Sunday, 5 February 2012

Tentang Hobi dan Inspirasi


Kusendok cepat-cepat nasi goreng yang saling tumpang tindih di atas piring kaca lebar di hadapanku, sambil sesekali meneguk susu coklat hangat dari cangkir merah muda, pemberian dari seorang sahabat beberapa bulan yang lalu. Pagi ini aku bangun sedikit terlambat. Seperti biasa, aku memang melarang mama untuk menggedor pintu kamarku di pagi hari. Aku selalu menegaskan pada beliau bahwa aku ingin bangun atas kehendakku sendiri. Oleh karenanya aku memutuskan untuk membeli sebuah jam weker yang sejak satu tahun lalu terduduk manis di atas sebuah meja di samping kasur. Aku harus mandiri. Jam weker itu adalah salah satu perwujudan dari niat tersebut.

Tapi pagi ini aku merasakan kantuk luar biasa. Ketika weker itu berteriak tepat pada jam lima subuh tadi, aku malah memilih untuk membenamkan wajah ke dalam bantal. Tidak apa-apalah mengolor waktu barang sepuluh menit, pikirku. Tapi ternyata sepuluh menit berubah menjadi enam puluh menit. Dan beginilah kensekuensinya, aku harus melakukan kegiatan pagi tidak lebih dari tiga puluh menit saja. Karena tepat pada pukul setengah tujuh, aku harus sudah berada di atas boncengan mama menuju ke sebuah sekolah dasar dimana aku menimba ilmu selama hampir tiga tahun ini. 

Kantuk luar biasa yang aku rasakan tadi pagi bukannya tanpa alasan. Semalam, mata sipitku ini baru terpejam sekitar tengah malam. Bukan karena menonton film di televisi atau belajar, melainkan karena rasa gelisah yang mendadak menyerangku. Terdengar konyol memang, tapi itu benar-benar aku rasakan. Dan akan terdengar jauh lebih konyol saat aku katakan bahwa hal yang membuatku gelisah adalah kelas Bahasa Inggris. Kamu tahu mengapa? Karena pagi ini di kelas Bahasa Inggris aku akan menunjukkan kepada guru dan teman-temanku bahwa aku mempunyai hobi yang sangat menarik. Dan aku akan membuat mereka semua terbengong kagum melihat benda yang aku bawa ke kelas. 

Satu minggu yang lalu, Bu Kinan dengan jelas meminta kami untuk memilih satu jenis barang yang berhubungan erat dengan kegemaran kami, membawanya ke kelas di pertemuan selanjutnya dan menceritakan apa yang biasa kami lakukan dengan benda tersebut. Otakku sibuk mencari sesuatu yang bisa mengundang decak kagum. Berulang-ulang aku tanyakan kepada mama dan papa tentang apa yang seharusnya aku bawa, tapi jawaban mereka belum bisa memuaskan keinginanku untuk mencuri perhatian guru dan teman-teman sekelas. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, sebuah ide cemerlang seolah terketik secara otomatis di otakku. Iya, benda itu lah yang akan aku bawa ke kelas. Sudah lama memang aku tidak menekuni hobi yang satu ini, tapi bagaimanapun hal itu benar-benar pernah menjadi suatu kegemaran, bukan? Maka perasaan tidak sabar akan hari esok membuatku terjaga sampai hampir tengah malam. 

Kulirik tas ransel bergambarkan sepasang kupu-kupu cantik yang kini tergeletak di atas kursi di sampingku. Benda itu sudah aman berada di dalamnya. Dengan benda itu, aku akan membuat teman-teman merasa iri. Kulafalkan sekali lagi presentasi dalam Bahasa Inggris yang sudah aku buat dua hari sebelumnya dengan bantuan mama. Lancar. Seolah aku sudah benar-benar bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut. Aku merasa seperti orang ‘bule’ kalau sudah begini. Berbekal benda yang ada di dalam ransel unguku dan apa yang baru saja aku ucapkan, sudah pasti kelas Bahasa Inggris di hari Kamis ini sepenuhnya akan menjadi milikku. 

***

Kami mepunyai perjanjian lisan dengan Bu Kinan. Bahwa setiap pergantian pelajaran Bahasa Inggris, maka setiap siswa harus sudah pada posisi siap belajar. Dalam artian kita semua harus sudah duduk manis di atas tempat duduk masing-masing dan tidak membuat kebisingan tak berarti. Kalau perjanjian ini dilanggar, maka Bu Kinan tidak akan memasuki kelas kami. Sejauh ini, aku dan teman-teman cukup berhasil dalam melaksanakannya. 

Begitu juga pagi ini, teman-teman sudah siap di kursi masing-masing. Mata mereka tampak berbinar penuh gairah. Sepertinya, bukan cuma aku yang tidak sabar ingin membuka bungkus yang menyelimuti benda misterius yang sedari tadi kami bawa. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Beberapa teman tampak sedang sibuk menghafal baris-baris presentasinya, sama seperti yang aku lakukan pagi tadi di meja makan. Bahkan ada beberapa yang sudah dengan bangga menunjukkan benda-benda favoritnya. Diantaranya aku melihat kaos sepak bola bertuliskan “Messi”, sebuah kaca mata renang, sebuah boneka beruang dan beberapa benda lainnya. Sejauh ini aku belum melihat ada seorang temanpun membawa benda yang sama dengan apa yang kusimpan rapi di dalam ransel. Diam-diam aku mengembangkan senyum.

Akhirnya saat itu datang. Terdengar suara langkah cepat dan tegas. Sudah jelas itu langkah Bu Kinan. Ketua kelas kami pun sibuk menyiapkan anggotanya, menginstruksikan kepada mereka untuk segera meletakkan benda-benda misteriusnya ke dalam loker meja masing-masing. Dan..muncullah sosok itu. Bu Kinan yang kurus, terutama bila dibanding dengan kebanyakan guru kami yang lain. Namun jangan salah, dibalik tubuhnya yang kurus itu, kami sering sekali mendengar suaranya yang menggelegar. Tapi tunggu dulu, apa itu yang ada di gendongan tangannya? Sebuah benda yang dibungkus oleh plastik hitam. Melihat dari bentuknya yang kotak, sepertinya itu adalah sebuah buku. Tapi aku tidak pernah tahu ada buku sebesar itu. Rasa penasaran seketika membuyarkan konsentrasiku pada tugas presentasi. 

Setelah mengucap salam dalam Bahasa Inggris, Bu Kinan menyakan kesiapan kami akan presentasi kali ini. Semua anak menjawab serentak, “Yes, Ma’am.” kemudian dilangkahkan kakinya menuju meja dan dengan terampil jari-jemarinya mulai membuka bungkusan plastik hitam yang dibawanya tadi. Saat akhirnya bungkusan itu terbuka, aku dan teman-teman dibuat kaget. Ternyata benar, benda kotak itu tidak lain adalah sebuah buku. Namun buku itu tidak seperti buku-buku yang aku punya atau yang terdapat di perpustakaan sekolah. Buku itu bersampul merah tua dengan tulisan berwarna kuning keemasan di sampul depannya. Ada sebuah gambar pria tua dengan memegang sesuatu seperti rokok namun tidak tampak seperti rokok. Aku tidak  tahu benda itu harus disebut apa. Rasa penasaranku buncah.

Bu Kinan tanpa diminta lantas bercerita bahwa buku itu adalah benda favoritnya. Dia membelinya dengan harga sepuluh poundsterling, atau sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Dan kamu tahu ada berapa halaman di buku tersebut? Seribu empat ratus delapan. Tidak kurang tidak lebih. Bisa kamu bayangkan butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Buku itu dibelinya sewaktu dia berkunjung ke Inggris beberapa saat lalu. Yang membuat Bu Kinan tertarik untuk membelinya adalah karena Bu Kinan merupakan penggemar si penulis. Dia sangat mengagumi karakter utama dari cerita fiksi yang berkisah mengenai seorang detektif itu, yang belakangan aku tahu ternyata sangat terkenal, Sherlock Holmes. Dari situ aku menyimpulkan bahwa Bu Kinan benar-benar suka membaca.

Sungguh senang rasanya mendengar Bu Kinan bercerita tentang hobi dan benda favoritnya tersebut. Kami dibuat kagum dengan cerita tentang bagaimana hobinya itu akhirnya membawa dia terbang ke Inggris dan bahkan benar-benar mendatangi museum Sherlock Holmes di jantung kota London. “Mimpi yang menjadi kenyataan”, ujarnya. Aku juga ingin menjadi seperti Bu Kinan. Aku ingin menekuni hobiku dengan lebih serius. Seperti kata Bu Kinan, hobi itu adalah salah satu cara untuk mengasah bakat dan kemampuan setiap orang. Semakin kau tekuni, semakin terampil kau dibuatnya. Semangatku terbakar. Kupegang erat sebuah album yang memuat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan goresan tanganku. Iya, hobiku adalah menulis. Suatu hari aku ingin menjadi penulis terkenal. Penulis yang buku-bukunya digemari oleh orang seperti Bu Kinan. Bayangkan betapa kerennya jika melihat seseorang bercerita tentang penulis pujaannya dan ternyata penulis itu adalah aku?

Lamat-lamat aku mendengar Bu Kinan menawarkan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi. Tanpa ragu, aku angkat tangan kananku dan melangkahkan kaki ke depan kelas. Semoga ini adalah awal dari mimpi yang jadi kenyataan.

*Persembahan kecil bagi teman seprofesi. Remember, a great teacher inspires!

A Letter from (an) Angel


 It is indeed something small like this that makes me fall…

How I Unwind


I have never liked being under the spotlight. It makes me feel uncomfortable. I'd rather remain oblivious- when people just pass me by without even taking a glance. The best possible way for a person like me to unwind? Grab a book and a purse, and then go to this very place where I inexplicably feel peaceful- a park.

I love parks. I love being amongst the trees, walking on the wet grass and paddling my feet in a heap of dried leaves. I love to just sit there on the park bench reading my book and gulping down my tea. It's a heaven on earth. The best easiest way to get a charm.

This is how I unwind...

Saturday, 21 January 2012

Come, February!





"wenn du mich sehen willst, mach einfach die Augen zu."


I took a small cup out of the cupboard and placed it on a saucer. I started my routine. I grabbed a kettle, poured in some fresh water from the tap and placed it on the stove. Afterward, I got the heat going. While the water was boiling, I pulled out a tea bag. I knew, as a wise man said good tea did not come in any. Good tea was loose. But I was just being lazy. And as another very wise man said, tea bags were the best way out. I dumped the tea bag in the cup, added a heaping teaspoon of sugar and pouring the hot water over them. I let the tea steep for about two minutes, pulled the bag out of the cup and threw it into the rubbish bin. I stirred my tea with a spoon for a couple of seconds and ta da! My favourite beverage was eventually ready. 

