Sunday, 27 November 2011

Bapak dan Aku


Setiap berbicara tentang masa kecil, Ibu tidak pernah absen memberi tahu lawan bicaranya betapa manja dan arogannya a seven-year-old version of me.  Beliau lantas mengulang-ngulang cerita dimana aku menangis hebat sembari meneriakkan ‘mantra’ andalanku saat itu-Bapak, dengan diikuti penjelasan panjang lebar mengenai ketergantunganku akan sosok yang satu itu. Yah, Bapak memang tokoh idolaku sepanjang masa. Bukan karena kepintaran atau kepribadiannya, melainkan karena beliau selalu menjadikanku anak favoritnya, putri kesayangannya. Bapak adalah the fairy god mother. Orang pertama yang terlintas di pikiranku saat aku mendapat masalah dan yang dengan tongkat ajaibnya akan memberiku jalan keluar dari segala jenis kebuntuan. Hal ini tidak jarang menimbulkan kontra di antara saudara-saudaraku. Namun pada akhirnya, mereka selalu menemukan jalan masing-masing untuk memaklumi dan menerimanya.

Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ketiga saudaraku semuanya laki-laki. Posisi strategis sebagai satu-satunya anak perempuan inilah yang menjadikanku istimewa. Paling tidak begitu konsep awal yang di anut Ibu dan ketiga saudara laki-lakiku sebelum akhirnya teori itu berubah menjadi sebuah norma tidak tertulis di keluarga kami. Mungkin hal ini pula lah yang akhirnya menjadikanku begitu terikat secara emosional dengan Bapak, dan sering kali aku memanipulasi hubungan ini dengan menjadikannya senjata demi keuntungan pribadi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Namun semakin aku memahami diriku, semakin aku merasa this whole idea of ‘that special daughter’ was entirely incorrect. Semakin aku mengenal sosok Dini Rosita Sari, semakin aku tersadar bahwa aku ini tidak lain adalah bayangan yang dilihat Bapak setiap kali beliau bercermin. Aku adalah saudara kembar perempuan beliau, not literally of course.

Terkadang akan sangat sulit untuk mendefinisikan diri sendiri dibanding jika harus melakukan hal yang sama tentang orang lain. Aku pun merasakan hal yang sama. Dan sosok Bapak lah yang membantuku untuk memahami pribadi macam apa aku ini. Bapak adalah karakter yang sangat gamblang baik bagi orang terdekat ataupun kenalannya, namun dalam artian yang berbeda. Kenalannya mungkin akan menganggap beliau sosok yang akan dengan mudah dimintai pertolongan karena wataknya yang memang lembut dan toleran. Akan tetapi bagi ibu dan anak-anaknya, Bapak adalah pribadi yang sulit diperintah. Akan sangat menguras emosi dan energi hanya demi meminta beliau datang ke pernikahan saudara kalau itu bukan karena keinginannya. Hal ini lah yang terkadang menyulut pertengkaran-pertengkaran kecil antara Bapak dan Ibu. Ibu tidak dan bahkan mungkin tidak akan pernah memahami semua itu, but I do, karena aku pun begitu. Kami berdua lemah lembut tapi keras kepala, toleran tapi tegas dan sering kali ringan tangan namun benci diperintah.

            Bapak juga merupakan perwujudan pribadi posesif kompulsif yang bebas. Ketika mencintai sesuatu, tanpa sadar beliau akan menunjukkan sebentuk perilaku unik yang tampak jelas bagi orang disekitarnya tapi tidak bagi dirinya sendiri. Saya ingat Ibu pernah berkata, “Bapak kamu itu lucu, Din. Dulu pernah beli kursi lipat, jumlahnya tiga biji. Padahal sudah tahu anaknya empat. Tidak lama eh beli kursi plastik, berapa jumlahnya? Tiga lagi. Terus pernah membeli kemeja warna putih berulang-ulang sampai lemari dipenuhi warna putih. Nah sekarang sepertinya beliau sedang menyukai warna hitam. Sudah lebih dari tiga kali beliau membeli kemeja warna hitam berturut-turut. Bapak kamu memang begitu, kalau sudah suka sama sesuatu, yang diulang-ulang ya benda itu.” Begitu cara Ibu secara literal mendeskripsikan karakter Bapak kepadaku. Sedangkan aku mungkin menjelaskannya dengan sedikit berbeda.

Bapak adalah jiwa perfeksionis. Yang selalu mencari kesempurnaan dari setiap hal, paling tidak bagi mata dan batinnnya sendiri. Itulah yang menjadikannya pribadi yang kompulsif. Selalu mengulang pola yang sama sampai akhirnya menemukan kombinasi yang menurutnya mendekati sempurna. Bapak adalah pria yang akan berulang kali bolak-balik memandang pantulan dirinya di dalam cermin, memperhatikan setiap detil busana yang dikenakannya dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang melekat di badannya sudah yang paling indah. Begitu juga dalam mencintai sesuatu, he would do it so perfectly and passionately yang cenderung membuatnya tampak posesif namun juga sangat menikmati keposesifan. Tapi sekali kau beri kebebasan padanya, beliau akan menjelma menjadi burung yang tidak akan pernah bisa kau kandangkan, meski dengan sangkar emas sekalipun, persis seperti aku. Bapak dan aku adalah dua pribadi posesif namun haus kebebasan, perfeksionis tapi tidak membosankan.

            Satu watak lagi yang aku lihat setiap kali aku mengaca pada sosok Bapak yaitu kenyamanan dan kepercayaannya pada diri sendiri. Seorang yang inexplicably akan lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah di banding berkumpul dalam rapat RT dengan lelaki sebaya membahas isu-isu sosial. Beliau adalah sosok yang menghindari konflik dan perselisihan akan tetapi selalu melakukan apa yang menurutnya benar. Beliau adalah jenis orang yang tidak pandai bersosialisasi namun pintar bersahabat, orang yang tampak apatis namun dalam otakknya tercatat semua kepincangan yang ingin dan bisa dia selesaikan. Dan sama halnya dengan aku, Bapak adalah orang yang akan merasa nyaman di tempat yang tak karuan walaupun orang lain mengutuk habis-habisan kesemrawutan dunia kami.

            Begitu lah hubunganku dengan Bapak. Kami terikat secara emosional bukan karena beliau terlalu memanjakan aku, tapi karena beliau memahamiku, karena apa yang aku butuhkan hampir semuaya juga beliau butuhkan. Bapak dan aku, dua fisik yang berbeda akan tetapi terbentuk oleh pribadi dan karakter serupa. Kami adalah jiwa kembar yang mendiami raga yang disebut ‘lelaki’ dan ‘perempuan’, menyandang status yang dipanggil ‘bapak’ dan ‘anak’.


*aku dedikasikan tulisan ini untuk sosok Bapak yang telah menjadi inspirasi terbesarku


Friday, 25 November 2011

Antrian Ala Indonesia


Seminggu yang lalu saya dan seorang sahabat sepakat  pergi ke bioskop untuk nonton bareng salah satu film yang sudah lama ditunggu pemutarannya. Sebelum berangkat kami berdua sama-sama tahu bahwa untuk mendapatkan tiket bioskop kali ini akan menjadi perjuangan tersendiri. Terbuktilah semuanya setelah kami  mengantri selama satu setengah jam demi tidak kehabisan kertas kecil bertuliskan teater dan nomor kursi tersebut. Namun apa dikata, tepat saat loket pembelian dibuka, delapan gadis belia belasan tahun (dari wajah sepertinya rata-rata dibawah tujuh belas) tiba-tiba menyerondol barisan kami. Sang satpam hanya bisa mengomel tanpa ada tindakan jelas dan para ABG pun bersorak gembira atas keberhasilan mereka ‘menjinakkan’ sang satpam dan juga ‘menyeberangi’ lautan manusia yang sudah mengantri satu setengah jam sebelum mereka itu. Yah akhirnya saya dan sahabat memilih untuk merelakan delapan tiket melayang di depan mata. Tapi layaknya orang Indonesia asli, kami hanya bersyukur karena paling tidak kami masih kebagian.

Sepanjang perjalanan pulang sahabat ternyata mengeluhkan insiden sabotase antrian tersebut. Tidak ada hentinya dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan retoris seperti, “mengapa orang Indonesia tidak tahu aturan? Mengapa mereka justru bangga atas sesuatu yang seharusnya memalukan? Mengapa kita tidak bisa seperti negara-negara maju yang begitu teratur dan tahu cara menghargai orang lain?” Dan selanjutnya dia pun mengatakan sesuatu yang membuat saya merasa tertampar oleh kebenaran, “temanku dari Australia pernah bilang, “It’s so crazy here in Indonesia. People don’t seem to know how to respect each other. Kami di Australia tidak punya menteri agama, tapi kami tahu betul bagaimana menghargai hak orang lain. You do have it but you foolishly act like you don’t have one.” Usut punya usut, ternyata si ‘bule’ pernah mengalami peristiwa serupa.

Apa yang diceritakan sahabat saya benar-benar menohok. Terlepas objektif atau tidaknya pengaitan agama dengan sikap saling menghargai, saya tidak bisa menyangkal kebenaran di dalam ucapan kesal ‘bule’ tersebut. Bukankah sudah seharusnya negeri religius seperti Indonesia lebih menekankan etika dan sopan santun? Bukankah agama apa pun itu selalu mengajarkan pentingnya hubungan antar sesama selain hubungan vertikal dengan Tuhan? Lantas mengapa negeri tercinta Indonesia Raya ini malah miskin etika? Dan mengapa justru negeri yang kebanyakan rakyatnya mengaku not religious lah yang lebih mengerti cara menghormati orang lain? Apa yang salah dengan sistem perkembangan karakter masyarakat Indonesia?

Selama mencari jawaban logis atas pertanyaan-pertanyaan yang hanya berkutat di otak inilah tiba-tiba saya teringat pada kunjungan singkat saya ke negeri Ratu Elizabeth sebulan yang lalu. Sebagai salah satu negara maju, tidak heran kalau semua sistem yang mereka miliki berjalan jauh lebih teratur dibanding Indonesia. Memang benar salah satu penyebabnya adalah teknologi canggih yang memfasilitasi hampir setiap kegiatan, akan tetapi etika masyarakatnya pun ikut andil dalam hal ini. Setiap individu tampak sangat paham bahwa mereka hidup bersosialisasi. Hal ini tidak hanya sebatas teori yang disampaikan di dalam kelas seperti, maaf, yang kebanyakan terjadi di negara kita. Sebaliknya, semuanya jelas tercermin pada sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Saat berada di lingkungan kerja singkat saya di Inggris, hampir setiap orang yang berpapasan dengan saya tidak pernah absen menanyakan kabar. Are you okay? How is it going? merupakan pertanyaan yang harus saya jawab lebih dari lima kali setiap harinya. Begitu juga dengan ucapan klasik thank you dan sorry, yang bahkan terdengar jauh lebih sering lagi oleh ‘telinga Indonesia’ saya. ‘Bule-bule’ itu jelas tahu cara menghargai orang lain. Mereka ingin membuat orang lain merasa nyaman dan timbal baliknya adalah mereka pun akan mendapatkan hal serupa. Dan satu hal yang pasti, mereka tidak akan pernah mengantri dengan perasaan was-was karena mereka tahu tidak akan ada orang lain yang  tiba-tiba menyerobot antrian seperti yang sering terjadi di ‘antrian ala Indonesia’.

Sunday, 20 November 2011

Kamu lah Status Quo Itu!



