Saturday, 24 March 2012

Anak itu Jiwanya Besar


Sepasang mata itu membelalak, sorotnya diarahkan lekat ke bola mataku. Bahkan dengan sisa jarak yang berdasarkan hitungan kasar serta mengandalkan kemampuan matematika yang bisa dibilang sangat pas-pasan adalah berkisar 10 meter, aku bisa dengan jelas melihat perubahan binar didalamnya. Sepertinya gadis kecil ini sudah sedari tadi menanti kehadiranku. 

Good morning, Ma’am.” Sapaan khas anak didik kepada guru perempuan di sekolah tempat aku mengajar ini pun diucapkannya dengan penuh unsur magis. Seolah ada lonceng tak terlihat yang seketika bergemerincing mengiringi ucapannya. Tersungging senyum yang teramat manis dibibirnya ketika aku mendekat.

Morning.” Jawabku sembari mengulas senyum yang tidak kalah manisnya. Meskipun secara teknis aku enam belas tahun lebih tua dari anak didikku yang satu ini, dan akan kalah telak jika harus melawan kelincahan dan kespontanannya, aku merasa masih bisa berkompetisi dengannya, paling tidak dalam hal ‘senyuman manis’ tadi.

“Ini Ma’am buku-bukunya C. S. Lewis yang kemarin aku bilang ke Ma’am lewat SMS.” Terangnya sembari menyodorkan tiga bendel buku yang sebenarnya tidak asing lagi buatku. Setiap pergi ke toko buku, tidak pernah absen aku melihatnya terpampang di salah satu rak di dalam toko tersebut. 

“Wah terima kasih ya, Ras. Tapi mungkin Ma’am ngembalikannya agak lama. Tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa Ma’am. Santai saja. Besok aku bawakan lagi empat buku sisanya, semuanya kan ada tujuh buku, Ma’am.” Yang dimaksud olehnya disini adalah tujuh buku The Chronicles of Narnia yang luar biasa terkenal dan sudah diangkat ke layar lebar itu.

“WOW! Okay, thank you, Ras. Kamu memberi PR yang lumayan banyak nih ke Ma’am.” Ujarku dengan sedikit merasa terintimidasi oleh Bu Guru kecil yang sedang berdiri dengan PD di hadapanku ini. Merasa terintimidasi apakah aku akan bisa menyelesaikan PR dengan baik dan tepat waktu.

***

Namanya Raras. Sekarang dia masih duduk di bangku kelas enam SD. Tapi jangan samakan ‘enam SD’-nya dengan ‘enam SD’-ku. ‘Enam SD’-ku artinya berhaha-hihi dengan teman, bertengkar dan kemudian tidak saling sapa, juga malas berangkat sekolah karena takut pada Guru Matematika. Sedangkan ‘enam SD’-nya berarti ikut lomba pidato Bahasa Inggris dan baca puisi, bergabung dalam klub jurnalistik, serta mengembangkan hobi fotografi. Kalau dulu ketika seumurannya aku masih sibuk dengan dakon, bongkar pasang dan bekel, dia sudah berkutat dengan blog, powerpoint, dan buku. Dan khusus untuk yang terakhir tadi, gadis cilik ini benar-benar membuatku heran sekaligus lega karena akhirnya ada kesamaan diantara setumpuk perbedaan ‘enam SD’ antara kami berdua, yaitu kami sama-sama berangan membangun sebuah perpustakaan pribadi.

Tidak kusangka ada gadis berumur sebelas tahun yang sudah begitu cintanya pada dunia baca, terutama melihat sebagian besar anak bangsa yang bahkan tidak tahu pentingnya budaya literasi ini. Dan demi menggapai citanya tersebut, rupanya dia sudah banyak mengambil langkah pasti. Sudah banyak buku yang dikoleksinya. Tidak tanggung-tanggung, buku yang dibaca pun bukan lagi buku cerita bergambar seperti yang selalu laris manis dipinjam siswa-siswa dari perpustakaan sekolah kami, tapi buku-buku yang mungkin banyak kakak kelasnya di SMP ataupun SMA bahkan tidak mau membacanya.

Gadis ini sudah kenal dengan Tere Liye dan Hafalan Shalat Delisa ataupun Dahlan Iskan dan Ganti Hati. Dia juga akrab dengan penulis internasional macam C.S. Lewis, Enid Blyton ataupun Roald Dahl. Dan nampaknya, kini si gadis cilik akan segera melebarkan sayapnya ke dunia sastra dan filsafat. Hal ini aku simpulkan sesaat setelah aku menerima SMS darinya siang tadi.

“Ma’am jadi beli bukunya Dahlan Iskan?”

“Tidak jadi, Ras. Ma’am kemarin beli beberapa buku sastra dan filsafat.”

“Aku sudah beli buku Dahlan Iskan, Ma’am. Juga bukunya Dee yang Madre. Aku tahu buku itu setelah baca blog Ma’am, Go Grab Books.”

“Wah padahal Ma’am sudah lama tidak posting di blog yang itu, Ras.”

“Ma’am sudah dapat bukunya Pramoedya Ananta Toer belum? Aku boleh pinjam Ma’am?”

“Dapat, tapi belum lengkap. Boleh, besok Ma’am bawakan yang biografi Kartini. Ma’am juga punya buku filsafat nih. Ceritanya tentang buku-buku dan perpustakaan ajaib. Mau pinjam?”

“Okay, Ma’am. Pinjam ya??”

“Sip.”

Mau jadi apakah gadis cilik ini? Sesaat aku merasa kecil dan.. iri hati. Iri pada minat bacanya yang gendut dibalik badannya yang kurus. Iri pada segudang prestasi yang didapatkannya di usianya yang masih belia. Iri pada semangatnya dalam menghidupkan budaya literasi. Hal ini bukan sekedar tong kosong nyaring bunyinya, aku sudah berulang kali mendapatinya meminjamkan buku-bukunya pada teman dan bahkan menyumbangkannya pada perpustakaan sekolah. Bukankah itu perwujudan paling nyata?

Di sisi lain, aku merasa bangga. Melihat anak didik yang berkilau dengan begitu indahnya. Dan bahkan hanya dengan berbincang beberapa menit saja aku tahu dia bujan anak kelas enam SD biasa. Cita-citanya besar, sebesar jiwa sosialnya. Kini aku merasa dia adalah seorang perempuan dewasa, bukan lagi anak didik apalagi anak kecil. Seketika ada yang membuncah di dadaku. Ah.. Begini rupanya kebahagiaan sejati itu.

Sunday, 11 March 2012

Aduh Ibu!


Aduh Ibu, apa yang tadi malam kau lakukan?
Bukankah seharusnya kau di pojok kamar itu memegangi tangan kanannya
ketika dia belajar menggoreskan ujung sebuah pensil warna di atas selembar kertas?
Tidakkah kau mendudukkannya di pangkuanmu yang hangat?
Mengejakan puluhan huruf yang ada di buku cerita yang kini menyembul bisu dari tas sekolahnya.
Korupsi lah lima belas menit saja dari malam gemerlapmu
Sekedar untuk menjawab semua pertanyaan konyol khas anak-anak yang meluncur dengan lugu dari mulut kecilnya itu.
Oh Ibu, kenapa kau lewatkan kesempatan emas yang dititipkan Tuhan melalui malaikat kecil, yang dulu kau kandung di dalam rahimmu?


Aduh Ibu, apa yang sedang kau lakukan?
Benarkah gaun, tas, sepatu dan make up kini menjadi satu-satunya kenikmatan bagimu?
Lantas bagaimana dengan robot, mobil-mobilan, boneka beruang ataupun Barbie?
Benda-benda yang berhasil memaku dia pada pandangan pertama.
Yang kini teronggok di sudut kotak segi empat berharap suatu saat kau mau memainkannya bersama tuan kecilnya.
Ibu, tidakkah kau ingin menikmati sebuah pertunjukan ala kadarnya yang dipersiapkan khusus untukmu?
Yang mungkin dia pelajari saat bercanda dengan teman-teman atau gurunya.
Oh Ibu, ayolah ambil kursi dan duduk di hadapannya, minta dia menyanyi untukmu.


Aduh Ibu, apa lagi yang kini sedang kau lakukan?
Bukankah semestinya kau duduk di meja makan dan menanyakan bagaimana harinya di sekolah?
Lihatlah ada banyak sekali cerita yang dia simpan untukmu.
Tidakkah kau ingin tahu bagaimana tangannya bisa tergores atau bagaimana baju putih bersihnya bisa berbekas noda?
Ah Ibu, kau melewatkan setiap detilnya.
Sekarang dia tidak akan lagi menunggumu pulang dengan sebuah pensil warna di tangan.
Tidak akan ada lagi buku cerita yang menyembul dari dalam tas apalagi sebuah pertunjukan.
Oh Ibu, dia sekarang menghilang.
Bukan lagi malaikat kecil dengan tawa riang.
Siapakah dia sekarang?

Saturday, 3 March 2012

Ingin jadi PNS apa Guru sih?


“Kalau niat awalnya ingin mendidik, jadi atau tidak jadi PNS seharusnya tidak masalah bukan? Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjadi Guru.”


Biarkan aku bernostalgia ke empat tahun silam, ketika akhirnya aku resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Sebuah pencapaian paling prestisius bagiku dan keluargaku kala itu yang ditandai dengan berlabuhnya selembar kertas berharga jutaan rupiah yang disebut ‘ijazah’ ke genggaman tangan. Saat itu terlintas dibenak akan masa depan yang terang benderang, dalam artian aku akan menjadi seorang pengajar dengan gaji dari pemerintah yang jumlahnya cukup menggiurkan. Aku memang begitu naifnya menganggap semua Sarjana Pendidikan yang menjadi guru akan secara otomatis menjadi PNS. Gambaran tentang PNS memang selalu buram di pikiranku. Tidak ada satupun dari silsilah keluargaku yang menyandang titel tersebut. Jadi wajar kalau sampai menginjak kampus pun aku tidak pernah mempunyai data valid mengenai seorang pegawai negeri sipil. Yang aku tahu hanya bahwa menjadi PNS berarti hidupmu akan 'aman'.