Holding my cup, I walked toward my room. It had been a long day! I had had three classes this morning, a journalist meeting, an assembly rehearsal and a great deal of marking. Not to mention some private courses I had to attend in the afternoon! Yet, I still got a drama script and a couple of lesson planning to write. So I decided to let the word processor start working. It seemed that my entire life had been centered around three things lately; school, my room and laptop. I didn’t go out very much since I moved back to the same town where I spent eighteen years before finally moving to another city for my study in 2003. No matter how much I had adored my new place in the city or how I had found it so easy to fit in, when I graduated from university back four years ago, I was expected to leave. Mum and dad had insisted on me staying with them. I welcomed the idea, and, to be honest, was rather pleased at the thought of not having to cook or buy my food anymore. I was a little bit farther from freedom than I had been since I moved in, but I was such a home person myself, so I didn’t mind the situation at all. In fact, I enjoyed being buried deep in my current jobs. I wondered how people found my life boring! 

I read some idiotic updates my friends, or I’d rather call them acquaintances, had written on facebook. I got a bit annoyed every time I came across some shallow sentences for no particular reasons. It was getting worse and worse all the time. So I was determined to unsubscribe those people who had a tendency to do so. It was just so that I didn’t end up hating them. No hard feeling or sort of. I was glad that none of them were my close friends. Suddenly one picture caught my attention. It was a picture of that person I had been quietly falling in love with. He looked confident and comfortable as he always did. This was how things used to work in my world. I missed a person so badly but I could only stare at his picture wondering if he even ever thought of me. It wasn’t until a month ago that the hesitance had evaporated. I shouldn’t remain oblivious. He had unintentionally hurt me with his lack of awareness. His silence was a poison. Thus I determined to let myself under his spotlight.

“Where are you?” I typed in the letters instantly. Winamp player was currently playing Katy Perry’s Thinking of You. What a perfect background! I seized my tea cup and sipped my almost-cold tea, waiting for him to reply.

“In you heart.” He said innocently without realizing how his short respond had inevitably managed to make my day.

“Stop that silly phrase, please? Where, literally in the world, are you?” I tried to sound equitable rather than pleased, though the truth was definitely the other way around. I was high. Being glad it was a cyber world conversation, I couldn’t help picturing the boy saying the phrase in person. I was such an incompetent liar, I had no idea how I would have made a fool of myself if only he had flirted me that way right before my eyes.

“I’m currently out of town, girl.”

"When are you going home, then?" I was craving something like 'next week'. No such luck.

“Probably next month. What’s the matter?” It sounded like one of those trick questions to my ears. 

“Mm…nothing. Do you really want me to utter it? You know precisely why. You’re just trying to get me to utter it, aren’t you? Well, I’m missing your smile, I suppose?”

“Is that all?” Just another trick question.

“Just let me know when you’re home, please? I MISS YOU.” I was only imaginarily typing the last sentence, of course. No living creature on this planet would be able to read it, not even myself. But I knew he got the message. The telepathy had never disappointed me so far. It was an agreement between hearts. They had their very own way to reveal each other's disguise. Mine told his that I longed for his master, and vice versa. Wasn't it amazing how you effortlessly could admit your feeling without necessarily reciting the alphabet?

Moment later, I told him the farewell and logged out. I was finishing my tea, tried to enjoy every sip of it, while waiting for the office to dissolve. I was determined to be naughty by not finishing the drama script. I was just too tired, or, probably, so madly in love that I couldn't occupy my mind with anything. I ushered myself back to the kitchen and put the dirty cup into the sink- I didn't even bother washing it. So much for neatness. But one thing for sure, from that moment on, I was eagerly waiting for February. Komm, Februar!

Friday, 13 January 2012

I Miss You Too




"I'm not such a spoilt brat.. Yet this time I sure miss you a lot, Love."


I stared at the blank monitor, waiting for the windows to start appearing. Normally it took only a couple of seconds, but this time it felt like I had been waiting for ten times longer. How irritating when you indeed needed to hurry, everything just seemed to betray you. I actually could print the fifteen-page-long drama script at school, but I assumed there wouldn’t be enough time. Today I had two classes which each lasted seventy minutes. My first class began at exactly seven. Then I had a ten-minute break before the second one. So I calculated I would finish at nine thirty. This meant that I had only thirty bloody minutes to print off the script, photocopy and give it out to the kids for them to study for the ten-o’clock assembly. There was no way this plan would work. So I thought of another plan which was to print it off at home, bring it with me and ask somebody at school to photocopy it while I was teaching. So by the time I finished my class, the script would be already there on my table. Sounded like the best option I had.

I plugged the printer’s wire and then pushed the power button gently. I double clicked on a certain word file and as soon as it was open I hit ‘Print’. Waiting for the script, I logged into yahoo and checked my email. There were six unread emails emerging before my eyes. They were all some sort of notifications from an unpopular site I managed to join the previous day. I didn't even bother reading before I deleted them all. Then suddenly, an offline message popped up. Instead of clicking it, I found myself put my right hand off the mouse. My heart raced. For what felt like a full minute, I was stunned. It had been ages since the last time the same sender sent me a message on yahoo messenger. It seemed to me that he had been in a different solar system for the past couple of months. Now he was surprisingly there, back into business. 

I couldn’t resist the rush to read the message, so I clicked the chat window. A graphic emoticon popped up. Wink Smiley. Nothing else. Not even a single word of ‘hello’. What did I expect? A romantic love message? I knew exactly that just wasn’t his style. So a smiley was extraordinary. At least he made the effort. However, it was like trying to solve one of those twisted riddles. What brought him back, I wondered. Did he send it accidentally? No, that didn’t sound possible. He didn’t seem the one who could make such silly mistake which showed nothing but his clumsiness. Did somebody else use his account and sent me the message? No, that didn’t sound possible, either. He wasn’t the one who was so careless that a stranger managed to hack his account. I kept thinking, yet found no rational answer. Apart from the thought that he simply wanted to talk to me, deep down my heart, I realized I was hoping that he did it because he simply longed for me. 

I wasn’t sure where I got the courage, but in less than a minute I found myself actually typing ‘I Miss You’. It was the best thing I could come up with. Yes, I was sane. In fact, I had never been this sane. God did work in a mysterious way. I, the woman who was never good at flirting, now was trying to do a love statement. Was I really ready to get humiliated? The answer was yes. So regardless of the embarrassment, I bravely pushed ‘Enter’.  I’d assured myself it wasn’t such a big deal. There was definitely nothing wrong with being honest about my true feeling, wasn’t it? I didn’t lie. Beside, it was good to let him know that all this time I had been missing him. And that I was hurt every time the thought of him crossed my mind. I didn't know why but that sounded fair. To let the person you love shared your feeling. So you wouldn't need to feel so alone. I should be glad I supposed.

Moment later, my window chat was blinking. I received a new message. He replied. This time it was a bit longer than mine. It read, ‘I Miss You Too’. My heart practically shrieked. It was hard to believe. He said he missed me! Was that real? Or was it just a dream? I read it over and over again. I must have been dreaming. Then one very sentence from him woke me up, “even if it’s a dream, we can build this together.” And with that, he had me all over again. I smiled. I was done with the printer. I grabbed that fifteen-page-long script and shoved it into my handbag. I pushed the printer’s power button and got the wire unplugged.  I unwillingly logged out yahoo, and then switched my laptop off. It was a beautiful morning. And for the rest of the day, I had to suppress the urge to tell the whole world how happy I was. I missed him. He missed me too.

Thursday, 5 January 2012

When I Knew




"Aku sadar aku menggilaimu sejak aku membaca setiap kata yang kau lempar keluar
dari otak rumitmu itu."


Seventeen past three. I was struggling with drowsiness. I remembered the night before I had been determined to turn off the telly exactly when the clock stroke twelve. Literally midnight. It had been the first time I actually managed to beat the time. I meant how cool was that? Here’s a fact, nights and me had never been friends. Not even close. I hated it and it hated me even more. I unsurprisingly never survived midnight. So it was a bit of miracle to keep my eyes, both eyes, wide open at such very late time. I didn't know exactly when I had finally managed to fall asleep. Obviously not long after I shut my eyes.

Seventeen minutes ago I had been awake. It had taken me some minutes to finally realize what was going on. So I reluctantly dragged myself out of the room and headed to the loo. I badly needed to take a pee. Oh crap! Here’s another fact, I had a tendency to imagine ghosts, vampires and all those creepy creatures would suddenly appear on the glass window here on my toilet. No, I was not being paranoid. I just couldn’t help it. It was one of those bloody embarrassing secrets. There was no way I would let people know. They would laugh at me, right in front of me. No doubt.

I tiptoed back to my room, secretly wondering if dad and mum had heard anything. It was so quiet that I could even hear my dad’s snore. I listened again. There was nothing. I assumed they were both in such a deep sleep. It was such a relief. I knew I was supposed to go back to bed, instead I decided to grab my laptop and entered the living room.  I chose one of my favourite corners in the house and began to turn my laptop on.

It was entirely dark outside. The cold touched me gently. I heard the wind whispered me a good-night. The moon and the stars sang me a lullaby. The rest of the world was still asleep. So was facebook. I played around. I moved the cursor aimlessly wondering if I could find something exciting. Five minutes had past. Nothing. Another five-minute past. Still nothing. Then I came across your name. Your bloody name. I instinctively moved the cursor and clicked the button. A recipe for a disaster!

It was the same boring page all over again. A little bit of disappointment flushed through me. Yeah, just like I hadn't expected it. No sign of your existence. It was just an empty old house no body seemed to care. I should have known. I looked more intently and was sure you had been away for a while. Those abandoned phrases were the only way for me to trace you. That you had once actually lived there, in the brisk world of facebook. Again, I should have known. Then why bothered hitting the button over and over again?

I moved the cursor up and down, left and right. I read through whatever you had written for the umpteenth time. I smiled when it was romantic, laughed when it was ludicrous. I admired your choice of words and was amazed at your point of view. And I felt this unpleasant odd feeling when you flirted. The thought of you had made me paralyzed. Then my heart beat indescribably faster and faster. Mix feeling. Same old thing. I shouldn't have done this in the first place. It always ended up like this. Somehow I knew this time it was different. I just couldn't place it. It was rather a blur.

Next, I felt the rush to go to bed. It seemed that my eyes just couldn't take it any longer. I did a quick calculation. In less than three hours I had to be at school. I turned off my laptop and left it on the chair. As I stood, those random memories of you immediately replayed in my head.  All of a sudden I felt secure. Peaceful. I had found my very own personal space! The thought surprised me, but more in a I-knew-it-was-going-to-happen sort of way. This was the most peculiar moment I had ever had in my life. I was walking to my room with both eyes half closed. I was falling in love with you. I was missing you. I was literally tracing you. And nothing felt better.

Wednesday, 4 January 2012

Menghargai Karya Orang Lain, Sesusah Itukah?


“Ajarkan anak-anak itu cara menghargai karya orang lain sejak dini, maka semoga saat dewasa, mereka tidak menjelma menjadi pribadi yang bisanya cuma iri hati.”


Tidak diragukan lagi, Indonesia memang terkenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Dari sejak kita SD sampai duduk di kursi perguruan tinggi, para guru dan dosen seolah tidak pernah lelah sesumbar betapa beragamnya budaya dan tradisi negara kita ini. Tentu saja hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Mengingat banyak negara di dunia yang mau tidak mau dipaksa untuk berdecak kagum atas warisan nenek moyang tersebut. Tidak sedikit pula yang merasa iri. Bahkan ada yang nekat untuk  ‘nyolong’ kebudayaan itu.