Teruntuk KAMU,

Tidak pernah mudah buatku untuk mendefinisikan perasaan yang sudah lama mengikat jiwa bebasku ini. Sejak kamu masih berjinjit ketika melangkah masuk ke kawasan rentan yang aku sebut 'hati', sampai akhirnya sekarang saat kamu menghentakkan kaki, belum juga berhasil aku temukan kalimat atau bahkan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Aku hanya tahu kamu adalah orang yang memesona. Kecantikanmu itu telah menaklukkan benteng ego dan self esteem ku. Eksistensimu telah berhasil menyadarkan aku akan sesuatu yang tidak pernah aku tahu namun benar terbentang disana, bahwa ada bagian dari diriku yang tidak pernah benar-benar terisi. Dan kamu secara ajaib telah berhasil menemukan jalanmu menuju ke titik tersebut dan mendiaminya. Suatu keadaan yang awalnya tidak bisa aku terima dengan logika. Sampai di suatu saat dimana aku tertegun dengan teori yang baru saja aku ciptakan. Kita ini makhluk luar angkasa yang datang dari planet yang sama di suatu tempat di galaksi Bima Sakti. Dan itu membuat semuanya tampak jelas. Kita memegang kunci yang sama, berbicara dengan bahasa serupa. Itu sebabnya sangat mudah menemukan jalanmu menuju ke pusat gravitasiku dan secara konstan menjatuhinya dengan serpihan rasa kagum akan dirimu.

Akan tetapi berbicara denganmu merupakan suatu perjuangan. Tidak pernah sebelumnya aku harus mati-matian hanya demi menyusun sebuah frasa. Dan selama pembicaraan itu, percayalah, jantungku berdebar tidak kalah kencang dengan mereka yang sedang berolah raga. Kamu pun cukup cerdas menghadapi seorang idealis perfeksionis seperti aku. Seorang yang memiliki control issues. Setiap kamu muncul, setiap itulah aku kehilangan kuasa akan diriku. Dan tidak ada yang lebih memuakkan dibanding menjadi pihak yang tidak berdaya. Semuanya terasa seperti gamble. Dan kalau itu tentangmu, setiap tebakan jituku hampir sembilan puluh persen selalu meleset. Pribadimu merupakan pribadi paling rumit yang aku pelajari. Kamu itu tidak jauh beda dengan cuaca di Inggris yang selalu berubah-ubah. Dari panas ke dingin, dari cerah ke gelap, dan dari sinar matahari ke hujan. Kamu adalah sebuah pengecualian terhadap banyak hal. Kamu adalah suhu di bawah lima derajat celcius yang diam-diam aku nikmati. Kamu adalah the wild card. Dan yang sangat menggangguku saat ini adalah kenyataan bahwa kamu telah menjadi satu-satunya alasan ekosistem tidak seimbang. Yes, the 'status quo' has finally changed, Honey.

Status Quo yang dulu sekarang sudah tidak berlaku. Things are utterly different. Sekarang kamu lah status quo itu. Kamu bukan lagi sekedar objek yang bisa aku nikmati. Lebih dari itu, kamu telah memposisikan dirimu sebagai subjek, seperti pemeran utama dalam sebuah cerita, pusat dari segala aktivitas. Aku pun mulai merasa nyaman dengan status quo baru ini. Kamu menciptakan sebuah abnormality yang sangat indah dan memikat, yang terkadang memaksaku untuk tawar menawar dengan harga diri. Sama seperti saat ini, ketika keinginan untuk sekedar melihat tanda-tanda keberadaanmu begitu kuat, harga diriku terpelanting jauh. Kamu sudah merajut jaring disekitarku. Aku pun sadar aku tidak bisa pergi kemana-mana lagi. Aku merindukanmu, Cinta.



Wednesday, 16 November 2011

Close to you, LOVE!

Went to Yogyakarta last week. The last time I visited the city was in January 2010- so not long ago! All the fellow teachers came along. We had so much fun shopping! Well after all, to me travelling means shopping! LOL! Yet the best bit is the outfit. I mean look at my jumpsuit and shoes! They are gorgeous, aren't they?!






Wednesday, 9 November 2011

Angka = Kebahagiaan??


Malam itu Cinta sedang bahagia. Saking bahagianya, dia yang termasuk seorang introvert akut pun mampu melakukan percakapan panjang dengan kedua orang tuanya.

"Mulai bulan depan aku dapat tambahan jam siar. Program baru yang aku ajukan diterima." ujar Cinta tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Wah, hebat. Berarti kamu dapat tambahan juga kan?" respon sang ibu.
"Tambahan apa, Bu?" jawab Cinta setengah bingung.
"Ya gaji lah, apalagi. Kerja nambah, berarti digit juga nambah."
"Hehe..kalau yang itu belum, Bu."
"Lho kalau begitu kenapa nyari-nyari kerjaan? Toh nominal yang kamu terima tidak berbanding lurus?"
"Bu, aku bukannya nyari-nyari kerjaan. Aku nyari kesenangan dan kesenangan itu aku dapat ya dari siaran. Rasanya puas kalau bisa bikin para pendengar merasa terhibur."

***

"Dapat nilai berapa Sains nya, Ngga?"
"Dapat 90, Ma. Yang Angga pelajari tadi malam banyak yang keluar di tes. Bu Guru juga sering ngasih soal-soal itu di kelas sampai bosan"
"Wah, hebat anak mama. Selamat ya! Terus kemarin tes English dapat berapa?"
"Mm...cuma 60. Soalnya susah-susah Ma."
"Lho, tapi materinya sudah pernah diajarkan sama Bu Guru kan?"
"Ya sudah Ma. Tapi Bu Guru tidak pernah nyuruh aku menghafal ini itu."
"Terus di kelas kamu ngapain kalau tidak belajar?"
"Ya belajar, tapi gak hafal-hafalan. Biasanya aku disuruh bikin menu makanan tapi ditulis pakai English. Ada cake, cheese, noodle, juice, coffee dan lain-lain. Terus pernah disuruh bikin cerita tentang artis kesukaan. Terus ada fashion show juga Ma. Sama Bu Guru disuruh pakai shirt, skirt, cap, trousers, jacket, dan banyak lagi. Terus main game crosswords, banyak-banyakan menemukan kata melawan grup yang lain. Pokoknya aku seneng kalau waktunya English. Nggak apa-apa kalau dapat 60"

***

Dua orang sahabat tengah berargumen di suatu siang di tengah bulan November.

"Kapan nyusul? Nunggu apalagi? Sudah kepala 3 lho ya!"
"Hihi..santai dulu lah. Aku ini masih belum siap lahir batin."
"Ah kamu alasan aja dari dulu. Kamu ini memang aneh, Bil. Karir udah ok, tampang juga lebih dari pas-pasan, yang naksir juga banyak. Minta apalagi?"
"Aku cuma minta jodoh yang tepat. Untuk saat ini, Tuhan belum ngasih. Aku sudah cukup bahagia kok dengan keadaanku sekarang."
"Kamu salah, kebahagiaan itu kalau kita membina keluarga di usia yang tepat. Kepala 3 sudah sangat jauh lebih dari cukup."

Keesokan harinya...

"Kenapa hidupku seperti ini sih, Kak? Kenapa aku tidak bisa sebahagia kakak?"
"Ada apa Mel? Datang-datang kok memperkarakan kebahagiaan?"
"Ya aku iri ngeliat Kak Bila. Cantik, kerjaan bagus, pintar, banyak teman. Nggak kayak aku yang baru 28 tapi sudah kayak wanita umur 40 tahun yang terjebak dalam pernikahan tidak harmonis. Tahu gitu dulu aku tidak menikah muda"
"Kebahagiaan itu pilihan, Mer. Tidak peduli kamu menikah umur berapa, kalau memang saat menjalaninya kamu memilih untuk memberi ruang lebih pada kebahagiaan, ya kamu akan bahagia. Cobalah jadi pribadi yang positif, mungkin itu akan membantu."

***

Yusran, seorang office boy yang baru satu bulan bekerja di sebuah perusahaan besar sedang berbincang dengan seorang rekannya. 

"Sudah dengar belum? Pak Soni mau datang ke pabrik."
"Siapa itu Pak Soni?" Tanya Yusran dengan tampang innocent.
"Waduh payah kamu, Yus. Pak Soni itu ORANG NOMOR SATU di perusahaan ini. Pabrik ini merupakan satu dari empat pabriknya di seluruh Jawa. Dia sangat kaya, Yus. Andai saja kita punya sepersepuluh dari kekayaannya, kita pasti sangat bahagia."
"Kalau dia orang nomor satu, berarti aku orang nomor berapa ya Jon?" ucap Yusran sembari terkekeh.

Tidak lama di hari yang sama...

"Pak, mau saya bikinkan kopi?"
"Keluar kamu, jangan ganggu saya. Tidak tahu orang sedang kerja. Sialan kamu! Bikin hilang konsentrasi saja."
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Maaf." Ucap Yusran kaget.

Sambil berjalan meninggalkan kantor si bos di lantai dua, Yusran berpikir, "Kasian sekali orang nomor satu ini, pasti hari-harinya tidak bahagia karena bisa bicara sekasar itu pada orang seperti saya yang peringkat nya jauh di bawah dia dan bahkan bukan saingannya."

***

Apa yang aku tulis di atas merupakan beberapa ilustrasi singkat yang aku suguhkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitasku. 'Angka' terkadang memang bisa menjadi ukuran yang paling baik. Seperti ukuran kaki saat kamu akan membeli sepatu atau ukuran badan saat kamu menjahitkan baju. Tapi tidak sedikit pula kasus dimana angka cuma menjadi 'ukuran palsu', yang tidak bisa menjamin harga asli dari perasaan individu. Sebut saja kebahagiaan. Kita tidak akan pernah tahu 'angka' berapa yang mampu mendeskripsikan kebahagiaan seseorang dengan tepat. Kebahagiaanku sekarang mungkin berkisar antara 1 juta...salah, mungkin 2 atau 3 juta. Well...mungkin 10 juta. Baiklah, aku tidak tahu dengan tepat berapa 'angka kebahagiaanku'. Tapi itu bukan masalah, karena yang jelas sekarang aku bahagia. 

"After all, I believe number has nothing to do with happiness." You?

Sunday, 30 October 2011

Biarkan saya bermain dengan anak-anak itu...




Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya lempar, tolong dijawab dengan jujur di dalam hati. Anda punya adik, keponakan, sepupu, tetangga atau bahkan mungkin putra dan putri yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas rendah? Menurut anda, selain coklat, es krim dan permen, apalagi yang bisa membuat mereka gembira? Iya, jawabannya tidak lain adalah "bermain". Tidak bisa dipungkiri anak-anak memang sedang dalam perkembangan usia dimana proses sosialisasi yang paling gampang bagi mereka adalah terjadi di antara teman sebaya. Dan saat anak berusia 7, 8 atau 9 tahun itu berkumpul, kemungkinan terbesar yang mereka lakukan adalah "bermain".

Hal inilah yang selalu saya coba untuk pahami dan pelajari selama menjadi seorang guru sekolah dasar. Anak didik saya bukanlah robot yang akan tanpa protes melakukan setiap tugas yang diberikan.  Pun tidak semua dari mereka menyukai mata pelajaran yang saya ajarkan, Bahasa Inggris. Saya juga tahu ada beberapa dari mereka yang mati-matian mencoba menghafal bagaimana menulis my name is dengan ejaan yang benar. Lantas kalau sudah seperti itu, dengan menimbang karakter dan kenyataan bahwa mereka dipaksa belajar bahasa asing entah dari bumi bagian mana yang mungkin bahkan orang tuanya sendiri pun tidak tahu menahu, apakah sebuah pilihan yang bijaksana jika saya memaksa mereka untuk menguasai subjek asing tersebut melalui serangkaian proses pembelajaran yang menegangkan dan membosankan?

