. Kakak-kakaknya sudah tamat sekolah menengah atas dan beberapa diantaranya bahkan sudah berhasil menjadi pegawai pemerintahan, meskipun hanya setingkat desa. Dan kakak perempuannya, meskipun tidak berhasil tamat sekolah setinggi para kakak lelaki, kini sudah dilamar menjadi istri seorang aparat. Hidup nampaknya memang hanya berpihak pada mereka yang sudah kuat dari awal. Nasib baik yang satu, diturunkan pada yang lain. Begitu sederhana yang namanya keberuntungan.

Bocah itu tumbuh besar di lingkungan yang jauh lebih bersahabat dibanding teman sebaya. Semua kebutuhan tercukupi, bahkan lebih. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sudah ditamatkan. Lembar-lembar ijazah menyusup ke tas si pelajar. Kini dijajalnya dunia perkuliahan. Di kampung tersebut, masih bisa dihitung dengan jari jumlah pemuda yang bisa memasuki dunia kemahasiswaan. Bahkan dihitung dengan lima jari saja belum genap. Lihatlah bocah emas yang dulu rajin mengaji dan belajar itu. Sungguh gagah dan tegap cara berjalannya kini. Langkahnya lebar-lebar, menunjukkan kepercayaan pada diri sendiri yang sudah mengakar dan berurat. Wajahnya yang rupawan sanggup mengembang-kempiskan hati para gadis-gadis tanggung. Semua berebut dan saling sikut demi bertemu pandang dan bersitatap dengan si pemuda kaya nan terpelajar. Wanita-wanita paruh baya pun tidak mau terlewat. Semua berharap semoga anak gadisnya dilirik oleh si pemuda berbakat dan diangkat menjadi pendamping. Aih, sebegitu dekat jarak antara mimpi dan ilusi. Mimpi yang tidak tahu aturan, karena memang tidak pernah orang disekolahkan hanya untuk bermimpi. 

Dan sekarang pemuda itu sudah jadi sarjana. Gelarnya tidak lupa dia sematkan dimana-mana. Ketika menulis surat ijin, menandatangani bon-bon, atau ketika dia manjadi panitia pengajian, tidak lupa dia sematkan gelarnya di undangan. Gelar itu memang mahal. Tidak sembarang orang di anugerahi gelar. Pada jaman dulu, hanya orang-orang yang berjasa bisa mendapat gelar dari Raja. Dan memang, terkadang orang berjasa itu berasal dari kasta yang sudah dipandang dari mula. Mereka yang berasal dari kasta rendahan, perlu berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, itupun terkadang gelar yang hanya sebatas gelar. Tidak pernah mendapat pengakuan lahir ataupun batin. Pandangan para pembesar tetap rendah dan menghinakan. Kalau sudah begitu, untuk apa mempunyai gelar? Hanya sekedar hiasan pada nama. Memang, gelar itu sejatinya cuma embel-embel belaka, tanpa makna bagi mereka yang tidak punya kekuasaan.

Sunday, 21 October 2012

I Love You



He asked me to sing him a song, again. Just like the other night when I sang this Raisa’s “Could It Be Love” on the phone, with him listening at the other end of the line. It was a daunting task, not because I couldn’t, well I could sing and to be honest, I kind of thought I was actually pretty good, but I always found it extremely embarrassing to show the ability publicly. And although singing to him was not regarded as a public performance, since what we had here was only him as the audience, still that very idea of singing on the phone was simply freaking me out. I was neither a good entertainer nor a competent singer that way. It was always me being shy and unconfident. I somewhat had got butterflies in my stomach for no particular reason. 

Still and all, I managed to finish one refrain, of course with such a huge effort, not to mention that heart beat-skipping moment, only for the sake of this very person.

And on that dull and not very enchanting afternoon, he did it again, asked me to sing a song for him. I could have said no, a real no which meant that I was not singing no matter what, instead I found myself being cheap. He didn’t really need to try hard, at all. After a couple of Nos, Avril Lavigne’s “I Love You” was the best I could come up with. I didn’t even know why I picked the song, probably because I was so madly in love or merely because of the lyrics which best described how I felt. It was just there, came out of nowhere. As a matter of fact, my mind kept chanting it during that phone talk. So much for awkwardness. So I sang him, I Love You, Avril Lavigne. 