Hal yang bisa dimaklumi. Lihat saja betapa cantik dan menawan para penari bali dengan kain dan aksesoris berkilaunya. Betapa ayu dan anggun para penari Jawa dengan balutan kain batik yang tiada tanding coraknya. Betapa damai suara angklung di telinga, yang secara misterius seolah membawa ketentraman pada batin si pendengar. Atau betapa nikmat rendang Padang di lidah, memanjakan liur yang seketika menggeliat hanya dari mencium aromanya. Dan itu hanya segilintir dari sekian banyak kebudayaan yang dapat disajikan bangsa Indonesia. Wajar saja kalau mereka, bangsa lain, akhirnya begitu terobsesi dan menggebu untuk mengakui semua itu sebagai propertinya. 

Tapi kebudayaan tidak hanya sekedar hal-hal yang kasat mata, yang materiil. Bukan cuma kain, alat musik, makanan ataupun gerakan tari. Kebudayaan bisa juga dalam bentuk karakter bangsa. Mental bangsa. Lantas dengan begitu kayanya kebudayaan ‘materiil’ kita, apakah kebudayaan ‘karakter dan mental bangsa’ kita ini juga kaya? Aku tidak mau mengeneralisir jawaban dari pertanyaan tersebut. Karena mengeneralisir berarti aku harus berani mempertanggung jawabkan secara menyeluruh. Namun aku bisa menggambarkan sebuah situasi yang mungkin sedikit, aku tegaskan sekali lagi di sini- hanya sedikit,  bisa membantu memberi jawaban. 

Seorang karyawan baru  menimbulkan kehebohan di tempat kerja. Bukan kehebohan macam anak SMA menyambut siswa baru yang cantik atau tampan. Tapi dalam bentuk bisik-bisik tetangga akibat rasa sebal dari para rekan kerja. Si anak bawang di anggap sok tahu dan ‘keminter’ karena berusaha menerapkan cara pandang dan sistem kerja yang berbeda dari para pendahulunya. Setiap si karyawan baru melakukan terobosan atau sekedar menyampaikan pendapat, bukan pujian yang di dapat, melainkan cibiran meremehkan.

Apa susahnya sebuah apresiasi basa-basi di mulut? Mengatakan hal itu brilian, bahkan ketika kenyataannya biasa saja. Tidak ada ruginya bukan mengapresiasi usaha seseorang? Justru hal ini akan banyak menghasilkan keuntungan di masa depan. Si anak bawang justru akan semakin bersemangat menghasilkan ide-ide baru. Siapa tahu kelak salah satunya akan menjadi inovasi luar biasa.

Ternyata inilah salah satu titik dimana kita sedikit ‘miskin’ kebudayaan.  Miskin menghargai pendapat. Miskin mengapresiasi karya. Miskin karakter dan mental. Kita tidak terlatih untuk mengamini kepintaran orang lain. Sebaliknya, justru sangat terampil menjadikan orang tersebut objek gunjingan. Kita tidak terbiasa menjadikan kecerdasan orang lain sebagai bahan motivasi. Sebaliknya, malah menjadikannya suatu alasan untuk merasa terintimidasi. Kita sepertinya juga tidak terdidik untuk antusias dalam menerima ide-ide baru dan cenderung menganggap hal itu tidak lebih dari usaha cari perhatian. 

Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan nilai menghargai karya orang lain ini sejak dini. Tentu saja dalam artian menghargai yang sesungguhnya, bukan yang ditambah-tambahi semata demi keuntungan pribadi. Tapi penghargaan yang tulus atas usaha seseorang. Dengan harapan untuk memberi motivasi secara tidak langsung kepadanya agar terus berkarya dan menghembuskan ide-ide baru. Sehingga tidak ada lagi yang namanya generasi tukang iri dan pendengki. Mereka yang melihat keberhasilan orang lain sebagai objek yang bisa mengancam posisinya.

Sudah waktunya kita melahirkan lebih banyak lagi generasi yang siap menerima tantangan dan mau mengakui kelebihan orang lain. Mereka yang mau bekerja sama dengan siapa saja tanpa perasaan risih. Karena pada dasarnya, mau menerima dan berkawan dengan mereka yang luar biasa, perlahan juga akan mengubah kita menjadi pribadi yang tidak sekedar biasa saja. Dan begitulah seharusnya karakter ini untuk mulai diperkaya.

Thursday, 22 December 2011

My Mum


My mum doesn’t read. She doesn’t write either. Ask her about politics, economics or even religion, she would probably just give you inappropriate answers. That’s my mum. A woman with less knowledge about what’s going on in this world. One who will get you on your nerve every time you try to make her understand about the way you see things.

Mum is neither a role model nor the best mum ever. She is just ordinary. She makes mistakes, says something wrong, does something stupid, and sometimes acts incredibly silly. That’s the way she is. A complete opposite of this very idea which you call an ideal mother. 

But I know life will be far worse than horrible with her out of the picture. She has always been the grip. The one who will always be there in the shadow and reminds you that you are never alone. She is the balance who keeps every single thing in order. She is the home. No matter how far you go or how deep you fall, you will always come back to her. And like any other mum in this universe, she is probably the most sincere. 

My mum is not perfect and never will be. But I swear to God she loves me so perfectly. She never teaches me how to survive, but indeed from her I know how to become a good fighter. Mum has always been the best entertainer. She has this inexplicably ability to play every single role life has offered her.

Mum is the woman and the man at the same time. An idol I will never get tired of admiring. A figure I will never get bored of adoring. And despite her imperfection, mum is definitely the one I will always be proud of. I love her.

*Selamat Hari Ibu

Monday, 19 December 2011

A Morning with Sincerity- England


Pagi di Inggris kala itu benar-benar keterlaluan dinginnya, terutama bagi perempuan berkulit tropis seperti aku. Mungkin sekitar lima atau enam derajat celcius. Langit juga tampak tidak sedang berbahagia. Gelap. Sedangkan awan sepertinya sudah siap memuntahkan buliran-buliran air yang dikandungnya ke kota Bury St. Edmunds. 


Hari itu, 8 Oktober 2011, untuk pertama kalinya aku memandangi langit pagi di negeri empat musim dari balik jendela kaca kamar yang akan aku tinggali selama dua minggu ke depan. Itulah pagi pertamaku di Inggris sejak kedatanganku tujuh jam sebelumnya.

***

Masih jelas di ingatan begitu panjangnya antrian di Stansted Immigration Control tadi malam. Kebanyakan dari para pengantri itu berwajah khas kaukasia dan oriental. Padahal saat itu jelas kami sedang berada di bagian all other passport, bagian kontrol imigrasi untuk selain mereka para pemegang passport Uni Eropa.

Hanya ada beberapa orang  berwajah melayu yang tertangkap mataku. Salah satunya seorang bapak berumur 60 an yang kini sedang menunjukkan passport nya ke seorang petugas di salah satu booth di depanku. Kami sempat mengobrol selama di dalam pesawat yang membawa kami dari Kuala Lumpur ke Stansted. Kursi kami memang hanya terpisahkan oleh satu orang penumpang waktu itu, sehingga memungkinkan kami untuk sekedar bertegur sapa, mengingat kami merasa ada kemiripan rumpun dibanding dengan kebanyakan penumpang lain. Rupanya si bapak berwarga kenegaraan Malaysia. Dia hendak mengunjungi putrinya yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu sudut di kota London.

Iseng aku menolah kebelakang. Ada dua remaja putra dan putri sedang saling berpegangan tangan. Dari wajahnya aku tebak mereka berkewarganegaraan Filipina atau Thailand. Sempat terbesit rasa iri melihat mereka yang tampak begitu mesra. Mau tidak mau aku membayangkan betapa senangnya seandainya orang yang kita kasihi ada bersama kita di perjalanan yang melelahkan ini. Namun cepat-cepat aku tepis perasaan itu. Karena dengan ataupun tanpa seorang kekasih, kenyataannya aku sudah berhasil mendarat di Inggris. Negeri yang selama ini aku impikan.

Tidak jauh di belakang dua remaja yang sedang kasmaran itu aku melihat seorang pria muda dan seorang wanita yang dari umurnya cukup untuk dipanggil ‘ibu’ oleh pria tersebut. Aku sedikit kaget. Bagiku, mereka berdua sangat Indonesia. Dari wajah dan postur tubuh, cukup bagiku untuk menjadi sangat yakin bahwa mereka benar-benar orang Indonesia. Tapi kesimpulan ini terbantahkan setelah aku melihat warna passport yang mereka pegang. Bukan hijau seperti punyaku. Warnanya merah. 

Kuedarkan pandangan sekali lagi ke seluruh penjuru salah satu bandar udara terbesar di Inggris itu. Sangat rapi. Itulah kesan yang aku tangkap. Semua petunjuk ditulis dengan jelas dan petugas pun dengan sangat sigap menindak siapapun yang melanggar peraturan. Ada seorang remaja berwajah oriental yang sudah merasakan keganasan para petugas bandar udara tersebut. Entah apa yang dia lakukan sehingga membuat si petugas berteriak akan mengeluarkannya dari antrian kalau dia tidak bisa mematuhi peraturan. Dalam hati diam-diam aku bersyukur. Seandainya itu aku, tidak bisa aku bayangkan betapa malunya menjadi tontonan orang dari berbagai penjuru dunia kala itu.

Tiba-tiba seorang petugas wanita yang sedari tadi menjaga garis antrian mempersilahkanku menuju salah satu booth yang kosong. Bergegas aku menuju booth yang dimaksud dan menunjukkan passport hijauku pada seorang wanita di dalamnya.

“Hello.” Sapaku.

“Hello. Where are you going?” Tanyanya ramah.

“I’m going to Bury St. Edmunds.”

“How long will you be staying there?”

“Two weeks. I’m leaving England on October the 22nd.”

Wanita tersebut terlihat membalik salah satu halaman passportku. Mungkin memeriksa UK visa yang tercantum di dalamnya.

“So, what are you doing in Bury?” tanyanya setelah beberapa saat.

“I’m visiting a link school called Hardwick Middle School. I guess I’ll be teaching a few lesson.”

“Is it like an exchange program?”

“Yes, exactly.”

“So has the English teacher come to Indonesia?”

“Yes, they came last August. There were two of them”

“Great, then. Enjoy your stay.” Ujar  petugas tersebut sembari menyerahkan kembali padaku passport yang sudah di bubuhi stempel.

***

Di antrian bagasi selain sibuk mencari travelling bag warna hitam yang aku pinjam dari bapak, mataku juga dengan tekun mencoba menemukan keberadaan seseorang. Dia adalah pria muda asal Inggris yang kursinya selama di penerbangan D72008 tepat berada diantara aku dan si bapak Malaysia tadi. Dialah teman perjalanan yang menyelamatkanku dari kebosanan yang besar kemungkinannya akan menyerang di satu waktu diantara empat belas jam penerbangan dari Kuala Lumpur sampai akhirnya mendarat di Stanted Airport ini. Jack, namanya.