Setiap orang punya pandangan masing-masing tentang dunia pendidikan anak dan saya menghargai setiap pandangan tersebut. Saya pun mempunyai idealisme tentang hal ini, yaitu anak didik saya yang paling penting harus merasa gembira berada di kelas, aktif mengikuti kegiatan yang saya rancang, namun tetap disiplin dalam bersikap. Itulah sebabnya saya lebih menyukai teknik pembelajaran yang terkesan ringan dan menyenangkan. Namun bukan berarti saya tidak mengajarkan apa yang seharusnya saya ajarkan atau tidak mendidik mereka tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Salah besar kalau anda bilang saya cuma "bermain" dengan mereka. Kalau saja anda membuka mata, anda akan tahu bahwa apa yang saya lakukan bukanlah hal yang berbeda dari guru kebanyakan, hanya saja saya melakukannya dengan cara yang mungkin sedikit tidak sama.

Terlepas dari kenyataan bahwa tidak semua anak didik saya akan bisa menyerap materi dengan sempurna, bukankah kemampuan setiap anak itu memang tidak sama? Persis seperti yang dikatakan oleh dosen mata kuliah Perkembangan Peserta Didik di semester-semester awal perkuliahan dulu. Lagipula, apakah ada jaminan bila saya mengikuti teknik pembelajaran yang 'menurut' anda benar itu, semua anak didik saya akan menguasai materi dengan sempurna? Kalau benar ada, saya tidak akan segan untuk menerapkan teknik tersebut secepatnya. Dan sebelum bukti itu muncul di depan mata, biarlah untuk saat ini saya "bermain" di dalam kelas karena sejauh yang saya amati anak-anak menyukainya.

Tuesday, 25 October 2011

England ~ A Dream that Comes True

Aku sudah mencintai Bahasa Inggris sejak dulu. Sejak aku pertama kali mengenal lagu-lagu Backstreet Boys yang diputar di radio dan mencoba menyanyikan setiap baris lirik lagunya dengan teknik 'asal dengar'. Sejak itulah Bahasa Inggris sudah menjadi hasrat terselubung yang belum aku sadari keberadaanya. Sampai akhirnya aku mendengar pujian yang dilontarkan oleh salah seorang guru Bahasa Inggris di bangku sekolah menengah atas tentang kemampuanku berbahasa, aku pun tahu bahwa inilah yang akan menjadi duniaku. Dan benarlah prediksi itu, saat melihat hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri yang jelas tanpa persiapan karena hal itu tidak lebih dari sebuah keputusan mendadak yang aku ambil setelah ibuku berkata, "coba saja dulu, siapa tahu rejeki kamu. Meskipun tidak belajar, inshAllah bisa tembus", dan melihat namaku dibarisan daftar nama mereka yang diterima, aku menjadi sangat yakin dengan pilihanku saat itu.

Saat mempelajari suatu bahasa asing, entah faktor apa yang akan membuatmu secara otomatis menyukai budaya dan tradisi negara dimana bahasa itu digunakan. Sama halnya dengan aku. Aku mencintai bahasa Inggris dan aku sangat menyukai budaya dan tradisi negeri-negeri barat seperti Amerika dan Inggris. Aku selalu berangan bagaimana rasanya bila suatu saat aku bisa berkunjung ke negeri tersebut dan benar-benar mengalami apa yang selama ini hanya bisa aku lihat di televisi. Aku selalu bermimpi dan terus bermimpi. Sampai akhirnya tibalah hari itu. Hari dimana seorang teman mengatakan bahwa aku akan segera berangkat ke Inggris sebagai salah satu program hubungan sekolah kami. Rasa tidak percaya dan ragu pun datang menghampiri. Apakah aku seberuntung itu? Well, after all I really must admit I AM THE LUCKIEST PERSON EVER!

Dimulailah perjalanan mimpiku pada tanggal 7 Oktober 2011. Berangkat melalui Bandara Internasional Juanda dengan penerbangan pukul 08:50 WIB, hatiku bergejolak tidak karuan. Rasanya seperti sedang dalam misi menjalani sebuah mimpi namun dengan level kesadaran 100%. Tiga jam kemudian sampailah aku di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Aku hanya mempunyai satu jam untuk berpindah ke pesawat selanjutnya yang akan membawaku ke Stansted Airport, London. Tidak aku sia-siakan waktu satu jam tersebut. Berjalan sambil setengah berlari aku menuju konter bagasi. Lega rasanya saat tahu aku tidak akan ketinggalan pesawat.

Pada pukul 21:30 waktu setempat, setelah 14 jam perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya aku pun menginjakkan kaki untuk pertama kali di atas tanah milik Ratu Elizabeth tersebut. Rasa syukur tidak berhenti mengaliri setiap sel dalam tubuhku. Tanpa ridho yang Maha Kuasa, semua ini hanya akan menjadi angan. Bahkan jujur sampai detik ini pun rasa puji itu tidak hilang. Selain sekolah partner yang terletak di kota Bury St Edmunds, aku juga mendatangi beberapa tempat sarat histori dan rekreasi seperti The Buckingham Palace, Windsor castle, House of Commons, Big Ben, The London Eye, Cambridge dan The Sherlock Holmes Museum. Dreams do come true, fellas! Dan inilah beberapa foto yang ingin aku bagi dengan keluarga, sahabat dan kawan sejawat. Semoga bisa menjadi inspirasi bahwa mimpi memang kadang bisa menjadi kenyataan. So keep on dreaming, it's sometimes worth it!










Saturday, 24 September 2011

Ijinkan Kutembak Kau


Kamu pasti datang dari jaman Orde Baru kalau masih perlu waktu untuk mikir saat mendengar kata Vierra. Atau mungkin kamu bukan golongan ‘anak gaul masa kini’. I mean, ibuku yang kelahiran  1959 saja tahu siapa itu Vierra, kalau ternyata kamu tidak, bisa simpulkan sendiri kan kamu termasuk jenis yang mana. Well, tapi bukan band bentukan putra dari hasil kawin silang antara komposer handal Addie MS dan penyanyi Memes ini yang mau aku bicarakan. Aku cuma ingin mengaitkannya dengan salah satu lagu mereka yang dinyanyikan dengan sangat manis oleh sang vokalis, Widi. Salah satu baris liriknya berkata seperti ini, “Hari ini ku akan menyatakan cinta.” Sounds familiar? Dan entah karena ‘kepincut’ dengan liriknya, nadanya, atau justru konsep videonya, tiba-tiba ada dorongan kuat yang seolah memintaku untuk segera lari ke depan pintu rumah si dia dan saat dia membuka pintunya, aku akan dengan percaya diri bilang, “Aku suka kamu!” atau kalau meminjam istilah populernya yaitu ‘nembak’. Sayang aku tidak tahu alamat si dia selain email dan beberapa social networking-nya. Meringis.

Lagu dengan judul Terlalu Lama yang terkesan anggun namun sekaligus jantan ini sepertinya cukup bagus untuk dijadikan salah satu motivasi buat para cewek untuk bernyali dalam melakukan first move. Liriknya membuat semua hal yang sebelumnya terasa tabu dan memalukan menjadi begitu benar dan gamblang. Memang ini bukan termasuk hal baru lagi di era Kabinet Indonesia Bersatu ini. Banyak orang memandang bahwa cewek mengungkapkan perasaannya ke cowok adalah hal yang sudah sangat lazim. Tapi ngaku deh, para cewek, tetap saja kita merasa terintimidasi dengan ide tersebut. Entah sudah semodern apa kebudayaan kita atau sejauh mana emansipasi wanita diterapkan, tetap tidak bisa semudah itu menyatakan cinta pada cowok yang kita taksir. Setuju? Sekali lagi, easier said than done. Manggut-manggut.

Banyak sih faktor yang mempengaruhi selain pola pikir yang masih terlalu kental dengan kebudayaan masyarakat timur. Salah satunya mungkin adalah gengsi. Bagi aku pribadi, cewek itu terlihat anggun saat gengsinya menjadi prioritas. Kamu boleh tidak setuju, karena ini memang sebatas teori asal bukan hasil penelitian. Tidak selalu berujung manis memegang prinsip seperti ini, ada kalanya kamu akan menyesali sesuatu dan mengutuk habis-habisan gengsimu yang terlalu tinggi. Tapi percaya atau tidak, justru itulah yang menjadikanmu dirimu yang sekarang.  Tidak terkecuali dalam urusan cinta, yang namanya gengsi pasti ikut ambil suara. Terlebih saat kamu memutuskan untuk menyatakannya. Yang terlintas di otak cewek saat pertama kali mendengar kata ‘nembak’ pasti, "Gengsi ah! Seharusnya cowok yang ngomong duluan. Bagaimana kalau nanti aku ditolak? Mau ditaruh dimana nih muka?" Aku setuju 200 persen dengan pikiran semacam ini, karena memang bukan kodrat kita untuk ditolak. Pernah dengar ungkapan bahasa Jawa, ‘cowok menang milih, cewek menang nolak’? Nah itu tuh yang membuat kita jadi maju mundur saat mau bilang cinta. Manggut-manggut lagi.

Tapi dalam situasi tertentu, selalu ada pengecualian. Setinggi apapun gengsi seorang cewek, saat dia sudah memutuskan untuk melakukan ‘penembakan’, bukan berarti dia sudah kehilangan gengsinya. Jangan salah sangka, justru itu tindakan paling cerdas yang dilakukan olehnya. Tidak mudah bagi tipe cewek  seperti ini untuk mengungkapkan perasaan, jadi saat dia rela mengesampingkan sejenak prioritasnya tersebut demi seseorang, bisa dibayangkan dong sehebat apa cowok tersebut? Yang jelas jauh lebih berharga dari sekedar ‘mubazir kalau tidak dicoba’. Lantas, apa tujuan sebenarnya? 

It goes like this. Perasaan yang dipendam itu selain bisa menimbulkan jerawat (ini kata orang-orang, aku sih tidak percaya), juga sangat mengganggu ketenangan hidup lho. Bagaimana hidup bisa tenang kalau ada seseorang di luar sana yang eksistensinya secara konstan membuat emosimu jungkir balik, kadang senang kadang sedih, kadang khawatir kadang marah, dan ‘kadang’ yang lainnya. Seolah kamu tidak punya lagi kontrol pada dirimu sendiri. Yang menjengkelkan adalah kita tidak bisa menyalahkan si dia untuk ini, karena memang dia melakukannya secara tidak sengaja. Bagaimana mau sengaja, dia bahkan tidak tahu perasaan kamu padanya?

Akan tetapi, yang paling menyebalkan saat seorang cewek menyukai cowok dengan diam-diam adalah kita akan secara otomatis merasa ‘tergantung’ olehnya. Analoginya seperti ini. Anggap cowok itu seperti sepasang sepatu. Tidak ada maksud tertentu, ini hanya sebatas own preference. Kita seperti berdiri di depan sebuah toko sepatu dan terus menatap sepasang sepatu cantik yang terpajang di etalasenya tanpa benar-benar berniat membelinya. Kita tidak akan tahu bahwa ada sepatu sejenis yang mungkin di jual di toko lain, atau paling tidak sepatu yang tidak kalah cantiknya. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau cewek tertentu memilih masuk ke dalam toko tersebut dan menanyakan harganya? Kalau ternyata dijual dengan harga yang terjangkau, bersukur saja karena berarti kita bisa membelinya dan segera membawanya pulang. Sebaliknya, kalau ternyata sepatu itu terlalu mahal, atau mungkin sudah terjual pada pelanggan lain, paling tidak kita bisa meninggalkan toko tersebut tanpa ada rasa penasaran dan siapa tahu dalam perjalanan pulang nanti kita melintasi toko lain yang mempunyai sepatu yang justru lebih cantik. Kemungkinan itu selalu ada lho.