“You’re so beautiful
But that’s not why I love you
I’m not sure you know
That the reason I love you
Is you being you, just you
Yeah, the reason I love you
Is all that we’ve been through
And that’s why I love you”

To my surprise, it was bloody easy. It felt exactly like those hundreds regular bathroom singings of mine. Thus, it was something I’d like to call a huge accomplishment. Noble, even. Prob`bly that’s why a couple of seconds after we hung up, I was stunned at how extroverted I was turning. I was not the person I had always been. Never before I managed to deal with awkwardness this quick and easy. I had always been the introverted, the dignified, the complicated, the unalive, the inanimate, and after all, a prude. But when he was around, I was someone else. Then I tried to figure things out, he was indeed one of a kind. There was seriously something about him. Something that peculiarly kept me going, that made things ridiculously easier and even crazier.

If we have hard times working things out with someone, no matter how much we think we like him, it’s not love. Love is supposed to be easy.

This I swear is true- in my case, at the very least. And this also how he is making me feel all the time. When life offers us a simplicity far beyond any of our expectations, it's not reasonable to wind things. When there is someone, with all his sweetness and charm, knocking unremittingly on our doors, it is foolish to hide behind the curtain. Love has always been easy. It is never meant to be complicated or twisted. Love should not put someone in a difficult situation whatsoever. Love inevitably works things out. It just fits in conveniently. And love will handle things with ease.

So, how should I define this thing between me and him?

It’s those phone talks with him at the other end of the line, making fun and joking around. It’s those intimate conversations with me talking continuously and him constantly and patiently listening. It’s those silly short text messages ended with an “I Love You” sent from our phones. It’s that very romantic night when he played the guitar and sang out aloud for me. It’s that embarrassing moment when I nervously had to sing that Raisa’s song for him. Finally, love was that Avril Lavigne’s “I Love You” which I was listening to while writing this.

Love is easy. 

Monday, 3 September 2012

Jaring Lelembut


Hari ini ada hajatan besar di kampung perbatasan. Para warga dengan ikhlas berbondong keluar rumah, yang lelaki tak lupa membawa lengkap peralatan kerja seperti sabit, kapak, dan lain sebagainya. Pun yang perempuan tak mau kalah. Didirikannya tenda di halaman salah satu warga, tentu saja dengan bantuan para lelaki. Disana, ditanaknya nasi, diiris-irisnya berbagai macam sayuran, dan ikan asin pun digoreng dengan minyak panas, menimbulkan bau yang terlampau lezat di hidung para lelaki yang kini sedang sibuk membabat rumput liar di pinggiran jalan, ataupun memotong pohon-pohon yang cabang rimbunnya menjadi sumber kekhawatiran warga, terutama ketika musim angin akan menghampiri seperti sekarang. Gotong royong memanglah menjadi akar utama kehidupan di kampung tersebut. Yang satu akan berebut menyokong yang lain yang sedang kesusahan, bukan malah berpura-pura buta pada kenyataan kehidupan. Mengaku prihatin, tapi enggan beranjak untuk meringankan. Atau bahkan ada yang lebih keterlaluan. Memasang tampang berduka atas bencana yang dialami sesama, tapi hatinya bersorak riang. Ah, manusia! Pandai sekali kalian bermuka dua.

Peringatan hari kemerdekaan di kampung perbatasan memang selalu seramai ini. Para gadis sudah sibuk berlenggak lenggok. Menggerakkan pinggul kesana kemari sembari berusaha mengingat gerakan-gerakan yang sudah diajarkan para seniornya. Sudah jauh hari lagu ditentukan, gerakan diciptakan, kini saatnya dipraktikkan. Bahkan, para bocah laki-laki pun tak kenal malu. Dirayunya para gadis tanggung itu, dimintanya untuk mengajari sepatah dua patah gerakan. Semua diselingi dengan canda, semua tertawa lepas tak terkira, lebur jadi satu dengan semangat kebebasan berkarya, tanpa benar-benar tahu untuk apa mereka harus bersuka cita demi yang terjadi di masa lampau. Sedahsyat apapun itu, segilang-gemilang apapun pencapaian di masa lalu, toh semua sudah lewat. Kalau tidak dirawat, tidak diperkuat, semua hanya akan menjelma menjadi pohon tak berakar, yang akan mudah tumbang terkena angin kencang. 