Ternyata kenyataan hidup memang terkadang sungguh pahit. Betapa kecewanya aku ketika tahu ternyata untuk menjadi seorang PNS itu tidak sekedar masalah menjadi guru, tak peduli seberapa tinggi kompetensimu di bidang yang kamu geluti tersebut. Menjadi PNS itu berarti kamu harus melawan ratusan orang di sebuah tes yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat demi tempat yang terkadang bisa dihitung dengan jari. Menjadi PNS itu berarti salah satu antara keberuntungan atau keberanian. Belakangan aku tahu ternyata yang terakhir lah yang lebih banyak berbicara. Dan mungkin itu pula sebabnya akhir-akhir ini muncul slogan dalam Bahasa Jawa “wani piro?” yang makin lama makin populer sebagai bahan candaan. Sebuah humor sinis dari masyarakat kecil seperti aku.

Dan semuanya terbukti pada saat aku mengikuti tes yang akrab disebut tes CPNS tersebut untuk pertama kalinya. Kala itu aku melamar menjadi seorang guru Bahasa Inggris, satu-satunya hal yang aku pikir bisa aku lakukan dengan sangat baik, mengingat pencapaian yang aku raih di kampus. Dan dengan tingkat percaya diri yang tinggi, akhirnya aku maju ke medan perang. Semangat juang aku kobarkan, senjata aku genggam erat di tangan. Tapi bagaikan petir di siang bolong, alangkah kagetnya aku saat tahu ternyata yang harus aku kerjakan justru seratus soal psikotes. Oh tidaaaak! Bagaimana mungkin mereka bisa tahu kemampuanku kalau yang harus aku kerjakan adalah seratus soal ‘berandai-andai.’ Tidak ada simple past tense ataupun future tense, apalagi micro teaching. Aku pun mengerjakan soal-soal itu dengan asal. Memaksa otakku mengeluarkan jawaban dari soal yang tidak pernah diajarkan oleh para dosen di bangku kuliah dulu. Sejak saat itu aku kapok dengan yang namanya tes CPNS. Goodbye tes CPNS.

Kecewa? Sudah pasti. Apalagi setelah mendengar info dari berbagai sumber tentang betapa nyamannya hidup seorang PNS di negeri kita ini. Seolah nasib baik tiba-tiba dihapus dari garis takdirku. Namun beruntung kekecewaan ini tidak berumur panjang. Karena dari awal aku memang tidak kenal baik dengan konsep PNS yang sering digembor-gemborkan orang tersebut. Tak kenal maka tak sayang! Begitulah, saat impian menjadi PNS akhirnya melayang, aku tetap bisa santai. Kekecewaan menguap dengan cepat, dan yang pasti sudah mati keinginanku untuk berlomba di medan tes CPNS. 

Selanjutnya aku runtut lagi semua dari awal. Aku suka mengajar, aku ingin menjadi guru. Pekerjaan ini adalah satu-satunya hal yang ingin dan bisa aku lakukan dengan hati. Dan untuk menjadi guru aku tidak perlu menjadi PNS dulu bukan? Akhirnya aku putuskan untuk mengajar di salah satu sekolah swasta. Disini hasratku akan dunia pendidikan akhirnya terpuaskan. Meskipun tidak menyandang gelar PNS, ternyata aku tetap bisa mendidik anak bangsa. Ada yang bilang mengajar itu adalah panggilan hati, sebuah pekerjaan mulia yang bisa dilakukan siapa saja meski tanpa embel-embel PNS. Itu memang benar. Sampai sekarang aku tetap bukan PNS, aku hanya seorang guru. Gaji yang aku terima pun tidak sebesar PNS, tapi aku bekerja tidak kalah profesional. Sekarang aku sadar, semuanya memang terletak pada tujuan awal, ingin jadi PNS, apa ingin jadi guru?

Sunday, 5 February 2012

Tentang Hobi dan Inspirasi


Kusendok cepat-cepat nasi goreng yang saling tumpang tindih di atas piring kaca lebar di hadapanku, sambil sesekali meneguk susu coklat hangat dari cangkir merah muda, pemberian dari seorang sahabat beberapa bulan yang lalu. Pagi ini aku bangun sedikit terlambat. Seperti biasa, aku memang melarang mama untuk menggedor pintu kamarku di pagi hari. Aku selalu menegaskan pada beliau bahwa aku ingin bangun atas kehendakku sendiri. Oleh karenanya aku memutuskan untuk membeli sebuah jam weker yang sejak satu tahun lalu terduduk manis di atas sebuah meja di samping kasur. Aku harus mandiri. Jam weker itu adalah salah satu perwujudan dari niat tersebut.

Tapi pagi ini aku merasakan kantuk luar biasa. Ketika weker itu berteriak tepat pada jam lima subuh tadi, aku malah memilih untuk membenamkan wajah ke dalam bantal. Tidak apa-apalah mengolor waktu barang sepuluh menit, pikirku. Tapi ternyata sepuluh menit berubah menjadi enam puluh menit. Dan beginilah kensekuensinya, aku harus melakukan kegiatan pagi tidak lebih dari tiga puluh menit saja. Karena tepat pada pukul setengah tujuh, aku harus sudah berada di atas boncengan mama menuju ke sebuah sekolah dasar dimana aku menimba ilmu selama hampir tiga tahun ini. 

Kantuk luar biasa yang aku rasakan tadi pagi bukannya tanpa alasan. Semalam, mata sipitku ini baru terpejam sekitar tengah malam. Bukan karena menonton film di televisi atau belajar, melainkan karena rasa gelisah yang mendadak menyerangku. Terdengar konyol memang, tapi itu benar-benar aku rasakan. Dan akan terdengar jauh lebih konyol saat aku katakan bahwa hal yang membuatku gelisah adalah kelas Bahasa Inggris. Kamu tahu mengapa? Karena pagi ini di kelas Bahasa Inggris aku akan menunjukkan kepada guru dan teman-temanku bahwa aku mempunyai hobi yang sangat menarik. Dan aku akan membuat mereka semua terbengong kagum melihat benda yang aku bawa ke kelas. 

Satu minggu yang lalu, Bu Kinan dengan jelas meminta kami untuk memilih satu jenis barang yang berhubungan erat dengan kegemaran kami, membawanya ke kelas di pertemuan selanjutnya dan menceritakan apa yang biasa kami lakukan dengan benda tersebut. Otakku sibuk mencari sesuatu yang bisa mengundang decak kagum. Berulang-ulang aku tanyakan kepada mama dan papa tentang apa yang seharusnya aku bawa, tapi jawaban mereka belum bisa memuaskan keinginanku untuk mencuri perhatian guru dan teman-teman sekelas. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, sebuah ide cemerlang seolah terketik secara otomatis di otakku. Iya, benda itu lah yang akan aku bawa ke kelas. Sudah lama memang aku tidak menekuni hobi yang satu ini, tapi bagaimanapun hal itu benar-benar pernah menjadi suatu kegemaran, bukan? Maka perasaan tidak sabar akan hari esok membuatku terjaga sampai hampir tengah malam. 

Kulirik tas ransel bergambarkan sepasang kupu-kupu cantik yang kini tergeletak di atas kursi di sampingku. Benda itu sudah aman berada di dalamnya. Dengan benda itu, aku akan membuat teman-teman merasa iri. Kulafalkan sekali lagi presentasi dalam Bahasa Inggris yang sudah aku buat dua hari sebelumnya dengan bantuan mama. Lancar. Seolah aku sudah benar-benar bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut. Aku merasa seperti orang ‘bule’ kalau sudah begini. Berbekal benda yang ada di dalam ransel unguku dan apa yang baru saja aku ucapkan, sudah pasti kelas Bahasa Inggris di hari Kamis ini sepenuhnya akan menjadi milikku. 

***

Kami mepunyai perjanjian lisan dengan Bu Kinan. Bahwa setiap pergantian pelajaran Bahasa Inggris, maka setiap siswa harus sudah pada posisi siap belajar. Dalam artian kita semua harus sudah duduk manis di atas tempat duduk masing-masing dan tidak membuat kebisingan tak berarti. Kalau perjanjian ini dilanggar, maka Bu Kinan tidak akan memasuki kelas kami. Sejauh ini, aku dan teman-teman cukup berhasil dalam melaksanakannya. 

Begitu juga pagi ini, teman-teman sudah siap di kursi masing-masing. Mata mereka tampak berbinar penuh gairah. Sepertinya, bukan cuma aku yang tidak sabar ingin membuka bungkus yang menyelimuti benda misterius yang sedari tadi kami bawa. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Beberapa teman tampak sedang sibuk menghafal baris-baris presentasinya, sama seperti yang aku lakukan pagi tadi di meja makan. Bahkan ada beberapa yang sudah dengan bangga menunjukkan benda-benda favoritnya. Diantaranya aku melihat kaos sepak bola bertuliskan “Messi”, sebuah kaca mata renang, sebuah boneka beruang dan beberapa benda lainnya. Sejauh ini aku belum melihat ada seorang temanpun membawa benda yang sama dengan apa yang kusimpan rapi di dalam ransel. Diam-diam aku mengembangkan senyum.

Akhirnya saat itu datang. Terdengar suara langkah cepat dan tegas. Sudah jelas itu langkah Bu Kinan. Ketua kelas kami pun sibuk menyiapkan anggotanya, menginstruksikan kepada mereka untuk segera meletakkan benda-benda misteriusnya ke dalam loker meja masing-masing. Dan..muncullah sosok itu. Bu Kinan yang kurus, terutama bila dibanding dengan kebanyakan guru kami yang lain. Namun jangan salah, dibalik tubuhnya yang kurus itu, kami sering sekali mendengar suaranya yang menggelegar. Tapi tunggu dulu, apa itu yang ada di gendongan tangannya? Sebuah benda yang dibungkus oleh plastik hitam. Melihat dari bentuknya yang kotak, sepertinya itu adalah sebuah buku. Tapi aku tidak pernah tahu ada buku sebesar itu. Rasa penasaran seketika membuyarkan konsentrasiku pada tugas presentasi. 