Pertemuanku dengan Jack bisa dibilang sangat terencana. Mungkin Tuhan berbelas kasihan padaku. Dia mengatur perjalanan ini dengan sempurna. Jack termasuk di dalamnya. Aku ingat saat pramugari-pramugari cantik itu memeriksa boarding pass yang aku genggam. Ada seseorang tepat dibelakangku yang juga sedang menunggu seorang pramugari lain memeriksa boarding pass nya.
Kemudian aku berjalan menaiki anak tangga menuju ke badan pesawat dan mencari posisi kursi seperti yang tercantum di tiket atas namaku itu. Tidak lama aku temukan nomor yang dimaksud. Dalam hati aku bersorak. Aku mendapat posisi tempat duduk yang selalu aku favoritkan, entah di mobil, bus, kereta ataupun pesawat seperti sekarang. Di dekat jendela. Tiba-tiba pemuda yang sedari tadi tampak seperti mengekorku mengucapkan sesuatu dengan nada sangat bersahabat.

“Oh, I am here as well.”

Komentarnya aku respond hanya dengan senyum tipis. Yang kemudian diikuti dengan rasa tidak enak dan sedikit bersalah. Mengapa aku tidak melakukan sesuatu yang lebih ramah? Bukankah pemuda itu sudah menunjukkan ketertarikannya untuk bersosialisasi dengan aku yang jelas berbeda ras darinya. Akhirnya, berusaha menebus rasa bersalah aku memulai percakapan dengannya.

“How long do you think it will take to get to Stansted?”

Dan dari pertanyaan ringan itu lah aku berhasil menciptakan atmosfer perjalanan yang hangat antara aku dan pemuda berkulit putih pucat tersebut. Kami berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari pekerjaan, keluarga dan tempat asal masing-masing. Bahkan kami juga sempat menyinggung tentang bagaimana kami memandang hidup dan sebuah hubungan antara pria dan wanita. Aku anggap aku sedang beruntung. Aku sedang melakukan pemanasan dengan lidahku, mengingat selama dua minggu kedepan aku tidak akan lagi menggunakan bahasa ibu. Setidaknya, tidak dalam percakapan face to face

Di tengah perbincangan Jack mengatakan sesuatu yang masih aku kenang sampai sekarang,

“Dini, do you believe that you can tell when people are being sincere to you?”

“What do you mean?”

“I mean, I know exactly whether somebody is being sincere when they talk to me. I just feel it. My heart tells me. ”

“Do you think I’m being sincere to you right now then?” Godaku.

“Yes, exactly.” Jawabnya mantap.

***

Hampir sepuluh menit aku mencari, tapi tidak kunjung kutemukan sosok Jack. Akhirnya dengan berat hati aku putuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan area reclaim baggage tersebut. Ada sedikit rasa sedih terselip di dadaku. Aku benar-benar berharap bisa bertemu dengannya, sekedar mengucapkan selamat tinggal. Tapi sepertinya Tuhan memintaku untuk bersabar.

Kuikuti arus yang berbondong menuju pintu keluar. I was excited, ecstatic, and disappointed at the same time. Dan saat berjalan itulah akhirnya aku putuskan untuk tidak terlalu lama menyimpan rasa terima kasihku pada Jack. Aku akan mengucapkannya melalui sebuah jejaring sosial. Aku ingat dia menuliskan nama serta alamat emailnya di buku diari perjalananku. Iya, aku pasti menghubunginya. A stranger that turns into a very good friend during the journey. A stranger that claimed I was being sincere to him.

Darinyalah aku belajar bahwa ketulusan itu, memang, bisa dirasa dengan hati. Ketulusan akan bicara dengan bahasanya sendiri. And.. sincerity definitely has nothing to do with how long you have known somebody. Dia adalah sebuah variabel bebas yang tidak akan bisa menggantungkan diri pada ikatan yang namanya persaudaraan, persahabatan, ataupun sekedar kenalan. Seperti halnya Jack yang bahkan keberadaannya tidak pernah aku ketahui sebelum penerbangan ke Stansted kala itu. Namun dia sudah dengan tulus menjadi teman bicara, memberiku permen penyegar mulut saat kami sama-sama baru terbangun dari tidur, dan bahkan menemaniku berjalan menuju bagian kontrol imigrasi. Aku tahu dia tulus melakukan semuanya. Setidaknya itu yang dikatakan oleh hatiku. Karena memang yang namanya ketulusan hidup dan berkembang dengan sendirinya di dasar hati setiap individu.

***

Aku melangkahkan kaki keluar kamar. Berjinjit menuruni anak tangga. Hari itu pagi masih terlalu dini bagi tuan rumahku. Aku tidak mau menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. 

Aku menuju dapur yang kebetulan terletak di lantai satu. Kutuangkan orange juice ke dalam gelas, penuh. Rupanya aku kehausan. Kubuka laci-laci yang ada di dapur ala Eropa tersebut dan mencoba mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut, setidaknya sampai tiba waktu sarapan. Aku menemukan sekotak biskuit.  Pada malam sebelumnya, si tuan rumah sudah menunjukkan setiap sudut rumahnya padaku. Ternasuk mempersilahkan aku memakan segala sesuatu yang ada di lemari-lemari dapur mungilnya. Jadilah dengan hanya sedikit perasaan sungkan, aku lahap biskuit tersebut.

Kuayunkan kaki menuju ruang seberang dimana televisi berada. Meski begitu aku tidak sedang merasa di mood  yang baik untuk menonton acara berita. Kuputuskan untuk menghidupkan laptop dan log in ke salah satu jejaring sosial. Kucari nama Jack di search engine-nya dan berhasil. Tanpa pikir panjang kutekan tombol di samping foto yang muncul. Segera setelah dia mengkonfirmasi permintaan pertemanan yang aku kirim, aku akan memenuhi janji yang aku buat pada diriku sendiri tadi malam. Berterima kasih atas ketulusannya selama perjalanan kala itu. Sebuah bentuk ketulusan dariku di suatu pagi di bulan Oktober. Diluar kaca jendela nampak bulir-bulir air mulai berjatuhan. Gerimis pertamaku di Inggris.

Friday, 16 December 2011

Home, Lelaki dan Perempuan


“Ini bukan mimpi kan?”
“Kalaupun mimpi, kita mimpi bareng.”

Seandainya tidak ada dia yang sekarang sedang duduk menikmati bola-bola daging yang dia sendok dari sebuah mangkuk putih di hadapannya, aku pasti sudah mencubit pipiku sendiri. Menariknya ke samping kanan dan kiri sebagai aksi pembuktian bahwa aku memang benar-benar tidak sedang bermimpi. Konyol memang, tapi disitulah sensasinya. Berada di tempat ini, duduk disampingnya, menatap matanya, menangkap suaranya, semua terasa terlalu sempurna. Mimpi yang menjadi nyata.

Mendadak aku merasa hanya ada aku dan dia. Kenyataan  bahwa kami sedang membaur di sudut kota paling ramai pun tidak mampu menenangkan hatiku. Aku gelisah. Berdua dengannya sungguh merupakan suatu keadaan yang tidak aku persiapkan.  Harapan untuk berada di suatu dimensi ruang dan waktu yang sama dengannya bahkan sudah lama aku tepis. Tapi lihatlah kami saat ini, berdampingan layaknya dua sejoli. Bumi pun berubah sepi di mataku, karena aku hanya melihatnya. Kali ini, benar-benar dia.

“Kenapa mobil di Inggris setirnya di sebelah kanan ya? Padahal di negara Eropa yang lain setirnya ada di kiri, sama seperti Amerika. Kenapa Inggris justru seperti Indonesia?” Tanyaku di tengah-tengah perbincangan kami.

“Salah. Seharusnya pertanyaannya adalah mengapa Indonesia yang bekas jajahan Belanda justru meniru Inggris, memakai mobil dengan setir di sebelah kanan?” Respon kilatnya.

“Eh, iya. Kenapa ya?” Tanyaku dengan tidak bisa menyembunyikan rasa malu akan ketololanku.

Begitulah memang kalau sedang bersama dia. Aku jadi tolol dadakan. Layaknya anak SD berhadapan dengan mahasiswa. Otakku ini mengalami suatu kemunduran drastis tanpa diketahui jelas apa penyebabnya. Atau mungkin ini semua karena dia yang terlalu memukau. Sepertinya apa yang ada di kepalanya itu sudah jauh dari hal-hal yang biasa. Aku selalu terpana dibuatnya. Dia tidak berubah. Sejak awal pertemuan kami satu tahun yang lalu, dia tetap saja mampu membuatku gagu dan gagap. Namun aku menikmatinya. Bagiku, tidak ada yang lebih menghibur selain menjadi pihak yang memasang telinga lebar-lebar dan mengandangkan semua kalimat yang meluncur dari lisannya.

“Would you excuse me. I need to call a friend.” Ujarku sembari mengeluarkan sebuah ponsel dari tas coklat tuaku.

“Iya, silahkan.” Jawabnya ringan.

Kucari nama temanku di daftar kontak dan menekan tombol call. Tidak lama aku mendengar bunyi tut panjang, pertanda sambungan sedang dilakukan. Didepanku si dia nampak sedang merogoh saku baju dan mengambil BlackBerry-nya. Mungkin dia tidak mau sekedar bengong saat menungguku menelpon, tebakku. Sejenak kutangkap raut wajahnya saat dia menatap layar BlackBerry tersebut, tepat sebelum dia melontarkan pertanyaan retoris yang dengan telak menghancurkan image yang sedang mati-matian aku pertahankan sejak awal perjumpaan kami tadi,

“Lho, gimana sih Bu?”

Tidak perlu waktu lama bagiku untuk memahami wacana yang ada, atau dengan kata lain menyadari kebodohan yang baru saja aku perbuat. Benar-benar tanpa disengaja. Ternyata, aku salah menekan tombol. Aku justru menghubungi nomornya, bukan teman yang tadi aku maksud. Rasa malu tidak sanggup aku hindari. Kubungkukkan badan ke arah meja demi menutupi wajahku yang rasa-rasanya tidak sanggup menanggungnya. No, I did not play dumb. Buatku, acting stupid in front of boys is never cute, at all. Tapi sekali lagi fakta berbicara dengan bahasa yang berbeda. Saat ini aku justru tampak seperti perempuan yang sedang memainkan trik tersebut.

Hati memang tidak pernah bisa diajak berkompromi. Dia bicara dalam bahasa telepati tingkat tinggi. Mengirimkan sinyalnya ke otak dan secara sepihak mementalkan semua logika. Begitu juga ada hal-hal yang selalu menjadi pengecualian. Hal yang tidak kau harapkan tapi justru muncul dengan mengejutkan. Hal yang berada di luar kendalimu. Tidak seirama dengan logika, tapi cenderung senada dengan hati. Namun pada akhirnya, tetap dengan logikalah kau menerimanya. Dan hal ini tidak pernah membutuhkan terjemahan ataupun penjabaran.

Kini aku percaya tidak semua perlu diungkapkan atau dijawab dengan aksara. Sometimes you just need to simply feel and enjoy it. Then let it fill you in.

Welcome home, Love.

