Friday, 16 December 2011

Home, Lelaki dan Perempuan


“Ini bukan mimpi kan?”
“Kalaupun mimpi, kita mimpi bareng.”

Seandainya tidak ada dia yang sekarang sedang duduk menikmati bola-bola daging yang dia sendok dari sebuah mangkuk putih di hadapannya, aku pasti sudah mencubit pipiku sendiri. Menariknya ke samping kanan dan kiri sebagai aksi pembuktian bahwa aku memang benar-benar tidak sedang bermimpi. Konyol memang, tapi disitulah sensasinya. Berada di tempat ini, duduk disampingnya, menatap matanya, menangkap suaranya, semua terasa terlalu sempurna. Mimpi yang menjadi nyata.

Mendadak aku merasa hanya ada aku dan dia. Kenyataan  bahwa kami sedang membaur di sudut kota paling ramai pun tidak mampu menenangkan hatiku. Aku gelisah. Berdua dengannya sungguh merupakan suatu keadaan yang tidak aku persiapkan.  Harapan untuk berada di suatu dimensi ruang dan waktu yang sama dengannya bahkan sudah lama aku tepis. Tapi lihatlah kami saat ini, berdampingan layaknya dua sejoli. Bumi pun berubah sepi di mataku, karena aku hanya melihatnya. Kali ini, benar-benar dia.

“Kenapa mobil di Inggris setirnya di sebelah kanan ya? Padahal di negara Eropa yang lain setirnya ada di kiri, sama seperti Amerika. Kenapa Inggris justru seperti Indonesia?” Tanyaku di tengah-tengah perbincangan kami.

“Salah. Seharusnya pertanyaannya adalah mengapa Indonesia yang bekas jajahan Belanda justru meniru Inggris, memakai mobil dengan setir di sebelah kanan?” Respon kilatnya.

“Eh, iya. Kenapa ya?” Tanyaku dengan tidak bisa menyembunyikan rasa malu akan ketololanku.

Begitulah memang kalau sedang bersama dia. Aku jadi tolol dadakan. Layaknya anak SD berhadapan dengan mahasiswa. Otakku ini mengalami suatu kemunduran drastis tanpa diketahui jelas apa penyebabnya. Atau mungkin ini semua karena dia yang terlalu memukau. Sepertinya apa yang ada di kepalanya itu sudah jauh dari hal-hal yang biasa. Aku selalu terpana dibuatnya. Dia tidak berubah. Sejak awal pertemuan kami satu tahun yang lalu, dia tetap saja mampu membuatku gagu dan gagap. Namun aku menikmatinya. Bagiku, tidak ada yang lebih menghibur selain menjadi pihak yang memasang telinga lebar-lebar dan mengandangkan semua kalimat yang meluncur dari lisannya.

“Would you excuse me. I need to call a friend.” Ujarku sembari mengeluarkan sebuah ponsel dari tas coklat tuaku.

“Iya, silahkan.” Jawabnya ringan.

Kucari nama temanku di daftar kontak dan menekan tombol call. Tidak lama aku mendengar bunyi tut panjang, pertanda sambungan sedang dilakukan. Didepanku si dia nampak sedang merogoh saku baju dan mengambil BlackBerry-nya. Mungkin dia tidak mau sekedar bengong saat menungguku menelpon, tebakku. Sejenak kutangkap raut wajahnya saat dia menatap layar BlackBerry tersebut, tepat sebelum dia melontarkan pertanyaan retoris yang dengan telak menghancurkan image yang sedang mati-matian aku pertahankan sejak awal perjumpaan kami tadi,

“Lho, gimana sih Bu?”

Tidak perlu waktu lama bagiku untuk memahami wacana yang ada, atau dengan kata lain menyadari kebodohan yang baru saja aku perbuat. Benar-benar tanpa disengaja. Ternyata, aku salah menekan tombol. Aku justru menghubungi nomornya, bukan teman yang tadi aku maksud. Rasa malu tidak sanggup aku hindari. Kubungkukkan badan ke arah meja demi menutupi wajahku yang rasa-rasanya tidak sanggup menanggungnya. No, I did not play dumb. Buatku, acting stupid in front of boys is never cute, at all. Tapi sekali lagi fakta berbicara dengan bahasa yang berbeda. Saat ini aku justru tampak seperti perempuan yang sedang memainkan trik tersebut.

Hati memang tidak pernah bisa diajak berkompromi. Dia bicara dalam bahasa telepati tingkat tinggi. Mengirimkan sinyalnya ke otak dan secara sepihak mementalkan semua logika. Begitu juga ada hal-hal yang selalu menjadi pengecualian. Hal yang tidak kau harapkan tapi justru muncul dengan mengejutkan. Hal yang berada di luar kendalimu. Tidak seirama dengan logika, tapi cenderung senada dengan hati. Namun pada akhirnya, tetap dengan logikalah kau menerimanya. Dan hal ini tidak pernah membutuhkan terjemahan ataupun penjabaran.

Kini aku percaya tidak semua perlu diungkapkan atau dijawab dengan aksara. Sometimes you just need to simply feel and enjoy it. Then let it fill you in.

Welcome home, Love.

Tuesday, 13 December 2011

Pertemuan, Lelaki dan Perempuan




“To me you are a form of art which I never get tired of admiring.”


Kuamati setiap makhluk yang berlalu lalang di hadapanku, mereka semua berpasangan. Mungkin hanya aku seorang yang sedang duduk sendirian berteman sebuah buku baru yang ceritanya ternyata tidak semenarik cover-nya. After all, pepatah don’t judge a book by its cover memang seratus persen benar.

Kusapukan pandangan dari satu sudut ke sudut yang lain, tempat ini memang sangat ramai. Mungkin karena ini hari Minggu. Hari dimana semua anggota keluarga berkumpul. Hari yang paling pas untuk menghabiskan waktu dengan para perantau yang pulang kampung.

Bosan dengan kemonotonan yang terjadi, kubalik halaman buku yang aku bawa dan segera melakukan fast reading. Buku seperti ini membuatku merasa seperti gadis tujuh belas tahunan. Sungguh kontras dengan kenyataan bahwa hari ini aku genap berumur dua puluh tujuh tahun lebih satu hari. Rasanya aneh setiap kali mengingat bahwa sudah sepuluh tahun sejak aku meninggalkan sekolah menengah atas. How time flies!

Tiba-tiba ingatan membawaku kembali pada kejadian tadi malam. Sebuah percakapan melalui Short Message Service antara aku dan lelaki itu. Seketika rasa gugup menghampiri. Jantung yang selalu berdetak pun mengejutkanku dengan keagresifannya yang tiba-tiba. Tidak bisa dipungkiri, dia memang alat pacu jantungku yang paling mutakhir.

Nada dering text message mengagetkanku. Membuyarkan semua lamunan yang sedang kususun. Sebuah pesan singkat aku terima, bunyinya:

“Aku sedang memijak tanah dimana kamu bilang akan menungguku, Bu.”

Kuambil pembatas buku yang tergeletak nyaman di atas pangkuan, meletakkannya di halaman buku yang sedang terbuka, kemudian menutupnya. Aku pun berdiri dan bergegas menuju tanah perjanjian yang dimaksud. Dari kejauhan aku sudah melihat sosoknya. Meskipun dari balik helm yang sedang dia pakai, aku pun masih bisa melihat sorot matanya yang selalu aku rindukan itu.

“Tunggu disini. Aku parkirkan motor dulu.” Ujar lelaki itu saat aku mendekat, sebelum akhirnya menghidupkan motornya kembali.

Dari tempat aku berdiri, aku amati semua gerakannya. Bagaimana dia memutar motor memasuki lahan parkir. Bagaimana dia melepas helm yang menutupi kepalanya. Saat dia melepas jaket yang menyembunyikan T-Shirt merah menyalanya. Saat dia melenggang meninggalkan petugas parkir dan menyeberangi jalan. Juga sekarang, saat dia sedang berjalan ke arahku. Merangkul jarak dan waktu yang selama ini membekukan kisah seorang lelaki dan perempuan.

Pertemuan yang lama tertunda. Yang lama menjadi penghuni daftar impianku. Dan saat ini semuanya terasa begitu sempurna. Pas tanpa ada yang dipaksakan. When it all fits into place, you just know!

Monday, 12 December 2011

SMS, Lelaki dan Perempuan




“You are this bad habit which I would love to break, but just can't help carrying on doing.”


“Selamat Ulang Tahun, Bu. Momen ini biasanya sangat tepat dijadikan sebagai alat pencetak pribadi oportunis instan. Dan produk sampingannya yaitu sepiring makanan gratis dari warung pinggir jalan, atau kalau sedang beruntung dari cafĂ© di area yang jauh dari semrawutnya kota kita.”

Bibirku secara otomatis tertarik ke atas di kedua ujungnya waktu aku eja nama si pingirim pesan teks tersebut. Dia yang baru melihat susunan huruf pembentuk namanya saja sudah mampu membuat jantungku melompat-lompat.