Setelah mengucap salam dalam Bahasa Inggris, Bu Kinan menyakan kesiapan kami akan presentasi kali ini. Semua anak menjawab serentak, “Yes, Ma’am.” kemudian dilangkahkan kakinya menuju meja dan dengan terampil jari-jemarinya mulai membuka bungkusan plastik hitam yang dibawanya tadi. Saat akhirnya bungkusan itu terbuka, aku dan teman-teman dibuat kaget. Ternyata benar, benda kotak itu tidak lain adalah sebuah buku. Namun buku itu tidak seperti buku-buku yang aku punya atau yang terdapat di perpustakaan sekolah. Buku itu bersampul merah tua dengan tulisan berwarna kuning keemasan di sampul depannya. Ada sebuah gambar pria tua dengan memegang sesuatu seperti rokok namun tidak tampak seperti rokok. Aku tidak  tahu benda itu harus disebut apa. Rasa penasaranku buncah.

Bu Kinan tanpa diminta lantas bercerita bahwa buku itu adalah benda favoritnya. Dia membelinya dengan harga sepuluh poundsterling, atau sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Dan kamu tahu ada berapa halaman di buku tersebut? Seribu empat ratus delapan. Tidak kurang tidak lebih. Bisa kamu bayangkan butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Buku itu dibelinya sewaktu dia berkunjung ke Inggris beberapa saat lalu. Yang membuat Bu Kinan tertarik untuk membelinya adalah karena Bu Kinan merupakan penggemar si penulis. Dia sangat mengagumi karakter utama dari cerita fiksi yang berkisah mengenai seorang detektif itu, yang belakangan aku tahu ternyata sangat terkenal, Sherlock Holmes. Dari situ aku menyimpulkan bahwa Bu Kinan benar-benar suka membaca.

Sungguh senang rasanya mendengar Bu Kinan bercerita tentang hobi dan benda favoritnya tersebut. Kami dibuat kagum dengan cerita tentang bagaimana hobinya itu akhirnya membawa dia terbang ke Inggris dan bahkan benar-benar mendatangi museum Sherlock Holmes di jantung kota London. “Mimpi yang menjadi kenyataan”, ujarnya. Aku juga ingin menjadi seperti Bu Kinan. Aku ingin menekuni hobiku dengan lebih serius. Seperti kata Bu Kinan, hobi itu adalah salah satu cara untuk mengasah bakat dan kemampuan setiap orang. Semakin kau tekuni, semakin terampil kau dibuatnya. Semangatku terbakar. Kupegang erat sebuah album yang memuat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan goresan tanganku. Iya, hobiku adalah menulis. Suatu hari aku ingin menjadi penulis terkenal. Penulis yang buku-bukunya digemari oleh orang seperti Bu Kinan. Bayangkan betapa kerennya jika melihat seseorang bercerita tentang penulis pujaannya dan ternyata penulis itu adalah aku?

Lamat-lamat aku mendengar Bu Kinan menawarkan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi. Tanpa ragu, aku angkat tangan kananku dan melangkahkan kaki ke depan kelas. Semoga ini adalah awal dari mimpi yang jadi kenyataan.

*Persembahan kecil bagi teman seprofesi. Remember, a great teacher inspires!

A Letter from (an) Angel


 It is indeed something small like this that makes me fall…

How I Unwind


I have never liked being under the spotlight. It makes me feel uncomfortable. I'd rather remain oblivious- when people just pass me by without even taking a glance. The best possible way for a person like me to unwind? Grab a book and a purse, and then go to this very place where I inexplicably feel peaceful- a park.

I love parks. I love being amongst the trees, walking on the wet grass and paddling my feet in a heap of dried leaves. I love to just sit there on the park bench reading my book and gulping down my tea. It's a heaven on earth. The best easiest way to get a charm.

This is how I unwind...

Saturday, 21 January 2012

Come, February!





"wenn du mich sehen willst, mach einfach die Augen zu."


I took a small cup out of the cupboard and placed it on a saucer. I started my routine. I grabbed a kettle, poured in some fresh water from the tap and placed it on the stove. Afterward, I got the heat going. While the water was boiling, I pulled out a tea bag. I knew, as a wise man said good tea did not come in any. Good tea was loose. But I was just being lazy. And as another very wise man said, tea bags were the best way out. I dumped the tea bag in the cup, added a heaping teaspoon of sugar and pouring the hot water over them. I let the tea steep for about two minutes, pulled the bag out of the cup and threw it into the rubbish bin. I stirred my tea with a spoon for a couple of seconds and ta da! My favourite beverage was eventually ready. 

Holding my cup, I walked toward my room. It had been a long day! I had had three classes this morning, a journalist meeting, an assembly rehearsal and a great deal of marking. Not to mention some private courses I had to attend in the afternoon! Yet, I still got a drama script and a couple of lesson planning to write. So I decided to let the word processor start working. It seemed that my entire life had been centered around three things lately; school, my room and laptop. I didn’t go out very much since I moved back to the same town where I spent eighteen years before finally moving to another city for my study in 2003. No matter how much I had adored my new place in the city or how I had found it so easy to fit in, when I graduated from university back four years ago, I was expected to leave. Mum and dad had insisted on me staying with them. I welcomed the idea, and, to be honest, was rather pleased at the thought of not having to cook or buy my food anymore. I was a little bit farther from freedom than I had been since I moved in, but I was such a home person myself, so I didn’t mind the situation at all. In fact, I enjoyed being buried deep in my current jobs. I wondered how people found my life boring! 

I read some idiotic updates my friends, or I’d rather call them acquaintances, had written on facebook. I got a bit annoyed every time I came across some shallow sentences for no particular reasons. It was getting worse and worse all the time. So I was determined to unsubscribe those people who had a tendency to do so. It was just so that I didn’t end up hating them. No hard feeling or sort of. I was glad that none of them were my close friends. Suddenly one picture caught my attention. It was a picture of that person I had been quietly falling in love with. He looked confident and comfortable as he always did. This was how things used to work in my world. I missed a person so badly but I could only stare at his picture wondering if he even ever thought of me. It wasn’t until a month ago that the hesitance had evaporated. I shouldn’t remain oblivious. He had unintentionally hurt me with his lack of awareness. His silence was a poison. Thus I determined to let myself under his spotlight.

“Where are you?” I typed in the letters instantly. Winamp player was currently playing Katy Perry’s Thinking of You. What a perfect background! I seized my tea cup and sipped my almost-cold tea, waiting for him to reply.

“In you heart.” He said innocently without realizing how his short respond had inevitably managed to make my day.

“Stop that silly phrase, please? Where, literally in the world, are you?” I tried to sound equitable rather than pleased, though the truth was definitely the other way around. I was high. Being glad it was a cyber world conversation, I couldn’t help picturing the boy saying the phrase in person. I was such an incompetent liar, I had no idea how I would have made a fool of myself if only he had flirted me that way right before my eyes.

“I’m currently out of town, girl.”

"When are you going home, then?" I was craving something like 'next week'. No such luck.

“Probably next month. What’s the matter?” It sounded like one of those trick questions to my ears. 

“Mm…nothing. Do you really want me to utter it? You know precisely why. You’re just trying to get me to utter it, aren’t you? Well, I’m missing your smile, I suppose?”

“Is that all?” Just another trick question.

“Just let me know when you’re home, please? I MISS YOU.” I was only imaginarily typing the last sentence, of course. No living creature on this planet would be able to read it, not even myself. But I knew he got the message. The telepathy had never disappointed me so far. It was an agreement between hearts. They had their very own way to reveal each other's disguise. Mine told his that I longed for his master, and vice versa. Wasn't it amazing how you effortlessly could admit your feeling without necessarily reciting the alphabet?

Moment later, I told him the farewell and logged out. I was finishing my tea, tried to enjoy every sip of it, while waiting for the office to dissolve. I was determined to be naughty by not finishing the drama script. I was just too tired, or, probably, so madly in love that I couldn't occupy my mind with anything. I ushered myself back to the kitchen and put the dirty cup into the sink- I didn't even bother washing it. So much for neatness. But one thing for sure, from that moment on, I was eagerly waiting for February. Komm, Februar!

Friday, 13 January 2012

I Miss You Too




"I'm not such a spoilt brat.. Yet this time I sure miss you a lot, Love."


I stared at the blank monitor, waiting for the windows to start appearing. Normally it took only a couple of seconds, but this time it felt like I had been waiting for ten times longer. How irritating when you indeed needed to hurry, everything just seemed to betray you. I actually could print the fifteen-page-long drama script at school, but I assumed there wouldn’t be enough time. Today I had two classes which each lasted seventy minutes. My first class began at exactly seven. Then I had a ten-minute break before the second one. So I calculated I would finish at nine thirty. This meant that I had only thirty bloody minutes to print off the script, photocopy and give it out to the kids for them to study for the ten-o’clock assembly. There was no way this plan would work. So I thought of another plan which was to print it off at home, bring it with me and ask somebody at school to photocopy it while I was teaching. So by the time I finished my class, the script would be already there on my table. Sounded like the best option I had.

I plugged the printer’s wire and then pushed the power button gently. I double clicked on a certain word file and as soon as it was open I hit ‘Print’. Waiting for the script, I logged into yahoo and checked my email. There were six unread emails emerging before my eyes. They were all some sort of notifications from an unpopular site I managed to join the previous day. I didn't even bother reading before I deleted them all. Then suddenly, an offline message popped up. Instead of clicking it, I found myself put my right hand off the mouse. My heart raced. For what felt like a full minute, I was stunned. It had been ages since the last time the same sender sent me a message on yahoo messenger. It seemed to me that he had been in a different solar system for the past couple of months. Now he was surprisingly there, back into business. 

I couldn’t resist the rush to read the message, so I clicked the chat window. A graphic emoticon popped up. Wink Smiley. Nothing else. Not even a single word of ‘hello’. What did I expect? A romantic love message? I knew exactly that just wasn’t his style. So a smiley was extraordinary. At least he made the effort. However, it was like trying to solve one of those twisted riddles. What brought him back, I wondered. Did he send it accidentally? No, that didn’t sound possible. He didn’t seem the one who could make such silly mistake which showed nothing but his clumsiness. Did somebody else use his account and sent me the message? No, that didn’t sound possible, either. He wasn’t the one who was so careless that a stranger managed to hack his account. I kept thinking, yet found no rational answer. Apart from the thought that he simply wanted to talk to me, deep down my heart, I realized I was hoping that he did it because he simply longed for me. 