Di sebuah sudut yang tak begitu kentara, nampak ada sosok si pemuda sarjana, diam seribu kata. Sorot matanya menyudutkan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas dengan penuh kesinisan. Sungguh, begitu kontras wajah manusia yang satu ini dengan yang lain. Entah karena dia selalu makan berkecukupan, ditambah lagi vitamin yang belum tentu sebulan sekali dirasakan para bocah kampung itu, sehingga wajahnya selalu lebih bersih dari warga pada umumnya. Dan dulu, ketika dirinya masih bocah ingusan, selalu menjadi perhatian yang pertama dan utama karena ketampanannya. Si pemuda sarjana tampak khusyuk memaknai canda para bocah kampung. Betapa konyol mereka, batinnya. Begitulah Nak, nikmati masa-masa ini. Dimana berbuat bodoh masih dianggap lucu. Saat kau tidak harus memikirkan tentang nasib baik dan nasib buruk. Dulu saat kecil aku tidak pernah seperti kalian. Berjoget dengan tololnya hanya demi sebuah acara kemerdekaan. Untuk apa kalian peringati semua ini, kalau toh nanti ketika besar tetap tak ada nasi untuk dimakan?

Ya, Nak, lanjutkan kekonyolan kalian. Aku sudah tahu sejak mula kalian memang hanya generasi tumbal. Tumbal bagi mereka yang punya kekuasaan. Yang hidupnya ditujukan seolah-olah demi kemanusiaan, tapi berinti kemunafikan. Ya, dan sekarang, mari Nak, kalian jadi tumbalku. Ketika besar pun kalian tetap akan bernasib sama, sebagai tumbal. Jangan pernah bermimpi menjadi orang sepertiku. Terlalu tinggi nak, Mimpi ada batasnya.

Si pemuda sarjana melangkah menghampiri bocah-bocah kampung. Saat jarak semakin dekat, bocah-bocah itu berebut menyentuhkan pipinya pada tangan si pemuda sarjana. Salam tak lupa diucapkan, Senyuman yang paling manis dikembangkan. 

“Sudah siap tampil semuanya?”

Sampun, Pak.”

“Iya, Bapak doakan semoga acaranya lancar.”

Enggeh, Pak. Terima kasih”

Bagus, Nak. Aku akan menjadi Bapak kalian yang baik sekarang. Tidak akan ada yang meragukan ketulusan seseorang yang dekat dengan anak-anak. Orang tua kalian yang sebenarnya akan mendengar semua derma yang sudah aku lakukan. Dan pada akhirnya, hal itu akan membantu banyak. Kalian sudah menggali lubang tanpa kalian sadari. Lubang yang tidak hanya cukup untuk kalian diami sendiri, tapi juga bapak dan ibumu nanti. Dan suatu saat, akan kutagih semuanya. Hutang harus di bayar, Nak. Inilah ironi kehidupan. Yang kuat perlu yang lemah untuk dikorbankan. Suatu saat, mungkin akan kalian menyadari. Tapi saat itu semua sudah akan terlambat. Kalian sudah terjerat. 

Para bocah itu menari dan menyanyi. Di atas panggung yang teramat sederhana, hanya berhiaskan potongan-potongan kertas warna-warni. Riasan mereka belepotan di sana sini, tapi siapa yang mau peduli. Bocah-bocah merasa bak di negeri dongeng, menjadi putri dan pangeran di kampung sendiri. Orang tua mereka duduk di atas tikar. Mengulas senyum sarat dengan kebanggaan melihat anak yang di kandungnya menjadi bintang semalam. Tanpa mereka tahu, sebuah jaring raksasa sedang saling berpilin satu sama lain. Mengepung mereka dari berbagai sudut. Seringaian si empunya tak henti-henti tersungging. Selamat datang, jaring lelembut.

Friday, 31 August 2012

Batas Mimpi



Kampung itu sedari dulu memang sunyi senyap. Terlebih ketika matahari mulai beringsut dari jarak pandang manusia, bersembunyi di balik gagahnya Gunung Penanggungan. Konon, kampung yang namanya memiliki arti sebagai pemisah itu dahulu adalah salah satu garis paling luar kekuasaan Majapahit. Entah membatasinya dari apa, yang pasti orang-orang di kampung kecil itu menamakan diri sebagai warga perbatasan. Beberapa mengagungkan Majapahit, namun banyak juga yang tidak mampu menahan godaan untuk menduakan hati pada kekuasaan lain yang ada di seberang jalan. Mungkin kesetiaan bukan hal yang pantas dibicarakan. Pikiran yang selalu terombang-ambing dari satu sisi ke sisi lain, kehidupan yang selalu bercermin pada kehidupan lain di luar garis, menjadikan warga kampung tersebut tidak berpendirian. Mereka hanya mengikuti kemana naluri mereka mengalir. Naluri yang tidak didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kenyamanan semata. 