Sunday, 5 February 2012

Tentang Hobi dan Inspirasi


Kusendok cepat-cepat nasi goreng yang saling tumpang tindih di atas piring kaca lebar di hadapanku, sambil sesekali meneguk susu coklat hangat dari cangkir merah muda, pemberian dari seorang sahabat beberapa bulan yang lalu. Pagi ini aku bangun sedikit terlambat. Seperti biasa, aku memang melarang mama untuk menggedor pintu kamarku di pagi hari. Aku selalu menegaskan pada beliau bahwa aku ingin bangun atas kehendakku sendiri. Oleh karenanya aku memutuskan untuk membeli sebuah jam weker yang sejak satu tahun lalu terduduk manis di atas sebuah meja di samping kasur. Aku harus mandiri. Jam weker itu adalah salah satu perwujudan dari niat tersebut.

Tapi pagi ini aku merasakan kantuk luar biasa. Ketika weker itu berteriak tepat pada jam lima subuh tadi, aku malah memilih untuk membenamkan wajah ke dalam bantal. Tidak apa-apalah mengolor waktu barang sepuluh menit, pikirku. Tapi ternyata sepuluh menit berubah menjadi enam puluh menit. Dan beginilah kensekuensinya, aku harus melakukan kegiatan pagi tidak lebih dari tiga puluh menit saja. Karena tepat pada pukul setengah tujuh, aku harus sudah berada di atas boncengan mama menuju ke sebuah sekolah dasar dimana aku menimba ilmu selama hampir tiga tahun ini. 

Kantuk luar biasa yang aku rasakan tadi pagi bukannya tanpa alasan. Semalam, mata sipitku ini baru terpejam sekitar tengah malam. Bukan karena menonton film di televisi atau belajar, melainkan karena rasa gelisah yang mendadak menyerangku. Terdengar konyol memang, tapi itu benar-benar aku rasakan. Dan akan terdengar jauh lebih konyol saat aku katakan bahwa hal yang membuatku gelisah adalah kelas Bahasa Inggris. Kamu tahu mengapa? Karena pagi ini di kelas Bahasa Inggris aku akan menunjukkan kepada guru dan teman-temanku bahwa aku mempunyai hobi yang sangat menarik. Dan aku akan membuat mereka semua terbengong kagum melihat benda yang aku bawa ke kelas. 

Satu minggu yang lalu, Bu Kinan dengan jelas meminta kami untuk memilih satu jenis barang yang berhubungan erat dengan kegemaran kami, membawanya ke kelas di pertemuan selanjutnya dan menceritakan apa yang biasa kami lakukan dengan benda tersebut. Otakku sibuk mencari sesuatu yang bisa mengundang decak kagum. Berulang-ulang aku tanyakan kepada mama dan papa tentang apa yang seharusnya aku bawa, tapi jawaban mereka belum bisa memuaskan keinginanku untuk mencuri perhatian guru dan teman-teman sekelas. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, sebuah ide cemerlang seolah terketik secara otomatis di otakku. Iya, benda itu lah yang akan aku bawa ke kelas. Sudah lama memang aku tidak menekuni hobi yang satu ini, tapi bagaimanapun hal itu benar-benar pernah menjadi suatu kegemaran, bukan? Maka perasaan tidak sabar akan hari esok membuatku terjaga sampai hampir tengah malam. 

Kulirik tas ransel bergambarkan sepasang kupu-kupu cantik yang kini tergeletak di atas kursi di sampingku. Benda itu sudah aman berada di dalamnya. Dengan benda itu, aku akan membuat teman-teman merasa iri. Kulafalkan sekali lagi presentasi dalam Bahasa Inggris yang sudah aku buat dua hari sebelumnya dengan bantuan mama. Lancar. Seolah aku sudah benar-benar bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut. Aku merasa seperti orang ‘bule’ kalau sudah begini. Berbekal benda yang ada di dalam ransel unguku dan apa yang baru saja aku ucapkan, sudah pasti kelas Bahasa Inggris di hari Kamis ini sepenuhnya akan menjadi milikku. 

***

Kami mepunyai perjanjian lisan dengan Bu Kinan. Bahwa setiap pergantian pelajaran Bahasa Inggris, maka setiap siswa harus sudah pada posisi siap belajar. Dalam artian kita semua harus sudah duduk manis di atas tempat duduk masing-masing dan tidak membuat kebisingan tak berarti. Kalau perjanjian ini dilanggar, maka Bu Kinan tidak akan memasuki kelas kami. Sejauh ini, aku dan teman-teman cukup berhasil dalam melaksanakannya. 

Begitu juga pagi ini, teman-teman sudah siap di kursi masing-masing. Mata mereka tampak berbinar penuh gairah. Sepertinya, bukan cuma aku yang tidak sabar ingin membuka bungkus yang menyelimuti benda misterius yang sedari tadi kami bawa. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Beberapa teman tampak sedang sibuk menghafal baris-baris presentasinya, sama seperti yang aku lakukan pagi tadi di meja makan. Bahkan ada beberapa yang sudah dengan bangga menunjukkan benda-benda favoritnya. Diantaranya aku melihat kaos sepak bola bertuliskan “Messi”, sebuah kaca mata renang, sebuah boneka beruang dan beberapa benda lainnya. Sejauh ini aku belum melihat ada seorang temanpun membawa benda yang sama dengan apa yang kusimpan rapi di dalam ransel. Diam-diam aku mengembangkan senyum.

Akhirnya saat itu datang. Terdengar suara langkah cepat dan tegas. Sudah jelas itu langkah Bu Kinan. Ketua kelas kami pun sibuk menyiapkan anggotanya, menginstruksikan kepada mereka untuk segera meletakkan benda-benda misteriusnya ke dalam loker meja masing-masing. Dan..muncullah sosok itu. Bu Kinan yang kurus, terutama bila dibanding dengan kebanyakan guru kami yang lain. Namun jangan salah, dibalik tubuhnya yang kurus itu, kami sering sekali mendengar suaranya yang menggelegar. Tapi tunggu dulu, apa itu yang ada di gendongan tangannya? Sebuah benda yang dibungkus oleh plastik hitam. Melihat dari bentuknya yang kotak, sepertinya itu adalah sebuah buku. Tapi aku tidak pernah tahu ada buku sebesar itu. Rasa penasaran seketika membuyarkan konsentrasiku pada tugas presentasi. 

Setelah mengucap salam dalam Bahasa Inggris, Bu Kinan menyakan kesiapan kami akan presentasi kali ini. Semua anak menjawab serentak, “Yes, Ma’am.” kemudian dilangkahkan kakinya menuju meja dan dengan terampil jari-jemarinya mulai membuka bungkusan plastik hitam yang dibawanya tadi. Saat akhirnya bungkusan itu terbuka, aku dan teman-teman dibuat kaget. Ternyata benar, benda kotak itu tidak lain adalah sebuah buku. Namun buku itu tidak seperti buku-buku yang aku punya atau yang terdapat di perpustakaan sekolah. Buku itu bersampul merah tua dengan tulisan berwarna kuning keemasan di sampul depannya. Ada sebuah gambar pria tua dengan memegang sesuatu seperti rokok namun tidak tampak seperti rokok. Aku tidak  tahu benda itu harus disebut apa. Rasa penasaranku buncah.

Bu Kinan tanpa diminta lantas bercerita bahwa buku itu adalah benda favoritnya. Dia membelinya dengan harga sepuluh poundsterling, atau sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Dan kamu tahu ada berapa halaman di buku tersebut? Seribu empat ratus delapan. Tidak kurang tidak lebih. Bisa kamu bayangkan butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Buku itu dibelinya sewaktu dia berkunjung ke Inggris beberapa saat lalu. Yang membuat Bu Kinan tertarik untuk membelinya adalah karena Bu Kinan merupakan penggemar si penulis. Dia sangat mengagumi karakter utama dari cerita fiksi yang berkisah mengenai seorang detektif itu, yang belakangan aku tahu ternyata sangat terkenal, Sherlock Holmes. Dari situ aku menyimpulkan bahwa Bu Kinan benar-benar suka membaca.

Sungguh senang rasanya mendengar Bu Kinan bercerita tentang hobi dan benda favoritnya tersebut. Kami dibuat kagum dengan cerita tentang bagaimana hobinya itu akhirnya membawa dia terbang ke Inggris dan bahkan benar-benar mendatangi museum Sherlock Holmes di jantung kota London. “Mimpi yang menjadi kenyataan”, ujarnya. Aku juga ingin menjadi seperti Bu Kinan. Aku ingin menekuni hobiku dengan lebih serius. Seperti kata Bu Kinan, hobi itu adalah salah satu cara untuk mengasah bakat dan kemampuan setiap orang. Semakin kau tekuni, semakin terampil kau dibuatnya. Semangatku terbakar. Kupegang erat sebuah album yang memuat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan goresan tanganku. Iya, hobiku adalah menulis. Suatu hari aku ingin menjadi penulis terkenal. Penulis yang buku-bukunya digemari oleh orang seperti Bu Kinan. Bayangkan betapa kerennya jika melihat seseorang bercerita tentang penulis pujaannya dan ternyata penulis itu adalah aku?

Lamat-lamat aku mendengar Bu Kinan menawarkan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi. Tanpa ragu, aku angkat tangan kananku dan melangkahkan kaki ke depan kelas. Semoga ini adalah awal dari mimpi yang jadi kenyataan.

*Persembahan kecil bagi teman seprofesi. Remember, a great teacher inspires!

A Letter from (an) Angel


 It is indeed something small like this that makes me fall…

How I Unwind


I have never liked being under the spotlight. It makes me feel uncomfortable. I'd rather remain oblivious- when people just pass me by without even taking a glance. The best possible way for a person like me to unwind? Grab a book and a purse, and then go to this very place where I inexplicably feel peaceful- a park.

I love parks. I love being amongst the trees, walking on the wet grass and paddling my feet in a heap of dried leaves. I love to just sit there on the park bench reading my book and gulping down my tea. It's a heaven on earth. The best easiest way to get a charm.

This is how I unwind...

Saturday, 21 January 2012

Come, February!





"wenn du mich sehen willst, mach einfach die Augen zu."


I took a small cup out of the cupboard and placed it on a saucer. I started my routine. I grabbed a kettle, poured in some fresh water from the tap and placed it on the stove. Afterward, I got the heat going. While the water was boiling, I pulled out a tea bag. I knew, as a wise man said good tea did not come in any. Good tea was loose. But I was just being lazy. And as another very wise man said, tea bags were the best way out. I dumped the tea bag in the cup, added a heaping teaspoon of sugar and pouring the hot water over them. I let the tea steep for about two minutes, pulled the bag out of the cup and threw it into the rubbish bin. I stirred my tea with a spoon for a couple of seconds and ta da! My favourite beverage was eventually ready. 