I wasn’t sure where I got the courage, but in less than a minute I found myself actually typing ‘I Miss You’. It was the best thing I could come up with. Yes, I was sane. In fact, I had never been this sane. God did work in a mysterious way. I, the woman who was never good at flirting, now was trying to do a love statement. Was I really ready to get humiliated? The answer was yes. So regardless of the embarrassment, I bravely pushed ‘Enter’.  I’d assured myself it wasn’t such a big deal. There was definitely nothing wrong with being honest about my true feeling, wasn’t it? I didn’t lie. Beside, it was good to let him know that all this time I had been missing him. And that I was hurt every time the thought of him crossed my mind. I didn't know why but that sounded fair. To let the person you love shared your feeling. So you wouldn't need to feel so alone. I should be glad I supposed.

Moment later, my window chat was blinking. I received a new message. He replied. This time it was a bit longer than mine. It read, ‘I Miss You Too’. My heart practically shrieked. It was hard to believe. He said he missed me! Was that real? Or was it just a dream? I read it over and over again. I must have been dreaming. Then one very sentence from him woke me up, “even if it’s a dream, we can build this together.” And with that, he had me all over again. I smiled. I was done with the printer. I grabbed that fifteen-page-long script and shoved it into my handbag. I pushed the printer’s power button and got the wire unplugged.  I unwillingly logged out yahoo, and then switched my laptop off. It was a beautiful morning. And for the rest of the day, I had to suppress the urge to tell the whole world how happy I was. I missed him. He missed me too.

Thursday, 5 January 2012

When I Knew




"Aku sadar aku menggilaimu sejak aku membaca setiap kata yang kau lempar keluar
dari otak rumitmu itu."


Seventeen past three. I was struggling with drowsiness. I remembered the night before I had been determined to turn off the telly exactly when the clock stroke twelve. Literally midnight. It had been the first time I actually managed to beat the time. I meant how cool was that? Here’s a fact, nights and me had never been friends. Not even close. I hated it and it hated me even more. I unsurprisingly never survived midnight. So it was a bit of miracle to keep my eyes, both eyes, wide open at such very late time. I didn't know exactly when I had finally managed to fall asleep. Obviously not long after I shut my eyes.

Seventeen minutes ago I had been awake. It had taken me some minutes to finally realize what was going on. So I reluctantly dragged myself out of the room and headed to the loo. I badly needed to take a pee. Oh crap! Here’s another fact, I had a tendency to imagine ghosts, vampires and all those creepy creatures would suddenly appear on the glass window here on my toilet. No, I was not being paranoid. I just couldn’t help it. It was one of those bloody embarrassing secrets. There was no way I would let people know. They would laugh at me, right in front of me. No doubt.

I tiptoed back to my room, secretly wondering if dad and mum had heard anything. It was so quiet that I could even hear my dad’s snore. I listened again. There was nothing. I assumed they were both in such a deep sleep. It was such a relief. I knew I was supposed to go back to bed, instead I decided to grab my laptop and entered the living room.  I chose one of my favourite corners in the house and began to turn my laptop on.

It was entirely dark outside. The cold touched me gently. I heard the wind whispered me a good-night. The moon and the stars sang me a lullaby. The rest of the world was still asleep. So was facebook. I played around. I moved the cursor aimlessly wondering if I could find something exciting. Five minutes had past. Nothing. Another five-minute past. Still nothing. Then I came across your name. Your bloody name. I instinctively moved the cursor and clicked the button. A recipe for a disaster!

It was the same boring page all over again. A little bit of disappointment flushed through me. Yeah, just like I hadn't expected it. No sign of your existence. It was just an empty old house no body seemed to care. I should have known. I looked more intently and was sure you had been away for a while. Those abandoned phrases were the only way for me to trace you. That you had once actually lived there, in the brisk world of facebook. Again, I should have known. Then why bothered hitting the button over and over again?

I moved the cursor up and down, left and right. I read through whatever you had written for the umpteenth time. I smiled when it was romantic, laughed when it was ludicrous. I admired your choice of words and was amazed at your point of view. And I felt this unpleasant odd feeling when you flirted. The thought of you had made me paralyzed. Then my heart beat indescribably faster and faster. Mix feeling. Same old thing. I shouldn't have done this in the first place. It always ended up like this. Somehow I knew this time it was different. I just couldn't place it. It was rather a blur.

Next, I felt the rush to go to bed. It seemed that my eyes just couldn't take it any longer. I did a quick calculation. In less than three hours I had to be at school. I turned off my laptop and left it on the chair. As I stood, those random memories of you immediately replayed in my head.  All of a sudden I felt secure. Peaceful. I had found my very own personal space! The thought surprised me, but more in a I-knew-it-was-going-to-happen sort of way. This was the most peculiar moment I had ever had in my life. I was walking to my room with both eyes half closed. I was falling in love with you. I was missing you. I was literally tracing you. And nothing felt better.

Wednesday, 4 January 2012

Menghargai Karya Orang Lain, Sesusah Itukah?


“Ajarkan anak-anak itu cara menghargai karya orang lain sejak dini, maka semoga saat dewasa, mereka tidak menjelma menjadi pribadi yang bisanya cuma iri hati.”


Tidak diragukan lagi, Indonesia memang terkenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Dari sejak kita SD sampai duduk di kursi perguruan tinggi, para guru dan dosen seolah tidak pernah lelah sesumbar betapa beragamnya budaya dan tradisi negara kita ini. Tentu saja hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Mengingat banyak negara di dunia yang mau tidak mau dipaksa untuk berdecak kagum atas warisan nenek moyang tersebut. Tidak sedikit pula yang merasa iri. Bahkan ada yang nekat untuk  ‘nyolong’ kebudayaan itu.

Hal yang bisa dimaklumi. Lihat saja betapa cantik dan menawan para penari bali dengan kain dan aksesoris berkilaunya. Betapa ayu dan anggun para penari Jawa dengan balutan kain batik yang tiada tanding coraknya. Betapa damai suara angklung di telinga, yang secara misterius seolah membawa ketentraman pada batin si pendengar. Atau betapa nikmat rendang Padang di lidah, memanjakan liur yang seketika menggeliat hanya dari mencium aromanya. Dan itu hanya segilintir dari sekian banyak kebudayaan yang dapat disajikan bangsa Indonesia. Wajar saja kalau mereka, bangsa lain, akhirnya begitu terobsesi dan menggebu untuk mengakui semua itu sebagai propertinya. 

Tapi kebudayaan tidak hanya sekedar hal-hal yang kasat mata, yang materiil. Bukan cuma kain, alat musik, makanan ataupun gerakan tari. Kebudayaan bisa juga dalam bentuk karakter bangsa. Mental bangsa. Lantas dengan begitu kayanya kebudayaan ‘materiil’ kita, apakah kebudayaan ‘karakter dan mental bangsa’ kita ini juga kaya? Aku tidak mau mengeneralisir jawaban dari pertanyaan tersebut. Karena mengeneralisir berarti aku harus berani mempertanggung jawabkan secara menyeluruh. Namun aku bisa menggambarkan sebuah situasi yang mungkin sedikit, aku tegaskan sekali lagi di sini- hanya sedikit,  bisa membantu memberi jawaban. 

Seorang karyawan baru  menimbulkan kehebohan di tempat kerja. Bukan kehebohan macam anak SMA menyambut siswa baru yang cantik atau tampan. Tapi dalam bentuk bisik-bisik tetangga akibat rasa sebal dari para rekan kerja. Si anak bawang di anggap sok tahu dan ‘keminter’ karena berusaha menerapkan cara pandang dan sistem kerja yang berbeda dari para pendahulunya. Setiap si karyawan baru melakukan terobosan atau sekedar menyampaikan pendapat, bukan pujian yang di dapat, melainkan cibiran meremehkan.

Apa susahnya sebuah apresiasi basa-basi di mulut? Mengatakan hal itu brilian, bahkan ketika kenyataannya biasa saja. Tidak ada ruginya bukan mengapresiasi usaha seseorang? Justru hal ini akan banyak menghasilkan keuntungan di masa depan. Si anak bawang justru akan semakin bersemangat menghasilkan ide-ide baru. Siapa tahu kelak salah satunya akan menjadi inovasi luar biasa.

Ternyata inilah salah satu titik dimana kita sedikit ‘miskin’ kebudayaan.  Miskin menghargai pendapat. Miskin mengapresiasi karya. Miskin karakter dan mental. Kita tidak terlatih untuk mengamini kepintaran orang lain. Sebaliknya, justru sangat terampil menjadikan orang tersebut objek gunjingan. Kita tidak terbiasa menjadikan kecerdasan orang lain sebagai bahan motivasi. Sebaliknya, malah menjadikannya suatu alasan untuk merasa terintimidasi. Kita sepertinya juga tidak terdidik untuk antusias dalam menerima ide-ide baru dan cenderung menganggap hal itu tidak lebih dari usaha cari perhatian. 

Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan nilai menghargai karya orang lain ini sejak dini. Tentu saja dalam artian menghargai yang sesungguhnya, bukan yang ditambah-tambahi semata demi keuntungan pribadi. Tapi penghargaan yang tulus atas usaha seseorang. Dengan harapan untuk memberi motivasi secara tidak langsung kepadanya agar terus berkarya dan menghembuskan ide-ide baru. Sehingga tidak ada lagi yang namanya generasi tukang iri dan pendengki. Mereka yang melihat keberhasilan orang lain sebagai objek yang bisa mengancam posisinya.

Sudah waktunya kita melahirkan lebih banyak lagi generasi yang siap menerima tantangan dan mau mengakui kelebihan orang lain. Mereka yang mau bekerja sama dengan siapa saja tanpa perasaan risih. Karena pada dasarnya, mau menerima dan berkawan dengan mereka yang luar biasa, perlahan juga akan mengubah kita menjadi pribadi yang tidak sekedar biasa saja. Dan begitulah seharusnya karakter ini untuk mulai diperkaya.