Ibu jari tangan kananku membutuhkan tidak lebih dari satu menit untuk menemukan huruf-huruf pada QWERTY keypad ponsel yang sedari tadi aku pegang. Huruf-huruf tersebut kemudian membentuk sebuah balasan singkat namun ber-discourse sangat panjang.

“Pulanglah ke kota kita, meja kursi di warung tersebut merindukanmu.”

“Rasa rindunya sudah dan masih aku bayar, Bu.” Pesan balasan yang aku terima.

Setengah tidak percaya, aku ketik sebuah kata dan mengakhirinya dengan tanda tanya, kemudian mengirimnya ke nomor yang sama, “Sungguh?”

“Maka sebuah bukti akan menjawab keraguan yang ada. Datang dan buktikanlah.”

“Dan mungkin sebuah hadiah ulang tahun akan membuatnya semakin nyata.”

“Senyumku.” Singkat dan memikat, bunyi pesan masuk kali ini.

“That’s more than enough.”

“Begitu saja?”

Sejenak aku mencoba menerka makna dibalik pertanyaan singkat itu sebelum akhirnya aku ketik,

“Mari kita ciptakan satu lagi pribadi oportunis kalau begitu. Besok siang?”
Pesan terbaru penghuni sentbox.

“Alangkah nikmatnya seandainya bisa mengecap makanan warung tersebut malam ini. Tapi... baiklah besok juga tidak apa-apa kalau memang kamu memaksa.”

Isi incoming message terakhir ini sukses menggoda tawaku yang seketika meledak. Segera aku mainkan ibu jari,

“Not available tonight. Tomorrow is. 1 o’clock?”

“Hurrayyyyyy” Pesan balasan yang aku terima lima detik kemudian.

“HATIKU BERSORAK LEBIH KENCANG.” Jawaban yang hanya bisa aku ungkapkan melalui layanan pesan singkat.

Great.” Penutup percakapan dua ibu jari seorang lelaki dan perempuan pada 10 Desember 2011 jam 07:18:15 malam.

Digerakkan oleh rindu. Dibatasi oleh gengsi. Disamarkan dengan canda. Dibuktikan dengan getaran.


Sunday, 27 November 2011

Bapak dan Aku


Setiap berbicara tentang masa kecil, Ibu tidak pernah absen memberi tahu lawan bicaranya betapa manja dan arogannya a seven-year-old version of me.  Beliau lantas mengulang-ngulang cerita dimana aku menangis hebat sembari meneriakkan ‘mantra’ andalanku saat itu-Bapak, dengan diikuti penjelasan panjang lebar mengenai ketergantunganku akan sosok yang satu itu. Yah, Bapak memang tokoh idolaku sepanjang masa. Bukan karena kepintaran atau kepribadiannya, melainkan karena beliau selalu menjadikanku anak favoritnya, putri kesayangannya. Bapak adalah the fairy god mother. Orang pertama yang terlintas di pikiranku saat aku mendapat masalah dan yang dengan tongkat ajaibnya akan memberiku jalan keluar dari segala jenis kebuntuan. Hal ini tidak jarang menimbulkan kontra di antara saudara-saudaraku. Namun pada akhirnya, mereka selalu menemukan jalan masing-masing untuk memaklumi dan menerimanya.

Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ketiga saudaraku semuanya laki-laki. Posisi strategis sebagai satu-satunya anak perempuan inilah yang menjadikanku istimewa. Paling tidak begitu konsep awal yang di anut Ibu dan ketiga saudara laki-lakiku sebelum akhirnya teori itu berubah menjadi sebuah norma tidak tertulis di keluarga kami. Mungkin hal ini pula lah yang akhirnya menjadikanku begitu terikat secara emosional dengan Bapak, dan sering kali aku memanipulasi hubungan ini dengan menjadikannya senjata demi keuntungan pribadi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Namun semakin aku memahami diriku, semakin aku merasa this whole idea of ‘that special daughter’ was entirely incorrect. Semakin aku mengenal sosok Dini Rosita Sari, semakin aku tersadar bahwa aku ini tidak lain adalah bayangan yang dilihat Bapak setiap kali beliau bercermin. Aku adalah saudara kembar perempuan beliau, not literally of course.

Terkadang akan sangat sulit untuk mendefinisikan diri sendiri dibanding jika harus melakukan hal yang sama tentang orang lain. Aku pun merasakan hal yang sama. Dan sosok Bapak lah yang membantuku untuk memahami pribadi macam apa aku ini. Bapak adalah karakter yang sangat gamblang baik bagi orang terdekat ataupun kenalannya, namun dalam artian yang berbeda. Kenalannya mungkin akan menganggap beliau sosok yang akan dengan mudah dimintai pertolongan karena wataknya yang memang lembut dan toleran. Akan tetapi bagi ibu dan anak-anaknya, Bapak adalah pribadi yang sulit diperintah. Akan sangat menguras emosi dan energi hanya demi meminta beliau datang ke pernikahan saudara kalau itu bukan karena keinginannya. Hal ini lah yang terkadang menyulut pertengkaran-pertengkaran kecil antara Bapak dan Ibu. Ibu tidak dan bahkan mungkin tidak akan pernah memahami semua itu, but I do, karena aku pun begitu. Kami berdua lemah lembut tapi keras kepala, toleran tapi tegas dan sering kali ringan tangan namun benci diperintah.

            Bapak juga merupakan perwujudan pribadi posesif kompulsif yang bebas. Ketika mencintai sesuatu, tanpa sadar beliau akan menunjukkan sebentuk perilaku unik yang tampak jelas bagi orang disekitarnya tapi tidak bagi dirinya sendiri. Saya ingat Ibu pernah berkata, “Bapak kamu itu lucu, Din. Dulu pernah beli kursi lipat, jumlahnya tiga biji. Padahal sudah tahu anaknya empat. Tidak lama eh beli kursi plastik, berapa jumlahnya? Tiga lagi. Terus pernah membeli kemeja warna putih berulang-ulang sampai lemari dipenuhi warna putih. Nah sekarang sepertinya beliau sedang menyukai warna hitam. Sudah lebih dari tiga kali beliau membeli kemeja warna hitam berturut-turut. Bapak kamu memang begitu, kalau sudah suka sama sesuatu, yang diulang-ulang ya benda itu.” Begitu cara Ibu secara literal mendeskripsikan karakter Bapak kepadaku. Sedangkan aku mungkin menjelaskannya dengan sedikit berbeda.

Bapak adalah jiwa perfeksionis. Yang selalu mencari kesempurnaan dari setiap hal, paling tidak bagi mata dan batinnnya sendiri. Itulah yang menjadikannya pribadi yang kompulsif. Selalu mengulang pola yang sama sampai akhirnya menemukan kombinasi yang menurutnya mendekati sempurna. Bapak adalah pria yang akan berulang kali bolak-balik memandang pantulan dirinya di dalam cermin, memperhatikan setiap detil busana yang dikenakannya dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang melekat di badannya sudah yang paling indah. Begitu juga dalam mencintai sesuatu, he would do it so perfectly and passionately yang cenderung membuatnya tampak posesif namun juga sangat menikmati keposesifan. Tapi sekali kau beri kebebasan padanya, beliau akan menjelma menjadi burung yang tidak akan pernah bisa kau kandangkan, meski dengan sangkar emas sekalipun, persis seperti aku. Bapak dan aku adalah dua pribadi posesif namun haus kebebasan, perfeksionis tapi tidak membosankan.

            Satu watak lagi yang aku lihat setiap kali aku mengaca pada sosok Bapak yaitu kenyamanan dan kepercayaannya pada diri sendiri. Seorang yang inexplicably akan lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah di banding berkumpul dalam rapat RT dengan lelaki sebaya membahas isu-isu sosial. Beliau adalah sosok yang menghindari konflik dan perselisihan akan tetapi selalu melakukan apa yang menurutnya benar. Beliau adalah jenis orang yang tidak pandai bersosialisasi namun pintar bersahabat, orang yang tampak apatis namun dalam otakknya tercatat semua kepincangan yang ingin dan bisa dia selesaikan. Dan sama halnya dengan aku, Bapak adalah orang yang akan merasa nyaman di tempat yang tak karuan walaupun orang lain mengutuk habis-habisan kesemrawutan dunia kami.

            Begitu lah hubunganku dengan Bapak. Kami terikat secara emosional bukan karena beliau terlalu memanjakan aku, tapi karena beliau memahamiku, karena apa yang aku butuhkan hampir semuaya juga beliau butuhkan. Bapak dan aku, dua fisik yang berbeda akan tetapi terbentuk oleh pribadi dan karakter serupa. Kami adalah jiwa kembar yang mendiami raga yang disebut ‘lelaki’ dan ‘perempuan’, menyandang status yang dipanggil ‘bapak’ dan ‘anak’.