Bocah-bocah kampung dari generasi ke generasi mempunyai pikiran yang hampir seragam. Berangkat sekolah berjalan kaki, menempuh jarak ratusan meter dengan dimanjakan ketentraman sawah menghijau di sebelah kiri, dan kekokohan Gunung Penanggungan di sebelah kanan. Mereka berbarengan mengayuh langkah dengan riang demi selembar ijazah. Tidak tahu mereka pentingnya selembar kertas tersebut. Mereka hanya melihat para bocah-bocah tetangga yang sudah lebih tua dengan bangga mengenakan merah putih, membusungkan dada mengaku anak sekolahan. Bahkan arti anak sekolahan pun mereka tidak paham betul. Memang, terdengar keren di kupingnya, maka mengekorlah mereka. Penyakit latah yang namanya sekolah ini menjalari seluruh bocah. Dari yang paling miskin, sampai yang paling kaya.

Namun ada satu anak yang keadaan dan tindak tanduknya berbeda dari yang lain. Jikalau teman-temannya hanya mampu mengenakan sepatu murahan yang warna hitamnya memudar sebelum genap tiga bulan, dia memiliki dua dan bahkan tiga. Semuanya bisa bernilai dua kali lipat dari sepatu kebanyakan. Ketika para bocah kampung bersenda gurau sambil menangkap jangkrik di sawah warga, dia hanya duduk di depan rumah gedongnya dan terlihat tekun membaca. Atau ketika bocah yang lain bermain gundu di siang bolong, dan para gadis cilik bermain dakon, anak itu terpekur di depan televisi sambil menikmati segelas sirup dingin. Surga dunia nampaknya tempat dimana dia berlindung dari semburan panas mentari dan dekapan angin dingin itu. Ah, bocah yang sungguh bernasib baik terlahir di tengah keluarga serba berkecukupan. Kakak-kakaknya sudah tamat sekolah menengah atas dan beberapa diantaranya bahkan sudah berhasil menjadi pegawai pemerintahan, meskipun hanya setingkat desa. Dan kakak perempuannya, meskipun tidak berhasil tamat sekolah setinggi para kakak lelaki, kini sudah dilamar menjadi istri seorang aparat. Hidup nampaknya memang hanya berpihak pada mereka yang sudah kuat dari awal. Nasib baik yang satu, diturunkan pada yang lain. Begitu sederhana yang namanya keberuntungan.

Bocah itu tumbuh besar di lingkungan yang jauh lebih bersahabat dibanding teman sebaya. Semua kebutuhan tercukupi, bahkan lebih. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sudah ditamatkan. Lembar-lembar ijazah menyusup ke tas si pelajar. Kini dijajalnya dunia perkuliahan. Di kampung tersebut, masih bisa dihitung dengan jari jumlah pemuda yang bisa memasuki dunia kemahasiswaan. Bahkan dihitung dengan lima jari saja belum genap. Lihatlah bocah emas yang dulu rajin mengaji dan belajar itu. Sungguh gagah dan tegap cara berjalannya kini. Langkahnya lebar-lebar, menunjukkan kepercayaan pada diri sendiri yang sudah mengakar dan berurat. Wajahnya yang rupawan sanggup mengembang-kempiskan hati para gadis-gadis tanggung. Semua berebut dan saling sikut demi bertemu pandang dan bersitatap dengan si pemuda kaya nan terpelajar. Wanita-wanita paruh baya pun tidak mau terlewat. Semua berharap semoga anak gadisnya dilirik oleh si pemuda berbakat dan diangkat menjadi pendamping. Aih, sebegitu dekat jarak antara mimpi dan ilusi. Mimpi yang tidak tahu aturan, karena memang tidak pernah orang disekolahkan hanya untuk bermimpi. 

Dan sekarang pemuda itu sudah jadi sarjana. Gelarnya tidak lupa dia sematkan dimana-mana. Ketika menulis surat ijin, menandatangani bon-bon, atau ketika dia manjadi panitia pengajian, tidak lupa dia sematkan gelarnya di undangan. Gelar itu memang mahal. Tidak sembarang orang di anugerahi gelar. Pada jaman dulu, hanya orang-orang yang berjasa bisa mendapat gelar dari Raja. Dan memang, terkadang orang berjasa itu berasal dari kasta yang sudah dipandang dari mula. Mereka yang berasal dari kasta rendahan, perlu berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, itupun terkadang gelar yang hanya sebatas gelar. Tidak pernah mendapat pengakuan lahir ataupun batin. Pandangan para pembesar tetap rendah dan menghinakan. Kalau sudah begitu, untuk apa mempunyai gelar? Hanya sekedar hiasan pada nama. Memang, gelar itu sejatinya cuma embel-embel belaka, tanpa makna bagi mereka yang tidak punya kekuasaan.