Saturday, 24 March 2012

Anak itu Jiwanya Besar


Sepasang mata itu membelalak, sorotnya diarahkan lekat ke bola mataku. Bahkan dengan sisa jarak yang berdasarkan hitungan kasar serta mengandalkan kemampuan matematika yang bisa dibilang sangat pas-pasan adalah berkisar 10 meter, aku bisa dengan jelas melihat perubahan binar didalamnya. Sepertinya gadis kecil ini sudah sedari tadi menanti kehadiranku. 

Good morning, Ma’am.” Sapaan khas anak didik kepada guru perempuan di sekolah tempat aku mengajar ini pun diucapkannya dengan penuh unsur magis. Seolah ada lonceng tak terlihat yang seketika bergemerincing mengiringi ucapannya. Tersungging senyum yang teramat manis dibibirnya ketika aku mendekat.

Morning.” Jawabku sembari mengulas senyum yang tidak kalah manisnya. Meskipun secara teknis aku enam belas tahun lebih tua dari anak didikku yang satu ini, dan akan kalah telak jika harus melawan kelincahan dan kespontanannya, aku merasa masih bisa berkompetisi dengannya, paling tidak dalam hal ‘senyuman manis’ tadi.

“Ini Ma’am buku-bukunya C. S. Lewis yang kemarin aku bilang ke Ma’am lewat SMS.” Terangnya sembari menyodorkan tiga bendel buku yang sebenarnya tidak asing lagi buatku. Setiap pergi ke toko buku, tidak pernah absen aku melihatnya terpampang di salah satu rak di dalam toko tersebut. 

“Wah terima kasih ya, Ras. Tapi mungkin Ma’am ngembalikannya agak lama. Tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa Ma’am. Santai saja. Besok aku bawakan lagi empat buku sisanya, semuanya kan ada tujuh buku, Ma’am.” Yang dimaksud olehnya disini adalah tujuh buku The Chronicles of Narnia yang luar biasa terkenal dan sudah diangkat ke layar lebar itu.

“WOW! Okay, thank you, Ras. Kamu memberi PR yang lumayan banyak nih ke Ma’am.” Ujarku dengan sedikit merasa terintimidasi oleh Bu Guru kecil yang sedang berdiri dengan PD di hadapanku ini. Merasa terintimidasi apakah aku akan bisa menyelesaikan PR dengan baik dan tepat waktu.

***

Namanya Raras. Sekarang dia masih duduk di bangku kelas enam SD. Tapi jangan samakan ‘enam SD’-nya dengan ‘enam SD’-ku. ‘Enam SD’-ku artinya berhaha-hihi dengan teman, bertengkar dan kemudian tidak saling sapa, juga malas berangkat sekolah karena takut pada Guru Matematika. Sedangkan ‘enam SD’-nya berarti ikut lomba pidato Bahasa Inggris dan baca puisi, bergabung dalam klub jurnalistik, serta mengembangkan hobi fotografi. Kalau dulu ketika seumurannya aku masih sibuk dengan dakon, bongkar pasang dan bekel, dia sudah berkutat dengan blog, powerpoint, dan buku. Dan khusus untuk yang terakhir tadi, gadis cilik ini benar-benar membuatku heran sekaligus lega karena akhirnya ada kesamaan diantara setumpuk perbedaan ‘enam SD’ antara kami berdua, yaitu kami sama-sama berangan membangun sebuah perpustakaan pribadi.

Tidak kusangka ada gadis berumur sebelas tahun yang sudah begitu cintanya pada dunia baca, terutama melihat sebagian besar anak bangsa yang bahkan tidak tahu pentingnya budaya literasi ini. Dan demi menggapai citanya tersebut, rupanya dia sudah banyak mengambil langkah pasti. Sudah banyak buku yang dikoleksinya. Tidak tanggung-tanggung, buku yang dibaca pun bukan lagi buku cerita bergambar seperti yang selalu laris manis dipinjam siswa-siswa dari perpustakaan sekolah kami, tapi buku-buku yang mungkin banyak kakak kelasnya di SMP ataupun SMA bahkan tidak mau membacanya.

Gadis ini sudah kenal dengan Tere Liye dan Hafalan Shalat Delisa ataupun Dahlan Iskan dan Ganti Hati. Dia juga akrab dengan penulis internasional macam C.S. Lewis, Enid Blyton ataupun Roald Dahl. Dan nampaknya, kini si gadis cilik akan segera melebarkan sayapnya ke dunia sastra dan filsafat. Hal ini aku simpulkan sesaat setelah aku menerima SMS darinya siang tadi.

“Ma’am jadi beli bukunya Dahlan Iskan?”

“Tidak jadi, Ras. Ma’am kemarin beli beberapa buku sastra dan filsafat.”

“Aku sudah beli buku Dahlan Iskan, Ma’am. Juga bukunya Dee yang Madre. Aku tahu buku itu setelah baca blog Ma’am, Go Grab Books.”

“Wah padahal Ma’am sudah lama tidak posting di blog yang itu, Ras.”

“Ma’am sudah dapat bukunya Pramoedya Ananta Toer belum? Aku boleh pinjam Ma’am?”

“Dapat, tapi belum lengkap. Boleh, besok Ma’am bawakan yang biografi Kartini. Ma’am juga punya buku filsafat nih. Ceritanya tentang buku-buku dan perpustakaan ajaib. Mau pinjam?”

“Okay, Ma’am. Pinjam ya??”

“Sip.”

Mau jadi apakah gadis cilik ini? Sesaat aku merasa kecil dan.. iri hati. Iri pada minat bacanya yang gendut dibalik badannya yang kurus. Iri pada segudang prestasi yang didapatkannya di usianya yang masih belia. Iri pada semangatnya dalam menghidupkan budaya literasi. Hal ini bukan sekedar tong kosong nyaring bunyinya, aku sudah berulang kali mendapatinya meminjamkan buku-bukunya pada teman dan bahkan menyumbangkannya pada perpustakaan sekolah. Bukankah itu perwujudan paling nyata?

Di sisi lain, aku merasa bangga. Melihat anak didik yang berkilau dengan begitu indahnya. Dan bahkan hanya dengan berbincang beberapa menit saja aku tahu dia bujan anak kelas enam SD biasa. Cita-citanya besar, sebesar jiwa sosialnya. Kini aku merasa dia adalah seorang perempuan dewasa, bukan lagi anak didik apalagi anak kecil. Seketika ada yang membuncah di dadaku. Ah.. Begini rupanya kebahagiaan sejati itu.

Sunday, 11 March 2012

Aduh Ibu!


Aduh Ibu, apa yang tadi malam kau lakukan?
Bukankah seharusnya kau di pojok kamar itu memegangi tangan kanannya
ketika dia belajar menggoreskan ujung sebuah pensil warna di atas selembar kertas?
Tidakkah kau mendudukkannya di pangkuanmu yang hangat?
Mengejakan puluhan huruf yang ada di buku cerita yang kini menyembul bisu dari tas sekolahnya.
Korupsi lah lima belas menit saja dari malam gemerlapmu
Sekedar untuk menjawab semua pertanyaan konyol khas anak-anak yang meluncur dengan lugu dari mulut kecilnya itu.
Oh Ibu, kenapa kau lewatkan kesempatan emas yang dititipkan Tuhan melalui malaikat kecil, yang dulu kau kandung di dalam rahimmu?


Aduh Ibu, apa yang sedang kau lakukan?
Benarkah gaun, tas, sepatu dan make up kini menjadi satu-satunya kenikmatan bagimu?
Lantas bagaimana dengan robot, mobil-mobilan, boneka beruang ataupun Barbie?
Benda-benda yang berhasil memaku dia pada pandangan pertama.
Yang kini teronggok di sudut kotak segi empat berharap suatu saat kau mau memainkannya bersama tuan kecilnya.
Ibu, tidakkah kau ingin menikmati sebuah pertunjukan ala kadarnya yang dipersiapkan khusus untukmu?
Yang mungkin dia pelajari saat bercanda dengan teman-teman atau gurunya.
Oh Ibu, ayolah ambil kursi dan duduk di hadapannya, minta dia menyanyi untukmu.


Aduh Ibu, apa lagi yang kini sedang kau lakukan?
Bukankah semestinya kau duduk di meja makan dan menanyakan bagaimana harinya di sekolah?
Lihatlah ada banyak sekali cerita yang dia simpan untukmu.
Tidakkah kau ingin tahu bagaimana tangannya bisa tergores atau bagaimana baju putih bersihnya bisa berbekas noda?
Ah Ibu, kau melewatkan setiap detilnya.
Sekarang dia tidak akan lagi menunggumu pulang dengan sebuah pensil warna di tangan.
Tidak akan ada lagi buku cerita yang menyembul dari dalam tas apalagi sebuah pertunjukan.
Oh Ibu, dia sekarang menghilang.
Bukan lagi malaikat kecil dengan tawa riang.
Siapakah dia sekarang?

Saturday, 3 March 2012

Ingin jadi PNS apa Guru sih?


“Kalau niat awalnya ingin mendidik, jadi atau tidak jadi PNS seharusnya tidak masalah bukan? Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjadi Guru.”


Biarkan aku bernostalgia ke empat tahun silam, ketika akhirnya aku resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Sebuah pencapaian paling prestisius bagiku dan keluargaku kala itu yang ditandai dengan berlabuhnya selembar kertas berharga jutaan rupiah yang disebut ‘ijazah’ ke genggaman tangan. Saat itu terlintas dibenak akan masa depan yang terang benderang, dalam artian aku akan menjadi seorang pengajar dengan gaji dari pemerintah yang jumlahnya cukup menggiurkan. Aku memang begitu naifnya menganggap semua Sarjana Pendidikan yang menjadi guru akan secara otomatis menjadi PNS. Gambaran tentang PNS memang selalu buram di pikiranku. Tidak ada satupun dari silsilah keluargaku yang menyandang titel tersebut. Jadi wajar kalau sampai menginjak kampus pun aku tidak pernah mempunyai data valid mengenai seorang pegawai negeri sipil. Yang aku tahu hanya bahwa menjadi PNS berarti hidupmu akan 'aman'.