*aku dedikasikan tulisan ini untuk sosok Bapak yang telah menjadi inspirasi terbesarku


Friday, 25 November 2011

Antrian Ala Indonesia


Seminggu yang lalu saya dan seorang sahabat sepakat  pergi ke bioskop untuk nonton bareng salah satu film yang sudah lama ditunggu pemutarannya. Sebelum berangkat kami berdua sama-sama tahu bahwa untuk mendapatkan tiket bioskop kali ini akan menjadi perjuangan tersendiri. Terbuktilah semuanya setelah kami  mengantri selama satu setengah jam demi tidak kehabisan kertas kecil bertuliskan teater dan nomor kursi tersebut. Namun apa dikata, tepat saat loket pembelian dibuka, delapan gadis belia belasan tahun (dari wajah sepertinya rata-rata dibawah tujuh belas) tiba-tiba menyerondol barisan kami. Sang satpam hanya bisa mengomel tanpa ada tindakan jelas dan para ABG pun bersorak gembira atas keberhasilan mereka ‘menjinakkan’ sang satpam dan juga ‘menyeberangi’ lautan manusia yang sudah mengantri satu setengah jam sebelum mereka itu. Yah akhirnya saya dan sahabat memilih untuk merelakan delapan tiket melayang di depan mata. Tapi layaknya orang Indonesia asli, kami hanya bersyukur karena paling tidak kami masih kebagian.

Sepanjang perjalanan pulang sahabat ternyata mengeluhkan insiden sabotase antrian tersebut. Tidak ada hentinya dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan retoris seperti, “mengapa orang Indonesia tidak tahu aturan? Mengapa mereka justru bangga atas sesuatu yang seharusnya memalukan? Mengapa kita tidak bisa seperti negara-negara maju yang begitu teratur dan tahu cara menghargai orang lain?” Dan selanjutnya dia pun mengatakan sesuatu yang membuat saya merasa tertampar oleh kebenaran, “temanku dari Australia pernah bilang, “It’s so crazy here in Indonesia. People don’t seem to know how to respect each other. Kami di Australia tidak punya menteri agama, tapi kami tahu betul bagaimana menghargai hak orang lain. You do have it but you foolishly act like you don’t have one.” Usut punya usut, ternyata si ‘bule’ pernah mengalami peristiwa serupa.

Apa yang diceritakan sahabat saya benar-benar menohok. Terlepas objektif atau tidaknya pengaitan agama dengan sikap saling menghargai, saya tidak bisa menyangkal kebenaran di dalam ucapan kesal ‘bule’ tersebut. Bukankah sudah seharusnya negeri religius seperti Indonesia lebih menekankan etika dan sopan santun? Bukankah agama apa pun itu selalu mengajarkan pentingnya hubungan antar sesama selain hubungan vertikal dengan Tuhan? Lantas mengapa negeri tercinta Indonesia Raya ini malah miskin etika? Dan mengapa justru negeri yang kebanyakan rakyatnya mengaku not religious lah yang lebih mengerti cara menghormati orang lain? Apa yang salah dengan sistem perkembangan karakter masyarakat Indonesia?

Selama mencari jawaban logis atas pertanyaan-pertanyaan yang hanya berkutat di otak inilah tiba-tiba saya teringat pada kunjungan singkat saya ke negeri Ratu Elizabeth sebulan yang lalu. Sebagai salah satu negara maju, tidak heran kalau semua sistem yang mereka miliki berjalan jauh lebih teratur dibanding Indonesia. Memang benar salah satu penyebabnya adalah teknologi canggih yang memfasilitasi hampir setiap kegiatan, akan tetapi etika masyarakatnya pun ikut andil dalam hal ini. Setiap individu tampak sangat paham bahwa mereka hidup bersosialisasi. Hal ini tidak hanya sebatas teori yang disampaikan di dalam kelas seperti, maaf, yang kebanyakan terjadi di negara kita. Sebaliknya, semuanya jelas tercermin pada sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Saat berada di lingkungan kerja singkat saya di Inggris, hampir setiap orang yang berpapasan dengan saya tidak pernah absen menanyakan kabar. Are you okay? How is it going? merupakan pertanyaan yang harus saya jawab lebih dari lima kali setiap harinya. Begitu juga dengan ucapan klasik thank you dan sorry, yang bahkan terdengar jauh lebih sering lagi oleh ‘telinga Indonesia’ saya. ‘Bule-bule’ itu jelas tahu cara menghargai orang lain. Mereka ingin membuat orang lain merasa nyaman dan timbal baliknya adalah mereka pun akan mendapatkan hal serupa. Dan satu hal yang pasti, mereka tidak akan pernah mengantri dengan perasaan was-was karena mereka tahu tidak akan ada orang lain yang  tiba-tiba menyerobot antrian seperti yang sering terjadi di ‘antrian ala Indonesia’.

Sunday, 20 November 2011

Kamu lah Status Quo Itu!



Teruntuk KAMU,

Tidak pernah mudah buatku untuk mendefinisikan perasaan yang sudah lama mengikat jiwa bebasku ini. Sejak kamu masih berjinjit ketika melangkah masuk ke kawasan rentan yang aku sebut 'hati', sampai akhirnya sekarang saat kamu menghentakkan kaki, belum juga berhasil aku temukan kalimat atau bahkan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Aku hanya tahu kamu adalah orang yang memesona. Kecantikanmu itu telah menaklukkan benteng ego dan self esteem ku. Eksistensimu telah berhasil menyadarkan aku akan sesuatu yang tidak pernah aku tahu namun benar terbentang disana, bahwa ada bagian dari diriku yang tidak pernah benar-benar terisi. Dan kamu secara ajaib telah berhasil menemukan jalanmu menuju ke titik tersebut dan mendiaminya. Suatu keadaan yang awalnya tidak bisa aku terima dengan logika. Sampai di suatu saat dimana aku tertegun dengan teori yang baru saja aku ciptakan. Kita ini makhluk luar angkasa yang datang dari planet yang sama di suatu tempat di galaksi Bima Sakti. Dan itu membuat semuanya tampak jelas. Kita memegang kunci yang sama, berbicara dengan bahasa serupa. Itu sebabnya sangat mudah menemukan jalanmu menuju ke pusat gravitasiku dan secara konstan menjatuhinya dengan serpihan rasa kagum akan dirimu.

Akan tetapi berbicara denganmu merupakan suatu perjuangan. Tidak pernah sebelumnya aku harus mati-matian hanya demi menyusun sebuah frasa. Dan selama pembicaraan itu, percayalah, jantungku berdebar tidak kalah kencang dengan mereka yang sedang berolah raga. Kamu pun cukup cerdas menghadapi seorang idealis perfeksionis seperti aku. Seorang yang memiliki control issues. Setiap kamu muncul, setiap itulah aku kehilangan kuasa akan diriku. Dan tidak ada yang lebih memuakkan dibanding menjadi pihak yang tidak berdaya. Semuanya terasa seperti gamble. Dan kalau itu tentangmu, setiap tebakan jituku hampir sembilan puluh persen selalu meleset. Pribadimu merupakan pribadi paling rumit yang aku pelajari. Kamu itu tidak jauh beda dengan cuaca di Inggris yang selalu berubah-ubah. Dari panas ke dingin, dari cerah ke gelap, dan dari sinar matahari ke hujan. Kamu adalah sebuah pengecualian terhadap banyak hal. Kamu adalah suhu di bawah lima derajat celcius yang diam-diam aku nikmati. Kamu adalah the wild card. Dan yang sangat menggangguku saat ini adalah kenyataan bahwa kamu telah menjadi satu-satunya alasan ekosistem tidak seimbang. Yes, the 'status quo' has finally changed, Honey.

Status Quo yang dulu sekarang sudah tidak berlaku. Things are utterly different. Sekarang kamu lah status quo itu. Kamu bukan lagi sekedar objek yang bisa aku nikmati. Lebih dari itu, kamu telah memposisikan dirimu sebagai subjek, seperti pemeran utama dalam sebuah cerita, pusat dari segala aktivitas. Aku pun mulai merasa nyaman dengan status quo baru ini. Kamu menciptakan sebuah abnormality yang sangat indah dan memikat, yang terkadang memaksaku untuk tawar menawar dengan harga diri. Sama seperti saat ini, ketika keinginan untuk sekedar melihat tanda-tanda keberadaanmu begitu kuat, harga diriku terpelanting jauh. Kamu sudah merajut jaring disekitarku. Aku pun sadar aku tidak bisa pergi kemana-mana lagi. Aku merindukanmu, Cinta.



Wednesday, 16 November 2011

Close to you, LOVE!

Went to Yogyakarta last week. The last time I visited the city was in January 2010- so not long ago! All the fellow teachers came along. We had so much fun shopping! Well after all, to me travelling means shopping! LOL! Yet the best bit is the outfit. I mean look at my jumpsuit and shoes! They are gorgeous, aren't they?!






Wednesday, 9 November 2011

Angka = Kebahagiaan??


Malam itu Cinta sedang bahagia. Saking bahagianya, dia yang termasuk seorang introvert akut pun mampu melakukan percakapan panjang dengan kedua orang tuanya.