Jadi buat para cewek, tidak usah ragu untuk mengungkapkan perasaan. Kamu tidak akan rugi apa-apa kok. Justru saat memendam perasaan itu lah kamu akan rugi, rugi waktu dan juga emosi. Pada akhirmya kembali pada hukum alam, kalau tidak ditembak, ya nembak. Bukan begitu? Akhir kata, “Selamat ‘nembak’ ya?!” Senyum manis.

Tuesday, 20 September 2011

Camouflage

Erangan mesin itu lenyap seiring dengan berputarnya posisi kontak yang aku gapit di antara ibu jari dan telunjuk, begitu pula dengan bunyi knalpot. Tidak lebih dari tiga detik, seolah sudah menanti untuk ditemukan, suara Adam Levine yang seksi tiba-tiba menyeruak dari keheningan dan terbendung oleh gendang telingaku. Well hal ini bisa bermakna ambigu, apakah memang ‘suara’ si Adam yang seksi ataukah justru ‘si Adam’ itu sendiri. Namun kalau pembicaraan ini mengarah pada vokalis Maroon 5 tersebut, berarti keduanya sama benar. Sejak kemunculannya di hingar bingar industri musik sepuluh tahun silam, pentolan grup band asal negeri Paman Sam itu telah berhasil menancapkan patokan akan sosok lelaki idaman di otakku. Entah karena sensasi luar biasa yang acap kali aku rasa sewaktu menikmati desahan suaranya melalui lagu-lagunya yang hampir setiap hari aku putar, atau tersihir oleh aksi panggung yang hampir selalu dengan bertelanjang dada, menonjolkan otot-otot yang semakin memantapkan kejantanannya, bagiku lelaki harusnya seperti itu. Garang dan seksi di saat yang sama.

Kurogoh isi perut tas coklat tua yang sedari tadi bergelayut manis pada pundak kiriku. Benda mungil tersebut aku dapatkan beberapa bulan sebelumnya dari seorang teman akrab sebagai kado ulang tahun yang ke-33. Sebuah hadiah yang aku tahu jelas tidak murah karena setiap wanita dewasa sudah pasti mampu menaksir jumlah digit yang dibandrol oleh jenis merk tertentu, hanya untuk sebuah tas. Fenomena yang sudah sangat merakyat di era dimana tas sudah bukan lagi suatu alat, melainkan gaya hidup. Tas yang ide awalnya diciptakan untuk menampung barang-barang pribadi, sekarang seolah mengingkari takdirnya. Mereka lebih senang dipanggil sebagai fashion item. Ah betapa lucunya penyakit ‘gaya hidup’ ini! Manusia dibuat keblinger olehnya. Yang dulu hanya perlu satu, sekarang lima bahkan masih kurang.

Jari-jemariku tidak membutuhkan waktu lama untuk mendeteksi keberadaan benda elektronik super canggih sumber dari bunyi tersebut. Dia terpojok di salah satu sudut diantara onggokan kertas, pena, pensil, dompet dan benda-benda lain yang bahkan aku sendiri tidak ingat membawanya. Kuangkat benda itu, memisahkannya dari kelompok yang seolah sudah berkomplot menyesaknya. Namun mataku hanya mampu mempertahankan rasa penasaran untuk sepersekian detik, seterusnya yang aku rasa hanya jengah. Sekali lagi aku paksakan membaca nama yang muncul di layar, sedikit kaget aku mendengar diriku sendiri kali ini mendesah. Akhirnya dengan sedikit enggan, kudekatkan benda berwarna hitam itu ke kuping kananku,

“Halo. Tumben? Jangan katakan kau akan memaksaku datang ke acara ‘beauty seminar’ seperti terakhir kali kau menelponku” Sambungku dalam hati.
“Dapat bonus pulsa, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Aku ingin bicara denganmu, sudah lama aku tidak mendengar ocehan merdumu itu.”
Bukankah setiap hari kau mendengar ocehan itu dari radio? Di program Breakfast and Sun Shine yang aku pandu selama dua jam penuh? Belum sempat aku memprotes pilihan katanya, dia sudah mulai memberondongku lagi,
 “Tahu tidak, salah satu kenikmatan menjadi wanita itu adalah kita bisa bebas berbicara dengan sesama jenis selama berjam-jam dimana saja, baik di telpon atau bahkan sambil duduk berdua di salah satu pojok cafĂ© di pinggiran kota, tanpa pernah takut dicap mengidap gender identity disorder. “
“Apa maksudmu?”
“Coba bayangkan. Dua pria saling menelpon, atau mungkin duduk bersama di sebuah bangku di taman dan saling mengumbar senyum ataupun tawa, bukankah hal itu akan menimbulkan kecurigaan? Ada semacam hubungan terselubung, yang kalau ternyata benar, sudah pasti memunculkan fakta bahwa salah satu dari mereka pasti mengidap sexual disorder tadi. Sedangkan wanita, bukankah sudah kodratnya semua wanita itu suka bicara?”
“Sepanjang yang aku ingat, kau lah wanita yang mempunyai kelebihan paling luar biasa secara verbal. Ada apa sebenarnya? Baru membaca sebuah artikel di majalah dan mencari teman untuk berdiskusi? Maaf aku tidak ada waktu” Ujarku seiring melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
“Apa itu caramu mengatakan bahwa kau sedang mencurigaiku?” nada bicara lawan bicaraku berubah menjadi ketus.
Kuhela nafas panjang, membayangkan wajah orang di ujung sambungan ini yang seketika berubah masam. Kedua matanya dipicingkan. Akhirnya aku putuskan untuk mengalah, “Tidak, yang itu tadi murni kalimat tanya. Jadi, ada kabar apa?”
Seketika moodnya buncah, nada bicara menjadi ringan dan antusiasme pun mengembang, “Sudah dapat undangan belum? Cinta monyetmu saat sekolah menengah akan mengakhiri masa berburu, dan memutuskan untuk memelihara seekor burung cendrawasih yang tidak hanya rupawan tapi juga dibelinya dari keluarga baik-baik dan berada.”
“Mm… Kabar yang bagus, tapi sepertinya tidak cukup menarik untuk membuatmu menelponku. Bukan begitu?” Bukan tentang hal itu lagi, kumohon.
“Resepsinya minggu depan, sepertinya aku tidak bisa datang.” Nada bicaranya berubah datar, tapi cepat-cepat disambungnya lagi, “Oh iya, si Merry, sepupuku, teman kita SD dulu, ingat? Dia juga segera diminta menjadi pendamping hidup seseorang. Belum tahu kapan tepatnya, tapi sepertinya dalam 2 atau 3 bulan kedepan.”
Ada jeda agak lama yang terasa begitu canggung antara kata terakhirnya dengan kata pertamaku, “Kamu mau berubah menjadi pribadi yang oportunis sekarang? Mencoba mencari manfaat dari semua detail bahkan yang paling tidak signifikan sekalipun?” Sudah aku duga sejak mataku mengeja namanya di layar iPhone tadi, pasti tentang hal itu.
“Ayolah, sudah saatnya, Julia. Satu persatu teman kita akan memulai kehidupan baru. Semua orang yang sudah stabil, dalam artian mental dan materi, sudah seharusnya mulai mencari partner hidup. Semua teman kita menikah sebelum kepala 3, bahkan banyak yang sebelum menginjak 25. Apa lagi yang kau tunggu? Pada akhirnya beginilah hidup, perempuan akan menjadi istri dan kemudian menjadi seorang ibu. Kau tahu pasti akan hal itu. Jelas ada yang salah dengan otakmu kalau kau menganggapnya teori sampah”
“Ini persis seperti teori mandi, bukan sampah, Wan. Begini, siapa yang bilang mandi itu harus 2 kali sehari? Sejak kapan ritual semacam ini dijalankan? Sejak zaman Dayang Sumbi yang kecantikannya memanah hati putra kandungnya, si Sangkuriang? Tidak ada yang tahu dan tidak pula ada yang bisa menjamin itulah yang paling benar. Jangan hanya karena semua orang mandi sehari 2 kali, lantas mereka yang mandi cuma sehari sekali dianggap salah, dianggap menyimpang. Itu semua cuma masalah tradisi kok. Jadi jangan hanya karena aku memandang konsep pernikahan dengan sedikit berbeda, maka kau memberiku label ‘luar angkasa’. Terdengar sangat sempit dan tidak adil buatku.”
“Tapi kau hidup bersosialisasi, Miss Perfectionist. Ada keluargamu yang harus kau pikirkan, selain tetangga-tetanggamu yang usil itu tentunya. Kau mau jadi hot topic selama satu dekade?” ujarnya mulai gusar.
“Nah ini dia yang aku sebut globalisasi. Welcome to modern civilization! Zaman dimana orang sudah tidak lagi menyebut handphone atau ponsel, tapi berganti menjadi BB dan iPhone. Memikirkan apa kata orang lain bukankah itu sudah terlalu ketinggalan zaman? Aku pikir kau orang yang paling peka dengan isu ini.”
“Tapi 33 tahun sudah lebih.. tidak, yang benar sudah sangat lebih dari cukup. Mau menunggu sampai kapan?” dari nada suaranya terdengar temanku itu semakin gemas dengan jawaban-jawaban yang aku lontarkan.
Oh honey, age is …”
just a number.” Belum tuntas aku bicara, Wanda sudah memotongnya dengan ekspresi wajah, yang sudah bisa aku gambar dengan jelas di otak, perpaduan antara rasa jengkel dan muak. “Sampai kapan kau akan berpegang pada klise semacam itu? Sebenarnya aku sama sekali tidak percaya dengan mereka yang selalu bilang ‘age is just a number’. Kau tahu, sebenarnya frasa itu dibuat hanya untuk membantu mereka merasa lebih baik. Padahal di dalam hatinya, mereka sama khawatirnya dengan para istri yang sudah menikah puluhan tahun tapi tak kunjung diberikan momongan. Itu tak lain adalah satu lagi bentuk kamuflase selain ‘aku sedang fokus dengan karir’. So please, stop all that rubbish, darling.”
Wanda menumpahkan semua kekesalannya dalam satu tarikan nafas. Belum sempat aku melontarkan pembelaanku, dia sudah melanjutkan lagi khotbah panjangnya. “Dan lagipula, kalau memang benar age is just a number, and you take it just as simple as that, then so is price, so is exchange rate. Padahal kita sama-sama tahu, masing-masing dari variabel itu bisa berdampak besar pada variabel yang lain. Seperti variabel bebas yang menghasilkan variabel terikat. Seperti harga yang bisa mempengaruhi daya beli konsumen ataupun nilai tukar mata uang yang mempengaruhi pasar saham. Kau harus mulai memikirkan masa depan, Jul. Cantikmu itu akan memudar seiring bertambahnya umur. Tunggu sampai keriput mulai menghantuimu!”
Excuse me, apa yang dulu selalu kau bilang? Inner beauty is one thing that matters? Kenapa sekarang jadi sibuk memikirkan keriput diwajah? Wajahku pula. Percayalah, aku akan awet muda. Dan satu hal lagi, pada akhirnya kamuflase yang kamu jabarkan panjang lebar tadi, terkadang bisa menyelamatkan hidup suatu organisme lho.” Aku membayangkan tentang bunglon yang merubah warna kulitnya sesuai dengan batang pohon untuk mengelabui pemburunya, atau seekor belalang yang menyerupai daun-daun di sekitarnya.
“Susah ya ngomong sama penyiar? Apa kalian selalu seperti ini? Pintar mencari celah dan memutarbalikkan keadaan?”
“Jangan bawa-bawa profesi dong, bu dokter. Kamu juga tidak akan suka kalau suatu saat ada seseorang yang bilang; susah ya ngelawan bu dokter, tulisannya hanya ditujukan untuk kalangan tertentu. Iya kan?” Kututup permainan catur itu dengan skak mat yang dibalas dengan bunyi tut panjang disaluran seberang. Rupanya si empunya telpon mengakhiri panggilannya.