Ternyata kenyataan hidup memang terkadang sungguh pahit. Betapa kecewanya aku ketika tahu ternyata untuk menjadi seorang PNS itu tidak sekedar masalah menjadi guru, tak peduli seberapa tinggi kompetensimu di bidang yang kamu geluti tersebut. Menjadi PNS itu berarti kamu harus melawan ratusan orang di sebuah tes yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat demi tempat yang terkadang bisa dihitung dengan jari. Menjadi PNS itu berarti salah satu antara keberuntungan atau keberanian. Belakangan aku tahu ternyata yang terakhir lah yang lebih banyak berbicara. Dan mungkin itu pula sebabnya akhir-akhir ini muncul slogan dalam Bahasa Jawa “wani piro?” yang makin lama makin populer sebagai bahan candaan. Sebuah humor sinis dari masyarakat kecil seperti aku.

Dan semuanya terbukti pada saat aku mengikuti tes yang akrab disebut tes CPNS tersebut untuk pertama kalinya. Kala itu aku melamar menjadi seorang guru Bahasa Inggris, satu-satunya hal yang aku pikir bisa aku lakukan dengan sangat baik, mengingat pencapaian yang aku raih di kampus. Dan dengan tingkat percaya diri yang tinggi, akhirnya aku maju ke medan perang. Semangat juang aku kobarkan, senjata aku genggam erat di tangan. Tapi bagaikan petir di siang bolong, alangkah kagetnya aku saat tahu ternyata yang harus aku kerjakan justru seratus soal psikotes. Oh tidaaaak! Bagaimana mungkin mereka bisa tahu kemampuanku kalau yang harus aku kerjakan adalah seratus soal ‘berandai-andai.’ Tidak ada simple past tense ataupun future tense, apalagi micro teaching. Aku pun mengerjakan soal-soal itu dengan asal. Memaksa otakku mengeluarkan jawaban dari soal yang tidak pernah diajarkan oleh para dosen di bangku kuliah dulu. Sejak saat itu aku kapok dengan yang namanya tes CPNS. Goodbye tes CPNS.

Kecewa? Sudah pasti. Apalagi setelah mendengar info dari berbagai sumber tentang betapa nyamannya hidup seorang PNS di negeri kita ini. Seolah nasib baik tiba-tiba dihapus dari garis takdirku. Namun beruntung kekecewaan ini tidak berumur panjang. Karena dari awal aku memang tidak kenal baik dengan konsep PNS yang sering digembor-gemborkan orang tersebut. Tak kenal maka tak sayang! Begitulah, saat impian menjadi PNS akhirnya melayang, aku tetap bisa santai. Kekecewaan menguap dengan cepat, dan yang pasti sudah mati keinginanku untuk berlomba di medan tes CPNS. 

Selanjutnya aku runtut lagi semua dari awal. Aku suka mengajar, aku ingin menjadi guru. Pekerjaan ini adalah satu-satunya hal yang ingin dan bisa aku lakukan dengan hati. Dan untuk menjadi guru aku tidak perlu menjadi PNS dulu bukan? Akhirnya aku putuskan untuk mengajar di salah satu sekolah swasta. Disini hasratku akan dunia pendidikan akhirnya terpuaskan. Meskipun tidak menyandang gelar PNS, ternyata aku tetap bisa mendidik anak bangsa. Ada yang bilang mengajar itu adalah panggilan hati, sebuah pekerjaan mulia yang bisa dilakukan siapa saja meski tanpa embel-embel PNS. Itu memang benar. Sampai sekarang aku tetap bukan PNS, aku hanya seorang guru. Gaji yang aku terima pun tidak sebesar PNS, tapi aku bekerja tidak kalah profesional. Sekarang aku sadar, semuanya memang terletak pada tujuan awal, ingin jadi PNS, apa ingin jadi guru?

Sunday, 5 February 2012

Tentang Hobi dan Inspirasi


Kusendok cepat-cepat nasi goreng yang saling tumpang tindih di atas piring kaca lebar di hadapanku, sambil sesekali meneguk susu coklat hangat dari cangkir merah muda, pemberian dari seorang sahabat beberapa bulan yang lalu. Pagi ini aku bangun sedikit terlambat. Seperti biasa, aku memang melarang mama untuk menggedor pintu kamarku di pagi hari. Aku selalu menegaskan pada beliau bahwa aku ingin bangun atas kehendakku sendiri. Oleh karenanya aku memutuskan untuk membeli sebuah jam weker yang sejak satu tahun lalu terduduk manis di atas sebuah meja di samping kasur. Aku harus mandiri. Jam weker itu adalah salah satu perwujudan dari niat tersebut.

Tapi pagi ini aku merasakan kantuk luar biasa. Ketika weker itu berteriak tepat pada jam lima subuh tadi, aku malah memilih untuk membenamkan wajah ke dalam bantal. Tidak apa-apalah mengolor waktu barang sepuluh menit, pikirku. Tapi ternyata sepuluh menit berubah menjadi enam puluh menit. Dan beginilah kensekuensinya, aku harus melakukan kegiatan pagi tidak lebih dari tiga puluh menit saja. Karena tepat pada pukul setengah tujuh, aku harus sudah berada di atas boncengan mama menuju ke sebuah sekolah dasar dimana aku menimba ilmu selama hampir tiga tahun ini. 

Kantuk luar biasa yang aku rasakan tadi pagi bukannya tanpa alasan. Semalam, mata sipitku ini baru terpejam sekitar tengah malam. Bukan karena menonton film di televisi atau belajar, melainkan karena rasa gelisah yang mendadak menyerangku. Terdengar konyol memang, tapi itu benar-benar aku rasakan. Dan akan terdengar jauh lebih konyol saat aku katakan bahwa hal yang membuatku gelisah adalah kelas Bahasa Inggris. Kamu tahu mengapa? Karena pagi ini di kelas Bahasa Inggris aku akan menunjukkan kepada guru dan teman-temanku bahwa aku mempunyai hobi yang sangat menarik. Dan aku akan membuat mereka semua terbengong kagum melihat benda yang aku bawa ke kelas. 

Satu minggu yang lalu, Bu Kinan dengan jelas meminta kami untuk memilih satu jenis barang yang berhubungan erat dengan kegemaran kami, membawanya ke kelas di pertemuan selanjutnya dan menceritakan apa yang biasa kami lakukan dengan benda tersebut. Otakku sibuk mencari sesuatu yang bisa mengundang decak kagum. Berulang-ulang aku tanyakan kepada mama dan papa tentang apa yang seharusnya aku bawa, tapi jawaban mereka belum bisa memuaskan keinginanku untuk mencuri perhatian guru dan teman-teman sekelas. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, sebuah ide cemerlang seolah terketik secara otomatis di otakku. Iya, benda itu lah yang akan aku bawa ke kelas. Sudah lama memang aku tidak menekuni hobi yang satu ini, tapi bagaimanapun hal itu benar-benar pernah menjadi suatu kegemaran, bukan? Maka perasaan tidak sabar akan hari esok membuatku terjaga sampai hampir tengah malam. 

Kulirik tas ransel bergambarkan sepasang kupu-kupu cantik yang kini tergeletak di atas kursi di sampingku. Benda itu sudah aman berada di dalamnya. Dengan benda itu, aku akan membuat teman-teman merasa iri. Kulafalkan sekali lagi presentasi dalam Bahasa Inggris yang sudah aku buat dua hari sebelumnya dengan bantuan mama. Lancar. Seolah aku sudah benar-benar bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut. Aku merasa seperti orang ‘bule’ kalau sudah begini. Berbekal benda yang ada di dalam ransel unguku dan apa yang baru saja aku ucapkan, sudah pasti kelas Bahasa Inggris di hari Kamis ini sepenuhnya akan menjadi milikku. 

***

Kami mepunyai perjanjian lisan dengan Bu Kinan. Bahwa setiap pergantian pelajaran Bahasa Inggris, maka setiap siswa harus sudah pada posisi siap belajar. Dalam artian kita semua harus sudah duduk manis di atas tempat duduk masing-masing dan tidak membuat kebisingan tak berarti. Kalau perjanjian ini dilanggar, maka Bu Kinan tidak akan memasuki kelas kami. Sejauh ini, aku dan teman-teman cukup berhasil dalam melaksanakannya. 

Begitu juga pagi ini, teman-teman sudah siap di kursi masing-masing. Mata mereka tampak berbinar penuh gairah. Sepertinya, bukan cuma aku yang tidak sabar ingin membuka bungkus yang menyelimuti benda misterius yang sedari tadi kami bawa. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Beberapa teman tampak sedang sibuk menghafal baris-baris presentasinya, sama seperti yang aku lakukan pagi tadi di meja makan. Bahkan ada beberapa yang sudah dengan bangga menunjukkan benda-benda favoritnya. Diantaranya aku melihat kaos sepak bola bertuliskan “Messi”, sebuah kaca mata renang, sebuah boneka beruang dan beberapa benda lainnya. Sejauh ini aku belum melihat ada seorang temanpun membawa benda yang sama dengan apa yang kusimpan rapi di dalam ransel. Diam-diam aku mengembangkan senyum.

Akhirnya saat itu datang. Terdengar suara langkah cepat dan tegas. Sudah jelas itu langkah Bu Kinan. Ketua kelas kami pun sibuk menyiapkan anggotanya, menginstruksikan kepada mereka untuk segera meletakkan benda-benda misteriusnya ke dalam loker meja masing-masing. Dan..muncullah sosok itu. Bu Kinan yang kurus, terutama bila dibanding dengan kebanyakan guru kami yang lain. Namun jangan salah, dibalik tubuhnya yang kurus itu, kami sering sekali mendengar suaranya yang menggelegar. Tapi tunggu dulu, apa itu yang ada di gendongan tangannya? Sebuah benda yang dibungkus oleh plastik hitam. Melihat dari bentuknya yang kotak, sepertinya itu adalah sebuah buku. Tapi aku tidak pernah tahu ada buku sebesar itu. Rasa penasaran seketika membuyarkan konsentrasiku pada tugas presentasi. 