"Mulai bulan depan aku dapat tambahan jam siar. Program baru yang aku ajukan diterima." ujar Cinta tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Wah, hebat. Berarti kamu dapat tambahan juga kan?" respon sang ibu.
"Tambahan apa, Bu?" jawab Cinta setengah bingung.
"Ya gaji lah, apalagi. Kerja nambah, berarti digit juga nambah."
"Hehe..kalau yang itu belum, Bu."
"Lho kalau begitu kenapa nyari-nyari kerjaan? Toh nominal yang kamu terima tidak berbanding lurus?"
"Bu, aku bukannya nyari-nyari kerjaan. Aku nyari kesenangan dan kesenangan itu aku dapat ya dari siaran. Rasanya puas kalau bisa bikin para pendengar merasa terhibur."

***

"Dapat nilai berapa Sains nya, Ngga?"
"Dapat 90, Ma. Yang Angga pelajari tadi malam banyak yang keluar di tes. Bu Guru juga sering ngasih soal-soal itu di kelas sampai bosan"
"Wah, hebat anak mama. Selamat ya! Terus kemarin tes English dapat berapa?"
"Mm...cuma 60. Soalnya susah-susah Ma."
"Lho, tapi materinya sudah pernah diajarkan sama Bu Guru kan?"
"Ya sudah Ma. Tapi Bu Guru tidak pernah nyuruh aku menghafal ini itu."
"Terus di kelas kamu ngapain kalau tidak belajar?"
"Ya belajar, tapi gak hafal-hafalan. Biasanya aku disuruh bikin menu makanan tapi ditulis pakai English. Ada cake, cheese, noodle, juice, coffee dan lain-lain. Terus pernah disuruh bikin cerita tentang artis kesukaan. Terus ada fashion show juga Ma. Sama Bu Guru disuruh pakai shirt, skirt, cap, trousers, jacket, dan banyak lagi. Terus main game crosswords, banyak-banyakan menemukan kata melawan grup yang lain. Pokoknya aku seneng kalau waktunya English. Nggak apa-apa kalau dapat 60"

***

Dua orang sahabat tengah berargumen di suatu siang di tengah bulan November.

"Kapan nyusul? Nunggu apalagi? Sudah kepala 3 lho ya!"
"Hihi..santai dulu lah. Aku ini masih belum siap lahir batin."
"Ah kamu alasan aja dari dulu. Kamu ini memang aneh, Bil. Karir udah ok, tampang juga lebih dari pas-pasan, yang naksir juga banyak. Minta apalagi?"
"Aku cuma minta jodoh yang tepat. Untuk saat ini, Tuhan belum ngasih. Aku sudah cukup bahagia kok dengan keadaanku sekarang."
"Kamu salah, kebahagiaan itu kalau kita membina keluarga di usia yang tepat. Kepala 3 sudah sangat jauh lebih dari cukup."

Keesokan harinya...

"Kenapa hidupku seperti ini sih, Kak? Kenapa aku tidak bisa sebahagia kakak?"
"Ada apa Mel? Datang-datang kok memperkarakan kebahagiaan?"
"Ya aku iri ngeliat Kak Bila. Cantik, kerjaan bagus, pintar, banyak teman. Nggak kayak aku yang baru 28 tapi sudah kayak wanita umur 40 tahun yang terjebak dalam pernikahan tidak harmonis. Tahu gitu dulu aku tidak menikah muda"
"Kebahagiaan itu pilihan, Mer. Tidak peduli kamu menikah umur berapa, kalau memang saat menjalaninya kamu memilih untuk memberi ruang lebih pada kebahagiaan, ya kamu akan bahagia. Cobalah jadi pribadi yang positif, mungkin itu akan membantu."

***

Yusran, seorang office boy yang baru satu bulan bekerja di sebuah perusahaan besar sedang berbincang dengan seorang rekannya. 

"Sudah dengar belum? Pak Soni mau datang ke pabrik."
"Siapa itu Pak Soni?" Tanya Yusran dengan tampang innocent.
"Waduh payah kamu, Yus. Pak Soni itu ORANG NOMOR SATU di perusahaan ini. Pabrik ini merupakan satu dari empat pabriknya di seluruh Jawa. Dia sangat kaya, Yus. Andai saja kita punya sepersepuluh dari kekayaannya, kita pasti sangat bahagia."
"Kalau dia orang nomor satu, berarti aku orang nomor berapa ya Jon?" ucap Yusran sembari terkekeh.

Tidak lama di hari yang sama...

"Pak, mau saya bikinkan kopi?"
"Keluar kamu, jangan ganggu saya. Tidak tahu orang sedang kerja. Sialan kamu! Bikin hilang konsentrasi saja."
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Maaf." Ucap Yusran kaget.

Sambil berjalan meninggalkan kantor si bos di lantai dua, Yusran berpikir, "Kasian sekali orang nomor satu ini, pasti hari-harinya tidak bahagia karena bisa bicara sekasar itu pada orang seperti saya yang peringkat nya jauh di bawah dia dan bahkan bukan saingannya."

***

Apa yang aku tulis di atas merupakan beberapa ilustrasi singkat yang aku suguhkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitasku. 'Angka' terkadang memang bisa menjadi ukuran yang paling baik. Seperti ukuran kaki saat kamu akan membeli sepatu atau ukuran badan saat kamu menjahitkan baju. Tapi tidak sedikit pula kasus dimana angka cuma menjadi 'ukuran palsu', yang tidak bisa menjamin harga asli dari perasaan individu. Sebut saja kebahagiaan. Kita tidak akan pernah tahu 'angka' berapa yang mampu mendeskripsikan kebahagiaan seseorang dengan tepat. Kebahagiaanku sekarang mungkin berkisar antara 1 juta...salah, mungkin 2 atau 3 juta. Well...mungkin 10 juta. Baiklah, aku tidak tahu dengan tepat berapa 'angka kebahagiaanku'. Tapi itu bukan masalah, karena yang jelas sekarang aku bahagia. 

"After all, I believe number has nothing to do with happiness." You?

Sunday, 30 October 2011

Biarkan saya bermain dengan anak-anak itu...




Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya lempar, tolong dijawab dengan jujur di dalam hati. Anda punya adik, keponakan, sepupu, tetangga atau bahkan mungkin putra dan putri yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas rendah? Menurut anda, selain coklat, es krim dan permen, apalagi yang bisa membuat mereka gembira? Iya, jawabannya tidak lain adalah "bermain". Tidak bisa dipungkiri anak-anak memang sedang dalam perkembangan usia dimana proses sosialisasi yang paling gampang bagi mereka adalah terjadi di antara teman sebaya. Dan saat anak berusia 7, 8 atau 9 tahun itu berkumpul, kemungkinan terbesar yang mereka lakukan adalah "bermain".

Hal inilah yang selalu saya coba untuk pahami dan pelajari selama menjadi seorang guru sekolah dasar. Anak didik saya bukanlah robot yang akan tanpa protes melakukan setiap tugas yang diberikan.  Pun tidak semua dari mereka menyukai mata pelajaran yang saya ajarkan, Bahasa Inggris. Saya juga tahu ada beberapa dari mereka yang mati-matian mencoba menghafal bagaimana menulis my name is dengan ejaan yang benar. Lantas kalau sudah seperti itu, dengan menimbang karakter dan kenyataan bahwa mereka dipaksa belajar bahasa asing entah dari bumi bagian mana yang mungkin bahkan orang tuanya sendiri pun tidak tahu menahu, apakah sebuah pilihan yang bijaksana jika saya memaksa mereka untuk menguasai subjek asing tersebut melalui serangkaian proses pembelajaran yang menegangkan dan membosankan?

Setiap orang punya pandangan masing-masing tentang dunia pendidikan anak dan saya menghargai setiap pandangan tersebut. Saya pun mempunyai idealisme tentang hal ini, yaitu anak didik saya yang paling penting harus merasa gembira berada di kelas, aktif mengikuti kegiatan yang saya rancang, namun tetap disiplin dalam bersikap. Itulah sebabnya saya lebih menyukai teknik pembelajaran yang terkesan ringan dan menyenangkan. Namun bukan berarti saya tidak mengajarkan apa yang seharusnya saya ajarkan atau tidak mendidik mereka tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Salah besar kalau anda bilang saya cuma "bermain" dengan mereka. Kalau saja anda membuka mata, anda akan tahu bahwa apa yang saya lakukan bukanlah hal yang berbeda dari guru kebanyakan, hanya saja saya melakukannya dengan cara yang mungkin sedikit tidak sama.

Terlepas dari kenyataan bahwa tidak semua anak didik saya akan bisa menyerap materi dengan sempurna, bukankah kemampuan setiap anak itu memang tidak sama? Persis seperti yang dikatakan oleh dosen mata kuliah Perkembangan Peserta Didik di semester-semester awal perkuliahan dulu. Lagipula, apakah ada jaminan bila saya mengikuti teknik pembelajaran yang 'menurut' anda benar itu, semua anak didik saya akan menguasai materi dengan sempurna? Kalau benar ada, saya tidak akan segan untuk menerapkan teknik tersebut secepatnya. Dan sebelum bukti itu muncul di depan mata, biarlah untuk saat ini saya "bermain" di dalam kelas karena sejauh yang saya amati anak-anak menyukainya.