Holding my cup, I walked toward my room. It had been a long day! I had had three classes this morning, a journalist meeting, an assembly rehearsal and a great deal of marking. Not to mention some private courses I had to attend in the afternoon! Yet, I still got a drama script and a couple of lesson planning to write. So I decided to let the word processor start working. It seemed that my entire life had been centered around three things lately; school, my room and laptop. I didn’t go out very much since I moved back to the same town where I spent eighteen years before finally moving to another city for my study in 2003. No matter how much I had adored my new place in the city or how I had found it so easy to fit in, when I graduated from university back four years ago, I was expected to leave. Mum and dad had insisted on me staying with them. I welcomed the idea, and, to be honest, was rather pleased at the thought of not having to cook or buy my food anymore. I was a little bit farther from freedom than I had been since I moved in, but I was such a home person myself, so I didn’t mind the situation at all. In fact, I enjoyed being buried deep in my current jobs. I wondered how people found my life boring! 

I read some idiotic updates my friends, or I’d rather call them acquaintances, had written on facebook. I got a bit annoyed every time I came across some shallow sentences for no particular reasons. It was getting worse and worse all the time. So I was determined to unsubscribe those people who had a tendency to do so. It was just so that I didn’t end up hating them. No hard feeling or sort of. I was glad that none of them were my close friends. Suddenly one picture caught my attention. It was a picture of that person I had been quietly falling in love with. He looked confident and comfortable as he always did. This was how things used to work in my world. I missed a person so badly but I could only stare at his picture wondering if he even ever thought of me. It wasn’t until a month ago that the hesitance had evaporated. I shouldn’t remain oblivious. He had unintentionally hurt me with his lack of awareness. His silence was a poison. Thus I determined to let myself under his spotlight.

“Where are you?” I typed in the letters instantly. Winamp player was currently playing Katy Perry’s Thinking of You. What a perfect background! I seized my tea cup and sipped my almost-cold tea, waiting for him to reply.

“In you heart.” He said innocently without realizing how his short respond had inevitably managed to make my day.

“Stop that silly phrase, please? Where, literally in the world, are you?” I tried to sound equitable rather than pleased, though the truth was definitely the other way around. I was high. Being glad it was a cyber world conversation, I couldn’t help picturing the boy saying the phrase in person. I was such an incompetent liar, I had no idea how I would have made a fool of myself if only he had flirted me that way right before my eyes.

“I’m currently out of town, girl.”

"When are you going home, then?" I was craving something like 'next week'. No such luck.

“Probably next month. What’s the matter?” It sounded like one of those trick questions to my ears. 

“Mm…nothing. Do you really want me to utter it? You know precisely why. You’re just trying to get me to utter it, aren’t you? Well, I’m missing your smile, I suppose?”

“Is that all?” Just another trick question.

“Just let me know when you’re home, please? I MISS YOU.” I was only imaginarily typing the last sentence, of course. No living creature on this planet would be able to read it, not even myself. But I knew he got the message. The telepathy had never disappointed me so far. It was an agreement between hearts. They had their very own way to reveal each other's disguise. Mine told his that I longed for his master, and vice versa. Wasn't it amazing how you effortlessly could admit your feeling without necessarily reciting the alphabet?

Moment later, I told him the farewell and logged out. I was finishing my tea, tried to enjoy every sip of it, while waiting for the office to dissolve. I was determined to be naughty by not finishing the drama script. I was just too tired, or, probably, so madly in love that I couldn't occupy my mind with anything. I ushered myself back to the kitchen and put the dirty cup into the sink- I didn't even bother washing it. So much for neatness. But one thing for sure, from that moment on, I was eagerly waiting for February. Komm, Februar!

Friday, 13 January 2012

I Miss You Too




"I'm not such a spoilt brat.. Yet this time I sure miss you a lot, Love."


I stared at the blank monitor, waiting for the windows to start appearing. Normally it took only a couple of seconds, but this time it felt like I had been waiting for ten times longer. How irritating when you indeed needed to hurry, everything just seemed to betray you. I actually could print the fifteen-page-long drama script at school, but I assumed there wouldn’t be enough time. Today I had two classes which each lasted seventy minutes. My first class began at exactly seven. Then I had a ten-minute break before the second one. So I calculated I would finish at nine thirty. This meant that I had only thirty bloody minutes to print off the script, photocopy and give it out to the kids for them to study for the ten-o’clock assembly. There was no way this plan would work. So I thought of another plan which was to print it off at home, bring it with me and ask somebody at school to photocopy it while I was teaching. So by the time I finished my class, the script would be already there on my table. Sounded like the best option I had.

I plugged the printer’s wire and then pushed the power button gently. I double clicked on a certain word file and as soon as it was open I hit ‘Print’. Waiting for the script, I logged into yahoo and checked my email. There were six unread emails emerging before my eyes. They were all some sort of notifications from an unpopular site I managed to join the previous day. I didn't even bother reading before I deleted them all. Then suddenly, an offline message popped up. Instead of clicking it, I found myself put my right hand off the mouse. My heart raced. For what felt like a full minute, I was stunned. It had been ages since the last time the same sender sent me a message on yahoo messenger. It seemed to me that he had been in a different solar system for the past couple of months. Now he was surprisingly there, back into business. 

I couldn’t resist the rush to read the message, so I clicked the chat window. A graphic emoticon popped up. Wink Smiley. Nothing else. Not even a single word of ‘hello’. What did I expect? A romantic love message? I knew exactly that just wasn’t his style. So a smiley was extraordinary. At least he made the effort. However, it was like trying to solve one of those twisted riddles. What brought him back, I wondered. Did he send it accidentally? No, that didn’t sound possible. He didn’t seem the one who could make such silly mistake which showed nothing but his clumsiness. Did somebody else use his account and sent me the message? No, that didn’t sound possible, either. He wasn’t the one who was so careless that a stranger managed to hack his account. I kept thinking, yet found no rational answer. Apart from the thought that he simply wanted to talk to me, deep down my heart, I realized I was hoping that he did it because he simply longed for me. 

I wasn’t sure where I got the courage, but in less than a minute I found myself actually typing ‘I Miss You’. It was the best thing I could come up with. Yes, I was sane. In fact, I had never been this sane. God did work in a mysterious way. I, the woman who was never good at flirting, now was trying to do a love statement. Was I really ready to get humiliated? The answer was yes. So regardless of the embarrassment, I bravely pushed ‘Enter’.  I’d assured myself it wasn’t such a big deal. There was definitely nothing wrong with being honest about my true feeling, wasn’t it? I didn’t lie. Beside, it was good to let him know that all this time I had been missing him. And that I was hurt every time the thought of him crossed my mind. I didn't know why but that sounded fair. To let the person you love shared your feeling. So you wouldn't need to feel so alone. I should be glad I supposed.

Moment later, my window chat was blinking. I received a new message. He replied. This time it was a bit longer than mine. It read, ‘I Miss You Too’. My heart practically shrieked. It was hard to believe. He said he missed me! Was that real? Or was it just a dream? I read it over and over again. I must have been dreaming. Then one very sentence from him woke me up, “even if it’s a dream, we can build this together.” And with that, he had me all over again. I smiled. I was done with the printer. I grabbed that fifteen-page-long script and shoved it into my handbag. I pushed the printer’s power button and got the wire unplugged.  I unwillingly logged out yahoo, and then switched my laptop off. It was a beautiful morning. And for the rest of the day, I had to suppress the urge to tell the whole world how happy I was. I missed him. He missed me too.

Thursday, 5 January 2012

When I Knew




"Aku sadar aku menggilaimu sejak aku membaca setiap kata yang kau lempar keluar
dari otak rumitmu itu."


Seventeen past three. I was struggling with drowsiness. I remembered the night before I had been determined to turn off the telly exactly when the clock stroke twelve. Literally midnight. It had been the first time I actually managed to beat the time. I meant how cool was that? Here’s a fact, nights and me had never been friends. Not even close. I hated it and it hated me even more. I unsurprisingly never survived midnight. So it was a bit of miracle to keep my eyes, both eyes, wide open at such very late time. I didn't know exactly when I had finally managed to fall asleep. Obviously not long after I shut my eyes.

Seventeen minutes ago I had been awake. It had taken me some minutes to finally realize what was going on. So I reluctantly dragged myself out of the room and headed to the loo. I badly needed to take a pee. Oh crap! Here’s another fact, I had a tendency to imagine ghosts, vampires and all those creepy creatures would suddenly appear on the glass window here on my toilet. No, I was not being paranoid. I just couldn’t help it. It was one of those bloody embarrassing secrets. There was no way I would let people know. They would laugh at me, right in front of me. No doubt.

I tiptoed back to my room, secretly wondering if dad and mum had heard anything. It was so quiet that I could even hear my dad’s snore. I listened again. There was nothing. I assumed they were both in such a deep sleep. It was such a relief. I knew I was supposed to go back to bed, instead I decided to grab my laptop and entered the living room.  I chose one of my favourite corners in the house and began to turn my laptop on.

It was entirely dark outside. The cold touched me gently. I heard the wind whispered me a good-night. The moon and the stars sang me a lullaby. The rest of the world was still asleep. So was facebook. I played around. I moved the cursor aimlessly wondering if I could find something exciting. Five minutes had past. Nothing. Another five-minute past. Still nothing. Then I came across your name. Your bloody name. I instinctively moved the cursor and clicked the button. A recipe for a disaster!

It was the same boring page all over again. A little bit of disappointment flushed through me. Yeah, just like I hadn't expected it. No sign of your existence. It was just an empty old house no body seemed to care. I should have known. I looked more intently and was sure you had been away for a while. Those abandoned phrases were the only way for me to trace you. That you had once actually lived there, in the brisk world of facebook. Again, I should have known. Then why bothered hitting the button over and over again?

I moved the cursor up and down, left and right. I read through whatever you had written for the umpteenth time. I smiled when it was romantic, laughed when it was ludicrous. I admired your choice of words and was amazed at your point of view. And I felt this unpleasant odd feeling when you flirted. The thought of you had made me paralyzed. Then my heart beat indescribably faster and faster. Mix feeling. Same old thing. I shouldn't have done this in the first place. It always ended up like this. Somehow I knew this time it was different. I just couldn't place it. It was rather a blur.

Next, I felt the rush to go to bed. It seemed that my eyes just couldn't take it any longer. I did a quick calculation. In less than three hours I had to be at school. I turned off my laptop and left it on the chair. As I stood, those random memories of you immediately replayed in my head.  All of a sudden I felt secure. Peaceful. I had found my very own personal space! The thought surprised me, but more in a I-knew-it-was-going-to-happen sort of way. This was the most peculiar moment I had ever had in my life. I was walking to my room with both eyes half closed. I was falling in love with you. I was missing you. I was literally tracing you. And nothing felt better.

Wednesday, 4 January 2012

Menghargai Karya Orang Lain, Sesusah Itukah?


“Ajarkan anak-anak itu cara menghargai karya orang lain sejak dini, maka semoga saat dewasa, mereka tidak menjelma menjadi pribadi yang bisanya cuma iri hati.”


Tidak diragukan lagi, Indonesia memang terkenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Dari sejak kita SD sampai duduk di kursi perguruan tinggi, para guru dan dosen seolah tidak pernah lelah sesumbar betapa beragamnya budaya dan tradisi negara kita ini. Tentu saja hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Mengingat banyak negara di dunia yang mau tidak mau dipaksa untuk berdecak kagum atas warisan nenek moyang tersebut. Tidak sedikit pula yang merasa iri. Bahkan ada yang nekat untuk  ‘nyolong’ kebudayaan itu.