Setelah mengucap salam dalam Bahasa Inggris, Bu Kinan menyakan kesiapan kami akan presentasi kali ini. Semua anak menjawab serentak, “Yes, Ma’am.” kemudian dilangkahkan kakinya menuju meja dan dengan terampil jari-jemarinya mulai membuka bungkusan plastik hitam yang dibawanya tadi. Saat akhirnya bungkusan itu terbuka, aku dan teman-teman dibuat kaget. Ternyata benar, benda kotak itu tidak lain adalah sebuah buku. Namun buku itu tidak seperti buku-buku yang aku punya atau yang terdapat di perpustakaan sekolah. Buku itu bersampul merah tua dengan tulisan berwarna kuning keemasan di sampul depannya. Ada sebuah gambar pria tua dengan memegang sesuatu seperti rokok namun tidak tampak seperti rokok. Aku tidak  tahu benda itu harus disebut apa. Rasa penasaranku buncah.

Bu Kinan tanpa diminta lantas bercerita bahwa buku itu adalah benda favoritnya. Dia membelinya dengan harga sepuluh poundsterling, atau sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Dan kamu tahu ada berapa halaman di buku tersebut? Seribu empat ratus delapan. Tidak kurang tidak lebih. Bisa kamu bayangkan butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Buku itu dibelinya sewaktu dia berkunjung ke Inggris beberapa saat lalu. Yang membuat Bu Kinan tertarik untuk membelinya adalah karena Bu Kinan merupakan penggemar si penulis. Dia sangat mengagumi karakter utama dari cerita fiksi yang berkisah mengenai seorang detektif itu, yang belakangan aku tahu ternyata sangat terkenal, Sherlock Holmes. Dari situ aku menyimpulkan bahwa Bu Kinan benar-benar suka membaca.

Sungguh senang rasanya mendengar Bu Kinan bercerita tentang hobi dan benda favoritnya tersebut. Kami dibuat kagum dengan cerita tentang bagaimana hobinya itu akhirnya membawa dia terbang ke Inggris dan bahkan benar-benar mendatangi museum Sherlock Holmes di jantung kota London. “Mimpi yang menjadi kenyataan”, ujarnya. Aku juga ingin menjadi seperti Bu Kinan. Aku ingin menekuni hobiku dengan lebih serius. Seperti kata Bu Kinan, hobi itu adalah salah satu cara untuk mengasah bakat dan kemampuan setiap orang. Semakin kau tekuni, semakin terampil kau dibuatnya. Semangatku terbakar. Kupegang erat sebuah album yang memuat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan goresan tanganku. Iya, hobiku adalah menulis. Suatu hari aku ingin menjadi penulis terkenal. Penulis yang buku-bukunya digemari oleh orang seperti Bu Kinan. Bayangkan betapa kerennya jika melihat seseorang bercerita tentang penulis pujaannya dan ternyata penulis itu adalah aku?

Lamat-lamat aku mendengar Bu Kinan menawarkan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi. Tanpa ragu, aku angkat tangan kananku dan melangkahkan kaki ke depan kelas. Semoga ini adalah awal dari mimpi yang jadi kenyataan.

*Persembahan kecil bagi teman seprofesi. Remember, a great teacher inspires!

A Letter from (an) Angel


 It is indeed something small like this that makes me fall…

How I Unwind


I have never liked being under the spotlight. It makes me feel uncomfortable. I'd rather remain oblivious- when people just pass me by without even taking a glance. The best possible way for a person like me to unwind? Grab a book and a purse, and then go to this very place where I inexplicably feel peaceful- a park.

I love parks. I love being amongst the trees, walking on the wet grass and paddling my feet in a heap of dried leaves. I love to just sit there on the park bench reading my book and gulping down my tea. It's a heaven on earth. The best easiest way to get a charm.

This is how I unwind...

Saturday, 21 January 2012

Come, February!





"wenn du mich sehen willst, mach einfach die Augen zu."


I took a small cup out of the cupboard and placed it on a saucer. I started my routine. I grabbed a kettle, poured in some fresh water from the tap and placed it on the stove. Afterward, I got the heat going. While the water was boiling, I pulled out a tea bag. I knew, as a wise man said good tea did not come in any. Good tea was loose. But I was just being lazy. And as another very wise man said, tea bags were the best way out. I dumped the tea bag in the cup, added a heaping teaspoon of sugar and pouring the hot water over them. I let the tea steep for about two minutes, pulled the bag out of the cup and threw it into the rubbish bin. I stirred my tea with a spoon for a couple of seconds and ta da! My favourite beverage was eventually ready. 

Holding my cup, I walked toward my room. It had been a long day! I had had three classes this morning, a journalist meeting, an assembly rehearsal and a great deal of marking. Not to mention some private courses I had to attend in the afternoon! Yet, I still got a drama script and a couple of lesson planning to write. So I decided to let the word processor start working. It seemed that my entire life had been centered around three things lately; school, my room and laptop. I didn’t go out very much since I moved back to the same town where I spent eighteen years before finally moving to another city for my study in 2003. No matter how much I had adored my new place in the city or how I had found it so easy to fit in, when I graduated from university back four years ago, I was expected to leave. Mum and dad had insisted on me staying with them. I welcomed the idea, and, to be honest, was rather pleased at the thought of not having to cook or buy my food anymore. I was a little bit farther from freedom than I had been since I moved in, but I was such a home person myself, so I didn’t mind the situation at all. In fact, I enjoyed being buried deep in my current jobs. I wondered how people found my life boring! 

I read some idiotic updates my friends, or I’d rather call them acquaintances, had written on facebook. I got a bit annoyed every time I came across some shallow sentences for no particular reasons. It was getting worse and worse all the time. So I was determined to unsubscribe those people who had a tendency to do so. It was just so that I didn’t end up hating them. No hard feeling or sort of. I was glad that none of them were my close friends. Suddenly one picture caught my attention. It was a picture of that person I had been quietly falling in love with. He looked confident and comfortable as he always did. This was how things used to work in my world. I missed a person so badly but I could only stare at his picture wondering if he even ever thought of me. It wasn’t until a month ago that the hesitance had evaporated. I shouldn’t remain oblivious. He had unintentionally hurt me with his lack of awareness. His silence was a poison. Thus I determined to let myself under his spotlight.

“Where are you?” I typed in the letters instantly. Winamp player was currently playing Katy Perry’s Thinking of You. What a perfect background! I seized my tea cup and sipped my almost-cold tea, waiting for him to reply.

“In you heart.” He said innocently without realizing how his short respond had inevitably managed to make my day.

“Stop that silly phrase, please? Where, literally in the world, are you?” I tried to sound equitable rather than pleased, though the truth was definitely the other way around. I was high. Being glad it was a cyber world conversation, I couldn’t help picturing the boy saying the phrase in person. I was such an incompetent liar, I had no idea how I would have made a fool of myself if only he had flirted me that way right before my eyes.

“I’m currently out of town, girl.”

"When are you going home, then?" I was craving something like 'next week'. No such luck.

“Probably next month. What’s the matter?” It sounded like one of those trick questions to my ears. 

“Mm…nothing. Do you really want me to utter it? You know precisely why. You’re just trying to get me to utter it, aren’t you? Well, I’m missing your smile, I suppose?”

“Is that all?” Just another trick question.

“Just let me know when you’re home, please? I MISS YOU.” I was only imaginarily typing the last sentence, of course. No living creature on this planet would be able to read it, not even myself. But I knew he got the message. The telepathy had never disappointed me so far. It was an agreement between hearts. They had their very own way to reveal each other's disguise. Mine told his that I longed for his master, and vice versa. Wasn't it amazing how you effortlessly could admit your feeling without necessarily reciting the alphabet?

Moment later, I told him the farewell and logged out. I was finishing my tea, tried to enjoy every sip of it, while waiting for the office to dissolve. I was determined to be naughty by not finishing the drama script. I was just too tired, or, probably, so madly in love that I couldn't occupy my mind with anything. I ushered myself back to the kitchen and put the dirty cup into the sink- I didn't even bother washing it. So much for neatness. But one thing for sure, from that moment on, I was eagerly waiting for February. Komm, Februar!

Friday, 13 January 2012

I Miss You Too




"I'm not such a spoilt brat.. Yet this time I sure miss you a lot, Love."


I stared at the blank monitor, waiting for the windows to start appearing. Normally it took only a couple of seconds, but this time it felt like I had been waiting for ten times longer. How irritating when you indeed needed to hurry, everything just seemed to betray you. I actually could print the fifteen-page-long drama script at school, but I assumed there wouldn’t be enough time. Today I had two classes which each lasted seventy minutes. My first class began at exactly seven. Then I had a ten-minute break before the second one. So I calculated I would finish at nine thirty. This meant that I had only thirty bloody minutes to print off the script, photocopy and give it out to the kids for them to study for the ten-o’clock assembly. There was no way this plan would work. So I thought of another plan which was to print it off at home, bring it with me and ask somebody at school to photocopy it while I was teaching. So by the time I finished my class, the script would be already there on my table. Sounded like the best option I had.

I plugged the printer’s wire and then pushed the power button gently. I double clicked on a certain word file and as soon as it was open I hit ‘Print’. Waiting for the script, I logged into yahoo and checked my email. There were six unread emails emerging before my eyes. They were all some sort of notifications from an unpopular site I managed to join the previous day. I didn't even bother reading before I deleted them all. Then suddenly, an offline message popped up. Instead of clicking it, I found myself put my right hand off the mouse. My heart raced. For what felt like a full minute, I was stunned. It had been ages since the last time the same sender sent me a message on yahoo messenger. It seemed to me that he had been in a different solar system for the past couple of months. Now he was surprisingly there, back into business. 

I couldn’t resist the rush to read the message, so I clicked the chat window. A graphic emoticon popped up. Wink Smiley. Nothing else. Not even a single word of ‘hello’. What did I expect? A romantic love message? I knew exactly that just wasn’t his style. So a smiley was extraordinary. At least he made the effort. However, it was like trying to solve one of those twisted riddles. What brought him back, I wondered. Did he send it accidentally? No, that didn’t sound possible. He didn’t seem the one who could make such silly mistake which showed nothing but his clumsiness. Did somebody else use his account and sent me the message? No, that didn’t sound possible, either. He wasn’t the one who was so careless that a stranger managed to hack his account. I kept thinking, yet found no rational answer. Apart from the thought that he simply wanted to talk to me, deep down my heart, I realized I was hoping that he did it because he simply longed for me. 