Friday, 16 December 2011

Home, Lelaki dan Perempuan


“Ini bukan mimpi kan?”
“Kalaupun mimpi, kita mimpi bareng.”

Seandainya tidak ada dia yang sekarang sedang duduk menikmati bola-bola daging yang dia sendok dari sebuah mangkuk putih di hadapannya, aku pasti sudah mencubit pipiku sendiri. Menariknya ke samping kanan dan kiri sebagai aksi pembuktian bahwa aku memang benar-benar tidak sedang bermimpi. Konyol memang, tapi disitulah sensasinya. Berada di tempat ini, duduk disampingnya, menatap matanya, menangkap suaranya, semua terasa terlalu sempurna. Mimpi yang menjadi nyata.

Mendadak aku merasa hanya ada aku dan dia. Kenyataan  bahwa kami sedang membaur di sudut kota paling ramai pun tidak mampu menenangkan hatiku. Aku gelisah. Berdua dengannya sungguh merupakan suatu keadaan yang tidak aku persiapkan.  Harapan untuk berada di suatu dimensi ruang dan waktu yang sama dengannya bahkan sudah lama aku tepis. Tapi lihatlah kami saat ini, berdampingan layaknya dua sejoli. Bumi pun berubah sepi di mataku, karena aku hanya melihatnya. Kali ini, benar-benar dia.

“Kenapa mobil di Inggris setirnya di sebelah kanan ya? Padahal di negara Eropa yang lain setirnya ada di kiri, sama seperti Amerika. Kenapa Inggris justru seperti Indonesia?” Tanyaku di tengah-tengah perbincangan kami.

“Salah. Seharusnya pertanyaannya adalah mengapa Indonesia yang bekas jajahan Belanda justru meniru Inggris, memakai mobil dengan setir di sebelah kanan?” Respon kilatnya.

“Eh, iya. Kenapa ya?” Tanyaku dengan tidak bisa menyembunyikan rasa malu akan ketololanku.

Begitulah memang kalau sedang bersama dia. Aku jadi tolol dadakan. Layaknya anak SD berhadapan dengan mahasiswa. Otakku ini mengalami suatu kemunduran drastis tanpa diketahui jelas apa penyebabnya. Atau mungkin ini semua karena dia yang terlalu memukau. Sepertinya apa yang ada di kepalanya itu sudah jauh dari hal-hal yang biasa. Aku selalu terpana dibuatnya. Dia tidak berubah. Sejak awal pertemuan kami satu tahun yang lalu, dia tetap saja mampu membuatku gagu dan gagap. Namun aku menikmatinya. Bagiku, tidak ada yang lebih menghibur selain menjadi pihak yang memasang telinga lebar-lebar dan mengandangkan semua kalimat yang meluncur dari lisannya.

“Would you excuse me. I need to call a friend.” Ujarku sembari mengeluarkan sebuah ponsel dari tas coklat tuaku.

“Iya, silahkan.” Jawabnya ringan.

Kucari nama temanku di daftar kontak dan menekan tombol call. Tidak lama aku mendengar bunyi tut panjang, pertanda sambungan sedang dilakukan. Didepanku si dia nampak sedang merogoh saku baju dan mengambil BlackBerry-nya. Mungkin dia tidak mau sekedar bengong saat menungguku menelpon, tebakku. Sejenak kutangkap raut wajahnya saat dia menatap layar BlackBerry tersebut, tepat sebelum dia melontarkan pertanyaan retoris yang dengan telak menghancurkan image yang sedang mati-matian aku pertahankan sejak awal perjumpaan kami tadi,

“Lho, gimana sih Bu?”

Tidak perlu waktu lama bagiku untuk memahami wacana yang ada, atau dengan kata lain menyadari kebodohan yang baru saja aku perbuat. Benar-benar tanpa disengaja. Ternyata, aku salah menekan tombol. Aku justru menghubungi nomornya, bukan teman yang tadi aku maksud. Rasa malu tidak sanggup aku hindari. Kubungkukkan badan ke arah meja demi menutupi wajahku yang rasa-rasanya tidak sanggup menanggungnya. No, I did not play dumb. Buatku, acting stupid in front of boys is never cute, at all. Tapi sekali lagi fakta berbicara dengan bahasa yang berbeda. Saat ini aku justru tampak seperti perempuan yang sedang memainkan trik tersebut.

Hati memang tidak pernah bisa diajak berkompromi. Dia bicara dalam bahasa telepati tingkat tinggi. Mengirimkan sinyalnya ke otak dan secara sepihak mementalkan semua logika. Begitu juga ada hal-hal yang selalu menjadi pengecualian. Hal yang tidak kau harapkan tapi justru muncul dengan mengejutkan. Hal yang berada di luar kendalimu. Tidak seirama dengan logika, tapi cenderung senada dengan hati. Namun pada akhirnya, tetap dengan logikalah kau menerimanya. Dan hal ini tidak pernah membutuhkan terjemahan ataupun penjabaran.

Kini aku percaya tidak semua perlu diungkapkan atau dijawab dengan aksara. Sometimes you just need to simply feel and enjoy it. Then let it fill you in.

Welcome home, Love.

Tuesday, 13 December 2011

Pertemuan, Lelaki dan Perempuan




“To me you are a form of art which I never get tired of admiring.”


Kuamati setiap makhluk yang berlalu lalang di hadapanku, mereka semua berpasangan. Mungkin hanya aku seorang yang sedang duduk sendirian berteman sebuah buku baru yang ceritanya ternyata tidak semenarik cover-nya. After all, pepatah don’t judge a book by its cover memang seratus persen benar.

Kusapukan pandangan dari satu sudut ke sudut yang lain, tempat ini memang sangat ramai. Mungkin karena ini hari Minggu. Hari dimana semua anggota keluarga berkumpul. Hari yang paling pas untuk menghabiskan waktu dengan para perantau yang pulang kampung.

Bosan dengan kemonotonan yang terjadi, kubalik halaman buku yang aku bawa dan segera melakukan fast reading. Buku seperti ini membuatku merasa seperti gadis tujuh belas tahunan. Sungguh kontras dengan kenyataan bahwa hari ini aku genap berumur dua puluh tujuh tahun lebih satu hari. Rasanya aneh setiap kali mengingat bahwa sudah sepuluh tahun sejak aku meninggalkan sekolah menengah atas. How time flies!

Tiba-tiba ingatan membawaku kembali pada kejadian tadi malam. Sebuah percakapan melalui Short Message Service antara aku dan lelaki itu. Seketika rasa gugup menghampiri. Jantung yang selalu berdetak pun mengejutkanku dengan keagresifannya yang tiba-tiba. Tidak bisa dipungkiri, dia memang alat pacu jantungku yang paling mutakhir.

Nada dering text message mengagetkanku. Membuyarkan semua lamunan yang sedang kususun. Sebuah pesan singkat aku terima, bunyinya:

“Aku sedang memijak tanah dimana kamu bilang akan menungguku, Bu.”

Kuambil pembatas buku yang tergeletak nyaman di atas pangkuan, meletakkannya di halaman buku yang sedang terbuka, kemudian menutupnya. Aku pun berdiri dan bergegas menuju tanah perjanjian yang dimaksud. Dari kejauhan aku sudah melihat sosoknya. Meskipun dari balik helm yang sedang dia pakai, aku pun masih bisa melihat sorot matanya yang selalu aku rindukan itu.

“Tunggu disini. Aku parkirkan motor dulu.” Ujar lelaki itu saat aku mendekat, sebelum akhirnya menghidupkan motornya kembali.

Dari tempat aku berdiri, aku amati semua gerakannya. Bagaimana dia memutar motor memasuki lahan parkir. Bagaimana dia melepas helm yang menutupi kepalanya. Saat dia melepas jaket yang menyembunyikan T-Shirt merah menyalanya. Saat dia melenggang meninggalkan petugas parkir dan menyeberangi jalan. Juga sekarang, saat dia sedang berjalan ke arahku. Merangkul jarak dan waktu yang selama ini membekukan kisah seorang lelaki dan perempuan.

Pertemuan yang lama tertunda. Yang lama menjadi penghuni daftar impianku. Dan saat ini semuanya terasa begitu sempurna. Pas tanpa ada yang dipaksakan. When it all fits into place, you just know!

Monday, 12 December 2011

SMS, Lelaki dan Perempuan




“You are this bad habit which I would love to break, but just can't help carrying on doing.”


“Selamat Ulang Tahun, Bu. Momen ini biasanya sangat tepat dijadikan sebagai alat pencetak pribadi oportunis instan. Dan produk sampingannya yaitu sepiring makanan gratis dari warung pinggir jalan, atau kalau sedang beruntung dari cafĂ© di area yang jauh dari semrawutnya kota kita.”

Bibirku secara otomatis tertarik ke atas di kedua ujungnya waktu aku eja nama si pingirim pesan teks tersebut. Dia yang baru melihat susunan huruf pembentuk namanya saja sudah mampu membuat jantungku melompat-lompat.