Hal yang bisa dimaklumi. Lihat saja betapa cantik dan menawan para penari bali dengan kain dan aksesoris berkilaunya. Betapa ayu dan anggun para penari Jawa dengan balutan kain batik yang tiada tanding coraknya. Betapa damai suara angklung di telinga, yang secara misterius seolah membawa ketentraman pada batin si pendengar. Atau betapa nikmat rendang Padang di lidah, memanjakan liur yang seketika menggeliat hanya dari mencium aromanya. Dan itu hanya segilintir dari sekian banyak kebudayaan yang dapat disajikan bangsa Indonesia. Wajar saja kalau mereka, bangsa lain, akhirnya begitu terobsesi dan menggebu untuk mengakui semua itu sebagai propertinya. 

Tapi kebudayaan tidak hanya sekedar hal-hal yang kasat mata, yang materiil. Bukan cuma kain, alat musik, makanan ataupun gerakan tari. Kebudayaan bisa juga dalam bentuk karakter bangsa. Mental bangsa. Lantas dengan begitu kayanya kebudayaan ‘materiil’ kita, apakah kebudayaan ‘karakter dan mental bangsa’ kita ini juga kaya? Aku tidak mau mengeneralisir jawaban dari pertanyaan tersebut. Karena mengeneralisir berarti aku harus berani mempertanggung jawabkan secara menyeluruh. Namun aku bisa menggambarkan sebuah situasi yang mungkin sedikit, aku tegaskan sekali lagi di sini- hanya sedikit,  bisa membantu memberi jawaban. 

Seorang karyawan baru  menimbulkan kehebohan di tempat kerja. Bukan kehebohan macam anak SMA menyambut siswa baru yang cantik atau tampan. Tapi dalam bentuk bisik-bisik tetangga akibat rasa sebal dari para rekan kerja. Si anak bawang di anggap sok tahu dan ‘keminter’ karena berusaha menerapkan cara pandang dan sistem kerja yang berbeda dari para pendahulunya. Setiap si karyawan baru melakukan terobosan atau sekedar menyampaikan pendapat, bukan pujian yang di dapat, melainkan cibiran meremehkan.

Apa susahnya sebuah apresiasi basa-basi di mulut? Mengatakan hal itu brilian, bahkan ketika kenyataannya biasa saja. Tidak ada ruginya bukan mengapresiasi usaha seseorang? Justru hal ini akan banyak menghasilkan keuntungan di masa depan. Si anak bawang justru akan semakin bersemangat menghasilkan ide-ide baru. Siapa tahu kelak salah satunya akan menjadi inovasi luar biasa.

Ternyata inilah salah satu titik dimana kita sedikit ‘miskin’ kebudayaan.  Miskin menghargai pendapat. Miskin mengapresiasi karya. Miskin karakter dan mental. Kita tidak terlatih untuk mengamini kepintaran orang lain. Sebaliknya, justru sangat terampil menjadikan orang tersebut objek gunjingan. Kita tidak terbiasa menjadikan kecerdasan orang lain sebagai bahan motivasi. Sebaliknya, malah menjadikannya suatu alasan untuk merasa terintimidasi. Kita sepertinya juga tidak terdidik untuk antusias dalam menerima ide-ide baru dan cenderung menganggap hal itu tidak lebih dari usaha cari perhatian. 

Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan nilai menghargai karya orang lain ini sejak dini. Tentu saja dalam artian menghargai yang sesungguhnya, bukan yang ditambah-tambahi semata demi keuntungan pribadi. Tapi penghargaan yang tulus atas usaha seseorang. Dengan harapan untuk memberi motivasi secara tidak langsung kepadanya agar terus berkarya dan menghembuskan ide-ide baru. Sehingga tidak ada lagi yang namanya generasi tukang iri dan pendengki. Mereka yang melihat keberhasilan orang lain sebagai objek yang bisa mengancam posisinya.

Sudah waktunya kita melahirkan lebih banyak lagi generasi yang siap menerima tantangan dan mau mengakui kelebihan orang lain. Mereka yang mau bekerja sama dengan siapa saja tanpa perasaan risih. Karena pada dasarnya, mau menerima dan berkawan dengan mereka yang luar biasa, perlahan juga akan mengubah kita menjadi pribadi yang tidak sekedar biasa saja. Dan begitulah seharusnya karakter ini untuk mulai diperkaya.

Thursday, 22 December 2011

My Mum


My mum doesn’t read. She doesn’t write either. Ask her about politics, economics or even religion, she would probably just give you inappropriate answers. That’s my mum. A woman with less knowledge about what’s going on in this world. One who will get you on your nerve every time you try to make her understand about the way you see things.

Mum is neither a role model nor the best mum ever. She is just ordinary. She makes mistakes, says something wrong, does something stupid, and sometimes acts incredibly silly. That’s the way she is. A complete opposite of this very idea which you call an ideal mother. 

But I know life will be far worse than horrible with her out of the picture. She has always been the grip. The one who will always be there in the shadow and reminds you that you are never alone. She is the balance who keeps every single thing in order. She is the home. No matter how far you go or how deep you fall, you will always come back to her. And like any other mum in this universe, she is probably the most sincere. 

My mum is not perfect and never will be. But I swear to God she loves me so perfectly. She never teaches me how to survive, but indeed from her I know how to become a good fighter. Mum has always been the best entertainer. She has this inexplicably ability to play every single role life has offered her.

Mum is the woman and the man at the same time. An idol I will never get tired of admiring. A figure I will never get bored of adoring. And despite her imperfection, mum is definitely the one I will always be proud of. I love her.

*Selamat Hari Ibu

Monday, 19 December 2011

A Morning with Sincerity- England


Pagi di Inggris kala itu benar-benar keterlaluan dinginnya, terutama bagi perempuan berkulit tropis seperti aku. Mungkin sekitar lima atau enam derajat celcius. Langit juga tampak tidak sedang berbahagia. Gelap. Sedangkan awan sepertinya sudah siap memuntahkan buliran-buliran air yang dikandungnya ke kota Bury St. Edmunds. 


Hari itu, 8 Oktober 2011, untuk pertama kalinya aku memandangi langit pagi di negeri empat musim dari balik jendela kaca kamar yang akan aku tinggali selama dua minggu ke depan. Itulah pagi pertamaku di Inggris sejak kedatanganku tujuh jam sebelumnya.

***

Masih jelas di ingatan begitu panjangnya antrian di Stansted Immigration Control tadi malam. Kebanyakan dari para pengantri itu berwajah khas kaukasia dan oriental. Padahal saat itu jelas kami sedang berada di bagian all other passport, bagian kontrol imigrasi untuk selain mereka para pemegang passport Uni Eropa.

Hanya ada beberapa orang  berwajah melayu yang tertangkap mataku. Salah satunya seorang bapak berumur 60 an yang kini sedang menunjukkan passport nya ke seorang petugas di salah satu booth di depanku. Kami sempat mengobrol selama di dalam pesawat yang membawa kami dari Kuala Lumpur ke Stansted. Kursi kami memang hanya terpisahkan oleh satu orang penumpang waktu itu, sehingga memungkinkan kami untuk sekedar bertegur sapa, mengingat kami merasa ada kemiripan rumpun dibanding dengan kebanyakan penumpang lain. Rupanya si bapak berwarga kenegaraan Malaysia. Dia hendak mengunjungi putrinya yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu sudut di kota London.

Iseng aku menolah kebelakang. Ada dua remaja putra dan putri sedang saling berpegangan tangan. Dari wajahnya aku tebak mereka berkewarganegaraan Filipina atau Thailand. Sempat terbesit rasa iri melihat mereka yang tampak begitu mesra. Mau tidak mau aku membayangkan betapa senangnya seandainya orang yang kita kasihi ada bersama kita di perjalanan yang melelahkan ini. Namun cepat-cepat aku tepis perasaan itu. Karena dengan ataupun tanpa seorang kekasih, kenyataannya aku sudah berhasil mendarat di Inggris. Negeri yang selama ini aku impikan.

Tidak jauh di belakang dua remaja yang sedang kasmaran itu aku melihat seorang pria muda dan seorang wanita yang dari umurnya cukup untuk dipanggil ‘ibu’ oleh pria tersebut. Aku sedikit kaget. Bagiku, mereka berdua sangat Indonesia. Dari wajah dan postur tubuh, cukup bagiku untuk menjadi sangat yakin bahwa mereka benar-benar orang Indonesia. Tapi kesimpulan ini terbantahkan setelah aku melihat warna passport yang mereka pegang. Bukan hijau seperti punyaku. Warnanya merah. 

Kuedarkan pandangan sekali lagi ke seluruh penjuru salah satu bandar udara terbesar di Inggris itu. Sangat rapi. Itulah kesan yang aku tangkap. Semua petunjuk ditulis dengan jelas dan petugas pun dengan sangat sigap menindak siapapun yang melanggar peraturan. Ada seorang remaja berwajah oriental yang sudah merasakan keganasan para petugas bandar udara tersebut. Entah apa yang dia lakukan sehingga membuat si petugas berteriak akan mengeluarkannya dari antrian kalau dia tidak bisa mematuhi peraturan. Dalam hati diam-diam aku bersyukur. Seandainya itu aku, tidak bisa aku bayangkan betapa malunya menjadi tontonan orang dari berbagai penjuru dunia kala itu.

Tiba-tiba seorang petugas wanita yang sedari tadi menjaga garis antrian mempersilahkanku menuju salah satu booth yang kosong. Bergegas aku menuju booth yang dimaksud dan menunjukkan passport hijauku pada seorang wanita di dalamnya.

“Hello.” Sapaku.

“Hello. Where are you going?” Tanyanya ramah.

“I’m going to Bury St. Edmunds.”

“How long will you be staying there?”

“Two weeks. I’m leaving England on October the 22nd.”

Wanita tersebut terlihat membalik salah satu halaman passportku. Mungkin memeriksa UK visa yang tercantum di dalamnya.

“So, what are you doing in Bury?” tanyanya setelah beberapa saat.

“I’m visiting a link school called Hardwick Middle School. I guess I’ll be teaching a few lesson.”

“Is it like an exchange program?”

“Yes, exactly.”

“So has the English teacher come to Indonesia?”

“Yes, they came last August. There were two of them”

“Great, then. Enjoy your stay.” Ujar  petugas tersebut sembari menyerahkan kembali padaku passport yang sudah di bubuhi stempel.

***

Di antrian bagasi selain sibuk mencari travelling bag warna hitam yang aku pinjam dari bapak, mataku juga dengan tekun mencoba menemukan keberadaan seseorang. Dia adalah pria muda asal Inggris yang kursinya selama di penerbangan D72008 tepat berada diantara aku dan si bapak Malaysia tadi. Dialah teman perjalanan yang menyelamatkanku dari kebosanan yang besar kemungkinannya akan menyerang di satu waktu diantara empat belas jam penerbangan dari Kuala Lumpur sampai akhirnya mendarat di Stanted Airport ini. Jack, namanya.