I wasn’t sure where I got the courage, but in less than a minute I found myself actually typing ‘I Miss You’. It was the best thing I could come up with. Yes, I was sane. In fact, I had never been this sane. God did work in a mysterious way. I, the woman who was never good at flirting, now was trying to do a love statement. Was I really ready to get humiliated? The answer was yes. So regardless of the embarrassment, I bravely pushed ‘Enter’.  I’d assured myself it wasn’t such a big deal. There was definitely nothing wrong with being honest about my true feeling, wasn’t it? I didn’t lie. Beside, it was good to let him know that all this time I had been missing him. And that I was hurt every time the thought of him crossed my mind. I didn't know why but that sounded fair. To let the person you love shared your feeling. So you wouldn't need to feel so alone. I should be glad I supposed.

Moment later, my window chat was blinking. I received a new message. He replied. This time it was a bit longer than mine. It read, ‘I Miss You Too’. My heart practically shrieked. It was hard to believe. He said he missed me! Was that real? Or was it just a dream? I read it over and over again. I must have been dreaming. Then one very sentence from him woke me up, “even if it’s a dream, we can build this together.” And with that, he had me all over again. I smiled. I was done with the printer. I grabbed that fifteen-page-long script and shoved it into my handbag. I pushed the printer’s power button and got the wire unplugged.  I unwillingly logged out yahoo, and then switched my laptop off. It was a beautiful morning. And for the rest of the day, I had to suppress the urge to tell the whole world how happy I was. I missed him. He missed me too.

Thursday, 5 January 2012

When I Knew




"Aku sadar aku menggilaimu sejak aku membaca setiap kata yang kau lempar keluar
dari otak rumitmu itu."


Seventeen past three. I was struggling with drowsiness. I remembered the night before I had been determined to turn off the telly exactly when the clock stroke twelve. Literally midnight. It had been the first time I actually managed to beat the time. I meant how cool was that? Here’s a fact, nights and me had never been friends. Not even close. I hated it and it hated me even more. I unsurprisingly never survived midnight. So it was a bit of miracle to keep my eyes, both eyes, wide open at such very late time. I didn't know exactly when I had finally managed to fall asleep. Obviously not long after I shut my eyes.

Seventeen minutes ago I had been awake. It had taken me some minutes to finally realize what was going on. So I reluctantly dragged myself out of the room and headed to the loo. I badly needed to take a pee. Oh crap! Here’s another fact, I had a tendency to imagine ghosts, vampires and all those creepy creatures would suddenly appear on the glass window here on my toilet. No, I was not being paranoid. I just couldn’t help it. It was one of those bloody embarrassing secrets. There was no way I would let people know. They would laugh at me, right in front of me. No doubt.

I tiptoed back to my room, secretly wondering if dad and mum had heard anything. It was so quiet that I could even hear my dad’s snore. I listened again. There was nothing. I assumed they were both in such a deep sleep. It was such a relief. I knew I was supposed to go back to bed, instead I decided to grab my laptop and entered the living room.  I chose one of my favourite corners in the house and began to turn my laptop on.

It was entirely dark outside. The cold touched me gently. I heard the wind whispered me a good-night. The moon and the stars sang me a lullaby. The rest of the world was still asleep. So was facebook. I played around. I moved the cursor aimlessly wondering if I could find something exciting. Five minutes had past. Nothing. Another five-minute past. Still nothing. Then I came across your name. Your bloody name. I instinctively moved the cursor and clicked the button. A recipe for a disaster!

It was the same boring page all over again. A little bit of disappointment flushed through me. Yeah, just like I hadn't expected it. No sign of your existence. It was just an empty old house no body seemed to care. I should have known. I looked more intently and was sure you had been away for a while. Those abandoned phrases were the only way for me to trace you. That you had once actually lived there, in the brisk world of facebook. Again, I should have known. Then why bothered hitting the button over and over again?

I moved the cursor up and down, left and right. I read through whatever you had written for the umpteenth time. I smiled when it was romantic, laughed when it was ludicrous. I admired your choice of words and was amazed at your point of view. And I felt this unpleasant odd feeling when you flirted. The thought of you had made me paralyzed. Then my heart beat indescribably faster and faster. Mix feeling. Same old thing. I shouldn't have done this in the first place. It always ended up like this. Somehow I knew this time it was different. I just couldn't place it. It was rather a blur.

Next, I felt the rush to go to bed. It seemed that my eyes just couldn't take it any longer. I did a quick calculation. In less than three hours I had to be at school. I turned off my laptop and left it on the chair. As I stood, those random memories of you immediately replayed in my head.  All of a sudden I felt secure. Peaceful. I had found my very own personal space! The thought surprised me, but more in a I-knew-it-was-going-to-happen sort of way. This was the most peculiar moment I had ever had in my life. I was walking to my room with both eyes half closed. I was falling in love with you. I was missing you. I was literally tracing you. And nothing felt better.

Wednesday, 4 January 2012

Menghargai Karya Orang Lain, Sesusah Itukah?


“Ajarkan anak-anak itu cara menghargai karya orang lain sejak dini, maka semoga saat dewasa, mereka tidak menjelma menjadi pribadi yang bisanya cuma iri hati.”


Tidak diragukan lagi, Indonesia memang terkenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Dari sejak kita SD sampai duduk di kursi perguruan tinggi, para guru dan dosen seolah tidak pernah lelah sesumbar betapa beragamnya budaya dan tradisi negara kita ini. Tentu saja hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Mengingat banyak negara di dunia yang mau tidak mau dipaksa untuk berdecak kagum atas warisan nenek moyang tersebut. Tidak sedikit pula yang merasa iri. Bahkan ada yang nekat untuk  ‘nyolong’ kebudayaan itu.

Hal yang bisa dimaklumi. Lihat saja betapa cantik dan menawan para penari bali dengan kain dan aksesoris berkilaunya. Betapa ayu dan anggun para penari Jawa dengan balutan kain batik yang tiada tanding coraknya. Betapa damai suara angklung di telinga, yang secara misterius seolah membawa ketentraman pada batin si pendengar. Atau betapa nikmat rendang Padang di lidah, memanjakan liur yang seketika menggeliat hanya dari mencium aromanya. Dan itu hanya segilintir dari sekian banyak kebudayaan yang dapat disajikan bangsa Indonesia. Wajar saja kalau mereka, bangsa lain, akhirnya begitu terobsesi dan menggebu untuk mengakui semua itu sebagai propertinya. 

Tapi kebudayaan tidak hanya sekedar hal-hal yang kasat mata, yang materiil. Bukan cuma kain, alat musik, makanan ataupun gerakan tari. Kebudayaan bisa juga dalam bentuk karakter bangsa. Mental bangsa. Lantas dengan begitu kayanya kebudayaan ‘materiil’ kita, apakah kebudayaan ‘karakter dan mental bangsa’ kita ini juga kaya? Aku tidak mau mengeneralisir jawaban dari pertanyaan tersebut. Karena mengeneralisir berarti aku harus berani mempertanggung jawabkan secara menyeluruh. Namun aku bisa menggambarkan sebuah situasi yang mungkin sedikit, aku tegaskan sekali lagi di sini- hanya sedikit,  bisa membantu memberi jawaban. 

Seorang karyawan baru  menimbulkan kehebohan di tempat kerja. Bukan kehebohan macam anak SMA menyambut siswa baru yang cantik atau tampan. Tapi dalam bentuk bisik-bisik tetangga akibat rasa sebal dari para rekan kerja. Si anak bawang di anggap sok tahu dan ‘keminter’ karena berusaha menerapkan cara pandang dan sistem kerja yang berbeda dari para pendahulunya. Setiap si karyawan baru melakukan terobosan atau sekedar menyampaikan pendapat, bukan pujian yang di dapat, melainkan cibiran meremehkan.

Apa susahnya sebuah apresiasi basa-basi di mulut? Mengatakan hal itu brilian, bahkan ketika kenyataannya biasa saja. Tidak ada ruginya bukan mengapresiasi usaha seseorang? Justru hal ini akan banyak menghasilkan keuntungan di masa depan. Si anak bawang justru akan semakin bersemangat menghasilkan ide-ide baru. Siapa tahu kelak salah satunya akan menjadi inovasi luar biasa.

Ternyata inilah salah satu titik dimana kita sedikit ‘miskin’ kebudayaan.  Miskin menghargai pendapat. Miskin mengapresiasi karya. Miskin karakter dan mental. Kita tidak terlatih untuk mengamini kepintaran orang lain. Sebaliknya, justru sangat terampil menjadikan orang tersebut objek gunjingan. Kita tidak terbiasa menjadikan kecerdasan orang lain sebagai bahan motivasi. Sebaliknya, malah menjadikannya suatu alasan untuk merasa terintimidasi. Kita sepertinya juga tidak terdidik untuk antusias dalam menerima ide-ide baru dan cenderung menganggap hal itu tidak lebih dari usaha cari perhatian. 

Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan nilai menghargai karya orang lain ini sejak dini. Tentu saja dalam artian menghargai yang sesungguhnya, bukan yang ditambah-tambahi semata demi keuntungan pribadi. Tapi penghargaan yang tulus atas usaha seseorang. Dengan harapan untuk memberi motivasi secara tidak langsung kepadanya agar terus berkarya dan menghembuskan ide-ide baru. Sehingga tidak ada lagi yang namanya generasi tukang iri dan pendengki. Mereka yang melihat keberhasilan orang lain sebagai objek yang bisa mengancam posisinya.

Sudah waktunya kita melahirkan lebih banyak lagi generasi yang siap menerima tantangan dan mau mengakui kelebihan orang lain. Mereka yang mau bekerja sama dengan siapa saja tanpa perasaan risih. Karena pada dasarnya, mau menerima dan berkawan dengan mereka yang luar biasa, perlahan juga akan mengubah kita menjadi pribadi yang tidak sekedar biasa saja. Dan begitulah seharusnya karakter ini untuk mulai diperkaya.