Sunday, 27 November 2011

Bapak dan Aku


Setiap berbicara tentang masa kecil, Ibu tidak pernah absen memberi tahu lawan bicaranya betapa manja dan arogannya a seven-year-old version of me.  Beliau lantas mengulang-ngulang cerita dimana aku menangis hebat sembari meneriakkan ‘mantra’ andalanku saat itu-Bapak, dengan diikuti penjelasan panjang lebar mengenai ketergantunganku akan sosok yang satu itu. Yah, Bapak memang tokoh idolaku sepanjang masa. Bukan karena kepintaran atau kepribadiannya, melainkan karena beliau selalu menjadikanku anak favoritnya, putri kesayangannya. Bapak adalah the fairy god mother. Orang pertama yang terlintas di pikiranku saat aku mendapat masalah dan yang dengan tongkat ajaibnya akan memberiku jalan keluar dari segala jenis kebuntuan. Hal ini tidak jarang menimbulkan kontra di antara saudara-saudaraku. Namun pada akhirnya, mereka selalu menemukan jalan masing-masing untuk memaklumi dan menerimanya.

Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ketiga saudaraku semuanya laki-laki. Posisi strategis sebagai satu-satunya anak perempuan inilah yang menjadikanku istimewa. Paling tidak begitu konsep awal yang di anut Ibu dan ketiga saudara laki-lakiku sebelum akhirnya teori itu berubah menjadi sebuah norma tidak tertulis di keluarga kami. Mungkin hal ini pula lah yang akhirnya menjadikanku begitu terikat secara emosional dengan Bapak, dan sering kali aku memanipulasi hubungan ini dengan menjadikannya senjata demi keuntungan pribadi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Namun semakin aku memahami diriku, semakin aku merasa this whole idea of ‘that special daughter’ was entirely incorrect. Semakin aku mengenal sosok Dini Rosita Sari, semakin aku tersadar bahwa aku ini tidak lain adalah bayangan yang dilihat Bapak setiap kali beliau bercermin. Aku adalah saudara kembar perempuan beliau, not literally of course.

Terkadang akan sangat sulit untuk mendefinisikan diri sendiri dibanding jika harus melakukan hal yang sama tentang orang lain. Aku pun merasakan hal yang sama. Dan sosok Bapak lah yang membantuku untuk memahami pribadi macam apa aku ini. Bapak adalah karakter yang sangat gamblang baik bagi orang terdekat ataupun kenalannya, namun dalam artian yang berbeda. Kenalannya mungkin akan menganggap beliau sosok yang akan dengan mudah dimintai pertolongan karena wataknya yang memang lembut dan toleran. Akan tetapi bagi ibu dan anak-anaknya, Bapak adalah pribadi yang sulit diperintah. Akan sangat menguras emosi dan energi hanya demi meminta beliau datang ke pernikahan saudara kalau itu bukan karena keinginannya. Hal ini lah yang terkadang menyulut pertengkaran-pertengkaran kecil antara Bapak dan Ibu. Ibu tidak dan bahkan mungkin tidak akan pernah memahami semua itu, but I do, karena aku pun begitu. Kami berdua lemah lembut tapi keras kepala, toleran tapi tegas dan sering kali ringan tangan namun benci diperintah.

            Bapak juga merupakan perwujudan pribadi posesif kompulsif yang bebas. Ketika mencintai sesuatu, tanpa sadar beliau akan menunjukkan sebentuk perilaku unik yang tampak jelas bagi orang disekitarnya tapi tidak bagi dirinya sendiri. Saya ingat Ibu pernah berkata, “Bapak kamu itu lucu, Din. Dulu pernah beli kursi lipat, jumlahnya tiga biji. Padahal sudah tahu anaknya empat. Tidak lama eh beli kursi plastik, berapa jumlahnya? Tiga lagi. Terus pernah membeli kemeja warna putih berulang-ulang sampai lemari dipenuhi warna putih. Nah sekarang sepertinya beliau sedang menyukai warna hitam. Sudah lebih dari tiga kali beliau membeli kemeja warna hitam berturut-turut. Bapak kamu memang begitu, kalau sudah suka sama sesuatu, yang diulang-ulang ya benda itu.” Begitu cara Ibu secara literal mendeskripsikan karakter Bapak kepadaku. Sedangkan aku mungkin menjelaskannya dengan sedikit berbeda.

Bapak adalah jiwa perfeksionis. Yang selalu mencari kesempurnaan dari setiap hal, paling tidak bagi mata dan batinnnya sendiri. Itulah yang menjadikannya pribadi yang kompulsif. Selalu mengulang pola yang sama sampai akhirnya menemukan kombinasi yang menurutnya mendekati sempurna. Bapak adalah pria yang akan berulang kali bolak-balik memandang pantulan dirinya di dalam cermin, memperhatikan setiap detil busana yang dikenakannya dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang melekat di badannya sudah yang paling indah. Begitu juga dalam mencintai sesuatu, he would do it so perfectly and passionately yang cenderung membuatnya tampak posesif namun juga sangat menikmati keposesifan. Tapi sekali kau beri kebebasan padanya, beliau akan menjelma menjadi burung yang tidak akan pernah bisa kau kandangkan, meski dengan sangkar emas sekalipun, persis seperti aku. Bapak dan aku adalah dua pribadi posesif namun haus kebebasan, perfeksionis tapi tidak membosankan.

            Satu watak lagi yang aku lihat setiap kali aku mengaca pada sosok Bapak yaitu kenyamanan dan kepercayaannya pada diri sendiri. Seorang yang inexplicably akan lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah di banding berkumpul dalam rapat RT dengan lelaki sebaya membahas isu-isu sosial. Beliau adalah sosok yang menghindari konflik dan perselisihan akan tetapi selalu melakukan apa yang menurutnya benar. Beliau adalah jenis orang yang tidak pandai bersosialisasi namun pintar bersahabat, orang yang tampak apatis namun dalam otakknya tercatat semua kepincangan yang ingin dan bisa dia selesaikan. Dan sama halnya dengan aku, Bapak adalah orang yang akan merasa nyaman di tempat yang tak karuan walaupun orang lain mengutuk habis-habisan kesemrawutan dunia kami.

            Begitu lah hubunganku dengan Bapak. Kami terikat secara emosional bukan karena beliau terlalu memanjakan aku, tapi karena beliau memahamiku, karena apa yang aku butuhkan hampir semuaya juga beliau butuhkan. Bapak dan aku, dua fisik yang berbeda akan tetapi terbentuk oleh pribadi dan karakter serupa. Kami adalah jiwa kembar yang mendiami raga yang disebut ‘lelaki’ dan ‘perempuan’, menyandang status yang dipanggil ‘bapak’ dan ‘anak’.


*aku dedikasikan tulisan ini untuk sosok Bapak yang telah menjadi inspirasi terbesarku


Friday, 25 November 2011

Antrian Ala Indonesia


Seminggu yang lalu saya dan seorang sahabat sepakat  pergi ke bioskop untuk nonton bareng salah satu film yang sudah lama ditunggu pemutarannya. Sebelum berangkat kami berdua sama-sama tahu bahwa untuk mendapatkan tiket bioskop kali ini akan menjadi perjuangan tersendiri. Terbuktilah semuanya setelah kami  mengantri selama satu setengah jam demi tidak kehabisan kertas kecil bertuliskan teater dan nomor kursi tersebut. Namun apa dikata, tepat saat loket pembelian dibuka, delapan gadis belia belasan tahun (dari wajah sepertinya rata-rata dibawah tujuh belas) tiba-tiba menyerondol barisan kami. Sang satpam hanya bisa mengomel tanpa ada tindakan jelas dan para ABG pun bersorak gembira atas keberhasilan mereka ‘menjinakkan’ sang satpam dan juga ‘menyeberangi’ lautan manusia yang sudah mengantri satu setengah jam sebelum mereka itu. Yah akhirnya saya dan sahabat memilih untuk merelakan delapan tiket melayang di depan mata. Tapi layaknya orang Indonesia asli, kami hanya bersyukur karena paling tidak kami masih kebagian.

Sepanjang perjalanan pulang sahabat ternyata mengeluhkan insiden sabotase antrian tersebut. Tidak ada hentinya dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan retoris seperti, “mengapa orang Indonesia tidak tahu aturan? Mengapa mereka justru bangga atas sesuatu yang seharusnya memalukan? Mengapa kita tidak bisa seperti negara-negara maju yang begitu teratur dan tahu cara menghargai orang lain?” Dan selanjutnya dia pun mengatakan sesuatu yang membuat saya merasa tertampar oleh kebenaran, “temanku dari Australia pernah bilang, “It’s so crazy here in Indonesia. People don’t seem to know how to respect each other. Kami di Australia tidak punya menteri agama, tapi kami tahu betul bagaimana menghargai hak orang lain. You do have it but you foolishly act like you don’t have one.” Usut punya usut, ternyata si ‘bule’ pernah mengalami peristiwa serupa.

Apa yang diceritakan sahabat saya benar-benar menohok. Terlepas objektif atau tidaknya pengaitan agama dengan sikap saling menghargai, saya tidak bisa menyangkal kebenaran di dalam ucapan kesal ‘bule’ tersebut. Bukankah sudah seharusnya negeri religius seperti Indonesia lebih menekankan etika dan sopan santun? Bukankah agama apa pun itu selalu mengajarkan pentingnya hubungan antar sesama selain hubungan vertikal dengan Tuhan? Lantas mengapa negeri tercinta Indonesia Raya ini malah miskin etika? Dan mengapa justru negeri yang kebanyakan rakyatnya mengaku not religious lah yang lebih mengerti cara menghormati orang lain? Apa yang salah dengan sistem perkembangan karakter masyarakat Indonesia?

Selama mencari jawaban logis atas pertanyaan-pertanyaan yang hanya berkutat di otak inilah tiba-tiba saya teringat pada kunjungan singkat saya ke negeri Ratu Elizabeth sebulan yang lalu. Sebagai salah satu negara maju, tidak heran kalau semua sistem yang mereka miliki berjalan jauh lebih teratur dibanding Indonesia. Memang benar salah satu penyebabnya adalah teknologi canggih yang memfasilitasi hampir setiap kegiatan, akan tetapi etika masyarakatnya pun ikut andil dalam hal ini. Setiap individu tampak sangat paham bahwa mereka hidup bersosialisasi. Hal ini tidak hanya sebatas teori yang disampaikan di dalam kelas seperti, maaf, yang kebanyakan terjadi di negara kita. Sebaliknya, semuanya jelas tercermin pada sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Saat berada di lingkungan kerja singkat saya di Inggris, hampir setiap orang yang berpapasan dengan saya tidak pernah absen menanyakan kabar. Are you okay? How is it going? merupakan pertanyaan yang harus saya jawab lebih dari lima kali setiap harinya. Begitu juga dengan ucapan klasik thank you dan sorry, yang bahkan terdengar jauh lebih sering lagi oleh ‘telinga Indonesia’ saya. ‘Bule-bule’ itu jelas tahu cara menghargai orang lain. Mereka ingin membuat orang lain merasa nyaman dan timbal baliknya adalah mereka pun akan mendapatkan hal serupa. Dan satu hal yang pasti, mereka tidak akan pernah mengantri dengan perasaan was-was karena mereka tahu tidak akan ada orang lain yang  tiba-tiba menyerobot antrian seperti yang sering terjadi di ‘antrian ala Indonesia’.

Sunday, 20 November 2011

Kamu lah Status Quo Itu!