Ibu jari tangan kananku membutuhkan tidak lebih dari satu menit untuk menemukan huruf-huruf pada QWERTY keypad ponsel yang sedari tadi aku pegang. Huruf-huruf tersebut kemudian membentuk sebuah balasan singkat namun ber-discourse sangat panjang.

“Pulanglah ke kota kita, meja kursi di warung tersebut merindukanmu.”

“Rasa rindunya sudah dan masih aku bayar, Bu.” Pesan balasan yang aku terima.

Setengah tidak percaya, aku ketik sebuah kata dan mengakhirinya dengan tanda tanya, kemudian mengirimnya ke nomor yang sama, “Sungguh?”

“Maka sebuah bukti akan menjawab keraguan yang ada. Datang dan buktikanlah.”

“Dan mungkin sebuah hadiah ulang tahun akan membuatnya semakin nyata.”

“Senyumku.” Singkat dan memikat, bunyi pesan masuk kali ini.

“That’s more than enough.”

“Begitu saja?”

Sejenak aku mencoba menerka makna dibalik pertanyaan singkat itu sebelum akhirnya aku ketik,

“Mari kita ciptakan satu lagi pribadi oportunis kalau begitu. Besok siang?”
Pesan terbaru penghuni sentbox.

“Alangkah nikmatnya seandainya bisa mengecap makanan warung tersebut malam ini. Tapi... baiklah besok juga tidak apa-apa kalau memang kamu memaksa.”

Isi incoming message terakhir ini sukses menggoda tawaku yang seketika meledak. Segera aku mainkan ibu jari,

“Not available tonight. Tomorrow is. 1 o’clock?”

“Hurrayyyyyy” Pesan balasan yang aku terima lima detik kemudian.

“HATIKU BERSORAK LEBIH KENCANG.” Jawaban yang hanya bisa aku ungkapkan melalui layanan pesan singkat.

Great.” Penutup percakapan dua ibu jari seorang lelaki dan perempuan pada 10 Desember 2011 jam 07:18:15 malam.

Digerakkan oleh rindu. Dibatasi oleh gengsi. Disamarkan dengan canda. Dibuktikan dengan getaran.


Sunday, 27 November 2011

Bapak dan Aku


Setiap berbicara tentang masa kecil, Ibu tidak pernah absen memberi tahu lawan bicaranya betapa manja dan arogannya a seven-year-old version of me.  Beliau lantas mengulang-ngulang cerita dimana aku menangis hebat sembari meneriakkan ‘mantra’ andalanku saat itu-Bapak, dengan diikuti penjelasan panjang lebar mengenai ketergantunganku akan sosok yang satu itu. Yah, Bapak memang tokoh idolaku sepanjang masa. Bukan karena kepintaran atau kepribadiannya, melainkan karena beliau selalu menjadikanku anak favoritnya, putri kesayangannya. Bapak adalah the fairy god mother. Orang pertama yang terlintas di pikiranku saat aku mendapat masalah dan yang dengan tongkat ajaibnya akan memberiku jalan keluar dari segala jenis kebuntuan. Hal ini tidak jarang menimbulkan kontra di antara saudara-saudaraku. Namun pada akhirnya, mereka selalu menemukan jalan masing-masing untuk memaklumi dan menerimanya.

Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ketiga saudaraku semuanya laki-laki. Posisi strategis sebagai satu-satunya anak perempuan inilah yang menjadikanku istimewa. Paling tidak begitu konsep awal yang di anut Ibu dan ketiga saudara laki-lakiku sebelum akhirnya teori itu berubah menjadi sebuah norma tidak tertulis di keluarga kami. Mungkin hal ini pula lah yang akhirnya menjadikanku begitu terikat secara emosional dengan Bapak, dan sering kali aku memanipulasi hubungan ini dengan menjadikannya senjata demi keuntungan pribadi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Namun semakin aku memahami diriku, semakin aku merasa this whole idea of ‘that special daughter’ was entirely incorrect. Semakin aku mengenal sosok Dini Rosita Sari, semakin aku tersadar bahwa aku ini tidak lain adalah bayangan yang dilihat Bapak setiap kali beliau bercermin. Aku adalah saudara kembar perempuan beliau, not literally of course.

Terkadang akan sangat sulit untuk mendefinisikan diri sendiri dibanding jika harus melakukan hal yang sama tentang orang lain. Aku pun merasakan hal yang sama. Dan sosok Bapak lah yang membantuku untuk memahami pribadi macam apa aku ini. Bapak adalah karakter yang sangat gamblang baik bagi orang terdekat ataupun kenalannya, namun dalam artian yang berbeda. Kenalannya mungkin akan menganggap beliau sosok yang akan dengan mudah dimintai pertolongan karena wataknya yang memang lembut dan toleran. Akan tetapi bagi ibu dan anak-anaknya, Bapak adalah pribadi yang sulit diperintah. Akan sangat menguras emosi dan energi hanya demi meminta beliau datang ke pernikahan saudara kalau itu bukan karena keinginannya. Hal ini lah yang terkadang menyulut pertengkaran-pertengkaran kecil antara Bapak dan Ibu. Ibu tidak dan bahkan mungkin tidak akan pernah memahami semua itu, but I do, karena aku pun begitu. Kami berdua lemah lembut tapi keras kepala, toleran tapi tegas dan sering kali ringan tangan namun benci diperintah.

            Bapak juga merupakan perwujudan pribadi posesif kompulsif yang bebas. Ketika mencintai sesuatu, tanpa sadar beliau akan menunjukkan sebentuk perilaku unik yang tampak jelas bagi orang disekitarnya tapi tidak bagi dirinya sendiri. Saya ingat Ibu pernah berkata, “Bapak kamu itu lucu, Din. Dulu pernah beli kursi lipat, jumlahnya tiga biji. Padahal sudah tahu anaknya empat. Tidak lama eh beli kursi plastik, berapa jumlahnya? Tiga lagi. Terus pernah membeli kemeja warna putih berulang-ulang sampai lemari dipenuhi warna putih. Nah sekarang sepertinya beliau sedang menyukai warna hitam. Sudah lebih dari tiga kali beliau membeli kemeja warna hitam berturut-turut. Bapak kamu memang begitu, kalau sudah suka sama sesuatu, yang diulang-ulang ya benda itu.” Begitu cara Ibu secara literal mendeskripsikan karakter Bapak kepadaku. Sedangkan aku mungkin menjelaskannya dengan sedikit berbeda.

Bapak adalah jiwa perfeksionis. Yang selalu mencari kesempurnaan dari setiap hal, paling tidak bagi mata dan batinnnya sendiri. Itulah yang menjadikannya pribadi yang kompulsif. Selalu mengulang pola yang sama sampai akhirnya menemukan kombinasi yang menurutnya mendekati sempurna. Bapak adalah pria yang akan berulang kali bolak-balik memandang pantulan dirinya di dalam cermin, memperhatikan setiap detil busana yang dikenakannya dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang melekat di badannya sudah yang paling indah. Begitu juga dalam mencintai sesuatu, he would do it so perfectly and passionately yang cenderung membuatnya tampak posesif namun juga sangat menikmati keposesifan. Tapi sekali kau beri kebebasan padanya, beliau akan menjelma menjadi burung yang tidak akan pernah bisa kau kandangkan, meski dengan sangkar emas sekalipun, persis seperti aku. Bapak dan aku adalah dua pribadi posesif namun haus kebebasan, perfeksionis tapi tidak membosankan.

            Satu watak lagi yang aku lihat setiap kali aku mengaca pada sosok Bapak yaitu kenyamanan dan kepercayaannya pada diri sendiri. Seorang yang inexplicably akan lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah di banding berkumpul dalam rapat RT dengan lelaki sebaya membahas isu-isu sosial. Beliau adalah sosok yang menghindari konflik dan perselisihan akan tetapi selalu melakukan apa yang menurutnya benar. Beliau adalah jenis orang yang tidak pandai bersosialisasi namun pintar bersahabat, orang yang tampak apatis namun dalam otakknya tercatat semua kepincangan yang ingin dan bisa dia selesaikan. Dan sama halnya dengan aku, Bapak adalah orang yang akan merasa nyaman di tempat yang tak karuan walaupun orang lain mengutuk habis-habisan kesemrawutan dunia kami.

            Begitu lah hubunganku dengan Bapak. Kami terikat secara emosional bukan karena beliau terlalu memanjakan aku, tapi karena beliau memahamiku, karena apa yang aku butuhkan hampir semuaya juga beliau butuhkan. Bapak dan aku, dua fisik yang berbeda akan tetapi terbentuk oleh pribadi dan karakter serupa. Kami adalah jiwa kembar yang mendiami raga yang disebut ‘lelaki’ dan ‘perempuan’, menyandang status yang dipanggil ‘bapak’ dan ‘anak’.