Pertemuanku dengan Jack bisa dibilang sangat terencana. Mungkin Tuhan berbelas kasihan padaku. Dia mengatur perjalanan ini dengan sempurna. Jack termasuk di dalamnya. Aku ingat saat pramugari-pramugari cantik itu memeriksa boarding pass yang aku genggam. Ada seseorang tepat dibelakangku yang juga sedang menunggu seorang pramugari lain memeriksa boarding pass nya.
Kemudian aku berjalan menaiki anak tangga menuju ke badan pesawat dan mencari posisi kursi seperti yang tercantum di tiket atas namaku itu. Tidak lama aku temukan nomor yang dimaksud. Dalam hati aku bersorak. Aku mendapat posisi tempat duduk yang selalu aku favoritkan, entah di mobil, bus, kereta ataupun pesawat seperti sekarang. Di dekat jendela. Tiba-tiba pemuda yang sedari tadi tampak seperti mengekorku mengucapkan sesuatu dengan nada sangat bersahabat.

“Oh, I am here as well.”

Komentarnya aku respond hanya dengan senyum tipis. Yang kemudian diikuti dengan rasa tidak enak dan sedikit bersalah. Mengapa aku tidak melakukan sesuatu yang lebih ramah? Bukankah pemuda itu sudah menunjukkan ketertarikannya untuk bersosialisasi dengan aku yang jelas berbeda ras darinya. Akhirnya, berusaha menebus rasa bersalah aku memulai percakapan dengannya.

“How long do you think it will take to get to Stansted?”

Dan dari pertanyaan ringan itu lah aku berhasil menciptakan atmosfer perjalanan yang hangat antara aku dan pemuda berkulit putih pucat tersebut. Kami berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari pekerjaan, keluarga dan tempat asal masing-masing. Bahkan kami juga sempat menyinggung tentang bagaimana kami memandang hidup dan sebuah hubungan antara pria dan wanita. Aku anggap aku sedang beruntung. Aku sedang melakukan pemanasan dengan lidahku, mengingat selama dua minggu kedepan aku tidak akan lagi menggunakan bahasa ibu. Setidaknya, tidak dalam percakapan face to face

Di tengah perbincangan Jack mengatakan sesuatu yang masih aku kenang sampai sekarang,

“Dini, do you believe that you can tell when people are being sincere to you?”

“What do you mean?”

“I mean, I know exactly whether somebody is being sincere when they talk to me. I just feel it. My heart tells me. ”

“Do you think I’m being sincere to you right now then?” Godaku.

“Yes, exactly.” Jawabnya mantap.

***

Hampir sepuluh menit aku mencari, tapi tidak kunjung kutemukan sosok Jack. Akhirnya dengan berat hati aku putuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan area reclaim baggage tersebut. Ada sedikit rasa sedih terselip di dadaku. Aku benar-benar berharap bisa bertemu dengannya, sekedar mengucapkan selamat tinggal. Tapi sepertinya Tuhan memintaku untuk bersabar.

Kuikuti arus yang berbondong menuju pintu keluar. I was excited, ecstatic, and disappointed at the same time. Dan saat berjalan itulah akhirnya aku putuskan untuk tidak terlalu lama menyimpan rasa terima kasihku pada Jack. Aku akan mengucapkannya melalui sebuah jejaring sosial. Aku ingat dia menuliskan nama serta alamat emailnya di buku diari perjalananku. Iya, aku pasti menghubunginya. A stranger that turns into a very good friend during the journey. A stranger that claimed I was being sincere to him.

Darinyalah aku belajar bahwa ketulusan itu, memang, bisa dirasa dengan hati. Ketulusan akan bicara dengan bahasanya sendiri. And.. sincerity definitely has nothing to do with how long you have known somebody. Dia adalah sebuah variabel bebas yang tidak akan bisa menggantungkan diri pada ikatan yang namanya persaudaraan, persahabatan, ataupun sekedar kenalan. Seperti halnya Jack yang bahkan keberadaannya tidak pernah aku ketahui sebelum penerbangan ke Stansted kala itu. Namun dia sudah dengan tulus menjadi teman bicara, memberiku permen penyegar mulut saat kami sama-sama baru terbangun dari tidur, dan bahkan menemaniku berjalan menuju bagian kontrol imigrasi. Aku tahu dia tulus melakukan semuanya. Setidaknya itu yang dikatakan oleh hatiku. Karena memang yang namanya ketulusan hidup dan berkembang dengan sendirinya di dasar hati setiap individu.

***

Aku melangkahkan kaki keluar kamar. Berjinjit menuruni anak tangga. Hari itu pagi masih terlalu dini bagi tuan rumahku. Aku tidak mau menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. 

Aku menuju dapur yang kebetulan terletak di lantai satu. Kutuangkan orange juice ke dalam gelas, penuh. Rupanya aku kehausan. Kubuka laci-laci yang ada di dapur ala Eropa tersebut dan mencoba mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut, setidaknya sampai tiba waktu sarapan. Aku menemukan sekotak biskuit.  Pada malam sebelumnya, si tuan rumah sudah menunjukkan setiap sudut rumahnya padaku. Ternasuk mempersilahkan aku memakan segala sesuatu yang ada di lemari-lemari dapur mungilnya. Jadilah dengan hanya sedikit perasaan sungkan, aku lahap biskuit tersebut.

Kuayunkan kaki menuju ruang seberang dimana televisi berada. Meski begitu aku tidak sedang merasa di mood  yang baik untuk menonton acara berita. Kuputuskan untuk menghidupkan laptop dan log in ke salah satu jejaring sosial. Kucari nama Jack di search engine-nya dan berhasil. Tanpa pikir panjang kutekan tombol di samping foto yang muncul. Segera setelah dia mengkonfirmasi permintaan pertemanan yang aku kirim, aku akan memenuhi janji yang aku buat pada diriku sendiri tadi malam. Berterima kasih atas ketulusannya selama perjalanan kala itu. Sebuah bentuk ketulusan dariku di suatu pagi di bulan Oktober. Diluar kaca jendela nampak bulir-bulir air mulai berjatuhan. Gerimis pertamaku di Inggris.

Friday, 16 December 2011

Home, Lelaki dan Perempuan


“Ini bukan mimpi kan?”
“Kalaupun mimpi, kita mimpi bareng.”

Seandainya tidak ada dia yang sekarang sedang duduk menikmati bola-bola daging yang dia sendok dari sebuah mangkuk putih di hadapannya, aku pasti sudah mencubit pipiku sendiri. Menariknya ke samping kanan dan kiri sebagai aksi pembuktian bahwa aku memang benar-benar tidak sedang bermimpi. Konyol memang, tapi disitulah sensasinya. Berada di tempat ini, duduk disampingnya, menatap matanya, menangkap suaranya, semua terasa terlalu sempurna. Mimpi yang menjadi nyata.

Mendadak aku merasa hanya ada aku dan dia. Kenyataan  bahwa kami sedang membaur di sudut kota paling ramai pun tidak mampu menenangkan hatiku. Aku gelisah. Berdua dengannya sungguh merupakan suatu keadaan yang tidak aku persiapkan.  Harapan untuk berada di suatu dimensi ruang dan waktu yang sama dengannya bahkan sudah lama aku tepis. Tapi lihatlah kami saat ini, berdampingan layaknya dua sejoli. Bumi pun berubah sepi di mataku, karena aku hanya melihatnya. Kali ini, benar-benar dia.

“Kenapa mobil di Inggris setirnya di sebelah kanan ya? Padahal di negara Eropa yang lain setirnya ada di kiri, sama seperti Amerika. Kenapa Inggris justru seperti Indonesia?” Tanyaku di tengah-tengah perbincangan kami.

“Salah. Seharusnya pertanyaannya adalah mengapa Indonesia yang bekas jajahan Belanda justru meniru Inggris, memakai mobil dengan setir di sebelah kanan?” Respon kilatnya.

“Eh, iya. Kenapa ya?” Tanyaku dengan tidak bisa menyembunyikan rasa malu akan ketololanku.

Begitulah memang kalau sedang bersama dia. Aku jadi tolol dadakan. Layaknya anak SD berhadapan dengan mahasiswa. Otakku ini mengalami suatu kemunduran drastis tanpa diketahui jelas apa penyebabnya. Atau mungkin ini semua karena dia yang terlalu memukau. Sepertinya apa yang ada di kepalanya itu sudah jauh dari hal-hal yang biasa. Aku selalu terpana dibuatnya. Dia tidak berubah. Sejak awal pertemuan kami satu tahun yang lalu, dia tetap saja mampu membuatku gagu dan gagap. Namun aku menikmatinya. Bagiku, tidak ada yang lebih menghibur selain menjadi pihak yang memasang telinga lebar-lebar dan mengandangkan semua kalimat yang meluncur dari lisannya.

“Would you excuse me. I need to call a friend.” Ujarku sembari mengeluarkan sebuah ponsel dari tas coklat tuaku.

“Iya, silahkan.” Jawabnya ringan.

Kucari nama temanku di daftar kontak dan menekan tombol call. Tidak lama aku mendengar bunyi tut panjang, pertanda sambungan sedang dilakukan. Didepanku si dia nampak sedang merogoh saku baju dan mengambil BlackBerry-nya. Mungkin dia tidak mau sekedar bengong saat menungguku menelpon, tebakku. Sejenak kutangkap raut wajahnya saat dia menatap layar BlackBerry tersebut, tepat sebelum dia melontarkan pertanyaan retoris yang dengan telak menghancurkan image yang sedang mati-matian aku pertahankan sejak awal perjumpaan kami tadi,

“Lho, gimana sih Bu?”

Tidak perlu waktu lama bagiku untuk memahami wacana yang ada, atau dengan kata lain menyadari kebodohan yang baru saja aku perbuat. Benar-benar tanpa disengaja. Ternyata, aku salah menekan tombol. Aku justru menghubungi nomornya, bukan teman yang tadi aku maksud. Rasa malu tidak sanggup aku hindari. Kubungkukkan badan ke arah meja demi menutupi wajahku yang rasa-rasanya tidak sanggup menanggungnya. No, I did not play dumb. Buatku, acting stupid in front of boys is never cute, at all. Tapi sekali lagi fakta berbicara dengan bahasa yang berbeda. Saat ini aku justru tampak seperti perempuan yang sedang memainkan trik tersebut.

Hati memang tidak pernah bisa diajak berkompromi. Dia bicara dalam bahasa telepati tingkat tinggi. Mengirimkan sinyalnya ke otak dan secara sepihak mementalkan semua logika. Begitu juga ada hal-hal yang selalu menjadi pengecualian. Hal yang tidak kau harapkan tapi justru muncul dengan mengejutkan. Hal yang berada di luar kendalimu. Tidak seirama dengan logika, tapi cenderung senada dengan hati. Namun pada akhirnya, tetap dengan logikalah kau menerimanya. Dan hal ini tidak pernah membutuhkan terjemahan ataupun penjabaran.

Kini aku percaya tidak semua perlu diungkapkan atau dijawab dengan aksara. Sometimes you just need to simply feel and enjoy it. Then let it fill you in.

Welcome home, Love.