Teruntuk KAMU,

Tidak pernah mudah buatku untuk mendefinisikan perasaan yang sudah lama mengikat jiwa bebasku ini. Sejak kamu masih berjinjit ketika melangkah masuk ke kawasan rentan yang aku sebut 'hati', sampai akhirnya sekarang saat kamu menghentakkan kaki, belum juga berhasil aku temukan kalimat atau bahkan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Aku hanya tahu kamu adalah orang yang memesona. Kecantikanmu itu telah menaklukkan benteng ego dan self esteem ku. Eksistensimu telah berhasil menyadarkan aku akan sesuatu yang tidak pernah aku tahu namun benar terbentang disana, bahwa ada bagian dari diriku yang tidak pernah benar-benar terisi. Dan kamu secara ajaib telah berhasil menemukan jalanmu menuju ke titik tersebut dan mendiaminya. Suatu keadaan yang awalnya tidak bisa aku terima dengan logika. Sampai di suatu saat dimana aku tertegun dengan teori yang baru saja aku ciptakan. Kita ini makhluk luar angkasa yang datang dari planet yang sama di suatu tempat di galaksi Bima Sakti. Dan itu membuat semuanya tampak jelas. Kita memegang kunci yang sama, berbicara dengan bahasa serupa. Itu sebabnya sangat mudah menemukan jalanmu menuju ke pusat gravitasiku dan secara konstan menjatuhinya dengan serpihan rasa kagum akan dirimu.

Akan tetapi berbicara denganmu merupakan suatu perjuangan. Tidak pernah sebelumnya aku harus mati-matian hanya demi menyusun sebuah frasa. Dan selama pembicaraan itu, percayalah, jantungku berdebar tidak kalah kencang dengan mereka yang sedang berolah raga. Kamu pun cukup cerdas menghadapi seorang idealis perfeksionis seperti aku. Seorang yang memiliki control issues. Setiap kamu muncul, setiap itulah aku kehilangan kuasa akan diriku. Dan tidak ada yang lebih memuakkan dibanding menjadi pihak yang tidak berdaya. Semuanya terasa seperti gamble. Dan kalau itu tentangmu, setiap tebakan jituku hampir sembilan puluh persen selalu meleset. Pribadimu merupakan pribadi paling rumit yang aku pelajari. Kamu itu tidak jauh beda dengan cuaca di Inggris yang selalu berubah-ubah. Dari panas ke dingin, dari cerah ke gelap, dan dari sinar matahari ke hujan. Kamu adalah sebuah pengecualian terhadap banyak hal. Kamu adalah suhu di bawah lima derajat celcius yang diam-diam aku nikmati. Kamu adalah the wild card. Dan yang sangat menggangguku saat ini adalah kenyataan bahwa kamu telah menjadi satu-satunya alasan ekosistem tidak seimbang. Yes, the 'status quo' has finally changed, Honey.

Status Quo yang dulu sekarang sudah tidak berlaku. Things are utterly different. Sekarang kamu lah status quo itu. Kamu bukan lagi sekedar objek yang bisa aku nikmati. Lebih dari itu, kamu telah memposisikan dirimu sebagai subjek, seperti pemeran utama dalam sebuah cerita, pusat dari segala aktivitas. Aku pun mulai merasa nyaman dengan status quo baru ini. Kamu menciptakan sebuah abnormality yang sangat indah dan memikat, yang terkadang memaksaku untuk tawar menawar dengan harga diri. Sama seperti saat ini, ketika keinginan untuk sekedar melihat tanda-tanda keberadaanmu begitu kuat, harga diriku terpelanting jauh. Kamu sudah merajut jaring disekitarku. Aku pun sadar aku tidak bisa pergi kemana-mana lagi. Aku merindukanmu, Cinta.



Wednesday, 16 November 2011

Close to you, LOVE!

Went to Yogyakarta last week. The last time I visited the city was in January 2010- so not long ago! All the fellow teachers came along. We had so much fun shopping! Well after all, to me travelling means shopping! LOL! Yet the best bit is the outfit. I mean look at my jumpsuit and shoes! They are gorgeous, aren't they?!






Wednesday, 9 November 2011

Angka = Kebahagiaan??


Malam itu Cinta sedang bahagia. Saking bahagianya, dia yang termasuk seorang introvert akut pun mampu melakukan percakapan panjang dengan kedua orang tuanya.

"Mulai bulan depan aku dapat tambahan jam siar. Program baru yang aku ajukan diterima." ujar Cinta tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Wah, hebat. Berarti kamu dapat tambahan juga kan?" respon sang ibu.
"Tambahan apa, Bu?" jawab Cinta setengah bingung.
"Ya gaji lah, apalagi. Kerja nambah, berarti digit juga nambah."
"Hehe..kalau yang itu belum, Bu."
"Lho kalau begitu kenapa nyari-nyari kerjaan? Toh nominal yang kamu terima tidak berbanding lurus?"
"Bu, aku bukannya nyari-nyari kerjaan. Aku nyari kesenangan dan kesenangan itu aku dapat ya dari siaran. Rasanya puas kalau bisa bikin para pendengar merasa terhibur."

***

"Dapat nilai berapa Sains nya, Ngga?"
"Dapat 90, Ma. Yang Angga pelajari tadi malam banyak yang keluar di tes. Bu Guru juga sering ngasih soal-soal itu di kelas sampai bosan"
"Wah, hebat anak mama. Selamat ya! Terus kemarin tes English dapat berapa?"
"Mm...cuma 60. Soalnya susah-susah Ma."
"Lho, tapi materinya sudah pernah diajarkan sama Bu Guru kan?"
"Ya sudah Ma. Tapi Bu Guru tidak pernah nyuruh aku menghafal ini itu."
"Terus di kelas kamu ngapain kalau tidak belajar?"
"Ya belajar, tapi gak hafal-hafalan. Biasanya aku disuruh bikin menu makanan tapi ditulis pakai English. Ada cake, cheese, noodle, juice, coffee dan lain-lain. Terus pernah disuruh bikin cerita tentang artis kesukaan. Terus ada fashion show juga Ma. Sama Bu Guru disuruh pakai shirt, skirt, cap, trousers, jacket, dan banyak lagi. Terus main game crosswords, banyak-banyakan menemukan kata melawan grup yang lain. Pokoknya aku seneng kalau waktunya English. Nggak apa-apa kalau dapat 60"

***

Dua orang sahabat tengah berargumen di suatu siang di tengah bulan November.

"Kapan nyusul? Nunggu apalagi? Sudah kepala 3 lho ya!"
"Hihi..santai dulu lah. Aku ini masih belum siap lahir batin."
"Ah kamu alasan aja dari dulu. Kamu ini memang aneh, Bil. Karir udah ok, tampang juga lebih dari pas-pasan, yang naksir juga banyak. Minta apalagi?"
"Aku cuma minta jodoh yang tepat. Untuk saat ini, Tuhan belum ngasih. Aku sudah cukup bahagia kok dengan keadaanku sekarang."
"Kamu salah, kebahagiaan itu kalau kita membina keluarga di usia yang tepat. Kepala 3 sudah sangat jauh lebih dari cukup."

Keesokan harinya...

"Kenapa hidupku seperti ini sih, Kak? Kenapa aku tidak bisa sebahagia kakak?"
"Ada apa Mel? Datang-datang kok memperkarakan kebahagiaan?"
"Ya aku iri ngeliat Kak Bila. Cantik, kerjaan bagus, pintar, banyak teman. Nggak kayak aku yang baru 28 tapi sudah kayak wanita umur 40 tahun yang terjebak dalam pernikahan tidak harmonis. Tahu gitu dulu aku tidak menikah muda"
"Kebahagiaan itu pilihan, Mer. Tidak peduli kamu menikah umur berapa, kalau memang saat menjalaninya kamu memilih untuk memberi ruang lebih pada kebahagiaan, ya kamu akan bahagia. Cobalah jadi pribadi yang positif, mungkin itu akan membantu."

***

Yusran, seorang office boy yang baru satu bulan bekerja di sebuah perusahaan besar sedang berbincang dengan seorang rekannya. 

"Sudah dengar belum? Pak Soni mau datang ke pabrik."
"Siapa itu Pak Soni?" Tanya Yusran dengan tampang innocent.
"Waduh payah kamu, Yus. Pak Soni itu ORANG NOMOR SATU di perusahaan ini. Pabrik ini merupakan satu dari empat pabriknya di seluruh Jawa. Dia sangat kaya, Yus. Andai saja kita punya sepersepuluh dari kekayaannya, kita pasti sangat bahagia."
"Kalau dia orang nomor satu, berarti aku orang nomor berapa ya Jon?" ucap Yusran sembari terkekeh.

Tidak lama di hari yang sama...

"Pak, mau saya bikinkan kopi?"
"Keluar kamu, jangan ganggu saya. Tidak tahu orang sedang kerja. Sialan kamu! Bikin hilang konsentrasi saja."
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Maaf." Ucap Yusran kaget.

Sambil berjalan meninggalkan kantor si bos di lantai dua, Yusran berpikir, "Kasian sekali orang nomor satu ini, pasti hari-harinya tidak bahagia karena bisa bicara sekasar itu pada orang seperti saya yang peringkat nya jauh di bawah dia dan bahkan bukan saingannya."

***

Apa yang aku tulis di atas merupakan beberapa ilustrasi singkat yang aku suguhkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitasku. 'Angka' terkadang memang bisa menjadi ukuran yang paling baik. Seperti ukuran kaki saat kamu akan membeli sepatu atau ukuran badan saat kamu menjahitkan baju. Tapi tidak sedikit pula kasus dimana angka cuma menjadi 'ukuran palsu', yang tidak bisa menjamin harga asli dari perasaan individu. Sebut saja kebahagiaan. Kita tidak akan pernah tahu 'angka' berapa yang mampu mendeskripsikan kebahagiaan seseorang dengan tepat. Kebahagiaanku sekarang mungkin berkisar antara 1 juta...salah, mungkin 2 atau 3 juta. Well...mungkin 10 juta. Baiklah, aku tidak tahu dengan tepat berapa 'angka kebahagiaanku'. Tapi itu bukan masalah, karena yang jelas sekarang aku bahagia. 

"After all, I believe number has nothing to do with happiness." You?

Sunday, 30 October 2011

Biarkan saya bermain dengan anak-anak itu...




Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya lempar, tolong dijawab dengan jujur di dalam hati. Anda punya adik, keponakan, sepupu, tetangga atau bahkan mungkin putra dan putri yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas rendah? Menurut anda, selain coklat, es krim dan permen, apalagi yang bisa membuat mereka gembira? Iya, jawabannya tidak lain adalah "bermain". Tidak bisa dipungkiri anak-anak memang sedang dalam perkembangan usia dimana proses sosialisasi yang paling gampang bagi mereka adalah terjadi di antara teman sebaya. Dan saat anak berusia 7, 8 atau 9 tahun itu berkumpul, kemungkinan terbesar yang mereka lakukan adalah "bermain".

Hal inilah yang selalu saya coba untuk pahami dan pelajari selama menjadi seorang guru sekolah dasar. Anak didik saya bukanlah robot yang akan tanpa protes melakukan setiap tugas yang diberikan.  Pun tidak semua dari mereka menyukai mata pelajaran yang saya ajarkan, Bahasa Inggris. Saya juga tahu ada beberapa dari mereka yang mati-matian mencoba menghafal bagaimana menulis my name is dengan ejaan yang benar. Lantas kalau sudah seperti itu, dengan menimbang karakter dan kenyataan bahwa mereka dipaksa belajar bahasa asing entah dari bumi bagian mana yang mungkin bahkan orang tuanya sendiri pun tidak tahu menahu, apakah sebuah pilihan yang bijaksana jika saya memaksa mereka untuk menguasai subjek asing tersebut melalui serangkaian proses pembelajaran yang menegangkan dan membosankan?