*aku dedikasikan tulisan ini untuk sosok Bapak yang telah menjadi inspirasi terbesarku


Friday, 25 November 2011

Antrian Ala Indonesia


Seminggu yang lalu saya dan seorang sahabat sepakat  pergi ke bioskop untuk nonton bareng salah satu film yang sudah lama ditunggu pemutarannya. Sebelum berangkat kami berdua sama-sama tahu bahwa untuk mendapatkan tiket bioskop kali ini akan menjadi perjuangan tersendiri. Terbuktilah semuanya setelah kami  mengantri selama satu setengah jam demi tidak kehabisan kertas kecil bertuliskan teater dan nomor kursi tersebut. Namun apa dikata, tepat saat loket pembelian dibuka, delapan gadis belia belasan tahun (dari wajah sepertinya rata-rata dibawah tujuh belas) tiba-tiba menyerondol barisan kami. Sang satpam hanya bisa mengomel tanpa ada tindakan jelas dan para ABG pun bersorak gembira atas keberhasilan mereka ‘menjinakkan’ sang satpam dan juga ‘menyeberangi’ lautan manusia yang sudah mengantri satu setengah jam sebelum mereka itu. Yah akhirnya saya dan sahabat memilih untuk merelakan delapan tiket melayang di depan mata. Tapi layaknya orang Indonesia asli, kami hanya bersyukur karena paling tidak kami masih kebagian.

Sepanjang perjalanan pulang sahabat ternyata mengeluhkan insiden sabotase antrian tersebut. Tidak ada hentinya dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan retoris seperti, “mengapa orang Indonesia tidak tahu aturan? Mengapa mereka justru bangga atas sesuatu yang seharusnya memalukan? Mengapa kita tidak bisa seperti negara-negara maju yang begitu teratur dan tahu cara menghargai orang lain?” Dan selanjutnya dia pun mengatakan sesuatu yang membuat saya merasa tertampar oleh kebenaran, “temanku dari Australia pernah bilang, “It’s so crazy here in Indonesia. People don’t seem to know how to respect each other. Kami di Australia tidak punya menteri agama, tapi kami tahu betul bagaimana menghargai hak orang lain. You do have it but you foolishly act like you don’t have one.” Usut punya usut, ternyata si ‘bule’ pernah mengalami peristiwa serupa.

Apa yang diceritakan sahabat saya benar-benar menohok. Terlepas objektif atau tidaknya pengaitan agama dengan sikap saling menghargai, saya tidak bisa menyangkal kebenaran di dalam ucapan kesal ‘bule’ tersebut. Bukankah sudah seharusnya negeri religius seperti Indonesia lebih menekankan etika dan sopan santun? Bukankah agama apa pun itu selalu mengajarkan pentingnya hubungan antar sesama selain hubungan vertikal dengan Tuhan? Lantas mengapa negeri tercinta Indonesia Raya ini malah miskin etika? Dan mengapa justru negeri yang kebanyakan rakyatnya mengaku not religious lah yang lebih mengerti cara menghormati orang lain? Apa yang salah dengan sistem perkembangan karakter masyarakat Indonesia?

Selama mencari jawaban logis atas pertanyaan-pertanyaan yang hanya berkutat di otak inilah tiba-tiba saya teringat pada kunjungan singkat saya ke negeri Ratu Elizabeth sebulan yang lalu. Sebagai salah satu negara maju, tidak heran kalau semua sistem yang mereka miliki berjalan jauh lebih teratur dibanding Indonesia. Memang benar salah satu penyebabnya adalah teknologi canggih yang memfasilitasi hampir setiap kegiatan, akan tetapi etika masyarakatnya pun ikut andil dalam hal ini. Setiap individu tampak sangat paham bahwa mereka hidup bersosialisasi. Hal ini tidak hanya sebatas teori yang disampaikan di dalam kelas seperti, maaf, yang kebanyakan terjadi di negara kita. Sebaliknya, semuanya jelas tercermin pada sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Saat berada di lingkungan kerja singkat saya di Inggris, hampir setiap orang yang berpapasan dengan saya tidak pernah absen menanyakan kabar. Are you okay? How is it going? merupakan pertanyaan yang harus saya jawab lebih dari lima kali setiap harinya. Begitu juga dengan ucapan klasik thank you dan sorry, yang bahkan terdengar jauh lebih sering lagi oleh ‘telinga Indonesia’ saya. ‘Bule-bule’ itu jelas tahu cara menghargai orang lain. Mereka ingin membuat orang lain merasa nyaman dan timbal baliknya adalah mereka pun akan mendapatkan hal serupa. Dan satu hal yang pasti, mereka tidak akan pernah mengantri dengan perasaan was-was karena mereka tahu tidak akan ada orang lain yang  tiba-tiba menyerobot antrian seperti yang sering terjadi di ‘antrian ala Indonesia’.

Sunday, 20 November 2011

Kamu lah Status Quo Itu!



Teruntuk KAMU,

Tidak pernah mudah buatku untuk mendefinisikan perasaan yang sudah lama mengikat jiwa bebasku ini. Sejak kamu masih berjinjit ketika melangkah masuk ke kawasan rentan yang aku sebut 'hati', sampai akhirnya sekarang saat kamu menghentakkan kaki, belum juga berhasil aku temukan kalimat atau bahkan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Aku hanya tahu kamu adalah orang yang memesona. Kecantikanmu itu telah menaklukkan benteng ego dan self esteem ku. Eksistensimu telah berhasil menyadarkan aku akan sesuatu yang tidak pernah aku tahu namun benar terbentang disana, bahwa ada bagian dari diriku yang tidak pernah benar-benar terisi. Dan kamu secara ajaib telah berhasil menemukan jalanmu menuju ke titik tersebut dan mendiaminya. Suatu keadaan yang awalnya tidak bisa aku terima dengan logika. Sampai di suatu saat dimana aku tertegun dengan teori yang baru saja aku ciptakan. Kita ini makhluk luar angkasa yang datang dari planet yang sama di suatu tempat di galaksi Bima Sakti. Dan itu membuat semuanya tampak jelas. Kita memegang kunci yang sama, berbicara dengan bahasa serupa. Itu sebabnya sangat mudah menemukan jalanmu menuju ke pusat gravitasiku dan secara konstan menjatuhinya dengan serpihan rasa kagum akan dirimu.

Akan tetapi berbicara denganmu merupakan suatu perjuangan. Tidak pernah sebelumnya aku harus mati-matian hanya demi menyusun sebuah frasa. Dan selama pembicaraan itu, percayalah, jantungku berdebar tidak kalah kencang dengan mereka yang sedang berolah raga. Kamu pun cukup cerdas menghadapi seorang idealis perfeksionis seperti aku. Seorang yang memiliki control issues. Setiap kamu muncul, setiap itulah aku kehilangan kuasa akan diriku. Dan tidak ada yang lebih memuakkan dibanding menjadi pihak yang tidak berdaya. Semuanya terasa seperti gamble. Dan kalau itu tentangmu, setiap tebakan jituku hampir sembilan puluh persen selalu meleset. Pribadimu merupakan pribadi paling rumit yang aku pelajari. Kamu itu tidak jauh beda dengan cuaca di Inggris yang selalu berubah-ubah. Dari panas ke dingin, dari cerah ke gelap, dan dari sinar matahari ke hujan. Kamu adalah sebuah pengecualian terhadap banyak hal. Kamu adalah suhu di bawah lima derajat celcius yang diam-diam aku nikmati. Kamu adalah the wild card. Dan yang sangat menggangguku saat ini adalah kenyataan bahwa kamu telah menjadi satu-satunya alasan ekosistem tidak seimbang. Yes, the 'status quo' has finally changed, Honey.

Status Quo yang dulu sekarang sudah tidak berlaku. Things are utterly different. Sekarang kamu lah status quo itu. Kamu bukan lagi sekedar objek yang bisa aku nikmati. Lebih dari itu, kamu telah memposisikan dirimu sebagai subjek, seperti pemeran utama dalam sebuah cerita, pusat dari segala aktivitas. Aku pun mulai merasa nyaman dengan status quo baru ini. Kamu menciptakan sebuah abnormality yang sangat indah dan memikat, yang terkadang memaksaku untuk tawar menawar dengan harga diri. Sama seperti saat ini, ketika keinginan untuk sekedar melihat tanda-tanda keberadaanmu begitu kuat, harga diriku terpelanting jauh. Kamu sudah merajut jaring disekitarku. Aku pun sadar aku tidak bisa pergi kemana-mana lagi. Aku merindukanmu, Cinta.



Wednesday, 16 November 2011

Close to you, LOVE!

Went to Yogyakarta last week. The last time I visited the city was in January 2010- so not long ago! All the fellow teachers came along. We had so much fun shopping! Well after all, to me travelling means shopping! LOL! Yet the best bit is the outfit. I mean look at my jumpsuit and shoes! They are gorgeous, aren't they?!






Wednesday, 9 November 2011

Angka = Kebahagiaan??


Malam itu Cinta sedang bahagia. Saking bahagianya, dia yang termasuk seorang introvert akut pun mampu melakukan percakapan panjang dengan kedua orang tuanya.