Setiap orang punya pandangan masing-masing tentang dunia pendidikan anak dan saya menghargai setiap pandangan tersebut. Saya pun mempunyai idealisme tentang hal ini, yaitu anak didik saya yang paling penting harus merasa gembira berada di kelas, aktif mengikuti kegiatan yang saya rancang, namun tetap disiplin dalam bersikap. Itulah sebabnya saya lebih menyukai teknik pembelajaran yang terkesan ringan dan menyenangkan. Namun bukan berarti saya tidak mengajarkan apa yang seharusnya saya ajarkan atau tidak mendidik mereka tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Salah besar kalau anda bilang saya cuma "bermain" dengan mereka. Kalau saja anda membuka mata, anda akan tahu bahwa apa yang saya lakukan bukanlah hal yang berbeda dari guru kebanyakan, hanya saja saya melakukannya dengan cara yang mungkin sedikit tidak sama.

Terlepas dari kenyataan bahwa tidak semua anak didik saya akan bisa menyerap materi dengan sempurna, bukankah kemampuan setiap anak itu memang tidak sama? Persis seperti yang dikatakan oleh dosen mata kuliah Perkembangan Peserta Didik di semester-semester awal perkuliahan dulu. Lagipula, apakah ada jaminan bila saya mengikuti teknik pembelajaran yang 'menurut' anda benar itu, semua anak didik saya akan menguasai materi dengan sempurna? Kalau benar ada, saya tidak akan segan untuk menerapkan teknik tersebut secepatnya. Dan sebelum bukti itu muncul di depan mata, biarlah untuk saat ini saya "bermain" di dalam kelas karena sejauh yang saya amati anak-anak menyukainya.

Tuesday, 25 October 2011

England ~ A Dream that Comes True

Aku sudah mencintai Bahasa Inggris sejak dulu. Sejak aku pertama kali mengenal lagu-lagu Backstreet Boys yang diputar di radio dan mencoba menyanyikan setiap baris lirik lagunya dengan teknik 'asal dengar'. Sejak itulah Bahasa Inggris sudah menjadi hasrat terselubung yang belum aku sadari keberadaanya. Sampai akhirnya aku mendengar pujian yang dilontarkan oleh salah seorang guru Bahasa Inggris di bangku sekolah menengah atas tentang kemampuanku berbahasa, aku pun tahu bahwa inilah yang akan menjadi duniaku. Dan benarlah prediksi itu, saat melihat hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri yang jelas tanpa persiapan karena hal itu tidak lebih dari sebuah keputusan mendadak yang aku ambil setelah ibuku berkata, "coba saja dulu, siapa tahu rejeki kamu. Meskipun tidak belajar, inshAllah bisa tembus", dan melihat namaku dibarisan daftar nama mereka yang diterima, aku menjadi sangat yakin dengan pilihanku saat itu.

Saat mempelajari suatu bahasa asing, entah faktor apa yang akan membuatmu secara otomatis menyukai budaya dan tradisi negara dimana bahasa itu digunakan. Sama halnya dengan aku. Aku mencintai bahasa Inggris dan aku sangat menyukai budaya dan tradisi negeri-negeri barat seperti Amerika dan Inggris. Aku selalu berangan bagaimana rasanya bila suatu saat aku bisa berkunjung ke negeri tersebut dan benar-benar mengalami apa yang selama ini hanya bisa aku lihat di televisi. Aku selalu bermimpi dan terus bermimpi. Sampai akhirnya tibalah hari itu. Hari dimana seorang teman mengatakan bahwa aku akan segera berangkat ke Inggris sebagai salah satu program hubungan sekolah kami. Rasa tidak percaya dan ragu pun datang menghampiri. Apakah aku seberuntung itu? Well, after all I really must admit I AM THE LUCKIEST PERSON EVER!

Dimulailah perjalanan mimpiku pada tanggal 7 Oktober 2011. Berangkat melalui Bandara Internasional Juanda dengan penerbangan pukul 08:50 WIB, hatiku bergejolak tidak karuan. Rasanya seperti sedang dalam misi menjalani sebuah mimpi namun dengan level kesadaran 100%. Tiga jam kemudian sampailah aku di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Aku hanya mempunyai satu jam untuk berpindah ke pesawat selanjutnya yang akan membawaku ke Stansted Airport, London. Tidak aku sia-siakan waktu satu jam tersebut. Berjalan sambil setengah berlari aku menuju konter bagasi. Lega rasanya saat tahu aku tidak akan ketinggalan pesawat.

Pada pukul 21:30 waktu setempat, setelah 14 jam perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya aku pun menginjakkan kaki untuk pertama kali di atas tanah milik Ratu Elizabeth tersebut. Rasa syukur tidak berhenti mengaliri setiap sel dalam tubuhku. Tanpa ridho yang Maha Kuasa, semua ini hanya akan menjadi angan. Bahkan jujur sampai detik ini pun rasa puji itu tidak hilang. Selain sekolah partner yang terletak di kota Bury St Edmunds, aku juga mendatangi beberapa tempat sarat histori dan rekreasi seperti The Buckingham Palace, Windsor castle, House of Commons, Big Ben, The London Eye, Cambridge dan The Sherlock Holmes Museum. Dreams do come true, fellas! Dan inilah beberapa foto yang ingin aku bagi dengan keluarga, sahabat dan kawan sejawat. Semoga bisa menjadi inspirasi bahwa mimpi memang kadang bisa menjadi kenyataan. So keep on dreaming, it's sometimes worth it!










Saturday, 24 September 2011

Ijinkan Kutembak Kau


Kamu pasti datang dari jaman Orde Baru kalau masih perlu waktu untuk mikir saat mendengar kata Vierra. Atau mungkin kamu bukan golongan ‘anak gaul masa kini’. I mean, ibuku yang kelahiran  1959 saja tahu siapa itu Vierra, kalau ternyata kamu tidak, bisa simpulkan sendiri kan kamu termasuk jenis yang mana. Well, tapi bukan band bentukan putra dari hasil kawin silang antara komposer handal Addie MS dan penyanyi Memes ini yang mau aku bicarakan. Aku cuma ingin mengaitkannya dengan salah satu lagu mereka yang dinyanyikan dengan sangat manis oleh sang vokalis, Widi. Salah satu baris liriknya berkata seperti ini, “Hari ini ku akan menyatakan cinta.” Sounds familiar? Dan entah karena ‘kepincut’ dengan liriknya, nadanya, atau justru konsep videonya, tiba-tiba ada dorongan kuat yang seolah memintaku untuk segera lari ke depan pintu rumah si dia dan saat dia membuka pintunya, aku akan dengan percaya diri bilang, “Aku suka kamu!” atau kalau meminjam istilah populernya yaitu ‘nembak’. Sayang aku tidak tahu alamat si dia selain email dan beberapa social networking-nya. Meringis.

Lagu dengan judul Terlalu Lama yang terkesan anggun namun sekaligus jantan ini sepertinya cukup bagus untuk dijadikan salah satu motivasi buat para cewek untuk bernyali dalam melakukan first move. Liriknya membuat semua hal yang sebelumnya terasa tabu dan memalukan menjadi begitu benar dan gamblang. Memang ini bukan termasuk hal baru lagi di era Kabinet Indonesia Bersatu ini. Banyak orang memandang bahwa cewek mengungkapkan perasaannya ke cowok adalah hal yang sudah sangat lazim. Tapi ngaku deh, para cewek, tetap saja kita merasa terintimidasi dengan ide tersebut. Entah sudah semodern apa kebudayaan kita atau sejauh mana emansipasi wanita diterapkan, tetap tidak bisa semudah itu menyatakan cinta pada cowok yang kita taksir. Setuju? Sekali lagi, easier said than done. Manggut-manggut.

Banyak sih faktor yang mempengaruhi selain pola pikir yang masih terlalu kental dengan kebudayaan masyarakat timur. Salah satunya mungkin adalah gengsi. Bagi aku pribadi, cewek itu terlihat anggun saat gengsinya menjadi prioritas. Kamu boleh tidak setuju, karena ini memang sebatas teori asal bukan hasil penelitian. Tidak selalu berujung manis memegang prinsip seperti ini, ada kalanya kamu akan menyesali sesuatu dan mengutuk habis-habisan gengsimu yang terlalu tinggi. Tapi percaya atau tidak, justru itulah yang menjadikanmu dirimu yang sekarang.  Tidak terkecuali dalam urusan cinta, yang namanya gengsi pasti ikut ambil suara. Terlebih saat kamu memutuskan untuk menyatakannya. Yang terlintas di otak cewek saat pertama kali mendengar kata ‘nembak’ pasti, "Gengsi ah! Seharusnya cowok yang ngomong duluan. Bagaimana kalau nanti aku ditolak? Mau ditaruh dimana nih muka?" Aku setuju 200 persen dengan pikiran semacam ini, karena memang bukan kodrat kita untuk ditolak. Pernah dengar ungkapan bahasa Jawa, ‘cowok menang milih, cewek menang nolak’? Nah itu tuh yang membuat kita jadi maju mundur saat mau bilang cinta. Manggut-manggut lagi.

Tapi dalam situasi tertentu, selalu ada pengecualian. Setinggi apapun gengsi seorang cewek, saat dia sudah memutuskan untuk melakukan ‘penembakan’, bukan berarti dia sudah kehilangan gengsinya. Jangan salah sangka, justru itu tindakan paling cerdas yang dilakukan olehnya. Tidak mudah bagi tipe cewek  seperti ini untuk mengungkapkan perasaan, jadi saat dia rela mengesampingkan sejenak prioritasnya tersebut demi seseorang, bisa dibayangkan dong sehebat apa cowok tersebut? Yang jelas jauh lebih berharga dari sekedar ‘mubazir kalau tidak dicoba’. Lantas, apa tujuan sebenarnya? 

It goes like this. Perasaan yang dipendam itu selain bisa menimbulkan jerawat (ini kata orang-orang, aku sih tidak percaya), juga sangat mengganggu ketenangan hidup lho. Bagaimana hidup bisa tenang kalau ada seseorang di luar sana yang eksistensinya secara konstan membuat emosimu jungkir balik, kadang senang kadang sedih, kadang khawatir kadang marah, dan ‘kadang’ yang lainnya. Seolah kamu tidak punya lagi kontrol pada dirimu sendiri. Yang menjengkelkan adalah kita tidak bisa menyalahkan si dia untuk ini, karena memang dia melakukannya secara tidak sengaja. Bagaimana mau sengaja, dia bahkan tidak tahu perasaan kamu padanya?

Akan tetapi, yang paling menyebalkan saat seorang cewek menyukai cowok dengan diam-diam adalah kita akan secara otomatis merasa ‘tergantung’ olehnya. Analoginya seperti ini. Anggap cowok itu seperti sepasang sepatu. Tidak ada maksud tertentu, ini hanya sebatas own preference. Kita seperti berdiri di depan sebuah toko sepatu dan terus menatap sepasang sepatu cantik yang terpajang di etalasenya tanpa benar-benar berniat membelinya. Kita tidak akan tahu bahwa ada sepatu sejenis yang mungkin di jual di toko lain, atau paling tidak sepatu yang tidak kalah cantiknya. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau cewek tertentu memilih masuk ke dalam toko tersebut dan menanyakan harganya? Kalau ternyata dijual dengan harga yang terjangkau, bersukur saja karena berarti kita bisa membelinya dan segera membawanya pulang. Sebaliknya, kalau ternyata sepatu itu terlalu mahal, atau mungkin sudah terjual pada pelanggan lain, paling tidak kita bisa meninggalkan toko tersebut tanpa ada rasa penasaran dan siapa tahu dalam perjalanan pulang nanti kita melintasi toko lain yang mempunyai sepatu yang justru lebih cantik. Kemungkinan itu selalu ada lho.