"Mulai bulan depan aku dapat tambahan jam siar. Program baru yang aku ajukan diterima." ujar Cinta tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Wah, hebat. Berarti kamu dapat tambahan juga kan?" respon sang ibu.
"Tambahan apa, Bu?" jawab Cinta setengah bingung.
"Ya gaji lah, apalagi. Kerja nambah, berarti digit juga nambah."
"Hehe..kalau yang itu belum, Bu."
"Lho kalau begitu kenapa nyari-nyari kerjaan? Toh nominal yang kamu terima tidak berbanding lurus?"
"Bu, aku bukannya nyari-nyari kerjaan. Aku nyari kesenangan dan kesenangan itu aku dapat ya dari siaran. Rasanya puas kalau bisa bikin para pendengar merasa terhibur."

***

"Dapat nilai berapa Sains nya, Ngga?"
"Dapat 90, Ma. Yang Angga pelajari tadi malam banyak yang keluar di tes. Bu Guru juga sering ngasih soal-soal itu di kelas sampai bosan"
"Wah, hebat anak mama. Selamat ya! Terus kemarin tes English dapat berapa?"
"Mm...cuma 60. Soalnya susah-susah Ma."
"Lho, tapi materinya sudah pernah diajarkan sama Bu Guru kan?"
"Ya sudah Ma. Tapi Bu Guru tidak pernah nyuruh aku menghafal ini itu."
"Terus di kelas kamu ngapain kalau tidak belajar?"
"Ya belajar, tapi gak hafal-hafalan. Biasanya aku disuruh bikin menu makanan tapi ditulis pakai English. Ada cake, cheese, noodle, juice, coffee dan lain-lain. Terus pernah disuruh bikin cerita tentang artis kesukaan. Terus ada fashion show juga Ma. Sama Bu Guru disuruh pakai shirt, skirt, cap, trousers, jacket, dan banyak lagi. Terus main game crosswords, banyak-banyakan menemukan kata melawan grup yang lain. Pokoknya aku seneng kalau waktunya English. Nggak apa-apa kalau dapat 60"

***

Dua orang sahabat tengah berargumen di suatu siang di tengah bulan November.

"Kapan nyusul? Nunggu apalagi? Sudah kepala 3 lho ya!"
"Hihi..santai dulu lah. Aku ini masih belum siap lahir batin."
"Ah kamu alasan aja dari dulu. Kamu ini memang aneh, Bil. Karir udah ok, tampang juga lebih dari pas-pasan, yang naksir juga banyak. Minta apalagi?"
"Aku cuma minta jodoh yang tepat. Untuk saat ini, Tuhan belum ngasih. Aku sudah cukup bahagia kok dengan keadaanku sekarang."
"Kamu salah, kebahagiaan itu kalau kita membina keluarga di usia yang tepat. Kepala 3 sudah sangat jauh lebih dari cukup."

Keesokan harinya...

"Kenapa hidupku seperti ini sih, Kak? Kenapa aku tidak bisa sebahagia kakak?"
"Ada apa Mel? Datang-datang kok memperkarakan kebahagiaan?"
"Ya aku iri ngeliat Kak Bila. Cantik, kerjaan bagus, pintar, banyak teman. Nggak kayak aku yang baru 28 tapi sudah kayak wanita umur 40 tahun yang terjebak dalam pernikahan tidak harmonis. Tahu gitu dulu aku tidak menikah muda"
"Kebahagiaan itu pilihan, Mer. Tidak peduli kamu menikah umur berapa, kalau memang saat menjalaninya kamu memilih untuk memberi ruang lebih pada kebahagiaan, ya kamu akan bahagia. Cobalah jadi pribadi yang positif, mungkin itu akan membantu."

***

Yusran, seorang office boy yang baru satu bulan bekerja di sebuah perusahaan besar sedang berbincang dengan seorang rekannya. 

"Sudah dengar belum? Pak Soni mau datang ke pabrik."
"Siapa itu Pak Soni?" Tanya Yusran dengan tampang innocent.
"Waduh payah kamu, Yus. Pak Soni itu ORANG NOMOR SATU di perusahaan ini. Pabrik ini merupakan satu dari empat pabriknya di seluruh Jawa. Dia sangat kaya, Yus. Andai saja kita punya sepersepuluh dari kekayaannya, kita pasti sangat bahagia."
"Kalau dia orang nomor satu, berarti aku orang nomor berapa ya Jon?" ucap Yusran sembari terkekeh.

Tidak lama di hari yang sama...

"Pak, mau saya bikinkan kopi?"
"Keluar kamu, jangan ganggu saya. Tidak tahu orang sedang kerja. Sialan kamu! Bikin hilang konsentrasi saja."
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Maaf." Ucap Yusran kaget.

Sambil berjalan meninggalkan kantor si bos di lantai dua, Yusran berpikir, "Kasian sekali orang nomor satu ini, pasti hari-harinya tidak bahagia karena bisa bicara sekasar itu pada orang seperti saya yang peringkat nya jauh di bawah dia dan bahkan bukan saingannya."

***

Apa yang aku tulis di atas merupakan beberapa ilustrasi singkat yang aku suguhkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitasku. 'Angka' terkadang memang bisa menjadi ukuran yang paling baik. Seperti ukuran kaki saat kamu akan membeli sepatu atau ukuran badan saat kamu menjahitkan baju. Tapi tidak sedikit pula kasus dimana angka cuma menjadi 'ukuran palsu', yang tidak bisa menjamin harga asli dari perasaan individu. Sebut saja kebahagiaan. Kita tidak akan pernah tahu 'angka' berapa yang mampu mendeskripsikan kebahagiaan seseorang dengan tepat. Kebahagiaanku sekarang mungkin berkisar antara 1 juta...salah, mungkin 2 atau 3 juta. Well...mungkin 10 juta. Baiklah, aku tidak tahu dengan tepat berapa 'angka kebahagiaanku'. Tapi itu bukan masalah, karena yang jelas sekarang aku bahagia. 

"After all, I believe number has nothing to do with happiness." You?

Sunday, 30 October 2011

Biarkan saya bermain dengan anak-anak itu...




Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya lempar, tolong dijawab dengan jujur di dalam hati. Anda punya adik, keponakan, sepupu, tetangga atau bahkan mungkin putra dan putri yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas rendah? Menurut anda, selain coklat, es krim dan permen, apalagi yang bisa membuat mereka gembira? Iya, jawabannya tidak lain adalah "bermain". Tidak bisa dipungkiri anak-anak memang sedang dalam perkembangan usia dimana proses sosialisasi yang paling gampang bagi mereka adalah terjadi di antara teman sebaya. Dan saat anak berusia 7, 8 atau 9 tahun itu berkumpul, kemungkinan terbesar yang mereka lakukan adalah "bermain".

Hal inilah yang selalu saya coba untuk pahami dan pelajari selama menjadi seorang guru sekolah dasar. Anak didik saya bukanlah robot yang akan tanpa protes melakukan setiap tugas yang diberikan.  Pun tidak semua dari mereka menyukai mata pelajaran yang saya ajarkan, Bahasa Inggris. Saya juga tahu ada beberapa dari mereka yang mati-matian mencoba menghafal bagaimana menulis my name is dengan ejaan yang benar. Lantas kalau sudah seperti itu, dengan menimbang karakter dan kenyataan bahwa mereka dipaksa belajar bahasa asing entah dari bumi bagian mana yang mungkin bahkan orang tuanya sendiri pun tidak tahu menahu, apakah sebuah pilihan yang bijaksana jika saya memaksa mereka untuk menguasai subjek asing tersebut melalui serangkaian proses pembelajaran yang menegangkan dan membosankan?

Setiap orang punya pandangan masing-masing tentang dunia pendidikan anak dan saya menghargai setiap pandangan tersebut. Saya pun mempunyai idealisme tentang hal ini, yaitu anak didik saya yang paling penting harus merasa gembira berada di kelas, aktif mengikuti kegiatan yang saya rancang, namun tetap disiplin dalam bersikap. Itulah sebabnya saya lebih menyukai teknik pembelajaran yang terkesan ringan dan menyenangkan. Namun bukan berarti saya tidak mengajarkan apa yang seharusnya saya ajarkan atau tidak mendidik mereka tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Salah besar kalau anda bilang saya cuma "bermain" dengan mereka. Kalau saja anda membuka mata, anda akan tahu bahwa apa yang saya lakukan bukanlah hal yang berbeda dari guru kebanyakan, hanya saja saya melakukannya dengan cara yang mungkin sedikit tidak sama.

Terlepas dari kenyataan bahwa tidak semua anak didik saya akan bisa menyerap materi dengan sempurna, bukankah kemampuan setiap anak itu memang tidak sama? Persis seperti yang dikatakan oleh dosen mata kuliah Perkembangan Peserta Didik di semester-semester awal perkuliahan dulu. Lagipula, apakah ada jaminan bila saya mengikuti teknik pembelajaran yang 'menurut' anda benar itu, semua anak didik saya akan menguasai materi dengan sempurna? Kalau benar ada, saya tidak akan segan untuk menerapkan teknik tersebut secepatnya. Dan sebelum bukti itu muncul di depan mata, biarlah untuk saat ini saya "bermain" di dalam kelas karena sejauh yang saya amati anak-anak menyukainya.