Jadi buat para cewek, tidak usah ragu untuk mengungkapkan perasaan. Kamu tidak akan rugi apa-apa kok. Justru saat memendam perasaan itu lah kamu akan rugi, rugi waktu dan juga emosi. Pada akhirmya kembali pada hukum alam, kalau tidak ditembak, ya nembak. Bukan begitu? Akhir kata, “Selamat ‘nembak’ ya?!” Senyum manis.

Tuesday, 20 September 2011

Camouflage

Erangan mesin itu lenyap seiring dengan berputarnya posisi kontak yang aku gapit di antara ibu jari dan telunjuk, begitu pula dengan bunyi knalpot. Tidak lebih dari tiga detik, seolah sudah menanti untuk ditemukan, suara Adam Levine yang seksi tiba-tiba menyeruak dari keheningan dan terbendung oleh gendang telingaku. Well hal ini bisa bermakna ambigu, apakah memang ‘suara’ si Adam yang seksi ataukah justru ‘si Adam’ itu sendiri. Namun kalau pembicaraan ini mengarah pada vokalis Maroon 5 tersebut, berarti keduanya sama benar. Sejak kemunculannya di hingar bingar industri musik sepuluh tahun silam, pentolan grup band asal negeri Paman Sam itu telah berhasil menancapkan patokan akan sosok lelaki idaman di otakku. Entah karena sensasi luar biasa yang acap kali aku rasa sewaktu menikmati desahan suaranya melalui lagu-lagunya yang hampir setiap hari aku putar, atau tersihir oleh aksi panggung yang hampir selalu dengan bertelanjang dada, menonjolkan otot-otot yang semakin memantapkan kejantanannya, bagiku lelaki harusnya seperti itu. Garang dan seksi di saat yang sama.

Kurogoh isi perut tas coklat tua yang sedari tadi bergelayut manis pada pundak kiriku. Benda mungil tersebut aku dapatkan beberapa bulan sebelumnya dari seorang teman akrab sebagai kado ulang tahun yang ke-33. Sebuah hadiah yang aku tahu jelas tidak murah karena setiap wanita dewasa sudah pasti mampu menaksir jumlah digit yang dibandrol oleh jenis merk tertentu, hanya untuk sebuah tas. Fenomena yang sudah sangat merakyat di era dimana tas sudah bukan lagi suatu alat, melainkan gaya hidup. Tas yang ide awalnya diciptakan untuk menampung barang-barang pribadi, sekarang seolah mengingkari takdirnya. Mereka lebih senang dipanggil sebagai fashion item. Ah betapa lucunya penyakit ‘gaya hidup’ ini! Manusia dibuat keblinger olehnya. Yang dulu hanya perlu satu, sekarang lima bahkan masih kurang.

Jari-jemariku tidak membutuhkan waktu lama untuk mendeteksi keberadaan benda elektronik super canggih sumber dari bunyi tersebut. Dia terpojok di salah satu sudut diantara onggokan kertas, pena, pensil, dompet dan benda-benda lain yang bahkan aku sendiri tidak ingat membawanya. Kuangkat benda itu, memisahkannya dari kelompok yang seolah sudah berkomplot menyesaknya. Namun mataku hanya mampu mempertahankan rasa penasaran untuk sepersekian detik, seterusnya yang aku rasa hanya jengah. Sekali lagi aku paksakan membaca nama yang muncul di layar, sedikit kaget aku mendengar diriku sendiri kali ini mendesah. Akhirnya dengan sedikit enggan, kudekatkan benda berwarna hitam itu ke kuping kananku,

“Halo. Tumben? Jangan katakan kau akan memaksaku datang ke acara ‘beauty seminar’ seperti terakhir kali kau menelponku” Sambungku dalam hati.
“Dapat bonus pulsa, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Aku ingin bicara denganmu, sudah lama aku tidak mendengar ocehan merdumu itu.”
Bukankah setiap hari kau mendengar ocehan itu dari radio? Di program Breakfast and Sun Shine yang aku pandu selama dua jam penuh? Belum sempat aku memprotes pilihan katanya, dia sudah mulai memberondongku lagi,
 “Tahu tidak, salah satu kenikmatan menjadi wanita itu adalah kita bisa bebas berbicara dengan sesama jenis selama berjam-jam dimana saja, baik di telpon atau bahkan sambil duduk berdua di salah satu pojok cafĂ© di pinggiran kota, tanpa pernah takut dicap mengidap gender identity disorder. “
“Apa maksudmu?”
“Coba bayangkan. Dua pria saling menelpon, atau mungkin duduk bersama di sebuah bangku di taman dan saling mengumbar senyum ataupun tawa, bukankah hal itu akan menimbulkan kecurigaan? Ada semacam hubungan terselubung, yang kalau ternyata benar, sudah pasti memunculkan fakta bahwa salah satu dari mereka pasti mengidap sexual disorder tadi. Sedangkan wanita, bukankah sudah kodratnya semua wanita itu suka bicara?”
“Sepanjang yang aku ingat, kau lah wanita yang mempunyai kelebihan paling luar biasa secara verbal. Ada apa sebenarnya? Baru membaca sebuah artikel di majalah dan mencari teman untuk berdiskusi? Maaf aku tidak ada waktu” Ujarku seiring melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
“Apa itu caramu mengatakan bahwa kau sedang mencurigaiku?” nada bicara lawan bicaraku berubah menjadi ketus.
Kuhela nafas panjang, membayangkan wajah orang di ujung sambungan ini yang seketika berubah masam. Kedua matanya dipicingkan. Akhirnya aku putuskan untuk mengalah, “Tidak, yang itu tadi murni kalimat tanya. Jadi, ada kabar apa?”
Seketika moodnya buncah, nada bicara menjadi ringan dan antusiasme pun mengembang, “Sudah dapat undangan belum? Cinta monyetmu saat sekolah menengah akan mengakhiri masa berburu, dan memutuskan untuk memelihara seekor burung cendrawasih yang tidak hanya rupawan tapi juga dibelinya dari keluarga baik-baik dan berada.”
“Mm… Kabar yang bagus, tapi sepertinya tidak cukup menarik untuk membuatmu menelponku. Bukan begitu?” Bukan tentang hal itu lagi, kumohon.
“Resepsinya minggu depan, sepertinya aku tidak bisa datang.” Nada bicaranya berubah datar, tapi cepat-cepat disambungnya lagi, “Oh iya, si Merry, sepupuku, teman kita SD dulu, ingat? Dia juga segera diminta menjadi pendamping hidup seseorang. Belum tahu kapan tepatnya, tapi sepertinya dalam 2 atau 3 bulan kedepan.”
Ada jeda agak lama yang terasa begitu canggung antara kata terakhirnya dengan kata pertamaku, “Kamu mau berubah menjadi pribadi yang oportunis sekarang? Mencoba mencari manfaat dari semua detail bahkan yang paling tidak signifikan sekalipun?” Sudah aku duga sejak mataku mengeja namanya di layar iPhone tadi, pasti tentang hal itu.
“Ayolah, sudah saatnya, Julia. Satu persatu teman kita akan memulai kehidupan baru. Semua orang yang sudah stabil, dalam artian mental dan materi, sudah seharusnya mulai mencari partner hidup. Semua teman kita menikah sebelum kepala 3, bahkan banyak yang sebelum menginjak 25. Apa lagi yang kau tunggu? Pada akhirnya beginilah hidup, perempuan akan menjadi istri dan kemudian menjadi seorang ibu. Kau tahu pasti akan hal itu. Jelas ada yang salah dengan otakmu kalau kau menganggapnya teori sampah”
“Ini persis seperti teori mandi, bukan sampah, Wan. Begini, siapa yang bilang mandi itu harus 2 kali sehari? Sejak kapan ritual semacam ini dijalankan? Sejak zaman Dayang Sumbi yang kecantikannya memanah hati putra kandungnya, si Sangkuriang? Tidak ada yang tahu dan tidak pula ada yang bisa menjamin itulah yang paling benar. Jangan hanya karena semua orang mandi sehari 2 kali, lantas mereka yang mandi cuma sehari sekali dianggap salah, dianggap menyimpang. Itu semua cuma masalah tradisi kok. Jadi jangan hanya karena aku memandang konsep pernikahan dengan sedikit berbeda, maka kau memberiku label ‘luar angkasa’. Terdengar sangat sempit dan tidak adil buatku.”
“Tapi kau hidup bersosialisasi, Miss Perfectionist. Ada keluargamu yang harus kau pikirkan, selain tetangga-tetanggamu yang usil itu tentunya. Kau mau jadi hot topic selama satu dekade?” ujarnya mulai gusar.
“Nah ini dia yang aku sebut globalisasi. Welcome to modern civilization! Zaman dimana orang sudah tidak lagi menyebut handphone atau ponsel, tapi berganti menjadi BB dan iPhone. Memikirkan apa kata orang lain bukankah itu sudah terlalu ketinggalan zaman? Aku pikir kau orang yang paling peka dengan isu ini.”
“Tapi 33 tahun sudah lebih.. tidak, yang benar sudah sangat lebih dari cukup. Mau menunggu sampai kapan?” dari nada suaranya terdengar temanku itu semakin gemas dengan jawaban-jawaban yang aku lontarkan.
Oh honey, age is …”
just a number.” Belum tuntas aku bicara, Wanda sudah memotongnya dengan ekspresi wajah, yang sudah bisa aku gambar dengan jelas di otak, perpaduan antara rasa jengkel dan muak. “Sampai kapan kau akan berpegang pada klise semacam itu? Sebenarnya aku sama sekali tidak percaya dengan mereka yang selalu bilang ‘age is just a number’. Kau tahu, sebenarnya frasa itu dibuat hanya untuk membantu mereka merasa lebih baik. Padahal di dalam hatinya, mereka sama khawatirnya dengan para istri yang sudah menikah puluhan tahun tapi tak kunjung diberikan momongan. Itu tak lain adalah satu lagi bentuk kamuflase selain ‘aku sedang fokus dengan karir’. So please, stop all that rubbish, darling.”
Wanda menumpahkan semua kekesalannya dalam satu tarikan nafas. Belum sempat aku melontarkan pembelaanku, dia sudah melanjutkan lagi khotbah panjangnya. “Dan lagipula, kalau memang benar age is just a number, and you take it just as simple as that, then so is price, so is exchange rate. Padahal kita sama-sama tahu, masing-masing dari variabel itu bisa berdampak besar pada variabel yang lain. Seperti variabel bebas yang menghasilkan variabel terikat. Seperti harga yang bisa mempengaruhi daya beli konsumen ataupun nilai tukar mata uang yang mempengaruhi pasar saham. Kau harus mulai memikirkan masa depan, Jul. Cantikmu itu akan memudar seiring bertambahnya umur. Tunggu sampai keriput mulai menghantuimu!”
Excuse me, apa yang dulu selalu kau bilang? Inner beauty is one thing that matters? Kenapa sekarang jadi sibuk memikirkan keriput diwajah? Wajahku pula. Percayalah, aku akan awet muda. Dan satu hal lagi, pada akhirnya kamuflase yang kamu jabarkan panjang lebar tadi, terkadang bisa menyelamatkan hidup suatu organisme lho.” Aku membayangkan tentang bunglon yang merubah warna kulitnya sesuai dengan batang pohon untuk mengelabui pemburunya, atau seekor belalang yang menyerupai daun-daun di sekitarnya.
“Susah ya ngomong sama penyiar? Apa kalian selalu seperti ini? Pintar mencari celah dan memutarbalikkan keadaan?”
“Jangan bawa-bawa profesi dong, bu dokter. Kamu juga tidak akan suka kalau suatu saat ada seseorang yang bilang; susah ya ngelawan bu dokter, tulisannya hanya ditujukan untuk kalangan tertentu. Iya kan?” Kututup permainan catur itu dengan skak mat yang dibalas dengan bunyi tut panjang disaluran seberang. Rupanya si empunya telpon mengakhiri panggilannya.